Berawal Dari Sebuah Buku

Berawal Dari Sebuah Buku
B.D.S.B.Pentas Drama


__ADS_3

Anna bersama pemeran lainnya bersiap-siap di samping panggung teater.


Tidak berapa lama Bella pun mulai membacakan teks drama.


"Di sebuah kerajaan makmur tinggallah seorang Raja dan Ratu yang baik hati." Ucap Bella berdiri di tengah panggung teater dan mulai membacakan teks drama.


"Setelah sekian lamanya, akhirnya sang Ratu melahirkan Putri yang sangat cantik."


Tirai merah merah perlahan terbuka, pertanda kalau pentas drama sudah dimulai.


"Akhirnya kita mempunyai Putri yang sangat cantik ya," ucap Lucanne yang memerankan seorang Raja.


"Iya kanda, aku sangat senang sekali dan bersyukur kepada Tuhan." Jawab Angel sebagai Ratu.


Kemudian lampu dimatikan dan tirai merah ditutup, hanya terdengar suara Bella yang melanjutkan kisah.


"Untuk merayakan kebahagiaan atas lahirnya sang Putri, Raja dan Ratu mengundang tujuh Peri untuk datang ke istana."


"Dalam acara pesta tersebut, ketujuh Peri masing-masing memberikan harapan dan do'a mereka untuk sang Putri."


"Kamu akan menjadi Putri paling cantik di seluruh dunia." Kata Rosaline dari kelas 11-D yang menjadi Peri Kecantikan.


"Kelak kamu akan menjadi Putri yang periang." Kata Sophia dari kelas 11-A sebagai Peri Kegembiraan.


"Semoga kamu akan banyak mendapatkan kasih sayang Putri cantik." Ucap Alan dari kelas 10-A sebagai Peri Kasih Sayang.


"Kamu akan menjadi Putri yang pandai menari, tarian mu akan membuat takjub semua orang." Kata Angelina dari kelas 11-B memerankan Peri Kesenian.


"Kamu akan mempunyai suara yang sangat halus dan merdu." Ucap Elena dari kelas 11-B sebagai Peri Musik.


"Kelak kamu akan sangat pintar dalam memainkan berbagai macam alat musik." Kata Daniel dari kelas 10-C memerankan Peri Kecerdasan.


Tirai ditutup dan lampu dimatikan, seperti biasa hanya suara Bella yang terdengar sambil membaca teks drama.


"Sebelum Peri ketujuh mengucapkan harapannya, tiba-tiba terdengar suara petir. Pintu istana terbuka dan masuklah ke dalam istana seorang Peri Jahat dengan raut sinis, dan marahnya kepada sang Raja."


"Mengapa aku tidak undang!" tegas Katharine sebagai Peri Jahat.


"Peri Jahat mendekati sang bayi, Raja dan Ratu tampak begitu ketakutan."


Angel yang memerankan seorang Ratu mundur beberapa langkah, ia sedikit takut melihat Katharine mendekatinya dengan senyum licik terlihat di wajahnya.


"Ck! dia sangat mendalami perannya." Batin Angel melihat Katharine berjalan mendekatinya.


"Sang Peri Jahat pun memberikan harapannya pada sang Putri."


"Hai Putri kecil yang cantik, aku akan memberikan harapan ku untukmu, hahaha' … jika kau besar nanti kau akan mati saat jarimu tertusuk oleh jarum pintal." Ucap Katharine yang tawanya menggema di panggung teater.


Simon yang melihat acting Katharine, bermonolog pada dirinya sendiri. "Itulah mengapa aku berharap Angel tidak masuk dalam drama, tetapi takdir berkehendak lain." Gumamnya pelan.


"Setelah Peri Jahat mengucapkan harapannya, ia kemudian pergi mninggalkan istana. Tamu-tamu yang hadir tampak diam karena takut."


"Kemudian Peri ketujuh mendekati sang bayi."


"Halo bayi cantik. Mungkin aku tidak bisa membatalkan kutukan itu, namun aku hanya bisa memberikan harapanku. Kau tidak akan mati, kamu hanya tertidur selama seratus tahun." Ucap Olin sebagai Peri ketujuh.


"Setelah tepat seratus tahun, akan ada pangeran yang datang membangunkan mu." Timpal nya lagi.


Tirai teater di tutup, lampu kembali di matikan dan hanya mendengarkan Bella membaca teks.


"Raja dan Ratu merasa lega mendengarnya. Mereka lalu mengeluarkan peraturan baru, bahwa di kerajaan itu tidak boleh ada alat pintal satupun."


"Mereka lalu mengumpulkan seluruh alat pintal untuk dimusnahkan, demi keselamatan sang Putri."


Tirai teater dibuka dan lampu panggung kembali di nyalakan.


"Delapan belas tahun pun berlalu dengan sangat cepatnya, Putri Aurora tumbuh menjadi Putri yang sangat cantik."


"Karena jenuh, Putri Aurora pergi keluar istana untuk berjalan-jalan."

__ADS_1


"Wahh indahnya, aku senang sekali hhh' …" Tawa Anna sebagai seorang Putri.


"Tiba-tiba sang Putri melihat nenek tua yang sedang memintal benang, memintal benang menggunakan alat pintal."


"Wahh, sedang apa nenek tua itu," ucapnya berjalan menuju arah nenek tua.


"Sang Putri lalu mendekati nenek tua tersebut."


"Permisi Nek, bolehkah aku mencoba alat pintal itu. Aku ingin mencoba memintal benang," Pinta Anna pada sang Nenek tua.


"Ya tentu boleh Nak silahkan, coba saja," jawab Nenek tua itu dengan suara serak namun lirih.


"Tanpa sepengetahuan Putri Aurora, Nenek tua itu sengaja ingin mencelakai sang Putri dengan menusukkan jarum di jarinya."


"Aku sudah siap Nek." Ucap Anna yang sudah duduk di kursi dan bersiap ingin memintal benang.


"Sebentar, biar saya betulkan jarum pintal nya." Nenek tua itu memegang jarum dan menusukkan ke jari Anna.


"Aww, aduh." Anna pun langsung tergeletak tak sadarkan diri.


"Sang Putri langsung jatuh tak sadarkan diri dan Peri Jahat yang menyamar menjadi Nenek tua itu terlihat senang."


"Hahaha' … akhirnya kau kena kutukan ku Putri." Tawa Katharine yang sudah berubah menjadi Peri Jahat.


"Selamat tinggal Putri hahaha' … aku berhasil hahaha' …" Timpal nya lagi meninggalkan Anna yang tergeletak tak sadarkan diri.


Tirai kembali ditutup begitu pula lampu panggung dimatikan.


Peri jahat itu meninggalkan Putri Aurora yang tergeletak tak sadarkan diri, sungguh malang nasib sang Putri."


Tirai kembali terbuka dan lampu pun di nyalakan.


"Sementara di istana semua orang sibuk mencari keberadaan sang Putri. Raja dan Ratu terkejut mendapati Putri tidak ada di istana."


"Pengawal! cari Putriku sampai ketemu!" Perintah Lucanne pada pengawalnya.


"Baik yang mulia."


Tirai ditutup kembali.


"Sang Putri laku dibawa ke kamarnya dan dibaringkan di tempat tidurnya."


Tirai panggung dibuka.


"Kasihan Putri ku hiks … hiks … hiks …" tangis Angel terisak.


"Kemudian Raha memanggil Peri ketujuh yang baik hati untuk menolong Sang Putri yang tertidur."


"Raja bolehkah saya menidurkan semuanya? kelak ketika sang Putri bangun dari tidurnya, semuanya bangun secara bersama." Pinta Olin pada Lucanne.


"Baiklah Peri, ini demi kebaikan kita semua," jawab Lucanne disertai anggukan pelan.


Tirai pun ditutup kembali.


"Dalam waktu singkat pohon-pohon besar dan semak belukar yang lebat dan berdiri tumbuh di seluruh wilayah kerajaan hingga sangat sulit untuk menerobos nya."


"Bahkan puncak istana pun hanya dapat terlihat ujungnya saja."


"Karena menjadi sangat tertutup, Sang Putri dan seluruh kerajaan menjadi aman, walaupun mereka semua tertidur."


"Setelah seratus tahun berlalu, ada seorang pangeran yang melintasi istana tersebut. Ia merasa penasaran akan cerita yang berkembang, bahwa ada Putri yang tertidur di istana dan ditutupi oleh semak belukar itu."


****************


Sementara dibelakang panggung, semua panitia dan pemeran lainnya merasa bingung kemana perginya Brian dan Felix, mengapa mereka masih belum kembali.


"Kemana Brian, kenapa dia masih belum datang juga! ini sudah masuk perannya!" tegas salah satu anggota OSIS.


"Kami juga tidak tau, bagaimana kalau cari penggantinya saja?" ujar Anna memberi saran.

__ADS_1


"Anna kau memang mudah berkata untuk mencari pengganti, tapi siapa penggantinya?"


"Simon bukankah kau selalu bersama kami, pasti kau ingat apa kata-kata Pangerannya bukan?" tanya Katharine pada Simon.


"Tidak, aku tidak tau. Aku hanya mengetahui dialog Rajanya saja." Jelas Simon.


"Haih' … jadi bagaimana ini." Anggota OSIS itu menghela napas kasar.


Lucanne lalu mengangkat tangannya di tengah keriuhan tersebut. "Aku saja," ucapnya menyodorkan diri.


"Apakah kau mengingat dialognya?"


"Ya, aku mengingatnya dari awal hingga akhir."


"Kalau begitu, cepat gantilah pakaian mu. Dan Simon kau makan menjadi Raja nya, pergilah bersama Lucanne untuk mengganti pakaian."


Lucanne dan Simon pun pergi mengganti pakaiannya.


****************


Beralih ke Bella yang masih membacakan teks drama. "Dia mencoba memberanikan diri untuk mendatangi istana tersebut."


"Sesampainya di dalam istana, Sang pangeran melihat banyak sekali orang. Mereka tidak dalam keadaan mati, hanya tertidur dengan nyenyak."


"Pangeran mencoba memberanikan diri untuk masuk ke dalam istana."


Tirai panggung kembali dibuka.


Lucanne berjalan ke panggung dengan gaya rambut classic Pompadour, mengenakan pakaian Pangeran dan bintik-bintik wajahnya yang disamarkan menggunakan make-up.


"Sepertinya semua orang sedang tertidur, lalu dimana Putri Aurora? aku harus mencarinya." Kata Lucanne berjalan mencari Sang Putri.


Tirai ditutup kembali.


"Pangeran mencoba berkeliling istana dan akhirnya dia menemukan Sang Putri yang sedang tertidur pulas di kamarnya."


"Dia langsung memegang tangan Sang Putri."


Tirai pun dibuka.


"Akhirnya aku menemukanmu wahai Putri." Lucanne memegang tangan Anna yang sedang berbaring di tempat tidur.


Lucanne perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah Anna, hingga bibir Lucanne dan Anna saling bersentuhan.


Sontak Anna yang tadinya santai mendalami perannya, terkejut karena hal itu. Tapi ia masih mencoba untuk fokus.


"Lucanne … bukankah adegan ini seharusnya hanya berpura-pura, tapi kenapa … sudahlah tidak apa-apa." Batin Anna kembali tenang.


"Seketika keadaan istana berubah, pepohonan dan semak belukar menghilang. Semua penghuni istana terbangun dari tidur panjang mereka, semua orang melanjutkan aktivitas seperti biasa."


"Akhirnya kau bangun juga Putriku," ucap Simon yang menggantikan Lucanne.


"Iya Ayah …" ujar Anna mendatangi Simon dan Angel.


"Hiks … hiks … Ibu merindukanmu sayang," sambung Angel memeluk Anna sedangkan Simon mengelus kepala Anna.


"Huhu … Ibu …"


"Cih! malas bener gue lo panggil Ibu." Batin Angel merasa jijik dipanggil Ibu oleh Anna.


"Ini kalau bukan karena Kakak ku, udah gue pukul wajah lo." Batin Anna menahan emosinya.


"Sang Raja sangat berterima kasih pada pangeran yang telah datang dan membangun Putri Aurora."


"Terima kasih banyak Pangeran," ucap Simon.


"Sama-sama yang mulia, semoga Putri selalu diberikan kesehatan dan keselamatan." Jawab Lucanne sembari membungkuk pada Simon.


"Raja dan Ratu menyambut Pangeran yang datang dari kerajaan tetangga, begitu juga Sang Putri."

__ADS_1


"Akhirnya Sang Pangeran dan Putri Aurora menikah dah hidup bahagia selamanya."


Tirai panggung ditutup disertai tepukan tangan dan banyaknya penonton yang melihat drama tersebut. Dan siulan-siulan yang meriah dari mereka.


__ADS_2