
"Ayah, ada apa dengan Ayah? tenangkan diri Ayah," ucap Feyrin yang cemas melihat Ayahnya.
Zohan yang berada di dalam ruang kerjanya pun panik mendengar teriakan dari Ayahnya di ruang tamu, Zohan bergegas keluar dari ruangan kerjanya dan berlari menuju ke tempat Ayahnya.
"Ayah ada apa? kenapa Ayah berteriak?" tanya Zohan panik.
"Ayah berteriak karna melihat foto ini." Jelas Feyrin sembari menunjukkan foto Lucanne.
"Foto ini β¦ sepertinya akh mengenal wajah pria yang ada dalam foto ini."
"Zohan β¦ itu Julio, anaknya kakek Leo β¦" Lirih Ayahnya.
Mendengar perkataan itu dari Ayahnya sontak membuat Feyrin dan Zohan terkejut seakan tidak percaya.
"Ayah, dia bukan anaknya kakek Leo. Dia adalah Lucanne, orang yang disukai oleh teman ku Anna yang baru saja pulang tadi. Tapi jika Ayah ingin mengetahuinya lebih lanjut, bagaimana jika Ayah menelpon kakek Leo."
"Ya, Zohan ambil laptop dan buat obrolan vidio dengan kakek Leo." Titah Ayahnya pada Zohan.
Zohan menuruti kata Ayah dan mengambil laptop, setelah mengambil laptop Zohan lalu memulai obrolan vidio dengan kakek Leo.
Tak berapa lama obrolan vidio itu diangkat oleh kakek Leo.
π»"Ada apa Rian? kenapa kau membuat obrolan vidio denganku?"
Rian mengambil ponsel Feyrin dan menunjukkan foto Lucanne pada kakek Leo.
π»"Ini, bukankah ini Julio!"
Kakek Leo yang melihat foto itu hanya menanggapinya biasa saja.
π»"Rian, kau sendiri tau kalau putraku sudah mati. Foto yang kau perlihatkan pada ku itu, mungkin saja wajahnya hanya mirip dengan Julio."
π»"Tapi β¦"
π»"Tapi bisa saja itu cucumu bukan Kakek Leo." Timpal Feyrin.
Tiba-tiba saja di tempat Kakek Leo terdengar suara seseorang yang sedang tertawa.
π»"Hahaha' β¦ aku? wajahku mirip seperti dirinya. Apaka keluarga Carl sudah merendahkan ku?"
π»"Siapa itu?"
__ADS_1
π»"Hhh' Feyrin Carl, kau dengar ini baik-baik. Aku bukanlah orang seperti dia, gaya yang sangat jelek seperti itu kau katakan mirip dengan ayah ku dan aku? heh' menjijikkan."
π»"Tapi mungkin saja itu wajahmu!"
π»"Kalaupun itu wajahku, aku tak mempunyai mata empat seperti dia."
π»"Lalu bagaimana bisa dia mirip seperti ayahmu?"
π»"Di dunia modern seperti ini apa yang tidak bisa dibuat dan di ubah oleh manusia."
π»"Maksudmu, kau mengatakan kalau Lucanne mengoplas wajahnya!"
π»"Aku tidak mengatakannya, kau sendiri yang mengatakannya ya, yang jelas aku memintamu untuk menjaga Anna. Dan soal obrolan vidio hari ini jangan beritahu dia."
Setelah mengatakan hal itu obrolan vidio tersebut langsung dimatikan oleh kakek Leo.
"Kenapa dia tidak menunjukkan wajahnya, aku tau wajahnya pasti mirip seperti ayahnya. Tapi disini aku sangat bingung, dia menjelek-jelekkan Lucanne dan dia membangga-banggakan dirinya sendiri." Kesal Feyrin.
"Feyrin, kurasa yang dikatakannya itu benar. Mungkin saja dia mengoplas wajahnya atau wajahnya hanya kebetulan mirip saja, di dunia ini kita bisa menemukan yang seperti itu." Jelas Zohan.
"Kurasa Kakak benar, kalau begitu aku akan masuk ke kamar ku."
Feyrin berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dan menepis semua hal-hal yang baru saja terjadi. Seperti yang dikatakan oleh cucunya kakek Leo, dia tidak ingin membicarakan persoalan yang tadi kepada Anna.
Tak terasa seminggu pun sudah berlalu, Feyrin terus mengajari Anna bagaimana bersikap elegan.
Dengan bantuan Feyrin, Anna perlahan-lahan berubah menjadi sosok wanita yang elegan.
Tepat di hari cuti kampus, Anna dan Feyrin pergi ke rumah keluarga Gomes untuk menjenguk Silva dan Lean yang tidak masuk kampus selama satu minggu.
Ketika datang kesana, Feyrin dan Anna disambut dengan baik oleh penjaga rumah keluarga Gomes.
Penjaga memberitahukan kepada mereka berdua kalau ayah ibunya Lean dan Silva sedang pergi mencari dokter yang bisa mengobati Silva.
Anna dan Feyrin mengerti dengan apa yang disampaikan penjaga, lalu penjaga mengantarkan mereka ke halaman belakang rumah keluarga Gomes. Terlihat Lean yang sedang berdiri di pintu halaman belakang rumahnya.
"Lean kau ada disini, lalu di mana Silva?" tanya Feyrin pada Lean yang berada di pintu halaman belakang.
"Feyrin, Anna kalian ada disini," ucap Lean melihat Feyrin dan Anna.
"Lean di mana Silva? kenapa kau hanya sendiri disini?" tanya Anna.
__ADS_1
Tanpa menjawab Lean menunjuk halaman belakang yang terdapat pohon besar disitu dan di bawahnya terlihat ada Silva yang duduk diam di sana sambil menutup matanya.
"Dia ada di sana, tidak bisa disentuh dan tidak bisa di dekati. Jika kalian mendekatinya, dia akan berteriak histeris ketakutan." Jelas Lean.
"Apa! segitunya kah dia." Kaget Feyrin.
"Ya β¦"
Tanpa mendengarkan cerita detail dari Lean, Anna berjalan menuju ke arah Silva.
Feyrin dan Lean yang melihat Anna berjalan mendekati Silva, sontak terkejut dan berteriak memanggil Anna.
Silva yang mendengar teriakan Feyrin dan Lean dari kejauhan, seketika membuka matanya melihat ke arah Anna yang berjalan mendekatinya.
Karena hal itu sontak membuat Silva berteriak histeris ketakutan.
Mendengar teriakan Silva, Anna malah mendekati Silva dan tidak memperdulikan teriakan Silva yang histeris. Hingga Anna pun sampai di hadapan Silva.
"Kenapa kau menjadi seperti ini, bukankah kau yang selalu membuat berita buruk tentang ku. Kemana dirimu yang dulu?" tanya Anna menatap Silva yang berteriak histeris.
Silva tidak menjawab perkataan Anna, dia hanya berteriak histeris ketakutan melihat Anna yang berada di hadapannya.
Melihat kondisi yang tidak kondusif, Lean meminta Anna menjauhi Silva. "Anna! jauhilah Silva, jangan dekati dia." Punya Lean pada Anna.
"Jika kalian hanya membiarkannya seperti ini terus, tidak akan ada perubahan. Dia harus menerima kenyataan." Tegas Anna.
Lean tidak berkata apa-apa saat mendengar perkataan Anna.
"Silva, kau tau β¦ aku pernah berada di posisimu dan aku disadarkan oleh keluarga. Aku menerima kenyataan tentang apa yang sudah terjadi padaku, jadi kau juga harus sama seperti ku untuk bisa menerima semuanya."
"Anna β¦ aku tidak menyangka kau pernah berada di posisi Silva. Aku yakin kau bisa membuat Silva kembali seperti semula." Batin Feyrin.
"Silva kau punya tempat untuk pulang, kau punya tempat untuk bersandar, kau punya tempat untuk bercerita, maka dari itu berhenti membuat dirimu lebih menderita."
Mendengar perkataan Anna membuat tubuh Silva gemetar dan matanya mengeluarkan bulir-bulir bening air mata yang membasahi pipinya. Dengan bibir yang gemetar Silva mulai berbicara kepada Anna.
"T'Tapi β¦ hiks β¦ aku β¦ aku sudah β¦ hiks β¦" Lirihnya terbata-bata disertai air mata yang tak henti-hentinya.
Tanpa berbicara apapun Anna langsung memeluk Silva. "Silva β¦ kau tidak kenapa-napa, ada orang yang menyelamatkan mu dan menghajar habis-habisan pria b*ad*b itu. Jadi, tenangkan dirimu."
Silva terus menangis dalam pelukan Anna dengan tubuhnya yang masih gemetar dan trauma akan kejadian malam itu.
__ADS_1
Disaat itu orang tua Lean dan Silva kembali dengan membawa seorang Dokter bersama mereka.
Ketika melihat Anna dan Silva berpelukan, Ayah dan Ibunya Silva dan Lean tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka terharu melihat pemandangan itu.