
Kematian Tragis Albert Dan Riana Dengan Cepat Menggemparkan Seluruh Dunia.
Namun Anaknya Yaitu Carella Masih Belum Mengetahui Berita Tersebut.
Kini, Pihak Kepolisian Sedang Menyelediki Kasus Tersebut.
DI KEDIAMAN DANTE
Setelah Di Periksa Steven, Carera Hanya Mengalami Kontraksi Di Janinnya Karena Ia Terlalu Depresi.
Kini Kondisinya Dan Bayi Dalam Kandungannya Sudah Baik Baik Saja.
"Berita Kematian Albert Dan Riana Sudah Menyebar Luas, Sekarang Sebaiknya Kalian Cepat Melarikan Diri." Ujar Dokter Steven Dengan Seringai Kecilnya Yang Selalu Ia Tampilkan.
"Diam!! Aku Tidak Minta Pendapatmu!!" Bentak Dante Yang Juga Menatap Tajam Steven.
"Aku Hanya Ingin Memberi Saran. Jika Kalian Tidak.........
"Kami Tidak Butuh Saran Darimu. Sekarang Sebaiknya Kau Cepat Pergi Untuk Mengurus Siera Dan Juga Anak Anakmu!" Cela Marco Yang Hanya Menatap Datar.
"Siera Sebentar Lagi Juga Akan Mati. Penyakitnya Sudah Tidak Bisa Di Sembuhkan." Ujar Steven Yang Tidak Tinggal Dengan Seringai Kecilnya.
"Kau Ternyata Tidak Tulus Mencintainya!!" Marco Menarik Kerah Jasnya Steven.
"Tentu Aku Tulus Mencintainya. Tapi Sebentar Lagi Dia Akan Mati, Tentu Saja Aku Harus Mengikhlaskannya Dan Tidak Bersedih Terlalu Lama." Jelas Steven Dengan Seringai Khasnya.
"Dasar Brengsek!! Cepat Pergi Dari Sini!!" Marco Mendorong Kuat Tubuh Steven Hingga Terjatuh.
"Ya Ampun Kalian Kasar Sekali." Steven Berdiri Dari Jatuhnya. Dan Tidak Lupa Juga Menunjukkan Seringai Khasnya.
"Kalian Harus Tahu, Bahwa Aku Mempunyai Rekaman Video Saat Kalian Sedang Membunuh Albert Dan Riana." Ujar Steven Dengan Seringai Khasnya Yang Membuat Marco Dan Dante Sontak Membulatkan Mata.
"Kau Ternyata Diam Diam Membuntuti Kami!!!" Marco Menatap Tajam Steven.
DHUAK
Dante Melayangkan Pukulannya Di Wajah Steven.
"CEPAT BERIKAN REKAMANNYA!!!" Ucapnya Yang Setelah Memukul Steven.
"Maaf Ya, Tapi Rekamannya Sudah Duluan Aku Berikan Pada Orang Lain." Jawab Steven Dengan Seringai Khasnya.
DHUAK
Pukulan Dante Untuk Kedua Kalinya Melayang Di Wajah Steven.
"BRENGSEK, KAU BERIKAN PADA SIAPA???" Saat Ini Emosi Dante Sudah Meluap.
Steven Tidak Menjawab. Dia Hanya Menunjukannya Seringai Kecilnya Yang Sudah Menjadi Ciri Khasnya.
"PRIA SINTING, CEPAT KATAKAN PADA SIAPA KAU MEMBERIKAN REKAMANNYA!!!" Dante Menarik Kuat Kerah Jasnya Steven. Kini Emosinya Semakin Meluap.
TAK......TAK......TAK.......TAK.......
Sekumpulan Pria Berjas Hitam Datang. Mereka Semua Langsung Menodongkan Pistolnya Mengarah Marco Dan Dante.
"LEPASKAN TUAN KAMI, ATAU TIDAK KALIAN KAMI TEMBAK!" Ujar Salah Satu Pria Berjas Hitam Yang Bermuka Dingin Dan Sudah Siap Kapan Saja Akan Menarik Pelatuk Pistolnya.
"Sebenarnya Apa Tujuan Kau Dengan Melakukan Ini?" Tanya Dante Yang Sudah Melepaskan Genggamannya Namun Masih Menatap Tajam Steven.
""Entahlah" Jawab Steven Yang Mengedikan Bahunya.
"Untuk Saat Ini Orang Tersebut Tidak Akan Memberikan Rekamannya Pada Polisi, Namun Dimasa Depan Mendatang Nanti...Kalian Bersiap Siaplah Untuk Menerima Hukuman Dari Tuhan..." Jelas Steven Yang Tidak Lupa Dengan Seringai Khasnya. Lalu Ia Pun Pergi Bersama Anak Buahnya.
"Kenapa Anak Buah Steven Bisa Masuk? Apa Dalam Rumahmu Ini Tidak Ada Penjagaannya?" Tanya Marco Setelah Steven Pergi.
__ADS_1
"Ini Rumah Baru, Aku Belum Sempat Mengatur Penjagaannya...Tidak Usah Mengurusi Soal Rumahku! Kenapa Bisa Steven Yang Dulunya Tidak Peduli Pada Rencana Kita, Kini Berbalik Ingin Menangkap Kita??" Dante Kembali Merasa Panik.
"Sudah Ku Katakan Dokter Sinting Itu Sifatnya Tidak Mudah Di Tebak. Dia Itu Seperti Psikopat Sekaligus Mafia Yang Menyamar Sebagai Dokter." Marco Hanya Menatap Datar Dante Yang Sedang Mondar Mandir Karena Gelisah.
"Jadi Sekarang Kita Harus Bagaimana?? Aku Tidak Ingin Jika Nanti Sampai Masuk Penjara!!" Kepanikan Dante Semakin Bertambah.
Marco Terlihat Santai Duduk Di Kursi. "Tidak Masalah Jika Nanti Aku Harus Masuk Penjara, Toh Balas Dendam Ku Juga Telah Usai." Ujarnya Yang Sedikitpun Tidak Ada Kepanikan Terlihat Di Wajahnya.
Dante Menjadi Kesal Melihat Tingkah Marco Tersebut "BRENGSEK KENAPA TIDAK SEKALIAN SAJA KAU MENYERAHKAN DIRI KE POLISI??!" Teriaknya Yang Menarik Kuat Kerah Jasnya Marco.
Marco Melepaskan Genggaman Dante Dari Kerah Bajunya "Rencananya Nanti Aku Memang Ingin Menyerahkan Diriku Pada Polisi, Namun Sebelum Itu Aku Ingin Menikmati Hidup Sebentar Sebelum Seumur Hidupku Membekap Di Penjara." Jawabnya Tersenyum Kecil.
"Tapi Kau Tenang Saja, Aku Tidak Akan Menyebut Namamu Juga Setelah Aku Mengakui Bahwa Aku Sendirilah Yang Melakukan Perencanaan Pembunuh Albert Dan Istrinya." Katanya Lagi Yang Seraya Berjalan Pergi.
~ ~ ~
MALAMNYA, DI VILA PENGURUNGAN CARELLA
Marco Berjalan Sempoyongan Karena Mabuk. Namun, Saat Marco Melihat Carella, Ia Menyebut Kan Kata.. "Olivia?" Ujarnya Yang Sedang Berhalusinasi.
Carella mengerutkan Keningnya "Oliva? Apa Maksudnya Adalah Aku?" Ujarnya Yang Kebingungan.
Wajah Marco Berbinar, Dia Menatap Lekat Wanita Yang Sedang Di Hadapannya Itu "Olivia, Benarkah Kau Ini?" Tanyanya Yang Memegang Kedua Pipi Carella.
Carella Yang Sedang Terikat Menggelengkan Terus Kepalanya Berusaha Menjauhkan Tangan Marco Dari Pipinya "Apa Maksudmu? Aku Ini Bukanlah Olivia!" Tolaknya Tajam.
Marco Mengabaikan Jawaban Carella "Kau Sudah Besar? Wajahmu Semakin Bertambah Cantik." Katanya Yang Tersenyum.
"Saat Ini Kau Sedang Mabuk Berat. Mangkanya Kau Melihat Orang Yang Sudah Mati." Jelas Carella Tajam.
Marco Menggelengkan Kepalanya "Kau Belum Mati, Buktinya Ini Kau Ada Di Hadapanku!" Dia Bersikeras Menjelaskan Apa Yang Sedang Di Lihatnya.
Lalu Dia Menatapi Ujung Kepala Sampai Ujung Kakinya Carella Yang Di Anggapnya Olivia Itu Dan Berkata "Tapi..Kenapa Kau Terikat Begini?"
Tanpa Menunggu Jawaban Dari Carella Lagi, Ia Pun Dengan Cepat Langsung Melepaskan Semua Ikatannya.
Tiba Tiba Saja Di Kepalanya Terpikir Ide Untuk Kabur "Mumpung Dia Masih Mabuk, Aku Harus Memanfaatkan Kesempatan Emas Ini!" Ujarnya Dalam Hati.
Berpura Pura Menjadi Olivia Adalah Ide Kaburnya. "Ehm..Ya, Aku Adalah Oliva. Aku Sangat Merindukan Mu" Ujarnya Yang Sudah Memulai Rencananya Tersebut.
Mendengar Ucapan Carella Tersebut, Wajah Marco Menjadi Berbinar Dengan Cepat Ia Langsung Memeluk Erat Tubuh Carella "Aku Juga Sangat Merindukanmu." Ujarnya Sendu.
Carella Seketika Terdiam. Ia Merasakan Kesedihan Dan Kesepian Yang Mendalam Dari Pelukan Yang Di Berikan Marco.
Di Tambah Marco Sedang Menangis Dalam Pelukannya. Ia Mengetahui Itu Karena Pundaknya Menjadi Cukup Basah. Hal Itu Membuatnya Bertambah Tidak Tega Untuk Melepaskan Pelukan Tersebut.
Setelah Cukup Lama Memeluk Carella, Akhirnya Marco Sendiri Yang Melepaskan Pelukannya Tersebut. Dan Dia Pun Berkata, "Maaf, Aku Tidak Tahu Jika Kau Masih Hidup. Padahal Tadi Aku Sudah Membun...." Marco Memberhentikan Ucapannya. "Ah, Besok Saja Aku Ceritakan Itu Padamu. Saat Ini Aku Ingin Terus Bersama Mu." Lanjutnya Dengan Tersenyum Manis.
Carella Tidak Memperdulikan Apapun Yang Ingin Di Katakan Marco. Saat Ini Dia Sudah Ingin Cepat Cepat Kabur.
"Aku Harus Pergi. Ada Suatu Hal Yang Harus Ku Urus." Ujarnya Yang Seraya Berjalan Cepat Mengarah Pintu Keluar.
Dengan Cepat Marco Menarik Kembali Tangan Carella Ke Dekapannya. "Kenapa Ingin Cepat Cepat Pergi Begitu?" Tanyanya Yang Menunjukan Wajah Cemberut. "Kita Kan Baru Ketemu, Aku Ingin Lebih Lama Bersama Mu." Tambahnya.
Belum Sempat Carella Menjawab, Tiba Tiba...
CUP
Marco Mengecup Lembut Bibirnya.
Carella Sontak Membulatkan Kedua Bola Matanya. Dengan Cepat Ia Langsung Menjauhkan Dirinya Dari Dekapan Marco. "A-Apa Yang Kau Lakukan?!" Tanyanya Yang Jantungnya Sudah Berdebar.
Dengan Cepat Marco Kembali Menarik Tubuh Carella Ke Dekapannya. "Aku Ingin Memilikimu." Jawabnya, Dan...
CUP
__ADS_1
Marco Langsung Membungkam Mulut Carella Dengan Bibirnya. Carella Kembali Membulatkan Kedua Matanya. Namun, Ia Bisa Merasakan Jika Bibir Marco Menyentuh Bibirnya Dengan Lembut.
Meskipun Begitu, Carella Terus Berusaha Melepaskan Dirinya Dengan Sekuat Tenaga, Namun Gagal Karena Marco Mendekap Erat Tubuhnya.
Meskipun Tahu Carella Sudah Memberontak Keras, Namun Marco Tetap Tidak Ingin Melepaskannya. Tanpa Sadar Dia Melakukan Hubungan Intim Dengan Carella Yang Di Anggapnya Olivia.
~ ~ ~
Setelah Di Paksa Melakukan Hubungan Tersebut, Carella Menangis Sambil Duduk Memeluk Lututnya Yang Di Sampingnya Ada Marco Yang Sedang Tertidur Pulas. Kini Mereka Berdua Sama Sama Tidak Memakai Sehelai Benang Pun.
"Hiks...Hiks..Dasar Pria Brengsek! Dia Telah Mengambil Keperawanan Ku.." Tangisnya Yang Tersedu Sedu.
Carella Ingin Kabur Namun Semua Pakaiannya Telah Dirobek Oleh Marco. Begitupun Juga Dengan Marco Karena Saat Carella Memberontak Tidak Ingin Melakukan Hubungan Tersebut Tanpa Sengaja Ia Merobek Semua Pakaian Marco.
Dan Di Dalam Villa Tersebut Tidak Ada Pelayan Ataupun Orang Lainnya Yang Bisa ia Minta Tolong.
Saat Ini Ia Terus Menangis Dengan Tersedu Sedu Meratapi Nasibnya Yang Malang.
"Hiks...Hiks...Bagaimana Aku Bisa Kabur Menemui Ayah Tanpa Menggunakan Pakaian?"
Lalu Diapun Memukul Kuat Dada Bidang Marco, "DASAR PRIA BRENGSEK!!!" Teriaknya Yang Membuat Marco Mengeluh Kesakitan Dan Terbangun.
"Akh, Sakit.." Keluh Marco Yang Saat Terbangun. Lalu Saat Dia Sudah Menyesuaikan Penglihatannya, Betapa Terkejutnya Dia Yang Sudah Tidak Mabuk Lagi Melihat Apa Yang Ada Di Hadapannya. "KAU!!!" Teriaknya.
Dia Membulatkan Matanya Dengan Sempurna Dan Lalu Dengan Cepat Mengambil Sisa Dari Robekan Pakaian Untuk Menutupi ***********. "Apa Yang Terjadi??? Kenapa Kau Dan Aku Bisa Begini???" Tanyanya.
Carella Menatap Tajam Dan Menjawab, "Dasar Pria Brengsek! Tadi Kau Menghayal Bahwa Aku Adalah Olivia. Dan Lalu Kau Memaksaku Untuk Melakukannya Denganmu."
Marco Meringis Mendengar Jawaban Carella. "SIAL, MENJIJIKAN!!!" Teriaknya Yang Memukul Kuat Lantai.
Carella Menunduk Karena Malu. "Kau Telah Mengambil Keperawanan Ku, Sebagai Gantinya Aku Ingin Di Lepaskan." Mintanya, "Dan Sekarang Cepat Carikan Aku Pakaian." Tambahnya.
Mendengar Permintaan Carella Tersebut, Marco Sontak Tertawa. "Pfttt, HAHAHA, Apa Kau Ingin Menemui Ayahmu Itu?" Tanyanya Di Sela Tawanya.
Carella Masih Menundukkan Kepalanya Dan Menjawab, "Tentu Saja!"
Marco Tersenyum Simpul Dan Berkata "Maaf Ya, Tapi Ayahmu Sekarang Sudah Berada Di Neraka."
Carella Sontak Menegakkan Kepalanya. "A-Apa Maksudmu??" Tanyanya Yang Tergagap.
Sebenarnya Ia Mengerti Maksud Dari Perkataan Marco Tersebut Namun Ia Sungguh Berharap Marco Sedang Bercanda Saat Mengatakan Itu.
Wajah Marco Berubah Menjadi Berbinar. "Maksudku Adalah, Ayah Dan Ibu Sambung Mu itu Telah Ku Bunuh!" Jelasnya Tajam.
Carella Sempurna Membulatkan Kedua Bola Matanya Dan Menjadi Gemetar. "Tidak Mungkin, Kau Pasti Sedang Bercanda Kan!"
Carella Sebenarnya Tahu Bahwa Saat Ini Marco Sedang Tidak Bercanda. Namun Ia Masih Berharap Bahwa Marco Hanyalah Mengatakan Kebohongan.
Melihat Carella Yang Tidak Percaya Pada Ucapnya, Marco Langsung Berdiri. "Tunggu Disini, Aku Akan Mengambil Ponselku Sebentar." Ujarnya Seraya Berjalan Keluar.
Setelah Kembali Mengambil Ponselnya, Ia Di Hadapkan Dengan Carella Yang Sudah Menangis Histeris Sambil Terus Memanggil Satu Persatu Nama Keluarganya.
Marco Yang Bersandar Di Pintu Melihat Carella Pun Terkekeh Kecil Dan Berkata, "Ya Ampun Kau Sudah Menangis Begitu, Padahal Aku Belum Memperlihatkan Beritanya."
Lalu Dia Berjalan Menghampiri Carella Dengan Tubuh Yang Masih Tidak Memakai Sehelai Benang Itu. "Bagaimana Jika Aku Sudah Menunjukkan Beritanya, Mungkin Kau Akan Langsung Pingsang Seperti Adikmu." Kakeknya.
Carella Menatap Tajam Marco Dan Berkata "Carera?..Cepat Tunjukan Beritanya Padaku!!"
Ia Ingin Menanyakan Tentang Adiknya Itu Namun Ia Lebih Memilih Untuk Melihat Beritanya Terlebih Dahulu Karena Ia Masih Berharap Bahwa Marco Hanyalah Mengatakan kebohongan Tentang Kematian Orang Tuanya.
Tanpa Berlama Lama Lagi Marco Langsung Memperlihatkan Berita Tragis Kematian Albert Dan Riana Yang Saat Itu Sedang Menjadi Trending Topik Di Seluruh Dunia.
Di Tengah Sedang Menonton, Benar Saja carella Yang Melihatnya Langsung Mendadak Pingsan Di Bahu Marco.
Marco Menatap Datar Carella Yang Pingsan. "Ya Ampun, Kakak Beradik Sama Saja. Sungguh Merepotkan." Lalu Dia Menggulingkan Tubuh Carella Ke Lantai Dan Menutupi Seluruh Badannya Dengan Sisa Sisa Robekan Pakaian.
__ADS_1
Setelah Selesai Menutupi Seluruh Tubuh Carella, Ia Pun Menelpon Bawahannya Untuk Membawakan Beberapa Pakaian Untuk Dirinya Dan Juga Carella, Dan Memanggil Beberapa Pelayan Wanita Untuk Nanti Mengurusi Carella.