Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama

Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama
Pembalasan Dendam (2)


__ADS_3

"Maaf Ya, Kau Salah Masuk Kamar. Adikku Mu Mungkin Berada Di Kamar Lain." Angie Membuat Kesimpulan Sendiri.


Angie Sudah Menurunkan Senjatanya. Menganggap Pria Itu Hanyalah Salah Masuk Kamarnya Dan Tidaklah Berbahaya.


"Coba Kau Tanyakan Pada Resepsionis Hotelnya, Dimana Kamar Adikmu." Katanya Lagi Yang Memberi Saran.


Darent Kembali Membisu. Kesabaran Angie Telah Habis. Dia Menarik Paksa Tangan Darent Menuju Keluar. Darent Hanya Mengikuti Dan Tidak Memberontak.


"Dasar Orang Aneh!! Keluar Dari Kamarku!! Sudah Satu Jam Setelah Kau Memasuki Kamarku, Kau Hanya Mengucapkan Tiga Kata Saja!! Aku Tidak Punya Waktu Lagi Untuk Meladeni Orang Bisu Seperti Kau!!!" Oceh Angie Yang Tanpa Henti.


Saat Tepat Di Depan Pintu, Darent Mengeraskan Kakinya Untuk Berhenti. Mengunci Kedua Tangan Angie Dalam Satu Telapak Tangannya Yang Besar.


"Maaf..." Satu Kata Keluar Dari Mulutnya Dengan Menatap Sendu.


Angie Tidak Diam Saja, Dia Terus Berusaha Melepaskan Cengkraman Darent. Tapi Sayang Tenaganya Kalah Kuat. Satu Satunya Cara Yang Dia Bisa Adalah, Mengangkat Kaki Kanannya Tinggi Lurus Keatas Untuk Menendang Darent. Tendangan Yang Cukup Kuat Untuk Menjatuhkannya. Namun Sayang, Darent Dengan Mudahnya Menepis Kaki Jenjangnya Itu Hanya Menggunakan Satu Tangannya Yang Tersisa.


Angie Tersentak. "KAU!!!" Bentaknya Dengan Wajah Tidak Senang.


Tiba Tiba....


"ANGIE...!!!"


Jerit Seorang Wanita Yang Terdengar Ada Kepanikan Dalam Suaranya.


Angie Menoleh. Melihat Ibunya Yang Wajahnya Sudah Sangat Cemas. Alice Yang Hanya Menatap Datar. Dan Pria Yang Familiar Dalam Ingatannya Waktu Kecil, Berdiri Tepat Di Sebelah Ibunya. "KAU, DANTE!!" Bentaknya Kemudian.


Sebelum Saat Mendatangi Angie Bersama, Dante Sangat Terkejut Melihat Sosok Alice Yang Masih Hidup Ada Di Depan Matanya, Bersama Carera. Untuk Sementara Ini, Alice Meminta Pada Pria Berusia 45 Tahun Itu Untuk Merahasiakannya Pada Marco.


Tanpa Menjelaskan Keadaan, Carera Langsung Mengambil Senjata Yang Berada Di Tangan Putrinya Itu, Dan Memeluknya. "Angie, Kenapa Kau Sungguh Keras Kepala Sekali? Berhentilah Untuk Membalas Dendam!!" Perintahnya Halus.


Angie Melepas Paksa Pelukannya "Tidak Akan!!" Tolaknya Tajam. "Bisa Jelaskan Maksud Kedatangan Pria Ini?! Tanyanya Seraya Menunjuk Dante. "Oh, Jangan Jangan...Pria Bisu Ini Adalah Anaknya, Darent!!!" Lanjutnya Tersadar. Melotot Ke Arah Darent.


"Ibu Takut Jika Saat Tiba Di Kota Ini, Kau Akan Langsung Menemui Marco. Untuk Menghentikan Mu, Ibu Tidak Ada Pilihan Lain Selain Meminta Tolong Padanya."


Angie Mengernyitkan Dahinya "Aku Tidak Habis Pikir, Bisa Bisanya Ibu Meminta Tolong Pada Orang Yang Sudah Menghancurkan Hidupmu!" Ucapnya Halus. Namun Banyak Ketegasan Di Tiap Katanya.


Carera Terdiam. Tatapannya Berkeliling. Sungguh Ia Juga Tidak Tahu, Kenapa Disaat Sedang Dilanda Kesusahan Di Benaknya Selalu Terlintas Dante.


Dante Merasa Tidak Keenakan. karenanya Carera Menjadi Terpojok Dengan Pertanyaan Anaknya Sendiri. Dia Mencoba Membuka Suaranya Mengalihkan Suasana Yang Sedang Hening Dan Tajam.


"Darent, Mari Pulang!"


Darent Tidak Menjawab. Bukannya Kaget Melihat Sosok Alice Yang Masih Hidup Ada Di Hadapannya, Ia Justru Terus Menatapi Carera Dengan Tatapan Aneh Yang Sudah Menjadi Ciri Khasnya Itu.


"Ibu Kedua..." Gumamnya. Hanya Alice Yang Mendengarnya.


Alice Mengernyitkan Dahinya Terheran Heran "Bukannya Dia Membenci Carera? Tapi Dari Yang Kulihat Saat Ini, Tatapannya Tidaklah Menunjukkan Adanya Kebencian." Batinnya.


"Darent!!" Pekik Dante Halus. Tanpa Melirik Ayahnya, Dia Berjalan Duluan Menuruti Perintahnya.

__ADS_1


Dante Menghela Napas Sedih "Dasar Anak Itu," Kemudian Menatap Carera Dan Alice Sejenak Sebagai Tanda Berpamitan. lalu Menyusul Darent.


Alice Kembali Terheran Heran Melihat Sikap Darent. "Darent Terlihat Sangat Acuh Pada Dante. Apa Dia Masih Membencinya? Tapi Kenapa Aku Merasa Dia Hanya Membenci Ayahnya Tapi Tidak Dengan Carera!"" Batinnya.


Melihat Ibunya Yang Sedari Tadi Terdiam, Angie Kembali Membuka Suaranya "Kedepannya Aku Tidak Ingin Lagi Melihat Ibu Meminta Tolong Padanya, Ataupun Hanya Sekedar Menjalin Komunikasi!" Mintanya Halus. Namun Banyak Peringatan Di Tiap Katanya.


"Ya," Balas Carera Tersenyum Pasrah. Dia Selalu Menuruti Keinginan Putrinya Itu. "Tapi, Kau Juga Harus Berhenti Untuk Membalas Dendam." Sambungnya Yang Juga Meminta.


"Tidak Akan Pernah!!" Tolak Angie Dengan Cepat. Sebenarnya Dia Selalu Menuruti Perintah Ibunya. Soal Balas Dendam Dikecualikan.


Raut Wajah Carera Menjadi Sedih. Matanya Berkaca Kaca Ingin Menangis Karena Kecewa. Lagi Lagi Tolakan Tajam Dari Putrinya Itu Telak Melukai Hatinya Sebagai Seorang Ibu. Angie Yang Melihatnya Menjadi Tidak Tega Dan Menghela Napas Berat. "Huh~ Baiklah!"


Kontan Wajah Carera Berubah Berbinar Dan Matanya Melebar Karena Senang.


"Maksudku Berhenti Membalas Dendam Dengan Cara Membunuh." Jelas Angie. Takut Ibunya Salah Mengira Maksudnya.


Carera mengangguk cepat "Tentu Saja Boleh!" Jawabnya Semangat Dengan Tersenyum.


Angie Tidak Membalas Lagi. Matanya Melirik Alice Yang Sepertinya Tidak Menghiraukan Pembicaraannya Dan Ibunya Tadi. Terlihat Sibuk Dengan Pikirannya Sendiri.


"Sudah Pukul Dua Malam, Mari Kita Tidur!" Ajak Carera. Raut Wajahnya Masih Kesenangan. "Besok, Ibu Akan Memberitahukan Ide Alice Untuk Memasukkan Marco Dalam Penjara." Lanjutnya.


Angie Mengangkat Alis. "Ide Apa? katakan Sekarang Saja!"


"Besok Ya Sayang!" Tolak Carera Lembut.


"Baiklah.." Jawab Angie Pasrah. Dia Selalu Menuruti Perintah Ibunya.


~ ~ ~


BESOKNYA


"Kenapa Tidak Cari Saja Keberadaan Steven Di Amerika Serikat, Untuk Menanyakan Pada Siapa Dia Memberi Rekamannya?!" Tanya Angie Setelah Mendengar Ide Alice.


"Ibu Sudah Beberapa Kali Mencobanya, Namun Hasilnya Nihil. Setelah Diperiksa, Identitasnya Sebagai Doker Tidaklah Tercatat Resmi."


"Maksudnya Dia Bukanlah Seorang Dokter? Tanya Angie.


"Entahlah. Identitasnya Sangat Tertutup Rapat. Aku Curiga Dia Adalah Seorang Mafia Besar Yang Menyamar Sebagai Dokter." Tutur Carera.


"Mafia??!" Angie Tersentak. "Hmm...Mungkin Dia Memberikan Rekaman Itu Pada Anaknya." Tebaknya.


"Belum Tentu!" Sahut Alice. Ibu Dan Anak Itu Menoleh Ke Arahnya. "Sikapnya Yang Tidak Mudah Ditebak, Ada Kemungkinan Dia Memberikannya Pada Orang Lain." Lanjutnya. Ibu Dan Anak Itu Terdiam Berpikir.


"Steven Sepertinya Sudah Menebak Ini Akan Terjadi. Dia Sengaja Membuat Kami Seperti Bermain Teka Teki. Aku Tidak Boleh Menganggapnya Remeh." Batin Alice.


"Jika Hanya Menebak Saja, Tentunya Kita Tidak Akan Pernah Tahu Jawabannya. Aku Akan Mencari Tahu Sendiri Dengan Kembali Ke Kediamannya Marco!" Kata Alice Lagi.


"Tidak Boleh!!" Bantah Carera Cepat. Kecemasan Terlihat Di Wajah Ibu Dan Anak Itu. "Kau Tahu Kan Ketiga Saudari Mu Itu Seperti Apa, Aku Tidak Ingin Mereka Mencelakai Mu Lagi Seperti Dulu!" Lanjutnya Dengan Mata Berkaca Kaca.

__ADS_1


"Bibi, Tidak Perlu Cemas Soal Itu. Kali Ini Aku Tidak Akan Membiarkan Mereka Semena Mena Lagi Terhadapku." Alice Berusaha Meyakinkan Carera.


"Tetap Saja Aku Tidak Mengizinkannya!!" Bantah Carera Tajam. Dia Sungguh Takut Hal Buruk Akan Menimpa Keponakannya Itu Lagi.


Alice Bingung Harus Mengatakan Apa Lagi Untuk Membujuknya. Matanya Melirik Angie, Mengisyaratkan Untuk Membujuk Ibunya Itu.


Sebenarnya Angie Juga Tidak Ingin Sepupunya Itu Kembali Lagi Ke Kediamannya Marco. Namun Lagi Lagi Tentang Balas Dendam Lah Yang Menajamkan Hatinya.


"Ibu, Jika Alice Tidak Melakukan Itu, Bagaimana Kita Bisa Mencari Tahu Tentang Rekamannya? Maka Untuk Itu, Izinkanlah Alice Kembali Ke Kediaman Ayahnya, Ya?!" Rayunya Dengan Mata Berkaca Kaca.


"Angie, Kamu Tega Ya, Melihat Sepupumu Itu Kembali Ke Tempat Dimana Orang Orangnya Saja Tidak Memperlakukannya Dengan Tidak Baik!!" Kata Carera Yang Marah. "Bukannya Dulu Saat Dia Masih Di Sana Kau Selalu Merengek Untuk Membawanya Kembali?!" Lanjutnya. Angie Dan Alice Hanya Bisa Meringis Mendengar Ocehannya.


Setelah Dibujuk Berkali Kali Pun, Carera Masih Bersikeras Tidak Mengizinkannya. Dia Meminta Waktu Dua Hari Untuk Memikirkan Rencana Lain. Alice Dan Angie mengiyakannya, Meskipun Sudah Tahu Hasilnya. Otak Carera Buntu Jika Menghadapi Masalah Yang Seperti Ini, Faktanya Otaknya Akan Lebih Cemerlang Pada Tentang Pelajaran Dan Pekerjaan Saja.


DUA HARI KEMUDIAN, Benar Saja Carera Tidak Mendapatkan Ide Apapun.


"Ibu, Sudah Kubilang Ikuti Saja Rencana Dari Alice!" Kata Angie. Carera Terdiam Masih Tidak Mengizinkan. "Ibu Tidak Perlu Cemas, Aku Juga Akan Ikut Bersamanya, Untuk Menjaganya." Sambungnya.


Carera Dan Alice Tersentak. "Ikut Ke Kediaman Marco?? Tapi Bagaimana Caranya?!!" Tanya Carera.


"Mungkin Menyamar Sebagai Pelayan Di Sana!" Jawab Angie Santai.


"Bagaimana Jika Ketahuan?? Wajahmu Kan Sudah Pernah Dilihat Oleh Marco." Tanya Carera, Wajahnya Sudah Mengeras Khawatir.


"Dengan Mengubah Penampilan!" Balas Angie Dengan Seringai "Lagian Kan Dia Melihatku Waktu Aku Masih Kecil. Mungkin Sekarang Dia Sudah Lupa Dengan Wajahku!" Lanjutnya.


Alice Hanya Diam. Curiga Bahwa Angie Masih Memilik Niat Untuk Membunuh Marco.


Melihat Ibunya Dan Alice Hanya Diam, Dia Membuka Suaranya Lagi Untuk Meyakinkan Mereka. "Kalian Tenang Saja, Aku Tidak Akan Sampai Ketahuan Kok. Aku Akan Menjalani Peranku Sebagai Pelayan Dengan Sebaik Mungkin."


"Untuk Menjadi Pelayan Di Sana Bukanlah Hal Yang Mudah. Ratusan Juta Orang Sudah Melamar, Namun Hanya Beberapa Diantara Mereka Yang Terpilih. Kai, Pengurus Rumah Tangga Kediaman Marco, Dialah Orang Yang Akan Menyeleksi Satu Persatu Orang Tersebut Setelah Mengikuti Tes Yang Disebut Dengan Kesempurnaan Pelayan." Jelas Carera. "Ibu Yakin Kau Tidak Akan Lolos Menjalani Tes Tersebut." Sambungnya.


"Tidak Perlu Mengikuti Tes Segala." Sahut Angie Dengan Seringai. "Alice Akan Langsung Menjadikanku Sebagai Pelayan Resmi, Tanpa Mengikuti Tesnya!" Lanjutnya.


Alice Mengangguk Merespon Ucapan Angie. Carera Menghela Napas Berat "Baiklah, Aku Menyetujuinya." Wajahnya Masih Ada Kecemasan.


Wajah Angie Berbinar Senang "Terima Kasih Banyak, Ibu!" Ucapnya Dengan Girang "Alasan Aku Untuk Ikut Alice Bukanlah Sekedar Untuk Menjaganya. Lebih Tepatnya, Aku Ingin Membunuh Marco!" Batinnya.


"Biarlah Jika Angie Masih Berniat Ingin Membunuh Marco. Toh, Nantinya Aku Akan Mengawasi Setiap Gerak Geriknya. Aku Tidak Akan Membiarkan Marco Terbunuh. Kenapa? Karena Aku Sudah Tahu Alasan Tuhan Mengirimiku Ke Tubuh Alice. Yaitu Karenanya Dulu Aku Adalah Seorang Pembunuh, Tuhan Ingin Menguji, Apakah Aku Bisa Menyelesaikan Kehidupan Alice Tanpa Ada Satupun Orang Yang Terbunuh!" Batin Alice.


~ ~ ~


KEESOKANNYA, Alice Kembali Ke Kediaman Marco. Di Ikuti Oleh Angie Yang Sudah Merubah Penampilannya Sesuai Dengan Perannya.


"Halo, Paman Rob! Apa Kabarmu?!" Sapa Ramah Alice Pada Penjaga Gerbang.


Robert Membulatkan Kedua Bola Matanya Sempurna "HA...HANTUUU!!!!" Teriaknya Ketakutan. Berlarian Ke Arah Penjaga Yang Lainnya.


Seluruh Penjaga Kontan Menoleh Ke Asal Suara. Betapa Terkejutnya Mereka Melihat Sosok Nona Mereka Yang Sudah Mereka Anggap Mati, Berdiri Tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2