
Chatrine melangkahkan kakinya dengan gusar mendekati Alice yang tak jauh berdiri darinya. "Berikan rekamannya!!" bentaknya sembari tangannya melaju cepat mengarah ponsel Alice.
"Eiitsss...." Alice mengangkat ponselnya ke atas dengan menyeringai.
Chatrine berjinjit meraihnya. Faktanya tinggi badannya lebih pendek dari Alice. Kemudian Alice melemparkan ponselnya mengarah atas kasur. "Silakan Diambil," ucapnya tersenyum.
Wajah Chatrine berbinar. "dasar bodoh!! batinnya yang mengatai Alice. Saat ingin melangkahkan kakinya, Alice Sengaja menjulurkan kakinya, dan..
BRUUKK!!
Catrine tersungkur.
"Aduh...." Keluhnya saat hendak membuka mata. "SIALAN!!!" pekiknya saat menyadari wajahnya mencium kaki Alice. Kontan ia langsung berdiri.
"Akhh....."
"Ups...keinjek yaa kak?" tanya Alice berpura pura lugu. Tanpa melepaskan kakinya dari telapak tangan Chatrine.
"AKHH...SIALAN LEPASKAN!!!" Chatrine berusaha mengangkat kakinya Alice, namun tidak membuahkan hasil. "Sialan, tenaga alice kenapa kuat sekali?!" batinnya.
"Cellistin, kenapa kau hanya mematung saja??! Cepat bantu aku melepaskan kakinya!!" bentaknya.
Tanpa menjawab, Cellistin sudah melangkahkan kakinya. Pandangannya bukan mengarah kakaknya, melainkan pada ponsel alice yang menganggur di atas kasur.
Alice tersenyum. "Maaf ya. Kau takkan bisa mengambilnya!" dia mengetahui maksud dari Cellistin.
Kemudian Alice memaksa Chatrine berdiri. Mendorongnya kuat mengarah Cellistin yang sedang berjalan.
"CELLISTIN, AWASSS!!!" Chatrine berteriak panik. Tubuhnya serasa terbang mengarah adiknya.
BRAAKKK!!!
Chatrine dan Cellistin saling bertabrakan mengenai meja rias di belakangnya.
"Aww...sakit sekali.." Chatrine meringis meraba tulang belakangnya. Sedangkan Chatrine hanya diam meringis meraba kepalanya yang habis terbentur kuat dengan kakaknya.
Alice terkekeh. "Upss...maaf yaa.." kemudian mengambil kembali ponselnya.
"Alice berikan rekamannya..!" kata Chatrine yang suaranya terdengar lemas. Ia ingin berangkat namun seluruh badannya lemas.
Alice tidak membalas. Matanya menyipit. Telinganya fokus mendengarkan samar samar suara langkahan sepatu Yang Terdengar gusar mengarah tempatnya.
"ALICE!!!" teriak seorang pria tiba tiba. Nada suaranya terdengar gembira.
Alice menoleh. Mendapatkan Marco yang napasnya tidak teratur. Kelelahan. Matanya berkaca kaca. Rambutnya acak acakan. Pakaiannya kusut tidak keruan. Tanpa memperdulikan Chatrine dan Cellistin yang duduk di lantai, ia berjalan cepat menghampiri Alice, dan..
Memeluk erat tubuhnya.
__ADS_1
"Putriku.." gumamnya.
Alice terdiam sejenak. Seperti carella, ia juga merasakan kesedihan mendalam dari pelukan yang di berikan marco. Kemudian melepasnya paksa. "Ayah, kau bau alkohol." ucapnya tertawa kecil.
Marco mengendus bajunya. "Ah iya. Ehh.. maksudnya teman ayah tidak sengaja menumpahkan minumnya..." ucapannya tergagap. Dia berbohong.
"Kenapa dia harus berbohong segala?!" batin alice. Wajahnya terus menunjukan senyuman manis.
"Kenapa kau tidak langsung pulang setelah selamat dari kecelakaan??!!" Tanya Marco kembali dingin. Mengalihkan topik.
"Ceritanya panjang. Singkatnya, setelah mengalami kecelakaan aku diselamatkan oleh Ira. Selama dua bulan ini aku dirawat di tempatnya." Jawab alice mengarang.
Marco menaikan satu alisnya. "Ira??" tanyanya.
"Dia adalah seorang gadis. Umurnya sepantaran denganku. Aku juga membawanya pulang untuk menjadikannya sebagai pelayan pribadiku." jelas alice.
"Benarkah? Bawa aku menemuinya! Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih." kata marco tidak sabaran.
"Nanti saja. Sekarang dia sedang....
"AYAH?? ALICE??!!" Ucap seseorang yang memotong ucapan Alice. Marco dan Alice menoleh. Melihat Cassandra sudah melotot di depan pintu.
"Kakak...tolong aku..." Suara Chatrine menangis. Ia sedari tadi terdiam memperhatikan Marco dan Alice.
Cassandra dan Marco menoleh kearahnya. "Ya ampun, apa yang terjadi pada kalian berdua??!!" tanya Cassandra setelah menghampiri kedua adiknya.
"Ya, Kenapa kalian berdua terduduk dilantai begitu?" tanya Marco. Ia baru teringat di ruangan itu ada kehadiran orang lain selain dirinya dan Alice.
"Bukan masalah besar kok! Hanya saja kami terlalu senang melihat Alice, tidak sengaja tersandung saat berlarian menghampirinya." jelas Chtarine tersenyum. Dibalik senyumnya ada kepanikan luar biasa.
"Lain kali, kalian harus lebih berhati hati lagi." ucap Marco seraya membantu kedua anaknya itu berdiri. "Cassandra, bawa mereka berdua ke rumah sakit." perintah kemudian.
"Baik ayah!" jawab cassandra cepat. Berjalan menopang tubuh kedua adiknya. Tiba tiba ia menghentikan langkahnya. "Alice, adikku, aku sungguh senang melihat kau kembali. Nanti malam aku akan mengunjungimu untuk berbincang bincang." ucapnya manis.
"Dasar wanita rubah!" Batin Alice mengomentari ucapan Cassandra barusan. "Tentu, aku akan menunggu kedatangan kakak." balas alice tersenyum. Kemudian Cassandra melanjutkan langkahnya. Benci, marah, kesal tergambar jelas di wajahnya.
"Penampilan ayah sangatlah berantakan. Sebaiknya ayah pergi mandi membersihkan diri." ucap alice tersenyum yang mengusir halus Marco.
"Ya, ayah pergi mandi dulu!" balas Marco seraya berjalan. Tiba tiba menghentikan langkahnya. "Untuk merayakan kepulangan mu, nanti malam ayah akan mengundang beberapa kerabat kerja untuk makan malam bersama."
"Ayah, aku rasa itu terlalu berlebihan!" tolak alice halus.
Marco menghampiri Alice kembali. "Sekalian juga kita akan mengundang bibi mu. Dia pasti akan senang mendengar kabar keselamatanmu." Katanya kemudian.
"Ya, itu ide yang bagus. Aku sudah lama tidak bertemu dengan bibi Carera." balas Alice tersenyum.
Marco mengelus rambut alice dengan tersenyum. "Baiklah, ayah pergi bersiap siap dulu." katanya, lalu benar benar pergi.
__ADS_1
Alice menghela napas berat. "Huh~ akhirnya dia pergi juga!" kemudian pandangannya mengedar ke sekeliling kamar Chatrine. "Sebelum mengancam mereka, aku ingin memastikannya terlebih dahulu."
Alice menggeledah ketiga kamar saudarinya, mencari rekaman pembunuhan Albert dan Riana. Namun setelah dicari secara insting pembunuh, rekamannya tidak ada.
~ ~ ~
Pesta makan malam yang di hadiri oleh 10 keluarga ternama dari seluruh penjuru dunia. Yang masing masing kepala keluarga membawa istri serta anaknya. Ada 3 meja makan mewah yang letaknya di halaman taman kediaman marco. Ketiga meja tersebut saling bersampingan dengan berjarak 10 meter.
Meja utama. Khusus untuk para kepala keluarga. Selalu di isi dengan 10 kursi.
Meja kedua. khusus untuk para istri. Selalu di isi lebih dari 20 kursi. Karena biasanya satu kepala keluarga membawa lebih dari satu istri.
Meja terkahir. Khusus untuk para anak. Selalu di isi lebih dari 20 kursi.
Alice memakai gaun cokelat selutut. Yang bagian bawahnya mengembang. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai rapi. Pada kakinya membalut high heels cokelat setinggi 5 senti.
Cassandra memakai gaun merah selutut. Terdapat pita hitam di bagian pinggangnya. Rambut hitamnya disanggul. Pada kakinya membalut high heels merah setinggi 10 senti.
Chatrine memakai gaun biru dan berkelap kelip berlian pada roknya. Rambut cokelatnya dibiarkan tergerai bergelombang. Pada kakinya membalut high heels setinggi 10 senti.
Cellistin memakai gaun selutut dan dibalut baju luaran transparan. Rambut hitamnya di kuncir satu. Pada kakinya membalut high heels setinggi 5 senti.
Sedangkan Angie yang sebagai Ira tetap menggunakan style culunnya. Sebelum Acara dimulai, ia dipaksa Kai untuk berdandan merubah penampilan, tapi Angie bersikeras menolak, takut penyamarannya terbongkar. Saat ini dia merasa gelisah, mencari keberadaan ibunya yang tidak terlihat.
"ALICE!!!!" teriak seorang gadis dari kejauhan. Seluruh tamu dan Alice kontan menoleh. Pemilik suara tersebut berlarian mengarah Alice untuk memeluknya.
Alice mendapati Gracia. Dia memakai gaun bunga putih selutut. Rambut cokelat pendeknya di biarkan tergerai rapi. Pada kakinya membalut high heels berwana ungu setinggi 10 senti.
"Gracia, jangan berlarian nanti kau....
Belum sempat Alice menyelesaikan ucapannya, Gracia sudah memeluk erat tubuhnya. Seluruh tamu menatapi mereka.
"Alice aku sungguh senang melihat kau masih hidup. Dua bulan ini aku terus menyelidiki kecelakaan mu." Ucap Gracia. Ia menangis senang.
Alice selalu merasa geli saat di peluk. Dengan paksa ia melepaskan pelukannya. "Terima Kasih Sudah mencemaskan ku. Seperti yang kau lihat, sekarang aku baik baik saja!" katanya seraya mengelap air mata Gracia.
Angie yang melihat Gracia menjadi memanas dan mengepalkan tangannya.
"Tidak tahu menahu, pokoknya sekarang aku ingin kau ceritakan bagaimana caranya kau selamat dari kecelakaan itu!!" rengek Gracia.
"Kami juga ingin tahu!!" ucap serentak 10 gadis yang entah sejak kapan sudah mengeliling Alice dan Gracia.
Melihat masing masing anaknya, senyum mengembang di bibir Marco dan Dante. Sedangkan ketiga saudarinya Alice menjadi memanas dan kesal. mereka bertiga hanya di abaikan.
"Tolong perhatiannya!" ucap keras marco tiba tiba. Para tamu kontan menoleh. "Saya ucapkan terima kasih yang sudah meluangkan waktunya untuk malam ini. Acara makan malam ini khusus saya adakan untuk menyambut kepulangan putri saya, Alice." Lanjutnya. para tamu tersenyum ke arahnya. "karena satu tamu spesial saya belum tiba, maka acara makannya akan di tunda sebentar sampai menunggu kedatangannya." lanjutnya yang mengakhiri ucapannya.
"Tamu spesial?? siapakah dia??" Ribut ribut para tamu.
__ADS_1
"Mungkin dari keluarga newton!" Tebak asal salah satu tamu.
"Ya, keluarga Newton adalah salah satu keluarga ternama di dunia, tidak mungkin Marco tidak mengundangnya." Ribut ribut.