
Marco mengerutkan dahi tidak senang dengan ucapan Dante barusan. "Kau benar benar sudah gila dibuat Cinta. Lupakanlah Carera, masih banyak wanita diluar sana yang jauh lebih cantik darinya." ketusnya seraya berjalan keluar.
Saat sudah melangkahkan kakinya di pintu keluar tiba tiba "HALO PAMAN!!" Gracia berteriak, berniat mengejutkan Marco. Reaksi Marco hanya datar. "Bawa ayahmu pulang, dia mabuk," katanya kemudian. Melanjutkan kembali langkahnya. Tanpa membalas lagi, Gracia langsung masuk.
Alice, dan Ira, memberhentikan langkahnya saat berpapasan dengan Marco di lorong. Sedangkan Darent, tanpa menyapa Marco, dia terus melangkah menyusul adiknya.
"Alice, Ira, ini sudah larut, kembalilah ke kamar kalian untuk tidur." perintah Marco.
"Sebentar lagi. kami ingin menemani Gracia, dan Darent, sebelum mereka pulang." balas Alice cengengesan. "I-iya." di ikuti oleh Ira.
Marco mengangkat alisnya. Wajahnya terkejut, seperti teringat akan sesuatu. "Dimana ketiga kakak kalian? Kenapa sedari tadi mereka tidak terlihat?" tanyanya.
"Mereka pergi meninggalkan taman saat acara makannya akan dimulai." balas alice dengan nada datar.
"Kenapa??"
Alice mengedikkan bahunya. "Entahlah. Sepertinya mereka marah karena ayah tidak mengajaknya bergabung dengan meja utama." balasnya dengan nada malas.
Marco tidak membalas lagi. Wajahnya seperti memikirkan sesuatu. "Baiklah, ayah pergi dulu." katanya kemudian seraya mengelus kepala Alice, dan Ira, secara bersamaan.
"Sementara ini kita harus menuruti segala perintahnya dan bersikap baik padannya." bisik Alice pada Angie, setelah Marco pergi.
"Ya, aku mengerti," balas Angie seraya memutar bola matanya malas. Kemudian mereka berdua menyusul Gracia dan Darent.
Saat memasuki ruangan kerjanya Marco, terlihat Gracia sedang mengobrol dengan ayahnya yang mabuk. Sedangkan Darent, bersandar di dinding, menunjukan ekspresi tidak perduli.
"Ayah, berhenti mengoceh. Ayo kita pulang." Gracia berusaha mengangkat tubuh ayahnya yang terduduk di lantai.
Dante tidak menghiraukan anaknya itu, dia terus memanggil nama Carera.
Angie yang mendengar nama ibunya terus di sebut menjadi kesal. Alice dan Darent saling menatap satu sama lain dengan wajah kebingungan.
"Carera? Itukan nama bibi yang jadi tamu spesial malam ini." gumam Gracia. Tiba tiba ponselnya berdering, mendapati nama Ghuena tertera di layar ponselnya.
"Gracia, buka grup chat skrng!!" kata Ghuena dan langsung mematikan telponnya.
Gracia mendelik kebingungan. Tanpa berlama lama lagi dia menuruti perkataan Ghuena.
Sebuah video. Video yang sedang jadi pembicaraan hangat dalam grup itu. Gracia melotot menontonnya. Alice dan Darent yang melihatnya jadi penasaran, mereka juga ikut menonton dan reaksi mereka pun sama.
"Ayah, apa ini??" Gracia menghadapkan ponselnya di depan mata Dante, menunjukkan video yang habis ditontonnya itu. Dante tersenyum dan menjawab "Pelamaran yang di tolak."
"Kenapa ayah melamar wanita yang baru ayah temui? Sedangkan jika dengan wanita lain, ayah bersikap dingin?" tanya Gracia penasaran.
__ADS_1
"Baru bertemu?" Dante terkekeh. "Aku sudah mencintainya sejak kau masih ada dalam perut ibumu." lanjutnya. Karena mabuk dia jadi bicara jujur.
"Apa??" Gracia kembali melotot. "Ayah mencintai wanita itu sejak ibu masih ada?" tanya Gracia. Suaranya gemetaran. Dante mengangguk.
Alice dan Darent yang sudah mengetahui fakta itu terlebih dahulu, tidak membuka suara. Mereka bingung harus mengatakan apa.
"Ayah apa maksudnya?" mata Gracia sudah berkaca kaca. "Apa maksudnya ayah mengkhianati ibu?? Apa maksudnya ayah bermesraan dengan wanita itu disaat ibu sedang hamil??" dia berteriak. Air matanya sudah mengalir deras di pipinya. Dibenaknya terbayang perkataan dari ayahnya sebelumnya. Dante tidak menjawab, dia sudah tertidur pulas.
"Kenapa malah diam?? Cepat jawab!!!" dia terus memukul dada bidang ayahnya.
"Hentikan!" Darent menahan tangan adiknya itu.
"Kenapa? Kenapa reaksi kakak masih saja datar setelah mengetahui ibu kita di khianati?! Apa kakak sebagai anaknya tidak merasa sakit?? Apa kakak tidak membenci ayah dan wanita ****** itu??!! Gracia terus berteriak. Darent menatapnya tajam.
Ingin sekali rasanya Angie menampar mulutnya, tapi Alice menahannya.
"Jangan berpikir aneh aneh, ibu kedua tidak seperti itu!" balas Darent marah.
Alice tersentak "Hm? Darent membela Carera? Tapi kenapa? Bukankah dia membencinya." batinnya.
"Ibu kedua? Apa maksudnya?! Apa dulu ayah menikahi wanita itu??" Gracia semakin kebingungan.
"Besok akan aku jelaskan, sekarang mari kita pulang!" balas Darent.
Tanpa membalas lagi, Darent menggendong tubuh adiknya itu, dan tanpa pamit lagi dia langsung pergi. Beberapa body guard datang ke ruangan itu untuk membawa Dante.
Alice tidak bisa tidur karena memikirkan sikap Darent yang membela Carera. Sedangkan Angie memikirkan cara agar bisa membunuh Marco secara diam diam. Dia sudah tidak tahan lagi jika harus berpura pura bersikap baik pada orang yang sangat di bencinya.
DISISI LAIN
Setelah Marco mendengar pernyataan Alice bahwa ketiga anaknya yang lain sedang marah padanya, diapun langsung bergegas menuju kamar mereka. Namun disaat dia akan mengetuk pintu kamar Chatrine....
"Aku benci ayah!!!" suara Chatrine yang menangis dari balik kamar, membuat Marco menahan tangannya.
"Chatrine, berhentilah menangis. Ini sudah larut sebaiknya kau tidur." Cassandra mencoba menenangkan adiknya itu. Chatrine tidak membalas dia terus saja menangis.
"Ayah sangat sayang pada kita, dia pasti lupa mengajak kita." katanya lagi.
"Tidak!! Ayah lebih sayang pada Alice daripada kita kak, apa kau juga tidak mengerti?!" Chatrine meninggikan nada suaranya.
"Chatrine, ayah sangat sayang pada kita, kau tidak boleh berkata begitu." Cassandra berbicara lembut.
"Sayang??" Chatrine tertawa. Jika benar sayang dia takan melupakan kita!! Jika benar sayang, saat ini seharusnya dia datang melihat kita. Oh..atau jangan jangan, dia bahkan tidak tahu kepergian kita disaat tengah acara..."
__ADS_1
"Ayah saat ini pasti sedang beris...."
"Sudahlah kak, kau jangan membelanya terus, itu sama saja kau seperti membela Alice!!" kata Chatrine yang memotong ucapan Cassandra.
Marco yang sedari tadi mematung di depan pintu, mendengar pembicaraan mereka, kini melangkah balik menuju kamarnya dengan wajah murung."
~ ~ ~
PAGINYA
"SELAMAT ULANG TAHUN!!!" ucap girang Cassandra dan Cellistin secara bersamaan. Chatrine menanggapinya dengan tersenyum tipis.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya Chatrine yang ke 18 tahun.
"Hei, kenapa tidak bersemangat begitu di hari ulang tahunmu sendiri? Apa kau masih memikirkan yang semalam?" tanya Cassandra. Chatrine mengangguk lesu.
"Jangan dipikirin terus. Ayah sudah mengundang beberapa gadis untuk minum teh bersama." katanya lagi.
Wajah Chatrine langsung berbinar "Apa ayah juga akan ikut?" tanyanya bersemangat.
"Entahlah. Ayah sudah pergi sejak Subuh tadi. Grey juga tidak tahu kemana perginya." balas Cassandra.
"Aku yakin sekali dia tidak akan pulang." Chatrine terkekeh. "Mari kak, kita bersiap siap, nanti para teman sudah akan datang." lanjutnya yang kembali tidak bersemangat.
Saat acara minum teh sedang berlangsung, senyum dan tawa para gadis terpancar. Termasuk juga Alice dan Angie. Mereka berdua sudah menyiapkan kejutan yang sangat istimewa untuk Chatrine, yaitu...
'AAAA, MAAFKAN AKU!!! AKU MENYESAL TELAH MENCELAKAI MU!!! SEKARANG AKU MOHON PERGI DARI KAMAR KU' suara Speaker yang telah di pasang oleh Alice dan Angie secara tersembunyi. Kontan seluruh orang yang berada di tempat membulatkan mata kaget.
'Mungkin rencana kami mencelakai mu telah gagal, tapi lain kali aku akan membunuhmu tepat di depan mataku'🔊
Cassandra, Chatrine dan cellistin gemetaran panik. Masing masing dari mereka sedang memikirkan cara supaya bisa menutup mulut orang orang yang mendengarnya. Sedangkan Alice berpura pura memasang wajah lugu, membuat para gadis merasa iba padanya. "Alasan aku melakukan ini karena aku sudah mengetahui pada siapa rekaman itu berada! Sekarang waktunya bagi kalian untuk merasakan akibat dari perbuatan jahat kalian!" batin alice.
"Astaga! Ternyata kalian yang merencanakan kecelakaan Alice!!" ucap heboh Xia Lou.
"Aku benar benar tidak menduganya kalian tega mencelakai saudari sendiri! Kenapa kalian sekeji ini??!" ucap Ellen graella.
"Tolong jangan percaya pada rekaman itu. Rekamannya itu pasti sengaja di edit oleh seseorang!" Chatrine beralasan.
"CUKUP!!" Bentak seseorang tiba tiba. Seluruh orang menoleh. mendapati Marco yang wajahnya terlihat sangat marah.
"A..ayah!!" ucap kompak Cassandra, Chatrine, dan cellistin. Badan mereka berkeringat dingin. Wajah mereka pucat. Tubuh mereka gemetar karena panik. "Ayah, ayah tolong jangan percaya pada rekaman itu.." bujuk Chatrine setelah menghampiri marco.
PLAAKK!!
__ADS_1
Tamparan keras melayang di pipi Chatrine, membuatnya terduduk di rumput. Menangis sambil memegangi pipinya yang panas habis di tampar.