Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama

Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama
Masa Lalu (31) End


__ADS_3

Di Ujung Sudut Ruangan Kosong Redup Cahaya, Terlihat Wanita Muda Yang Sedang Duduk Sambil Menatap Kosong. Wajahnya Yang Tanpa Ekspresi Terlihat Pucat Dan Lesu. Seperti Orang Hidup Tanpa Bernyawa.


"KAKAK!!"


Suara Panggilan Yang Lembut Menyadarkannya.


Dia Menoleh. Wajahnya Yang Lesu Kontan Menjadi Berbinar. "CARERA?!!"


Dengan Tegap Dia Langsung Berdiri "Carera, Benarkah Ini Kau??" Matanya Berkaca Kaca Tidak Percaya Bahwa Adiknya Ada Di Hadapannya.


Dengan Mata Yang Juga Berkaca Kaca, Carera Mengangguk Dan Langsung Memeluk Erat Tubuh Kakaknya Itu.


"Syukurlah Kau Masih Hidup.." Kata Carella Yang Terdengar Lega Disela Tangisnya.


"Maafkan Aku Kak...Aku Baru Bisa Mendatangi Mu Sekarang." Balas Carera Disela Tangisnya.


Carella Melepaskan Pelukannya "Tidak Kok.. Kakak Mengerti Kau Juga Menderita Di Luar Sana." Kemudian Matanya Tertuju Pada Pria Di Belakang Adiknya Itu Yang Sedang Menggendong Bayi.


Dia Sangat Mengingat Wajah Dan Nama Pria Itu. Yaitu Dante, Orang Yang Juga Terlibat Dalam Pembunuhan Keluarganya.


Dante Yang Menyadari Carella Menatapnya Tajam, Langsung Menundukkan Kepalanya. Ia Sungguh Merasa Bersalah Dengan Perbuatannya Dulu.


Kemudian Carella Berjalan Menghampiri Dante Dengan Tatapan Penuh Amarah Dan Kebencian. Carera Yang Mengetahui Kakaknya Akan Berbuat Apa, Dengan Cepat Dia Langsung Mengambil Angie Yang Sedang Dalam Gendongan Dante.


Benar Saja, Tanpa Mengucapkan Sepatah Kata Lagi, Carella Langsung Meluapkan Amarahnya Pada Pria Yang Sedang Dihadapannya Itu.


DEBAKK...DEBUKK....DEBAKK...DEBUKK.....


Meskipun Kini Wajah Dante Sudah Babak Belur. Carlla Masih Tidak Memberhentikan Pukulannya.


Carera Yang Melihatnya Hanya Bisa Meringis Sambil Menutup Matanya.


Tubuh Dante Ingin Terduduk Di Lantai. Tapi Ia Sengaja Menahannya, Agar Carella Bisa Terus Meluapkan Amarahnya.


Beberapa Saat Kemudian, Carella Pun Memberhentikan Aktivitasnya Tersebut. "Sial! Aku Butuh Benda Tajam Untuk Membunuhnya!" Gumamnya Yang Celingak Celinguk Di Ruangan Kosong.


Dante Tersenyum. Kemudian Mengeluarkan Benda Dari Sakunya "Ini Yang Kau Butuhkan."


Wajah Carella Kembali Berbinar. Ia Mengambil Benda Tersebut Yang Tidak Lain Adalah Sebuah Belati.


Carera Syok Melihat Dante Yang Akan Membiarkan Dirinya Begitu Saja Di Tusuk Oleh Kakaknya Itu. Saat Carella Sudah Ingin Menusuk Dante Tepat Di Jantungnya, Carera Berteriak...


"KAKAK, JANGAN!!!"


Carella Menoleh Adiknya Itu "Apa Maksudnya Jangan?? Apa Kau Membela Pria Ini?!"


Carera Menghampiri Dante Dan Kakaknya Itu, Dan Berkata "Dengan Membunuhnya Takkan Membuat Ayah Dan Mama Kita Hidup Kembali!"


"Dendam Dan Kebencian Hanya Akan Semakin Membuat Kita Tenggelam Dalam Kegelapan! Aku Tidak Ingin Kita Menjadi Seperti Marco, Yang Demi Membalas Dendam Dia Rela Melakukan Apapun!" Katanya Lagi.


Carella Terdiam Dan Menjatuhkan Belati Yang Di Genggamannya.


"Jika Kedepannya Kita Ingin Hidup Tenang Dan Bahagia, Maka Hiduplah Tanpa Adanya Rasa Dendam Ataupun Kebencian." Carera Membuka Suaranya Lagi.


Mendengar Ucapannya Adiknya Itu, Matanya Kembali Dibanjiri Air Mata. "Aku Ingin Hidup Bahagia. Aku Sudah Sangat Lelah Dengan Penderitaan Ini."


Kemudian Dia Ingin Memeluk Adiknya Itu Tapi Tidak Jadi, Karena Tersadar Dengan Bayi Yang Sedang Di Gendongnya. "Apakah Bayi Ini Anakmu Dengan Lois?"


Carera Mengangguk Dengan Matanya Yang Berkaca Kaca.


"Lalu, Dimana Loisnya?"


Carera Menunduk "Lois...Lois Sudah Meninggal." Jawabnya Yang Kembali Menangis Tersedu Sedu.


Carella Kontan Mengangkat Alis Dan Melebarkan Matanya "Apa Marco Juga Yang Membunuhnya?!" Tanyanya Tajam.


Dengan Kepala Yang Masih Tertunduk Carera Menjawab Dengan Anggukan. Air Matanya Menetes Ke Pipi Bayi Dalam Gendongannya Itu.


"Dia Benar Benar Manusia Keji!!" Balas Carella Tajam


"Sudahlah Kak, Aku Sudah Mengikhlaskannya. Saat Ini Aku Hanya Hidup Tenang Bersama Kakak Dan Juga Bayi Ini." Kata Carera Dengan Mata Yang Masih Berair Dan Menatap Bayinya Dengan Tersenyum Sendu.


Ia Beralih Menatap Dante "Tuhan Tidak Tidur. Suatu Saat Nanti Mereka Akan Mendapatkan Balasannya." Katanya Lagi Tajam.


Dante Yang Tahu Carera Sedang Menyindirnya. Hanya Bisa Tertunduk Karena Malu.


Kemudian Carera Tersadar Dengan Perut Kakaknya Yang Membesar. Lalu Merabanya. "Apa Kakak Sedang Hamil?"


Carella Memalingkan Tatapannya "Ya" Jawabnya. "Aku Sedang Mengandung Anaknya Marco." Lanjutnya.


Dante Kontan Menegakkan Kepala Dan Melotot "Apakah Marco Mengetahuinya?"


Carella Menggeleng "Setelah Pria Sialan Itu Melakukannya, Dia Tidak Pernah Lagi Kembali Ke Villa Ini."


Dante Mengeluarkan Ponsel Dari Sakunya "Aku Akan memberitahunya Sekarang!"


"Jangan!!" Pekik Carella. "Jika Dia Tahu Bahwa Kalian Menemui Ku, Dia Takkan Membiarkan Ku Pergi Begitu Saja!" Lanjutnya.

__ADS_1


"Lagian Juga Sebentar Lagi Aku Akan Menggugurkan Anak Ini." Katanya Lagi.


"Jangan Kak!" Bantah Carera. "Anak Dalam Kandungan Kakak Sama Sekali Tidak Bersalah."


"Orang Bilang Sifat Anak Tidak Jauh Dari Orang Tuanya. Aku Tidak Sudi Jika Nanti Anak Ini Kepribadiannya Mirip Dengan Pria Sialan Itu!!" Tolak Carella Tajam.


"Aku Mohon Kak, Jangan Gugurkan! Jika Kita Mendidiknya Dengan Benar. Aku Jamin Kepribadiannya Tidak Akan Sama Seperti Ayahnya." Carera Berusaha Meyakinkan Kakaknya Itu.


Carella Menghela Nafas Berat "Baiklah." Jawabnya Masam.


Wajah Carera Berbinar "Terima Kasih Banyak Kak!"


"Ya." Jawab Carella Datar. "Sekarang Mari Kita Pergi! Aku Sudah Sangat Muak Dengan Tempat Ini!" Katanya Seraya Berjalan Pergi.


"Biarkan Aku Mengantar Kalian!" Sahut Dante.


Tanpa Memberhentikan Langkahnya Carella Menjawab "Tidak Perlu! Jika Kau Ingin Membantu Kami, Cukup Rahasiakan Hal Ini!"


Dante Melirik Ke Arah Carera. Kemudian Carera Menghampirinya "Terima Kasih Untuk Semuanya Aku Harap Kedepannya Kita Tidak Pernah Bertemu Lagi!" Ujarnya Dengan Tersenyum. "Dan Satu Hal Lagi, Tolong Lupakanlah Aku, Karena Aku Tidak Akan Pernah Memiliki Perasaan Yang Sama Denganmu!" Lanjutnya, Dan Berjalan Pergi Menyusul Kakaknya.


Dante Terkekeh "Wajar Saja Dia Menolak Ku. Lagian Mana Mungkin Dia Akan Mencintai Pria Yang Sudah Menghancurkan Hidupnya." Tanpa Dia Sadari Air Matanya Menetes Sendiri.


Perkataan Carera Telak Sekali Menghantam Hatinya. Meskipun Begitu Dia Masih Tetap Akan Mencintainya. karena Baginya Carera Adalah Cinta Pertama Dan Terakhirnya.


Setelah Itu, Carella Dan Carera Memutuskan Untuk Pindah Keluar Kota Yaitu Di Kota Marag. Kota Yang Paling Terkecil Di Negara A. Dan Membangun Perusahaan Kecil Mereka Sendiri Di Sana.


~ ~ ~


2 BULAN SETELAH CARELLA MELAHIRKAN


"Cup, Cup, Jangan Menangis Lagi Ya..." Suara Lembut Carera Yang Sedang Menenangkan Bayi Carella Dalam Gendongannya.


Sementara Itu, Carella Hanya Fokus Menatap Layar Laptopnya. "Ya Ampun Berisik Sekali!" Ocehnya Tanpa Melirik Bayinya.


"Alice, Tidak Mau Berhenti Menangis, Coba Kakak Susui Dia." Saran Carera.


"Tidak Mau!!" Tolak Carella Tajam. "Sudah Ku Bilang, Aku Tidak Sudi Mempunyai Anak Dari Lelaki Itu!!" Lanjutnya.


Kemudian Dia Berdiri Dari Duduknya. "Mau Kemana?" Tanya Carera.


"Kamar Atas!" Jawab Carella Dengan Muka Masam.


"2 Hari Lagi Aku Akan Pergi Keluar Negeri, Karena Ada Urusan Pekerjaan." Katanya Lagi Seraya Berjalan Pergi.


~ ~ ~


Jasad Sebagian Penumpang Termasuk Dirinya, Tidak Di Temukan. Pihak Penyelidik Menetapkan Bahwa Mereka Telah Tewas Di Makan Hewan Buas Lautan.


Satu Persatu Orang Yang Disayangi Carera Meninggalkan Dirinya. Semangat Untuk Dalam Dirinya Pun Semakin Meredup.


Untuk Melanjutkan Hidup Sangatlah Berat Baginya. Namun Saat Melihat Putrinya Dan Keponakannya, Dia Kembali Semangat Dan Menemukan Tujuan Hidup Baru.


~ ~ ~


7 TAHUN KEMUDIAN~


Angie Dan Alice Sedang Bermain Di Taman Halaman Rumahnya. Tiba Tiba Saja Dua Orang Bertubuh Besar, Tinggi Menghampirinya.


"Halo, Anak Anak Manis!" Suara Berat Menyapa Angie Dan Alice.


Angie Langsung Mendepani Tubuh Alice Untuk Berwaspada. "Siapa Kalian?! Kenapa Kalian Bisa Masuk Ke Dalam Rumahku?!" Tanyanya Tajam.


Sementara Alice Yang Berdiri Di Belakang Tubuh Angie Sudah Gemetaran Ketakutan.


"Ya Ampun Anak Ini Sungguh Pemberani Seperti Ayahnya!" Kekek Salah Satu Pria Seraya Memegang Dagu Angie.


"Perkenalkan Nama Paman Adalah Marco. Dan Paman Satu Ini Namanya Dante." Katanya Lagi Dengan Tersenyum.


Angie Menepis Kasar Tangan Marco "Aku Tidak Ingin Tahu Nama Kalian! Aku Hanya Ingin Tahu Alasan Kalian Menerobos Masuk Rumah Kami!" Katanya Tajam.


Marco Kembali Terkekek "Ya Ampun Masih Kecil Saja Sudah Galak, Bagaimana Nanti Besarnya?"


"Alasan Kami Datang Karena Ingin Membawa Anak Yang ada Di Belakangmu Itu" Katanya Lagi Dengan Tersenyum Seraya Menunjuk Alice.


Alice Yang Mendengar Itu Semakin Bertambah Ketakutan. Angie Menggenggam Jemari Alice Untuk Menenangkannya.


"Ternyata Kalian Adalah Penculik! Aku Takkan Membiarkan Kalian Pergi Membawa Alice!" Katanya Yang Asal Menebak.


"Paman Jadi Merasa Sedih Karena Kau Menuduhku Begitu." Kata Marco Murung. "Sebenarnya Paman Ini Adalah Ayah Kandungnya Loh.." Bisiknya Kemudian


Melihat Angie Yang Terbengong, Marco Langsung Menarik Tangan Anaknya.


Ia Mengerutkan Keningnya "Ya Ampun Kenapa Kau Gemetaran Begini?!"


Alice Tidak Menjawab, Ia Justru Menangis Ketakutan.


Marco Mengeluarkan Sapu Tangannya "Cup, Cup, Anak Manis Diam Ya..." Katanya Seraya Mengelap Air Mata Alice.

__ADS_1


"Menjauh Dari Alice!!" Bentak Angie.


"Dante Kenapa Kau Diam Saja?! Tanya Marco Yang Memecahkan Lamunan Temannya Itu. "Padahal Sebelumnya Kau Sangat Bersemangat Ingin Menemui Anaknya Carera!"


Dante Mulai Membuka Suaranya "Ah, Halo Angie. Senang Bertemu Denganmu." Ada Kegagapan Di Suaranya.


Angie Membalas Dengan Muka Masam "Tidak Perlu Basa Basi! Katakan Hal Apa Yang Membuatmu Bersemangat Ingin Menemui Ku!" Tanyanya Tajam.


"Pfttt..." Marco Tertawa Terpingkal Mendengar Ucapan Tajam Dari Anak 7 Tahun Itu.


Sementara Dante Masih Ternganga. Dia Bingung Harus Menjawab Apa.


"Angie, Alice!!" Suara Panggilan Dari Wanita Yang Terdengar Panik.


Angie Menoleh Mendengar Suara Orang Yang Sangat Dikenalinya "IBU!!!"


"Akhirnya Yang Ditunggu Tunggu Datang Juga!" Kata Marco Dengan Tersenyum Simpul.


Senyum Mengembang Di Bibir Dante Saat Melihat Kedatangan Wanita Yang Dicintainya. Dia Sungguh Terpesona Dengan Penampilan Baru Carera Yang Kini Sudah Menjadi Wanita Kantoran.


Sementara Carera Ketakutan Melihat Marco. Semua Ingatan Masa Lalunya Yang Pedih Teringat Kembali. "Aku Harus Bisa Tenang!" Ujarnya Dalam Hati Yang Berusaha Menyembunyikan Ketakutannya.


"Karena Kau Sudah Datang, Aku Akan Langsung Membawa Pergi Putriku." Kata Marco Yang Tanpa Basa Basi.


Carera Terdiam Sejenak.


"Kau Tidak Bisa Melarang Ku Untuk Membawanya, Karena Aku Mempunyai Hak Sebagai Ayah Untuk Mengurusnya." Katanya Lagi.


Sejujurnya Carera Sangat Tidak Merelakan Keponakannya Itu Tinggal Dengan Pria Keji Seperti Marco. Tapi Seperti Yang Dikatakan Marco, Dialah Yang Lebih Mempunyai Hak Untuk Mengurus Alice. Dengan Berat Hati Carera Mengangguk Menyetujuinya.


Marco Yang Melihat Jelas Ketakutan Di Wajah Carera Pun Berkata "Mungkin Kau Menganggap Ku Sebagai Pria Keji. Tapi Satu Hal Yang Harus Kau Tahu, Bahwa Aku Tidak Akan Mencelakai Darah Daging Ku Sendiri."


Carera Meneteskan Air Matanya.Dan Langsung Memeluk Keponakannya Itu. Meskipun Marco Telah Berkata Begitu, Tapi Ia Masih Saja Takut Dan Cemas.


Setelah Lama Memeluk Keponakannya Itu, Ia Pun Melepaskannya. "Alice, Dia Adalah Papamu. Dan Kau Harus Bersikap Baik Padanya Ya..." Tangisnya Pecah Saat Mengatakan Itu.


Alice Tidak Menjawab. Wajahnya Yang Ketakutan Sangat Jelas Mengatakan Bahwa Dia Menolak Pergi Bersama Marco.


Carera Tersenyum Sedih "Kau Tidak Perlu Takut, Nanti Bibi Akan Sering Mendatangimu Kok." Katanya Berusaha Meyakinkan Alice.


Kemudian Marco Menggenggam Jemari Kecil Alice "Sudah Cukup Ya, Salam Perpisahannya" Katanya Dengan Tersenyum. "Sekarang Mari Kita Pergi." Lanjutnya.


Alice Mengeraskan Badannya Tidak Mau Berjalan. Marco Menjadi Kesal. Lalu Ia Menggendong Anaknya Itu. "Baiklah, Kami Pergi. Kau Boleh Mengunjunginya Kapanpun Yang Kau Mau." Pamitnya Pada Carera.


Dengan Mata Yang Masih Berkaca Kaca, Carera Membalas Dengan Anggukan.


Marco Memberhentikan Langkahnya "Oh ya, Ada Satu Hal Lagi!" Katanya. Kemudian Membisikkan Sesuatu Di Telinga Carera.


Mata Carera Melebar Saat Marco Sedang Membisikkannya. "Tidak! Aku Tidak Menyetujuinya!" Tolaknya Langsung.


"Mau Kau Menyetujuinya Atau Tidak, Toh Aku Tetap Akan Melakukannya!" Balas Marco Dengan Seringai. Lalu Pergi


Yang Dibisikkan Marco Adalah, Karena Dia Tidak Sudi Mempunyai Anak Dari Carella, Jadi Dia Berniat Akan Memberitahu Fakta Palsu Pada Anaknya Bahwa Nama Ibunya Bukanlah Carella Melainkan Olivia.


Saat Sedang Berjalan Pergi, Dante Terus Saja Menoleh Ke Belakang Untuk Melihat Wanita Yang Di Cintanya Itu. Namun Sayangnya Carera Sedikitpun Tidak meliriknya.


"Ibu, Paman Itu Terus Saja Menatap Ke Arah Ibu." Kata Angie Yang Memecahkan Lamunan Carera


"Tidak Usah Di Perdulikan! Balas Carera. Mari Kita Masuk Ke Dalam." Ajaknya Pada Putrinya.


~ ~ ~


Setelah Alice Di Bawa Pulang Ke Kediamannya Marco. Isabel Jadi Memanas Dan Membenci Marco Juga Anak Yang Dibawanya Itu.


Karena Menurutnya, Bahwa Marco Benar Telah Jatuh Cinta Pada Carella Dan Mengkhianati Anaknya Yaitu Siera.


Awalnya Cassandra, Chatrine, Dan Cellistin Gembira Akan Kedatangan Alice, Karena Mereka Mendapatkan Adik Sekaligus Teman Baru.


Namun Karena Kebencian Isabel, Dia Menghasut Ketiga Cucunya Itu Untuk Ikut Membenci Alice.


Semenjak Saat Itulah Mereka Memperlakukan Alice Dengan Tidak Baik.


Carera Yang Mengetahui Keponakannya Di Perlakukan Tidak Baik Oleh 3 Saudarinya Pun Kembali Menjadi Cemas.


Dia Berusaha Membawa Kabur Alice Diam Diam, Namun Usahanya Itu Di Gagalkan Oleh Marco.


Tidak Menyerah Sampai Disitu, Carera Mencoba Berbagai Cara Lain Agar Bisa Membawa Keponakannya Itu Pergi, Namu Sayangnya Usahanya Terus Gagal.


Marco Yang Melihatnya Menjadi Kesal. Dan Mulai Saat Itulah Dia Melarang Carera Untuk Mengunjungi Putrinya Lagi.


MASA LALU END----


"Ya Ampun Flashback Lama Banget Thor!" Kata Para Pembaca Dengan Sebal.


"Maaf Ya Reader. Sebenarnya Author Juga Nyesel, Tapi Karena Dah Terlanjur, Mau Tidak Mau Harus Di Lanjutin Deh...." Balas Author Murung.


"Terima Kasih Banyak Pada Para Pembaca Yang Telah Baca Flashback Nya Sampai Selesai. Meskipun Dialognya Bikin Pusing, Tapi Kalian Masih Lanjutin...Thank You Very Much...See You Di Episode Selanjutnya..😘😘" Kata Author Lagi Dengan Penuh Semangat Dan Cinta.

__ADS_1


__ADS_2