Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama

Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama
Pembalasan dendam (9)


__ADS_3

Melihat kemarahan Marco, para Gadis langsung berlarian pergi.


Marco melempar sebuah kotak tepat di hadapan Chatrine yang terduduk di rumput. Kotak yang sedari tadi di genggamnya.


Dengan masih menangis tersedu sedu, Chatrine membuka kotak persegi berwana merah tersebut. Tangisnya menjadi pecah saat melihat isi dalamnya. Yaitu berupa kalung berlian yang mainannya berbentuk Love berutuliskan 'CHATRINE AUBERTA'. Di dalam mainan tersebut tertempel foto dirinya saat kecil sedang tertawa lepas sambil di gendong Marco.


Alasan Marco pergi sejak subuh, karena ia pergi mengambil kalung yang sudah 3 hari lalu di tempanya di toko perhiasan terbaik di negeri sebelah.


Cassandra, dan Cellistin menghampiri Chatrine. Reaksi mereka juga sama ketika melihat kalung tersebut. "A..ayah..tolong maafkan kami.." tangis Cassandra menjadi pecah.


"Kenapa kalian malah meminta maaf padaku? Kenapa saat dengan Alice kalian tidak meminta maaf padanya? Kalian justru terus mengancamnya!" balas marco. Sorot matanya dingin.


Tanpa membalas lagi, mereka langsung berlarian menghampiri Alice dan memegang kakinya. "Alice tolong maafkan para kakakmu ini. Kau boleh melakukan apapun pada kami, tapi tolong maafkan kami.." mohon mereka kompak dengan menangis tersedu sedu.


Alice tidak menjawab. Sorot matanya dingin menatap 3 wanita rubah yang sedang memegang kakinya itu.


Marco juga menghampiri Alice. Alice langsung mengubah ekspresinya menjadi polos. "Alice padahal kau sudah tahu bahwa mereka lah pelaku kecelakaan mu, tapi kenapa kau hanya diam? Kenapa tidak memberitahu ayah?" tanyanya dengan nada lembut.


"A..aku takut. Mereka terus mengancam ku..." Alice berpura pura menangis. Aww...Kakak jangan terlalu kuat mencengkram kakiku..." Alice berbohong. Padahal mereka tidak mencengkram kuat kakinya.


"Alice, ternyata kau licik juga yaa.." batin Angie. Dia memasang wajah ketakutan.


"MENYINGKIR KALIAN!! KALIAN MASIH SAJA INGIN MENYAKITINYA!!" Marco meninggikan nada suaranya. Dia benar benar sudah marah. Ini pertama kalinya dia menunjukan kemarahannya pada anaknya, membuat ketiga kakak beradik itu bertambah gemetar ketakutan. Mereka langsung melepaskan kaki Alice.


"Dasar kau Alice! Tunggu saja bagaimana nanti kami akan membalas mu! " batin Chatrine mendendam.


"Apa masih sakit?" tanya Marco seraya mengusap lembut kaki Alice. Wajahnya terlihat khawatir. Alice menggeleng dengan masih menangis.


"Sudah sudah jangan menangis lagi.." Marco memeluk Alice. "Maaf, aku tidak tahu bahwa selama ini kau telah ditindas." lanjutnya. Nada bicaranya sedih.


"Ayah.....


"Diam!!" bentak Marco memotong ucapan Cassandra. "Aku sudah salah menilai kalian." lanjutnya. Matanya menunjukkan kekecewaan. "Apa alasan kalian melakukannya? Apa yang membuat kalian tega mencelakai saudari sendiri?"


Ketiga beradik itu tidak menjawab. Membungkam sambil menunduk.


"JAWAB!!!" bentak Marco, kontan membuat seluruh orang yang berada di tempat kaget.

__ADS_1


"Ibunya telah membuat ibu kami menderita!! Dan juga ini adalah salah ayah, kenapa ayah mengkhianati ibu disaat dia sedang hamil?? Aku tanya kenapa ayah tega melakukannya??!" Chatrine berteriak tanpa jeda. Tangisnya kembali pecah.


Cassandra melototi adiknya itu "Chatrine apa yang kau katakan?!" gumamnya.


"Sudah seperti ini kita tidak perlu lagi menyembunyikannya. Biar pria ini tahu bahwa dia juga bersalah dalam hal ini!" balas Chatrine seraya menunjuk Marco tajam.


"Siapa yang memberitahu cerita itu pada kalian?" tanya Marco.


"Nenek yang menceritakannya." jawab Cassandra membuat Marco kembali melotot.


"Dasar!! Padahal aku sudah banyak membantunya. Aku tidak menduga dia benar benar menganggap aku telah jatuh cinta pada Carella. Meskipun begitu, tidak seharusnya dia meracuni pikiran cucunya sendiri." batin Marco, dia membicarakan Isabel.


"Sampai saat seperti ini kenapa Marco masih juga tidak bisa mengungkapkan bahwa mereka bukanlah anak kandungnya." batin Alice kesal.


"Aku tidak bisa memberitahu pada mereka bahwa aku bukanlah ayah kandung mereka, aku tidak ingin membuat mereka sedih. Tapi, jika aku tidak mengatakan kebenarannya, mereka akan terus salah paham. Sial, yang mana harus ku pilih?!" batin Marco bingung.


"Kenapa hanya diam? Kenapa tidak marah lagi? Ayo, cepat marahi kami lagi seperti tadi!" Chatrine terkekeh.


"Semua itu adalah kebohongan! Kalian jangan mempercayai cerita itu!" tegas Marco.


"A..aku bukan ayah kandung kalian!"


JEDUAR!!! Seluruh orang yang berada di tempat kontan membulatkan mata kaget.


"Bagus! Ucapan itu yang sedari tadi ku nantikan." batin Alice senang.


"A..apa mak..maksud perkataan itu.." suara Chatrine terdengar gemetar. Matanya sudah berkaca kaca. Dia tahu bahwa Marco bukanlah tipe orang yang suka bercanda.


"Aku dan ibumu tidak saling mencintai. Aku menikahinya karena dipaksa oleh kakek kalian. Ibumu, dia mencintai orang lain. Dan merahasiakan hubungan terlarang mereka pada kakek dan nenek kalian." jelas Marco. Dia memalingkan wajahnya, tidak tega melihat reaksi mereka.


"Bohong!! Itu semua kebohongan kan!!" Chatrine tertawa namun air matanya sudah mengalir deras di pipinya. Marco meringis memejamkan matanya. Perasaannya sedih.


Sedangkan Cassandra dan Cellistin masih terbengong tidak percaya. "Lalu, siapa ayah kami?" tanya Cassandra kemudian.


"Steven Pregai. Dokter pribadi yang merawat ibumu saat dia sakit. Dia pergi ke Amerika Serikat tidak lama setelah ibu kalian meninggal." jawab Marco.


Cassandra tersentak. Dia ingat betul dengan sosok orang yang di sebutkan oleh Marco itu. Orang yang sangat perhatian padanya saat dia masih kecil. Membuatnya meneteskan air matanya, Dia langsung percaya bahwa yang di katakan Marco tidaklah bohong.

__ADS_1


"Kakak, apa semua itu benar?" tanya Cellistin. Matanya juga sudah berkaca kaca. Cassandra mengangguk dan memeluk kedua adiknya itu.


"Aku ingin tes DNA untuk membuktikannya." pinta Chatrine. Marco mengangguk menyetujuinya. "Grey, panggilkan dokter khusus tes DNA kemari!" perintahnya setelahnya.


"Baik tuan!" jawab Grey cepat.


~ ~ ~


Setelah mengetahui hasilnya, ketiga kakak beradik itu sudah benar benar percaya. Kini masing masing dari mereka mengurung diri di kamarnya. Saat ini perasaan mereka tidak keruan, Sedih dan marah bercampur dalam hati mereka. Kenapa ayah kandungnya sendiri tega meninggalkan mereka? Itulah satu satunya pertanyaan yang saat ini terus muncul di benak mereka.


Marco mengerti perasaan mereka. Untuk sementara ini, dia sengaja pergi dari rumah untuk memenangkan diri mereka. Dia menyayangi mereka seperti anak kandungnya sendiri. Kini dia berharap ketiga anaknya itu bisa berubah dan berada di jalan yang benar.


* *


"Sekarang marco pergi, bagaimana nanti jika dia tidak kembali?!" kesal Angie.


"Dia hanya pergi sementara. Yang terpenting saat ini kita harus mendapatkan rekamannya terlebih dahulu." balas Alice. "Mari kita lakukan tahap akhir, yaitu pergi mengambil rekaman itu!" lanjutnya dengan menyeringai.


"Ya!" sahut Angie juga dengan menyeringai.


~ ~ ~


"Eh, Alice dan Ira! Tumben sekali kalian datang ke rumah ku..." ucap gracia yang menongolkan kepalanya di pintu masuk. "Ada apa?" lanjutnya, wajahnya terlihat panik.


"Ada hal penting yang ingin kami bahas, apa kami boleh masuk?" tanya Alice ramah. Dia tahu Gracia Sedang berusaha mencegah dirinya dan Angie untuk masuk.


"Ah..silakan, silakan!" Gracia menyetujui. Wajahnya terlihat semakin panik.


* *


Kini Dante, Darent, Gracia sedang duduk berhadapan dengan Alice dan Angie.


"Berikan rekamannya!" pinta Alice yang tanpa basa basi lagi.


"Rekaman?" Dante mengernyit kebingungan. "Rekaman apa maksudnya?" tanyanya kedua kalinya.


"Lebih tepatnya pada Darent, tolong serahkan rekaman pembunuhan Alber dan Riana!" Alice tersenyum mengarah Darent.

__ADS_1


__ADS_2