
KLOTAK...KLOTAK....
"Maaf saya terlambat," suara wanita lembut yang menghampiri meja utama.
Para tamu kontan menoleh. Mendapati sosok wanita berparas cantik Memakai gaun berwana cream sampai bawah lutut. Rambut sebahu dibiarkan tergerai rapi. Penampilan yang natural dan sopan membuat sebagaian kepala keluarga terpesona. "Carera!" ucap Dante Arlines setelah beberapa saat terbengong.
Sosok itu adalah Carera Jalmes. Dialah tamu spesialnya.
Marco berdiri dari duduknya. "Tidak masalah." membalas ucapan Carera dengan tersenyum ramah. "Langsung duduk saja," lanjutnya sembari tangannya mempersilahkan Carera untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Terima kasih," balas carera tersenyum gugup sembari menarik kursi dan duduk disana.
Dante menatap dalam mata wanita yang duduk di sebelahnya itu. "Ini benar benar kejutan. Tapi kau sungguh cantik malam ini," pujinya dengan tersenyum simpul.
Carera menatap balik wajah pria yang memujinya itu. "Terima kasih atas pujiannya, tuan Dante Airlines." balasnya juga tersenyum.
Jantung Dante berdegup kencang. Matanya berbinar. Pipinya memerah. Sungguh itu pertama kalinya Carera memberikan senyuman manis padanya. Dia memalingkan wajahnya yang sudah seperti tomat itu dari hadapan para kepala keluarga lain.
"Tunggu, siapa wanita ini? Dia bukanlah kepala keluarga!" tanya kepala keluarga Gareth. Wajahnya kebingungan.
"Benar! Aku bahkan tidak mengenalnya. Seharusnya dia duduk di meja para istri saja!" protes kepala keluarga Gir.
"Tidak usah protes! Kalian mau aku usir?!" ketus marco. Tatapannya dingin. Kepala keluarga Gareth dan Gir kontan terdiam. Nyatanya perusahaan mereka bergantung besar pada perusahaannya Marco. Suasana seketika hening.
"HAHAHA!" Tawa keras dari salah satu kepala keluarga. Dia adalah Georgi Karzo, ayahnya Magma. "Senang bertemu denganmu lagi, sahabatku." katanya kemudian. Para kepala keluarga menatapnya bingung.
"Wanita ini adalah Carera Jalmes, anak kedua dari Albert Jalmes. Dia adalah teman sekolahku dulu." lanjutnya tersenyum mengarah Carera. Seketika keadaan menjadi heboh.
"Albert Jalmes? Yang mati tragis 17 tahun lalu?" ribut ribut.
"Albert Jalmes dulu adalah kerabat kerja ayahku." ribut ribut.
"Tapi perusahaannya di jual pada Marco dan perusahaan istrinya yaitu Riana dijual pada Dante. Entah apa yang membuat sepasang suami istri itu rela menjual perusahaannya?!" ribut ribut.
Carera hanya tersenyum menanggapinya. Ia sudah terbiasa mendengar hal seperti itu.
__ADS_1
"DIAM, ATAU ANGKAT KAKI DARI SINI!!" Tegas Marco. Para kepala keluarga yang tadinya ribut kini Terdiam. Suasana kembali hening.
"Dimana putrimu, Angie?" tanya Georgi pada Carera. Ia berusaha mencairkan suasana.
"Dia tidak ikut. Dia sedang fokus belajar untuk menghadapi Ujian mendatang." Balas Carera berbohong.
"Wah, wah, ibu dan anak sangat mirip. Hobinya belajar." Georgi berdecak kagum. "Pantas saja Magma menyukainya," lanjutnya. Carera sukses tertawa mendengarnya.
Carera dan Georgi Sudah Sahabatan sejak mereka duduk di bangku SD. Selain Carella, Georgi lah yang selalu menjadi pelindungnya ketika ia sedang diganggu oleh bocah nakal. Dan cara bicaranya yang terang terangan selalu membuat Carera sukses tertawa.
Melihat keakraban wanita yang dicintainya bersama pria lain Dante menjadi cemburu. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja. Dan wajahnya terlihat kesal.
"Hai bibi!" sapa Alice yang baru tiba. Angie membulatkan matanya melihat ibunya yang duduk di meja utama. ibu adalah tamu spesialnya?! batinnya.
Carera berdiri dari duduknya dan memeluk Alice. Seolah mereka benar sudah lama tidak bertemu. "Aku senang kau selamat dari kecelakaan itu," nada bicaranya sengaja keras agar Marco mendengarnya. Carera tersenyum lega mengarah Angie. Ia senang anaknya itu baik baik saja.
Hanya Dante seorang yang tahu bahwa mereka sedang berakting. Sesuai permintaan Carera dan Alice ia akan menutup mulutnya. Tapi ia tidak mengetahui tentang Angie yang menyamar.
Marco ikut berdiri dari kursinya, dengan badannya menghadap 2 meja di depannya. "Mohon perhatiannya!" ucap kerasnya. Seluruh tamu menatapnya. "Dia adalah Carera Jalmes, tamu spesial kita pada malam ini." lanjutnya sembari menunjuk Carera. Terdengar samar samar keributan dari meja istri dan meja anak. Para istri memandangi Carera dengan sinis Mereka takut masing masing suaminya digoda.
"Gadis ini tidak mempunyai orang tua maupun keluarga, jadi mulai detik ini aku akan mengadopsinya menjadi anakku." lanjutnya seraya mengelus lembut rambut Angie.
"APA??!!" serentak. Kata inilah yang pertama terucap dari mulut tamu. Reaksi mereka tidak senang.
Carera ingin membuka suaranya, tidak setuju. Tapi dia tidak bisa berkutik, karena sadar posisinya yang tidak ada kaitannya dengan sosok Ira.
Alasan Marco mengadopsi Ira bukanlah hanya sekedar karena dia telah menyelamatkan Alice. Tetapi juga karena marco dulunya pernah mengalami hal sama sepertinya yang hidup sebagai yatim piatu, namun dia diadopsi oleh ibunya Olivia. Baginya ibunya Olivia dan Olivia adalah malaikat yang dikirimkan tuhan untuknya. Namun kedua sosok itu pergi meninggalkan dirinya, sebab itulah ia sangat mendendam pada Albert untuk membunuhnya. Begitupun dengan Cassandra, Chatrine, Dan Cellistin ia tidak tega melihat mereka yang ditinggal meninggal oleh sosok ibu dan di tinggal pergi oleh sosok ayah yang tidak bertanggung jawab.
"Mulai sekarang namanya adalah Ira Auberta. Kalian semua harus memperlakukannya sama seperti keempat putriku yang lain!" Tegas marco. Seluruh tamu mengangguk padahal di hati mereka tidak senang.
Demi kelancaran balas dendam, Angie menyetujuinya dirinya sebagai Ira diadopsi oleh marco. Dengan jadi anaknya marco, itu semakin akan memudahkan untuk aku membunuhnya!" batinnya.
"Yang ingin saya sampaikan sudah tersampaikan, mari kita mulai makannya." lanjutnya dan kembali duduk ke kursinya. Para tamu tidak mengatakan apapun, mereka tidak ingin menyinggungnya. Susana pun hening. Hanya lantunan musik dan tarian saja yang mengisi suasana.
* * *
__ADS_1
"Carera, biar aku antar kau pulang ke apartemen mu," ajak Dante.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." tolak halus Carera.
Dante tidak menyerah, dia tetap bersikeras ingin mengantar Carera pulang. Sungguh ia khawatir dengan wanitanya itu.
"Baikla...." Carera ingin menyetujuinya tapi tidak jadi. Karena ia melihat putrinya sedang mengawasinya dengan wajah marah.
"Tidak perlu!" tolak carera tajam seraya berjalan pergi.
"Carera sedari tadi aku mencari mu loh.." ucap georgi yang berpapasan dengannya.
"Halo bibi, sudah lama tidak bertemu ya. Apa kabar dengan Angie?" tanya Magma ramah.
Carera tertawa kecil. "Dia baik kok," balasnya. Kemudian Carera menyadari bahwa Dante dan Angie masih memandanginya. "Bibi pergi dulu ya.." pamitnya yang hendak pergi.
"Eitss tunggu dulu!" Georgi langsung menggandeng lengannya Carera. "Aku belum mengatakan alasan aku mencari mu loh.." sambungnya.
Carera mengernyit kebingungan. "Ada apa?" tanyanya.
"Biar aku yang mengantarmu pulang," balas Georgi.
"Apa kau mencari ku hanya untuk mengantarku pulang?" tanya carera lagi. Georgi terkekeh "Tentu saja tidak! Ada hal penting yang harus aku bahas denganmu." jawabnya seraya berjalan pergi dengan masih menggandeng Carera.
"Eh, tunggu georgi!" Carera berusaha melepaskan gandengannya. Georgi malah tertawa makin mengeratkan gandengannya.
"Singkirkan tanganmu dari Carera!" seseorang menahan pundaknya georgi. Gerogi, Carera, dan Magma kontan menoleh. Mendapati Dante yang sudah berwajah marah.
"Ternyata tuan Airlines, aku pikir tadi siapa," Georgi terkekeh.
"Singkirkan tanganmu!" balas dante tanpa basa basi lagi. Dengan wajah tidak senang matanya terus menatapi lengan Georgi yang masih melingkar di lengan wanitanya.
"Maaf ya, atas hak apa kau memerintah ku?" tanya georgi. Ia masih bersikap ramah pada rekan kerjanya itu.
"DIA CALON ISTRIKU!!"
__ADS_1
DUAR!! Carera sempurna membulatkan kedua bola matanya. Kemudian ia melirik angie yang masih terus memandanginya.