Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama

Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama
Pembalasan dendam (10)


__ADS_3

"Darent...kau, benarkah rekamannya ada padamu?" tanya Dante terbata bata. Darent tidak menjawab. Matanya melebar, dia tidak habis pikir kenapa Alice bisa mengetahuinya.


"Kakak, kenapa kau memberitahu mereka?!" celetuk Gracia. Masih tidak ada jawaban dari Darent.


Dante semakin tidak mengerti "Darent, tolong bicara!" bentaknya. Dia sudah kesal dengan sikap anaknya itu yang selalu membisu.


"Kenapa kau bisa tahu?" akhirnya dante membuka suara. Dia menatap alice dengan penasaran.


"Jadi kakak tidak memberitahu mereka," gumam Gracia. Wajahnya panik.


"Hanya menebak kok," balas Alice tersenyum bangga. Setelah semalaman berpikir, Alice mengetahuinya karena sikap baik yang ditunjukan oleh Darent pada Carera, padahal dulu kecil dia sangat membencinya.


"Darent aku tanya sekali lagi, apa benar rekamannya ada padamu?" tanya dante, dia masih tidak percaya. Darent mengangguk.


"Darent, kenapa kau tidak bilang dari dulu??! Dante membentak. "Dan kau juga Gracia, sejak kapan kau mengetahui tentang rekaman itu??" lanjutnya.


"Sejak semalam," balas Gracia dengan nada malas.


Setelah pulang dari acara makan bersama, Darent langsung menunjukan rekaman tersebut pada Gracia. Rekaman itu di berikan oleh Steven saat terakhir kali dia memeriksa kondisi kehamilan Carera, disaat hari kematian Lois. Steven menyuruh Darent untuk melihat isi rekaman tersebut saat umurnya sudah menginjak 10 tahun. Sejak saat itulah Darent mulai membenci Ayahnya, dan Marco. Dia ingin menyerahkan rekaman itu pada polisi, namun sebelum itu, dia ingin menunggu adiknya besar terlebih dahulu. Namun semakin lama hatinya semakin tidak rela. Hatinya tidak tega jika melihat adiknya hidup tanpa di dampingi oleh sosok orang tua.


Setelah Gracia melihat rekaman tersebut, sama seperti Darent, dia juga membenci Ayahnya dan Marco. Dia juga sudah mengetahui semua tentang Carera, termasuk Carera sangat menyayangi waktu kecil. Dia jadi merasa sangat bersalah telah menuduhnya. Meskipun sudah tahu Ayahnya bersalah, Gracia tidak ingin menyerahkan rekaman itu pada polisi. Dia tidak rela jika nanti melihat Ayahnya membekap seumur hidup di dalam penjara. Itulah keegoisan Darent dan Gracia.


"Kalian berdua sudah mengetahui bahwa Ayah kalian bersalah, jadi tolong berikan rekamannya!" Alice masih berbicara dengan nada baik baik.


Dante terus menghubungi Marco untuk memberitahu keadaan yang sedang terjadi, namun ponselnya tidak aktif. Kini dia pasrah, sudah saatnya untuk menerima hukuman dari perbuatannya dulu.


Begitupun juga dengan Darent, dia pasrah. Sudah cukup Ayahnya menikmati hidup, kini waktunya untuk dia mendapat balasan dari perbuatannya dulu. "Gracia, berikan rekamannya pada mereka!" perintahnya.


"Kakak, kau rela melihat Ayah masuk penjara??!" tanya Gracia dengan membentak.


"Pria ini telah merampas nyawa serta harta orang, sudah sepantasnya dia mendapat hukuman!" balas Darent seraya menunjuk Dante tajam. "Selama ini kita hidup dari merampas kebahagian orang lain, apa kau tidak malu dengan hal itu??" lanjutnya.


Gracia terdiam mendengar perkataan kakaknya itu. Dia bingung harus memilih ayahnya atau keadilan. "maaf, Alice meskipun aku adalah temanmu, aku tidak akan memberikan rekamannya! Aku tidak ingin melihat Ayahku membusuk di penjara!!" jawabnya kemudian.


Mendengar itu, Angie sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. "Dasar egois!! Tidak seperti kau, sejak lahir, aku sudah tudak di dampingi oleh sosok Ayah, itu semua disebabkan oleh perbuatan keji Marco dan Ayahmu!!!" teriak Angie tanpa jeda.


Dante, Darent, dan Gracia Tersentak kaget. "Ira, apa maksudmu??" tanya gracia kebingungan.

__ADS_1


Angie menyeringai. "Buka mata kalian lebar lebar!" dia melepas kaca mata kotaknya, melepas kuncir kepang duanya. melepas softlens. Dia membuang segala sosok Ira yang melekat pada tubuhnya. Membuat Ketiga beranak itu kompak membulatkan matanya. "Angie!!" Ucap dante kaget.


"Kau Angie, anaknya Bibi Carera?" tanya Gracia.


"Ya. Aku menyamar untuk membalas dendam pada Ayahmu dan Marco!" balas Angie dengan menyeringai. "Sekarang cepat serahkan rekamannya, sebelum aku memberimu pelajaran!!" lanjutnya tajam.


Gracia tertawa. "silakan lakukan jika kau bisa," ucapnya menantang. dia percaya ilmu bela dirinya lebih hebat dari Angie.


Angie menjadi panas melihat tingkah sombong dari Gracia tersebut, tanpa berlama lama lagi dia langsung menghampirinya untuk memukulnya.


Dengan mudahnya Gracia menghindari pukulan Angie tersebut, Karena baginya Lawan yang sudah emosi duluan sangat mudah untuk diatasi.


Jika dilihat dari kemampuan, Angie lebih unggul dari Gracia. Namun sayangnya dia tidak bisa mengendalikan emosinya. batin Alice. Dia memperhatikan perkelahian dua gadis itu, begitupun juga dengan Dante, dan Darent.


Karena dipenuhi dengan emosi, pukulan dan tendangan dari Angie terus menerus dihindari oleh Gracia. Meskipun Angie sedang Emosi, tapi dia tetap bisa menghindari pukulan dan tendangan balik dari Gracia. Semakin lama Gracia menjadi kesal. Dia mengunci kedua kaki dan tangannya Angie supaya tidak bisa bergerak. Angie tidak diam saja, dia membenturkan kepalanya ke wajah Gracia.


"AKKHH...SIALAN!!" kontan Gracia melepaskan kunciannya, dan menjadi lengah. Angie memanfaatkan kesempatan itu dengan menendang kuat wajah Gracia, membuatnya terjatuh kelantai "AKKHH....." teriaknya kesakitan. darah menetes dari mulutnya.


"GRACIA!!!" panggil Dante, dan Darent bersamaan.


"Cepat berikan rekamannya!" Sengit Angie. Dia sudah siap melayangkan tendangannya kembali.


BRAAKKK!!!


Tubuh Angie terlempar menabrak kursi di depannya.


"ANGIE!!" ADIK KECIL!!" panggil Dante, dan Dante bersamaan. "Sialan, jangan panggil aku!!" bentak Angie melotot mengarah dua pria itu.


Tanpa menunggu Angie berdiri lagi, Gracia langsung melompat kembali untuk menendangnya. Angie menyadari itu, dia dengan cepat bangun untuk menghindarinya. mereka kembali saling adu pukul.


Alice sengaja tidak melerai mereka. Dia ingin melihat masing masing kemampuan dari mereka. Dante hanya mematung ditempat. Dia tahu dirinya bersalah dia tidak bisa melakukan apapun. Sedangkan Darent, saat ini wajahnya terlihat kebingungan.


Beberapa menit kemudian, wajah Angie dan Gracia sudah sama sama babak belur. Mereka berdua tidak akan berhenti, sebelum ada salah satu yang menyerah.


"SUDAH CUKUP!!" Alice melerai, dengan menahan masing masing pukulan dari mereka berdua. Dia sudah bosan melihat pertarungan yang tidak kunjung usai itu.


Dante tersentak kaget. "Alice benar benar bisa beladiri?" batin Dante tidak percaya.

__ADS_1


Tubuh Gracia sempoyongan, Darent menangkap tubuhnya ketika ia ingin terjatuh. "Dasar lemah!" ejek Angie dengan tertawa meremehkan.


"Apa kau Bilang?!!" Gracia langsung berdiri tegap.


"Aku bilang kau lebih lemah dariku. Sudah jelas pertarungan ini dimenangkan olehku!" balas Angie bangga.


Gracia menjadi geram. tubuhnya yang tadi lemas kini meluap luap dipenuhi amarah. Dia kembali menghampiri Angie untuk memukulnya.


"Hentikan!!" Alice menahan kepalan tangan Gracia yang mengarah pada Angie. "Berikan rekamannya!!" sengitnya. Gracia tidak membalas. Tangan satunya berusaha melepaskan cengkraman Alice.


"Berikan rekamannya!!" Alice mengulangi kedua kalinya. Sorot matanya dingin dan menguatkan cengkeramannya. Gracia meringis sakit. Dia membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


"Gracia berikan saja rekamannya!" Darent ikut bicara.


"TIDAK AKAN PERNAH!!" tolak Gracia dengan membentak. Dia melototi Alice dan Angie.


"Benar benar keras kepala, jangan salahkan aku berbuat kasar padamu." balas Alice, dia sudah kesal. Secepat kilat dia mengayunkan kakinya untuk menendang Gracia, lalu...


BRAAKK!!!


Gracia terlempar keatas mengenai dinding dibelakangnya.


Untuk menendang tubuh seseorang keatas bukanlah hal yang mudah. Aku tidak menduga justru Alice melakukannya dengan mudah. batin Angie. Dia ternganga tidak percaya.


"GRACIA!!!" Dante, dan Darent berteriak kompak. mereka langsung menghampirinya.


"Gracia, serahkan saja rekamannya!" Dante menangis terharu melihat anak perempuannya itu mati matian melindunginya.


"Uhuk...tidak akan pernah!" Gracia mengeluarkan batuk darah. Suaranya gemetar. Sungguh tendangan Alice sangat kuat. Kemudian ia tersenyum dan mengeluarkan benda dari sakunya "kalian menginginkan ini?" tanyanya seraya memamerkan benda kecil yang tidak lain adalah memori yang didalamnya berisikan rekaman tersebut.


Tanpa membalas, Angie berlarian dengan gusar menghampiri Gracia untuk merebut benda tersebut. Sedangkan Alice mematung curiga dengan tingkah Gracia tersebut.


Saat Angie sudah akan merebutnya, dengan cepat Gracia langsung memasukan memori tersebut kedalam mulutnya dan menelannya.


Alice, Angie, Dante, dan Darent melotot kaget dengan tindakan Gracia barusan. "DASAR SINTING!! CEPAT KELUARKAN MEMORI ITU!!!" teriak angie setelahnya dan memukul wajah Gracia dengan penuh amarah.


"CUKUP!" Dante menahan kepalan tangan Angie. Dia marah melihat anak perempuannya itu sudah tidak sadarkan diri. "Darent, bawa Gracia keatas dan obati lukanya!" perintahnya setelahnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Darent mematuhi perintahnya. Ia menggendong tubuh adiknya itu menuju kamarnya.


__ADS_2