Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama

Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama
Pembalasan Dendam (5)


__ADS_3

Kenapa di meja utama ada 14 kursi? Bukannya hanya ada 10 keluarga yang di undang." kata kepala keluarga Gareth.


"Mungkin marco menambah 3 keluarga lagi." tebak asal kepala keluarga Gumai.


"Dante Airlines, apa kau tahu 2 nama keluarga sisanya selain keluarga newton??" tanya kepala keluarga Gir.


Dante mengedikkan bahunya. "Entahlah. Marco juga tidak memberitahuku. Dia hanya berkata bahwa hanya ada satu tamu spesial yang akan datang." sahut dante acuh.


"Kenapa kalian sungguh heboh?! Kita lihat saja nanti siapa 2 keluarga lagi dan satu orang yang special bagi marco!" celetuk kepala keluarga Yarzha.


Sedangkan 5 kepala keluarga sisanya yaitu Lou, Karzo, Spencer, Martha, dan Karge hanya acuh menanggapi obrolan dari 5 kepala keluarga barusan.


.


.


.


.


.


.


.


"Terima kasih banyak karena kau sudah menyelamatkan temanku." Gracia memeluk erat tubuh Angie setelah mendengar cerita karangan dari alice.


Angie melepas paksa pelukannya. Dengan kepala tertunduk dia hanya membalas dengan anggukan.


Alice Cengingiran. "Ira orangnya memang sedikit pemalu!"


"Kau tidak perlu malu. Anggap kami sebagai temanmu juga, oke?!" kata gracia yang berusaha akrab dengan Angie yang dianggapnya Ira.


"I-iya!" jawab Angie. kepalanya masih menunduk. Dia menyembunyikan wajahnya yang kesal.


Gracia tidak membalas lagi. "Alice mari temui kakakku! Dia pasti senang melihat kau masih hidup!" ajak gracia girang. Tanpa menunggu jawaban dari Alice, ia langsung menggandeng Lengannya Alice Dan Angie pergi.


* *


Di tengah kerumunan para gadis cantik dan sexy, terlihat Darent sedang duduk sembari menyilangkan satu kakinya. Tangan kanannya memegang segelas bir. Wajah tampan tanpa ekspresinya memandang lurus ke depan, tanpa melirik sedikitpun gadis di sekelilingnya. Seperti lalat. Itulah tanggapan Darent mengenai mereka.


GHUENA GARETH.



"Kakak!!" panggil Gracia dibalik kerumunan para gadis yang menutupi batang hidungnya Darent.


Darent kontan berdiri. menyingkirkan gadis yang menghalangi jalannya untuk menemui adiknya itu.


"Kakak, lihatlah Alice dia baik baik saja!" ucap girang Gracia setelah bertatap muka dengan kakaknya.

__ADS_1


Darent tersenyum mengarah alice dan mengangguk memberi sapaan. Alice membalas sapaan Darent juga dengan tersenyum.


Angie yang berdiri di samping alice kembali memanas melihat pria yang dianggapnya bisu itu.


"Oh, tuhan!! Kalian lihat tadi, Darent tersenyum!!" ucap heboh Ghuena Gareth.


"Ini pertama kalinya aku melihat Darent tersenyum. Senyumnya begitu manis!" sahut Rista Karge. "Bagaikan ES GULA, dingin tetapi manis!" lanjutnya yang memuji. Berharap mendapat senyuman juga dari Darent.


KRIK...KRIK...suasana hening. Darent tidak merespon gombalannya. Melihat Alice dan Gracia sedang menahan tawa, Rista langsung berlarian pergi karena malu.


Alice dan Gracia tidak bisa lagi menahan tawanya. Mereka tertawa terbahak bahak. Darent ikut tersenyum melihatnya. Sedangkan Angie hanya memutar bolanya malas di balik kepalanya yang tertunduk.


"Rista ini, benar benar bodoh! Darent tidak akan luluh hanya dengan gombalan basi seperti itu." batin ghuena. Dia ikut malu akibat ulah temannya itu.


Kemudian Darent berhenti tersenyum. Pandangannya mengarah pada gadis yang berdiri di samping Alice, yaitu Angie. Darent merasa tidak asing dengan gadis itu. Karena penasaran, ia berjalan mendekatinya.


"Eh, siapa??!" batin Angie saat dagunya di pegang oleh seseorang. Wajahnya yang kaget bertatapan dengan wajah Darent, si pelaku pemegang dagunya.


Darent menatap lekat wajah angie yang tinggal berjarak 5 senti dengan wajahnya. Ia merasa tidak asing dengan sosok gadis dihadapannya itu.


Alice hanya tersenyum melihatnya. Ia sengaja tidak berbuat apapun, agar tidak menambah kecurigaan Darent pada penyamaran Angie.


CEKLEK!!


Ghuena memotret foto Darent yang sedang memegang dagu Angie. "Fenomena langka." batinnya.


Sedangkan Gracia melotot melihat ulah kakaknya itu. "Kakak, apa yang kau lakukan?! Bentaknya setelah menyingkirkan tangan Darent dari dagunya Angie. Membuat Darent menatap kesal padanya.


"I-iya," balas Angie memalingkan tatapannya. Dirinya sangat kesal. "Apakah ibu tidak datang? Baguslah! Aku tidak ingin ibu bertemu dengan Dante!" batinnya yang diam diam pandangannya mencari keberadaan Carera.


"Mohon perhatiannya!" ucap keras seorang tiba tiba. Dia adalah Grey, asistennya marco. Para tamu yang sedang asyik mengobrol kontan menoleh.


"Terima kasih pada para hadirini yang sudah bersabar menunggu kedatangan tamu spesial kita," lanjutnya.


"Apa? Hanya satu tamu! Tapi kenapa ada 3 kursi yang lebih?!" ribut ribut.


"Mohon para hadirin untuk tenang! Ucap Grey lagi. Para tamu kontan terdiam. "Dipersilahkan para hadirin untuk duduk di meja yang sudah di tetapkan. Sekian, terima kasih." lanjutnya yang mengakhiri ucapannya.


Alice, Gracia, Angie, Darent, dan Ghuena berjalan bersama menuju meja khusus anak. Begitupun juga dengan yang lainnya. Mereka bergerombol menuju meja yang masing masing sudah di tetapkan untuk mereka.


Di tengah berjalan, Alice berpapasan dengan sosok pria yang tidak asing dalam ingatannya.


"Pria itu, dimana yaa aku pernah bertemu dengannya?" batin Alice. Menatapi belakang punggung pria yang baru melaluinya.


Gracia memperhatikan arah pandangan temannya itu. "Kau memperhatikan Leonard?" tanyanya.


"Leonard? Nama ini juga tidak asing," batin Alice.


Melihat temannya itu melamun, gracia membuka suaranya lagi. "Leonard adalah nama pria yang tadi kau pandangi!" Apa kau suka dengannya?" lanjutnya yang menggoda Alice.


"Aku tidak mengerti maksud dari ucapan mu!" balas Alice acuh. Ia melanjutkan kembali langkahnya.

__ADS_1


Gracia menyusul temannya itu yang sudah berjalan duluan. "Leonard berasal dari keluarga Yarzha. Perusahaan ayahnya sejajar dengan perusahaan ayah kita loh.." jelas Gracia yang tanpa Alice bertanya.


"Aku tidak bertanya!" ketus alice datar.


~ ~ ~


Alice sudah duduk di kursinya, dimeja Anak. tepat bersebelahan dengan Gracia.


Leonard tidak menyadari bahwa Alice duduk di kursi tepat di hadapannya. Sikapnya acuh pada sekelilingnya sambil memainkan ponsel genggamnya.


Grey menghampiri Alice yang sedang asyik mengobrol dengan Gracia dan berkata. "Maaf, nona besar, tuan meminta anda untuk ikut duduk di meja utama."


"APA??!! Ucap kaget serentak sebagian anak. Sisanya hanya acuh mendengarnya.


Leonard juga tersentak. Ia tersentak karena melihat sosok wanita yang ada di hadapannya itu. Meskipun warna mata dan rambut yang berbeda, tapi Leonard bisa mengenali bahwa wanita itu adalah Alice yang ia kenal. Selama dua bulan ini ia terus mencari keberadaan Alice yang mendadak hilang saat ia ingin meminta maaf.


"Kau mungkin salah Grey. Tempatku sebagai anak adalah di meja ini." balas Alice yang memastikan


"Alasan tuan menyiapkan 3 kursi lebih, yaitu satu kursi untuk tamu spesial dan sisanya untuk anda dan Ira." jelas Grey dengan wajah datarnya.


"Siapa itu Ira??!" tanya salah satu pria. Javier Gumai namanya.


"Itu loh..gadis yang sedari tadi berdiri di samping meja untuk menyiapkan hidangan." ketus Ghuena Gareth.


Seluruh anak kontan menoleh mengarah Angie dengan tatapan sinis. Angie menunduk. Ia menghindari tatapan salah satu anak, yaitu teman sekolahnya.


"Ya ampun diakan pelayan!!" Apa maksud paman Marco mengajaknya duduk di meja utama??" protes Carlina Spencer.


"Ayahku saja butuh 5 tahun agar bisa diundang oleh paman marco untuk duduk di meja utama!" celetuk Arina Gir. "Aku sungguh tidak rela jika pelayan ini duduk sejajar dengan kepala keluarga!" lanjutnya tajam seraya menunjuk angie.


"Jika kalian tidak suka, silakan angkat kaki dari sini!!" ucap Alice datar namun tatapannya tajam. Carlina dan Arina kontan terdiam malu.


lalu Alice berdiri dari duduknya. Ia melihat di seberang sana, di meja utama juga mengalami keributan. dikarenakan terhalang oleh meja para istri yang berada di tengah, Alice tidak bisa melihat jelas keributan apa yang ada di sana. "Mari Ira kita pergi!" ajaknya kemudian.


"TUNGGU DULU!!" ucap Chatrine yang menahan langkah alice. "Kenapa ayah hanya mengajak Alice dan pembantu itu untuk bergabung di meja utama? Kenapa tidak mengajak kami bertiga??!" tanyanya pada Grey. Matanya sudah berkaca kaca ingin menangis.


Cassandra dan Cellistin hanya diam. Sedari tadi, dibenak mereka juga bertanya tanya hal yang sama seperti Chatrine.


"Karena acara malam ini khusus tuan adakan untuk nona Alice dan teman barunya, Ira. Tuan ingin memperkenalkan sosok Ira yang sudah menyelamatkan nyawa putrinya dari kematian." jelas grey dengan wajah datarnya.


"Kenapa ayah selalu saja memperlakukan Alice dengan hangat?!! Kenapa saat dengan kami, ayah malah bersikap dingin?!! Sekarang ayah juga mementingkan gadis desa itu!! Aku benci pada Alice!! Aku benci pada ayah!!" batin Chatrine. Air matanya sudah membanjiri pipinya. Sebagian anak menatapinya dengan perasaan iba.


Lalu Chatrine berdiri dari duduknya. "Aku benci acara ini!!!" ucapnya berlarian pergi meninggalkan taman.


Cassandra dan Cellistin tidak mengatakan apapun. Marah dan sedih tercampur dalam perasaannya. Mereka berdua juga pergi meninggalkan taman.


Sebagian anak juga merasa kesal. Saat ini mereka sedang menatap sinis mengarah Angie.


"Magma sedang melirik ke arahku. Semoga saja dia tidak mengenaliku." batin angie yang kepalanya terus tertunduk.


Magma berasal dari keluarga Karzo. Ayahnya, Georgie Karzo adalah seorang konglomerat. Magma satu sekolah dengan Angie. Parasnya yang tak kalah dari artis Hollywood membuatnya banyak disukai oleh para gadis. tapi Magma hanya menyukai Angie, karena merasa gemes dengan sikap galaknya.

__ADS_1


__ADS_2