Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama

Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama
Pembalasan dendam (12)


__ADS_3

"Ayahhhh!!!!" jerit Gracia berlarian mendekati tepi jurang. Begitu juga dengan yang lainnya. Sekejap mata Darent sudah menghilang dari pandangan mereka, Hanya terpampang kegelapan dari dalam jurang.


"AYAHHHHH!! AYAHHHH, AKU MOHON KEMBALILAH!!!" tangis Gracia menggema. Darent masih mematung, tidak percaya dengan kejadian beberapa detik lalu.


Dengan bola mata membulat sempurna, Carera menatap dalam jurang dengan tubuh gemetaran, dirinya masih tidak percaya, Pria yang tadi bersamanya kini sudah tiada untuk selamanya. "Dan...dante..." tangisnya tersedu sedu. Alice mengusap pundaknya, berusaha menenangkan. Sedangkan Angie sedari tadi tersenyum puas.


"Ayah..Ayah...hiks..hiks..Aya...." Gracia pingsan. Darent menggendongnya, membawanya pergi ke rumah sakit.


"Ibu tidak perlu menangisi kematian pria itu. Seharusnya saat ini ibu senang karena dendam orang tua dan kekasih ibu sudah terbalaskan!" ketus Angie.


Alice menghela napas berat, "mungkin inilah akhir yang terbaik. Maaf tuhan, aku telah gagal." batin Alice, tersenyum tipis menghadap langit.


"Mari bu, kita pulang," ajak Angie membawa Carera yang masih menangis.


"Cinta. Mungkin kau telah jatuh cinta pada Dante tapi karena kebencian anakmu, dengan terpaksa kau harus mengalah." batin Alice menatap sendu Carera di sampingnya.


Ketika mereka bertiga sudah akan menaiki mobil tiba tiba, "tunggu, nona Alice," ucap seseorang di belakang mereka. Mereka kontan menoleh ke asal suara, mendapati pria muda berjas, Alice menyipitkan matanya, merasa tidak asing dengan sosok yang di hadapannya itu. "Saya Luke, asistennya tuan Marco," sapa sosok itu memperkenalkan diri dengan ramah.


Luke, pencuri yang bertemu dengan Alice pada waktu Alice sedang menyamar setelah selamat dari kecelakaan. Pertemuan Luke dengan Marco setelah ia bertemu dengan Alice. Itu karena dia melihat foto Alice yang di tempel di sebuah poster kecelakaannya. Meskipun warna kulit dan penampilan berbeda, tapi Luke masih bisa mengenali bahwa gadis yang di poster tersebut adalah Alice yang baru ia temui. Ia pun menceritakan pertemuannya dengan Alice pada Marco, dan mendapatkan uang 10 milyar darinya. Karena merasa kasian melihat Luke hidup hanya bersama dua adiknya yang masih kecil, Marco mengangkatnya menjadi asistennya.


"Saya Luke, pencuri yang pernah anda ajak makan," Luke mengingatkan dirinya pada Alice yang masih mencireni sosok dirinya. Alice tersentak, dia sudah mengingatnya. "Kenapa dia sampai bisa menjadi asistennya Marco? Apa dia telah menceritakan pertemuanku dengannya pada Marco?" batin Alice bertanya tanya sendiri.


"Ibu mari kita naik duluan, pria ini hanyalah mencari Alice saja." ajak Angie.


"Tunggu dulu nyonya dan nona!" Luke menahan Carera dan Angie. "Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada kalian semua," lanjutnya.


Angie mengangkat satu alisnya, "tentang apa?" tanyanya penasaran. "Mari kita bicarakan di tempat Cofee terdekat," pinta Luke, mendapat anggukkan setuju dari mereka bertiga.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


"Ini dokumen yang berisikan ahli pemilik perusahaan." luke menyodorkan sebuah dokumen di atas meja. "Tuan sudah mengatasnamakan perusahaan H GROUP pada nyonya Carera. Silakan nyonya tanda tangani," lanjutnya.


Angie merebut dokumennya. Matanya melebar saat membaca isi dokumen tersebut. Ia membacanya dengan teliti. "Angie, apakah yang dikatakannya benar?" tanya Carera memastikan. Angie mengangguk.


"Baiklah, dengan begini anda sudah resmi menjadi pemimpin dari perusahaan H GROUP." ucap Luke tersenyum ramah.


"Itukan memang perusahaan milik kakek ku, sudah sewajarnya menjadi milik Ibu ku." batin Angie, bibirnya menunjukkan senyuman puas.


"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan? Kalau tidak ada, kami pergi." tanya Angie yang hendak bangkit dari duduknya.


"Ada satu hal lagi," balas Luke, kemudian dia mengeluarkan sebuah surat.


"Ini dari tuan Marco untuk kalian semua," Luke mengangsurkan surat tersebut, Alice mengambilnya. Sedangkan Angie memutar bola matanya malas. Ia tidak perduli dengan surat itu.


"Apa sudah selesai?" tanya Angie yang sudah merasa jengah. "Ya," balas Luke dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


"Mari bu, kita pulang," Angie menggandeng tangan Carera lalu berdiri dari kursinya. Yang diikuti oleh Alice. Setelah Alice dan Carera berpamitan dengan Luke mereka pun pergi.


ISI SURAT:


10 tahun yang lalu, aku sudah ingin menyerahkan kembali perusahaan ini pada Carera, serta menyerahkan diriku pada polisi. Aku melakukan itu bukan karena aku menyesali perbuatan ku, tapi karena rasanya hidupku penuh dengan kehampaan. Seperti hidupku tidak ada tujuan lagi. Namun saat aku sudah akan melakukannya, Dante melarang ku. Dia memberitahu bahwa aku mempunyai seorang anak dari Carella. Mengetahui itu rasanya aku kembali menemukan tujuan hidupku. Aku tidak perduli meskipun anak itu lahir dari rahim wanita yang ku benci, aku tidak perduli siapa ibunya, anak itu adalah darah daging ku sendiri, aku ingin hidup bersamanya, membesarkannya, merawatnya, serta menjaganya. itu pasti akan menyenangkan sekali bukan.


Waktu saat menjemputmu, aku melihatnya, yaitu Angie gadis kecil yang Galak sepertinya ayahnya, Lois. Entah kenapa saat melihatnya, penyesalan dalam diriku baru muncul. Seketika aku merasa bersalah telah membunuh Lois yang tidak ada kaitannya dengan kematian Olivia. Karena keegoisanku itu gadis kecil ini hidup tanpa didampingi oleh sosok ayah. Rasanya pada saat itu juga aku ingin mengadopsinya menjadi anakku. Aku ingin menjadi sosok ayah untuknya. Aku ingin memberinya kasih sayang seorang ayah, ingin merawat, serta menjaganya sama seperti ke empat anakku yang lain, tapi itu semua mustahil. Karena ibunya, Carera pasti tidak akan memberiku izin untuk melakukan itu, ia saja ketakutan saat melihatku. Dan juga aku yakin sekali jika gadis kecil itu sudah besar dia akan membunuh ku, untuk membalaskan dendam kematian ayahnya. Tapi aku sungguh tidak berharap Alice akan mengetahui bahwa aku adalah seorang pembunuh, bahwa aku adalah orang yang telah menghancurkan hidup ibunya, oh tuhan aku tidak kuat jika nanti melihatnya membenciku. Sebab itulah aku menjauhkan Alice dengan Carera. Aku melarang Carera menemui Alice karena aku takut ia akan menceritakan semua masa lalu itu pada Alice.


Tapi semua harapan itu tidak terjadi, karena Alice mengalami kecelakaan. Karena setelah dia selamat dari kecelakaan dia bukan pulang ke rumah ku melainkan pulang ke rumah bibinya, Carera. Aku menyimpulkan hal itu karena aku bertemu dengan seorang pria yang umurnya tidak berjauhan dengan Alice, namanya Luke. Dia menceritakan pertemuannya dengan Alice. Katanya meskipun warna kulit dan penampilan berbeda, tapi dia yakin sekali bahwa itu adalah Alice Auberta, yaitu anakku. Aku berharap yang dikatakannya itu adalah kebenaran, bersamanya aku mencari Alice ke seluruh penjuru kota, tapi dia tidak ketemu. Dari situlah aku menyimpulkan bahwa setelah selamat dari kecelakaan, Alice pergi keluar kota menemui Carera.


Setelahnya, aku pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri. Aku tau bahwa ketiga anakku yang lainnya mencari ku dan menginginkan ku pulang, tapi aku berniat pulang pada saat hari ulang tahunnya Chatrine untuk memberinya kejutan. Tantu aku sudah menyiapkan hadiah kecil untuknya yaitu berupa kalung berlian. Tapi sehari sebelum hari itu tiba, aku mendapat pesan dari Kai yang mengatakan bahwa Alice masih hidup dan telah kembali ke rumah. Kalian tahu saat mendengar hal itu rasanya seperti apa? Rasanya seperti mendapatkan undian. Terdengar konyol, tapi itu faktanya. Aku langsung bergegas pulang.


Saat Alice beralasan bahwa dia diselamatkan oleh seorang gadis yang bernama Ira dan ia terus dirawat dirumahnya, aku tahu dia sedang berbohong. Dan aku juga tahu bahwa gadis yang mengaku dirinya adalah Ira sebenarnya adalah Angie. Aku sudah tahu maksud kedatangannya itu adalah untuk membalas dendam, entah dengan cara membunuhku atau dengan cara yang lain aku tidak tahu. huh~ hari yang paling tidak ku nantikan pun tiba. Dimana Alice sudah mengetahui semua perbuatan ku di masa lalu. Aku bersikap pura pura seolah tidak tahu dan tetap mengadopsi Ira menjadi anakku, karena itu memang sudah menjadi keinginan lamaku. Meskipun sebentar, aku senang karena bisa memberikannya kasih sayang sebagai sosok ayah.


Aku mendapat pesan dari Dante bahwa Alice dan Angie ingin menyerahkan rekaman pembunuhan Albert dan riana pada polisi untuk memasukkan aku kedalam penjara, tapi tidak berhasil. Jadi lebih baik aku memilih mati agar permasalahan ini cepat terselesaikan.


Andai waktu bisa diputar aku tidak berharap bertemu dengan Olivia dan Ibunya. Lebih baik aku hidup sendirian di jalanan, dimana aku tidak mempunyai teman, orang tua, maupun anak. Maka aku tidak akan mengenal emosi yang dinamakan dendam. Maka aku tidak akan pernah memiliki empat anak, aku sungguh tidak rela bila harus meninggalkan mereka, aku ingin terus bersama mereka, tapi orang sepertiku apakah pantas?


Untuk Cassandra, Chatrine, dan Cellitin, meskipun kalian sudah mengetahui kebenarannya, tidak perduli kita tidak mempunyai hubungan darah tapi ingatlah selalu bahwa aku adalah ayah kalian. Kalian sudah bersamaku sejak kalian masih bayi mana bisa aku tidak menyayangi kalian. Aku hanya kecewa dengan tingkah kalian yang selalu menindas Alice, setelah tahu kebenarannya aku berharap kalian kedepannya bisa berubah. Aku minta pada kalian untuk menyayangi serta menjaga Alice. Anggap dia seperti adik kandung kalian sendiri.


Aku memang pengecut tidak bisa menyampaikan isi hatiku langsung pada kalian. Tapi ketahuilah aku menyayangi kalian dengan caraku sendiri. Setelah kematian ku tolong hiduplah berbahagia bersama sama. Jangan ada perselisihan maupun mendendam lagi. Hanya itu permintaan terakhirku pada kalian.


Untuk Carera, aku minta padamu tolong jadilah ibu dari keempat anakku. Sayangi mereka seperti kau menyayangi putrimu sendiri. Kau wanita yang baik hati, lemah, lembut sebab itulah aku meminta tolong hal ini padamu.


Untuk sahabatku Dante, jangan bersedih setelah kematian ku. Perjuangkan lah Cintamu untu mendapatkan hatinya Carera dan Angie.


Untuk semuanya, hiduplah berbahagia. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2