Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama

Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama
Pembalasan dendam - end


__ADS_3

"AYAHHH....!!!" tangis pecah dari Cassandra, Chatrine, dan Cellistin. Setelah membaca surat tersebut.


"Ayah, maafkan aku... Aku berjanji akan berubah jadi anak baik tapi tolong...kembalilah..!!" teriak Chatrine disela tangisnya.


Alice yang berada di dekat mereka tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak tahu apakah ketiga saudari itu telah benar benar berubah. Sedangkan Angie memandangi mereka dengan tersenyum miris.


"Marco, kau tenanglah di alam neraka sana, aku disini akan menjaga Alice. Tapi kau tahu? Ternyata Alice lebih kuat dariku, aku jadi berpikir malah dia yang akan menjagaku." batin Angie sambil terkekeh kecil.


Setelah membaca surat dari Marco perasaan Alice tidak merasa sedih ataupun merasa kehilangan. Tapi...


TESS...TESS......


"Loh, kenapa Air mataku jatuh sendiri?" batin Alice seraya mengelap air matanya. "Entahlah aku juga tidak mengerti, mungkin ini adalah perasaan sedih dari pemilik tubuh ini,"


Tangis dari ketiga kakak beradik itu telah mereda, mereka berdiri dari duduknya untuk menghampiri Alice dan memeluknya.


"Alice, maafkan kami. Selama ini kami telah berbuat jahat padamu." ucap Cassandra duluan.


"Benar seperti kata ayah, kau tidak mempunyai salah dengan kami. Kamilah yang mempunyai banyak salah padamu," yang disusul oleh Chatrine.


"Ya, tolong maafkan kami," sambung Cellistin.


Alice melepaskan pelukan mereka, ia merasa sesak dipeluk erat oleh tiga gadis bersamaan. "Yang berlalu biarlah sudah berlalu, seperti kata ayah, sekarang mari kita hidup berbahagia bersama tanpa adanya perselisihan ataupun mendendam lagi." balas Alice tersenyum tulus.


"YAA!" jawab mereka kompak dan kembali memeluk Alice. Alice hanya menghela napas pasrah. Angie terkekeh kecil melihatnya. "Marco, Kau tidak perlu cemas lagi, kini ketiga anakmu telah berubah. Pilihan mu untuk mati memanglah tepat." batin Angie terus tersenyum puas.


"Alice..!!!" panggilan seorang gadis. Mereka kompak menoleh mendapati Carera bersama Darent, dan Gracia. Gracia berlarian menghampiri Alice dan ikut memeluknya.


"Alice maafkan perbuatan ku sebelumnya, aku sungguh egois! Tapi sekarang aku telah menyadarinya, tolong maafkan aku." ucap Gracia sendu. Alice melepaskan pelukannya dan berkata, "yang berlalu biarlah sudah berlalu, sekarang mari kita hidup berbahagia bersama tanpa adanya mendendam." "aku tidak pintar berbicara, jadi hanya kata kata itu yang bisa aku ucapkan pada mereka. "Batin Alice setelahnya. Gracia mengangguk, "YA!!" jawabnya mantap. Lalu kembali memeluk Alice.

__ADS_1


Carera menghampiri Cassandra, Chatrine dan Cellistin. "Jika kalian tidak keberatan, kalian bisa menganggap ku sebagai ibu kalian." ucapnya gugup. Mendengarnya ketiga kakak beradik itu tertawa kecil dan menjawab "TENTU!!" jawab mereka kompak, lalu memeluk Carera. "Terima kasih.." lanjut mereka, dijawab anggukan oleh Carera.


Alice, dan Gracia yang melihatnya ikut tersenyum bahagia. Sedangkan Darent, ia mendekati Angie dan terus menatap dalam mata sosok gadis disebelahnya itu. "Adik kecil..." gumamnya yang bisa terdengar oleh Angie. Angie tersenyum paksa menanggapinya. "Dasar pria aneh!" batinnya.


Tiba tiba saja Alice merasa kepalanya pusing, tubuhnya sempoyongan, dan penglihatannya semakin lama semakin kabur. "Ada apa denganku?" batinnya bertanya tanya sendiri. Kemudian....


BRUUK!!!


Tubuhnya jatuh kelantai. Kontan seluruh orang melihatnya berteriak, menghampirinya.


"Cepat panggilkan Dokter!!" perintah Cassandra panik.


CELLAMANTIN POV


Perlahan aku membuka mataku yang penglihatan ku masih sedikit kabur. Setelah beberapa detik, penglihatan ku telah jelas. Betapa terkejutnya aku saat mataku bertatapan langsung dengan atap kayu yang ada dihadapan ku ini. Atap yang sangat familiar dalan ingatan. Dengan gusar aku duduk dari baring ku, yang ternyata tadi aku bukanlah berbaring di atas kasur melainkan sebuah meja persegi panjang.


Aku melirik sekitarku, mendapati dinding kayu, perabotan yang seadanya, dan sungai yang terpampang dari luar jendela. Tempat ini tidak asing bagiku. Aku tersentak kaget, dengan kedua bola mata membulat sempurna saat melihat seorang pria sedang duduk dihadapan ku dengan menatapku dengan wajah penuh heran.


Pria itu adalah guruku yang juga pembunuh bayaran sama sepertiku. Aku tidak tahu nama aslinya, aku tidak berani bertanya. Sikapnya dingin. Dia juga kejam, tapi itu hanya berlaku jika dia sedang berhadapan dengan musuh. Usianya tidak jauh dengan usiaku. Tapi aku memanggilnya begitu karena dialah orang yang menyelamatkanku waktu kecil dan mengajarkanku beladiri.


Apa aku kembali menjadi sosok diriku yang sebenarnya yaitu Cellamantine? Aku berdiri, berlarian menuju sungai yang diseberang pandanganku.


Dari bayangan air, aku melihat sosok Cellamantine yaitu sosok asliku. Aku menjerit senang. Entah kenapa bisa seperti ini, yang pasti aku sangat bahagia.


"Semenjak kau bangun dari kecelakaan di misi membunuh bangsawan HAM, tingkah mu menjadi aneh." ucap guruku yang ada dibelakang ku dengan wajah datarnya.


Misi pembunuhan bangsawan HAM? Itu misi yang membuatku tewas. Apa jangan jangan setelah Alice mati, ia juga bereinkarnasi menjadi sosok diriku?! Jadi pada waktu yang bersamaan, kami saling bertukar kehidupan!


"Sesuai permintaanmu, kita tidak akan lagi membunuh. Semalam, aku sudah membunuh bangsawan HAM." kata guruku lagi.

__ADS_1


Sesuai permintaanku? Apa itu permintaan dari Alice?


Jadi begitu, alasan tuhan menukar kehidupan kami yaitu untuk saling menyelesaikan masing masing permasalahan hidup yang tidak kami bisa selesaikan. Entah bagaimana caranya Alice meyakinkan pria dingin seperti guruku ini, yang pasti aku sangat berterima kasih padanya. Sama sepertiku, saat ini Alice pasti telah kembali ke sosok dirinya.


CELLAMANTINE POV END.


DISISI LAIN


ALICE POV


Aku membuka mataku, betapa terkejutnya aku saat melihat sekelilingku, ruangan yang dipenuhi dengan kemewahan, yang sangat familiar dalam ingatanku, yaitu kamarku sendiri.


Beberapa kali aku mengucek mataku untuk memastikan apa aku sedang bermimpi atau sedang dalam kenyataan.


"Alice, syukurlah kau sudah sadar!"


Suara itu berasal dari banyak orang, aku menoleh ke asal suara. Mataku membulat sempurna mendapati 7 orang yang sangat tidak asing bagiku. Mereka menatapku dengan wajah penuh kekhwatiran. Kemudian 3 sosok gadis naik keatas kasurku dan memeluk erat tubuhku sambil menangis.


"Syukurlah kau baik baik saja.." ucap salah satu gadis yang kukenal dia adalah Cassandra, kakak tiri ku yang paling tua.


Tubuhku gemetar, aku ketakutan melihat 3 sosok gadis yang dihadapan ku ini. Sosok gadis yang telah mengurungku dalam gudang hingga membuatku mati.


"Alice, ada apa?" tanya heran bibiku, Carera.


Aku tidak menjawab. Semua ingatan tentang apa saja yang dilakukan Cellamntine saat menjadi diriku, masuk kedalam kepalaku. Sekarang aku sudah mengerti. "Tidak ada kok." jawabku kemudian dengan tersenyum. Ketiga kakak tiri ku kembali memelukku. Raut wajah mereka terlihat lega, begitu juga dengan yang lainnya.


Meskipun aku kehilangan sosok ayah yang ku sayangi, tapi aku ikhlas. Karena gantinya aku mendapatkan tiga kakak yang menyayangi ku dengan tulus.


THE END

__ADS_1


 


Dukung Author dengan cara Vote, Komen, and Like. Nantikan karya baru dari Author selanjutnya ya... Terima kasih banyak, see you next time. babay....😘


__ADS_2