
Wajah Mereka Pucat. Tubuh Mereka Gemetaran. Satupun Penjaga Tidak Ada Yang Berani Menghampiri Alice.
"Halo Semuanya Apa Kabar??!" Tanya Alice Tersenyum Ramah Setelah Menghampiri Mereka.
Mereka Masih Terdiam. Kemudian Salah Satu Penjaga Akhirnya Membuka Suara. " No..Nona Ali..Ce???" Nona Masih Hidup!!!" Katanya Tergagap Karena Gemetar.
"Jadi Selama Ini Kalian Mengira Aku Sudah Mati, Ya?" Tanya Alice. Di Jawab Anggukan Cepat.
"Pfttttt~" Alice Terkekeh. "Maaf Ya, Setelah Selamat Dari Kecelakaan Aku Tidak Langsung Pulang Ke Rumah." Ucapnya Yang Masih Tertawa Geli. Dengan Wajah Ketakutan, Para Penjaga Menanggapinya Dengan Mengangguk Cepat.
"Alice Ini! Kenapa Harus Segala Sih Meladeni Para Penjaga?!" Batin Angie Kesal. Berdiri Di Belakang Alice Dengan Wajah Masam.
"Oh, Iya! Perkenalkan Ini Orang Yang Telah Menyelamatkan Ku Waktu Kecelakaan, Namanya Ira." Kata Alice Yang Memperkenalkan Angie. Angie Mengubah Ekspresinya Menjadi Gadis Lugu Dan Pemalu.
"Ah...Se-selamat Siang Para Pa-paman.. Senang Bertemu De-dengan Kali-an..." Angie Menundukkan Kepalanya. Sengaja Membuat Suaranya Terdengar Gagap.
Penjaga Serentak Mengangkat Alisnya Satu. Memperhatikan Angie Dari Ujung Kepala Sampai Ujung Kaki. Memakai Rok Longgar Hitam Polos Sampai Menutupi Kaki, Baju Polos Lengan Panjang Berwana Hijau Terlihat Kusut. Rambut Di Kepang Dua Terlihat Rapi, Dan Tidak Lupa Dengan Kaca Mata Kotak Transparannya. "Penampilan Sempurna Seorang Gadis Desa Yang Culun!" Batin Mereka.
"Dia Kuangkat Menjadi Pelayan Pribadiku. Kalian Harus Bersikap Hormat Padanya!" Kata Alice Lagi. Dengan Serentak Para Penjaga Membungkukkan Badannya. "TERIMA KASIH BANYAK SUDAH MENYELAMATKAN NONA KAMI!" Dengan Kepala Masih Tertunduk, Angie Membalas Dengan Anggukan Cepat.
"Apakah Ayah Berada Di Rumah?" Tanya Alice. Robert Menggeleng Pelan. "Sudah Dua Minggu Ini Tuan Tidak Pulang Ke Kediaman. Ia Jadi Jarang Pulang Semenjak Kecelakaan Nona."
"Hm..Begitu Ya," Alice Bergumam Murung. Robert Bawa Aku Dan Ira Masuk!" Perintahnya Kemudian.
"Dengan Senang Hati, Nona."
Dengan Menaiki Mobil Kecepatan Sedang, Butuh Waktu 10 Menit Untuk Sampai Ke Pintu Masuk Utama.
Saat Melangkahkan Kaki Masuk, Para Pelayan Kontan Memberhentikan Aktivitasnya. Melongo Mematung Di Tempat. Pucat Basi Seperti Melihat Hantu. Alice Menanggapinya Dengan Tersenyum. Dengan Tatapan Takut, Mereka Menatap Satu Sama Lain. "Hantunya Nona Alice???!" Kata Mereka Serentak. Lalu Berlarian Sambil Berteriak Ketakutan.
"AAAAAAA HANTUUUUUU!!!!!!"
Suasana Hening Berubah Gaduh. Alice Tertawa Geli Melihat Tingkah Mereka. "Ya Ampun, Mereka Terlalu Berlebihan!" Batin Angie Seraya Memutar Bola Matanya Malas.
"ADA APA RIBUT RIBUT DISINI??!" Tanya Tegas Seorang Tiba Tiba. Para Pelayan Berkumpul Bersembunyi Di Belakang Tubuhnya.
"I..Itu..Tu...tuan.." Tunjuk Salah Satu Pelayan Mengarah Alice. Ia Gemetaran
"Kai Membulatkan Kedua Bola Matanya Sempurna. Menghampiri Alice. Angie Kembali Menunduk, Mendalami Perannya Sebagai Gadis Lugu Dan Gagap.
"Halo, Kai!!" Sapa Alice Pada Pria Berusia 25 Tahun Itu. Ia Tersenyum Ramah.
"Ehem..." Kai Batuk Jaim. Mengubah Raut Wajahnya Kembali Tenang. "Saya Senang Melihat Nona Masih Hidup," Katanya Yang Tanpa Banyak Bertanya Lagi.
"Ya!" Balas Alice Tersenyum. "Tolong Hubungi Ayah, Katakan Bahwa Putrinya Telah Kembali!" Perintahnya Kemudian.
"Baik Nona!" Kai Langsung Menghubungi Tuannya. Beberapa Kali Panggilannya Ditolak. Namun Setelah Mengirim SMS, Marco Langsung Balik Menelponnya.
__ADS_1
"Tuan Akan Segera Pulang," Ucapnya Setelah Selesai Berbicara Di Telpon. Kemudian Matanya Tertuju Pada Gadis Yang Bersembunyi Di Belakang Tubuh Nona Nya Itu. Tanpa Kai Bertanya Lagi, Alice Langsung Memperkenalkannya. "Dia Namanya Ira. Orang Yang Telah Menyelamatkan Ku Waktu Kecelakaan. Aku Menjadikannya Sebagai Pelayan Pribadiku."
Angie Berjalan Pelan Keluar Dari Belakang Tubuh Alice. "Ha-halo Tuan..Mohon Bi-bimbingannya.." Sapa Nya Menunduk.
Kai Tidak Membalas Sapaannya. Matanya Menyipit Memperhatikan Angie. "Dia Gagap?" Batinnya.
Melihat Kai Nampak Curiga, Alice Membuka Suaranya Kembali. "Apa Kau Keberatan Dengannya??"
Kai Kembali Mengubah Ekspresinya Menjadi Datar. "Saya Tidak Berhak Untuk Itu. Karena Nona Sendiri Yang Membawanya, Dia Tidak Perlu Lagi Mengikuti Tes."
"Dimana Ketiga Kakakku? Aku Sudah Sangat Merindukan Mereka!" Tanya Alice Mengalihkan Topik.
"Karena Tuan Sering Tidak Pulang Dan Menghilang, Maka Untuk Sementara Ini Nona Cassandra Lah Yang Mengurus Perusahaan. Sekarang Dia Sedang Berada Di Kantor." Jelas Kai.
"Perusahaan Itu Adalah Milik Kakekku! Aku Sungguh Tidak Rela!!" Batin Angie.
"Mira, Segara Hubungi Nona Cassandra! Katakan Bahwa Adiknya, Alice Telah Kembali." Perintah Kai Pada Salah Satu Pelayan Di Belakangnya.
"Baik!"
"Sedangkan Nona Chatrine Dan Cellistin Saat Ini Sedang Berada Di Kamarnya." Jelas Kai Lagi. "Ella, Panggilkan Kedua Nona Besar Untuk Turun!" Perintahnya.
"Bai..."
"Tidak Perlu!" Sahut Alice Memotong Ucapan Ella. Biar Aku Sendiri Saja Yang Menghampiri Mereka. Aku Ingin Memberi Kejutan." Sambungnya Dengan Menyeringai.
"Dengan Senang Hati Nona." Balas Kai Hormat. Alice Berjalan Pergi Menuju Kedua Kamar Kakaknya.
"Ikuti Aku!" Perintah Kai Pada Angie Seraya Berjalan Duluan.
"Ba-baik!" Angie Berjalan Di Belakang Kai. Kepala Masih Tertunduk.
"Tegakkan Kepalamu Saat Sedang Berjalan! Tundukan Kepalamu Saat Sedang Bertemu Dengan Atasan!" Perintah Kai Dengan Nada Dingin. Tanpa Menoleh.
"Bai-baik!" Angie Menegakkan Kepalanya.
* * *
Alice Mendatangi Kamar Chatrine Terlebih Dahulu. Tanpa Mengetok, Dia Langsung Memasuki Kamarnya.
KREEKKK.........
Terlihat Chatrine Sedang Berbaring Sambil Asyik Menatapi Layar Ponselnya. "Sudah Kukatakan, Ketuk Dulu Sebelum Masuk!!" Bentaknya Terdengar Kesal. Masih Sibuk Memainkan Ponselnya. Mengira Pelayan Yang Memasuki Kamarnya.
"Sepertinya Sangat Seru Yaa Main Ponselnya...Apa Aku Boleh Gabung??" Alice Berdiri Di Daun Pintu Sambil Menyeringai.
Mendengar Suara Orang Yang Dikenalnya Sudah Mati, Chatrine Dengan Pelan Menoleh. "AlICE??!!" Ia Kontan Menjatuhkan Ponselnya. Matanya Melotot. "Ya Ampun Ada Apa Dengan Pikiranku? Kenapa Aku Berhalusinasi Melihat Orang Yang Sudah Mati." Kakeknya Lalu Melanjutkan Lagi Bermain Ponselnya. "Apa Itu Hantunya Alice?? Kenapa Sosoknya Tidak Kunjung Menghilang?!!" Batinnya Yang Mulai Ketakutan.
__ADS_1
PLAK!! PLAK!! PLAK!!
"Sial!! Apa Aku Sedang Mengantuk??!" Batinnya Lagi Seraya Menampar Pipinya.
Alice Mendekati Chatrine. "Kakak, Kenapa Kau Terus Menerus Menampar Pipimu??" Tanyanya Yang Berpura Pura Lugu.
Chatrine Semakin Ketakutan. Dengan Tubuh Yang Gemetaran Dan Wajah Memucat, Ia Bersembunyi Duduk Di Balik Kasur.
"Kakak, Kenapa Bersembunyi?? Apa Kakak Tidak Senang Melihatku Kembali??" Tanya Alice Dengan Nada Sengaja Menakuti.
Chatrine Menutup Telinga Dan Matanya, Dan Berteriak. "PERGI KAU DARI KAMARKU!!! KAU ITU SUDAH MATI!!! NERAKA ADALAH TEMPATMU!!!"
Alice Ikut Duduk Di Samping Chatrine Dan Menggenggam Tangannya, Untuk Menakut Nakutinya Lagi. "Kakak, Buka Matamu...Aku Di Sampingmu Loh..."
"AAAA, MAAFKAN AKU!!! AKU MENYESAL TELAH MENCELAKAI MU!!! SEKARANG AKU MOHON PERGI DARI KAMAR KU!!!" Teriak Chatrine Menangis. Mengguncangkan Guncangan Tangannya Agar Terlepas Dari Genggaman Alice Yang Di Anggapnya Hantu.
Alice Melepaskan Genggamannya Dan Tertawa Puas. "Pftt~ HAHAHA LUCU SEKALI!!!"
"EHHH???" Chatrine Berhenti Menangis Dan Membuka Matanya.
"Aku Sudah Menduganya Dia Akan Mengatakannya!" Batin Alice. Masih Tertawa Geli.
Mata Chatrine Bergerak Ke Kanan Kiri Masih Tidak Mengerti. Otaknya Mencerna Apa Yang Sedang Terjadi.
"Kakak Ada Apa Teriak Teriak?? Suaramu Itu Terde......"
PRANG!!!
Cellistin Menjatuhkan Gelas Jus Di Tangannya. Berdiri Mematung. Melotot Di Depan Pintu.
"Ya Ampun Kaget Sekali Yaa?" Kekeh Alice. "Tenanglah. Kau Juga Jangan Mengira Aku Adalah Hantu Seperti Yang Lainnya." Sambungnya. Cellistin Masih Terdiam.
"Kenapa Kalian Berdua Hanya Diam?? Apa Kalian Tidak Senang Melihat Keselamatan Ku??" Wajah Alice Berpura Pura Sedih.
"Diam Kau!!! Kau Pikir Aku Takut Denganmu, Hah?!" Chatrine Berdiri Dari Duduknya. "Mungkin Rencana Kami Mencelakai Mu Telah Gagal, Tapi Lain Kali Aku Akan Membunuhmu Tepat Di Depan Mataku!!!" Sambungnya Tajam.
Alice Berpura Pura Terkejut Dan Sedih. "Aku Tidak Menduganya, Kakak Yang Ku Sayangi Ternyata Yang Mencelakakan Ku."
Kemudian Senyum Mengembang Di Bibir Alice. Chatrine Melotot. "Tidak Usah Tersenyum, Kau Hanyalah Beruntung!!!" Ketusnya.
Tanpa Membalas, Alice Mengeluarkan Ponsel Dari Sakunya. Memutar Rekaman Pernyataan Chatrine Yang Mengaku Telah Mencelakainya Dan Ingin Membunuhnya Lagi.
Chatrine Dan Cellistin Kontan Kembali Melotot Sempurna. "Ka-kau..Merekamnya!!" Ucap Chatrine Tergagap Panik.
"Tentu! Rekaman Ini Nantinya Akan Kuberikan Pada Ayah!" Ancam Alice Dengan Tersenyum Polos.
"Rekaman Ini Sangat Berguna Untuk Mencari Tahu Apakah Rekaman Pembunuhan Albert Dan Riana Ada Pada Mereka!" Batin Alice.
__ADS_1