Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama

Bereinkarnasi Menjadi Putri Ceo Ternama
Pembalasan dendam (11)


__ADS_3

Dante melepaskan cengkeramannya setelah Darent benar benar pergi dari pandangan mereka. Angie terlihat frustasi sekali "sial, seharusnya sebelum kemari aku membawa pistolku!" batinnya. Sedangkan Alice terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Tidak ada satu kata yang keluar dari mulut mereka. Suasana hening.


"Angie!!!" panggil seseorang. Suaranya terdengar cemas. Mereka bertiga kompak menoleh, "Ibu!" ucap Angie mengerutkan dahinya, Carera berjalan cepat menghampiri putrinya itu. "Pasti pria ini yang menghubungi ibu!" batin Angie menatap sinis Dante yang sedang memandangi Carera.


"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa sampai babak belur begini?" tanya Carera dalam satu tarikan napas. Dia sudah menangis khawatir.


"Ibu tenanglah. Tidak perlu khawatir, ini hanyalah luka akibat di cakar oleh kucing kecil!" balas Angie dengan tersenyum penuh arti. Tanpa mereka sadari, ucapannya itu mengejek Gracia yang dianggapnya kucing yang lebih lemah darinya sebagai singa.


Carera menghela napas berat, ia tahu anaknya itu suka berkelahi. "Kalian kenapa tidak memberitahuku bahwa kalian sudah menemukan orang pemilik rekaman itu?!" tanyanya kemudian.


"Jadi Carera sudah mengetahui tentang penyamaran Angie yang untuk mencari rekaman pembunuhan itu, agar membuat aku dan Marco masuk penjara. Sepertinya sedikitpun aku tidak ada didalam hatinya. Baiklah jika itu keinginanmu, aku akan menyerahkan diriku kepolisi." batin Dante kecewa. Namun bibirnya menunjukan senyuman.


"Niatnya kami ingin memberitahu ibu setelah kami mendapat rekamannya," balas Angie.


"Jadi apa kalian berhasil mendapatkannya?" tanya Carera dijawab gelengan pelan oleh putrinya itu. "Si gadis sinting itu menelan memori yang berisikan rekaman tersebut!!" ketus Angie sebelum Carera bertanya.


Carera mengangkat alisnya bingung "gadis sinting?" Tanyanya.


Angie mendesah berat sebelum menjawab "siapa lagi kalau bukan anaknya pria itu," sindirnya tanpa menoleh Dante.


"Gracia menelan memori?" gumam Carera. Angie mengangguk malas. "Bagaimana keadaanya sekarang? Apa dia baik baik saja?" tanya Carera langsung menghadap Dante. Angie merengut, tidak senang ibunya mencemaskan lawan berkelahinya itu.


"Saat ini dia sedang pingsan," sahut dante. "Angie dan Gracia habis berkelahi, mereka memperebutkan memori itu." lanjutnya. Carera tidak membalas, dia kembali menghadap putrinya. "Mari pulang, dan obati lukamu!" dia menarik tangan anaknya itu mengarah Alice yang sedari tadi hanya diam terbengong. "Mari pulang!" ucapnya lagi setelah menggenggam tangan Alice dengan satu tangannya yang tersisa, membuat Alice tersadar dari pikirannya. Mereka pergi tanpa pamit dengan pria yang sedang memandanginya itu.


DISISI LAIN


Saat Darent sedang menggendong Gracia. "Aku harus membawanya ke rumah sakit untuk meriksa kondisinya," ucapnya panik. Mengubah arah jalannya.


"Tunggu kak!" Gracia membuka suaranya, ternyata dia pura pura pingsan. Darent menurunkannya. Lalu Gracia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya "tadaaa...!!" dia memamerkan benda kecil yang penuh air liurnya yang tidak lain adalah sebuah memeori. "Aku tidak sungguhan kok menelannya," dia tertawa girang.


Tanpa membalas lagi Darent langsung merebut memori itu. "Aku akan memberikan ini pada Alice!" ucapnya tajam.


"Eh, tunggu dulu kak!!" panik Gracia, mengejar Darent yang sudah berjalan duluan. Darent tidak menghiraukannya, dia terus berjalan cepat.


"Aww....Kakak...." Gracia berteriak kesakitan, terduduk di lantai sambil memegangi kepalanya. Darent berhenti, dan menoleh.


"Tidak perlu berpura pura!" katanya dingin, melanjutkan kembali langkahnya.


"Aww..kakak, kepalaku sungguh pusing..!" Gracia terus berteriak kesakitan. Darent tetap tidak memperdulikannya. Namun beberapa saat dia merasa aneh, tidak ada suara panggilan lagi dari Gracia ataupun suara langkahan kaki yang mengejarnya. Karena penasaran Darent berbalik arah untuk melihat adiknya itu, dia melebarkan matanya saat melihat adiknya itu sudah tergeletak pingsan di lantai, dengan cepat dia menghampirinya.

__ADS_1


Dia menggoyang goyangkan tubuh Gracia, namun adiknya itu tidak kunjung bangun. Saat ia ingin menggendongnya untuk membawa ke rumah sakit, Gracia bangun dan dengan cepat ia langsung merebut kembali memori di genggaman Darent, lalu mematahkannya. "Dengan begini buktinya sudah musnah." katanya dengan tersenyum puas.


PLAKK!!


"Dengan begini kau sama saja seperti penjahat!" kata Darent tajam setelah menampar pipi adiknya itu.


Dengan memegangi salah satu pipinya yang masih panas habis di tampar, Gracia tertawa. "Kau menyembunyikan rekaman itu selama bertahun tahun, itu sama saja kau seperti penjahat!" ucapnya setelahnya. Darent melebarkan matanya dan terdiam. "Aku juga penjahat??" batinnya bertanya tanya.


"Gracia, Darent!" panggil Dante dari kejauhan. Gracia membuang muka saat melihat ayahnya itu berjalan menghampirinya. Sedangkan Darent, sedikitpun tidak menoleh, di benaknya terus terpikir ucapan Gracia barusan.


"Gracia, ternyata kau hanyalah pura pura pingsan!" marah Dante. Kemudian matanya terfokus pada memori yang sudah terbelah dua terletak dilantai. "Kau juga tidak sungguhan menelan memorinya!" ucapnya lagi. Gracia tidak membalas. Jangan lupakan tentang bahwa dia membenci Ayahnya.


"Ah, sial!!" Dante mendesah frustasi. "Maaf," katanya kemudian.


Gracia mengangkat satu alisnya "untuk apa?" tanyanya yang tanpa menoleh, dengan nada malas.


"Aku akan menyerahkan diri ke polisi!" balas Dante. Gracia dan Darent tersentak. Menoleh mendapati ayahnya yang menatapi mereka dengan tatapan sendu.


"Kenapa?" tanya Gracia, suaranya gemetar. tidak ada balasan. "Kenapa kau ingin menyerahkan diri begitu saja? Apa kau tidak lihat bagaimana perjuanganku untuk melindungi mu?!" tanyanya lagi dengan berteriak. Matanya berkaca kaca. Dante tetap tidak membalas. Dia menundukkan kepalanya sambil meringis.


"Itu semua kulakukan karena aku tidak ingin kau dipenjara! Karena aku masih membutuhkan sosok orang tua!! Kenapa kau masih tidak mengerti juga??!" tangis Gracia pecah.


Gracia berlarian mengejar ayahnya itu dengan menangis histeris "Ayah, kumohon jangan tinggalkan aku!! Aku mohon, aku mohon..!!" sambil memegangi kedua kakinya Dante.


Darent memberhentikan langkahnya. dia tidak membalas, dia hanya meringis, menahan air matanya agar tidak keluar. Sungguh dia tidak tega harus meninggalkan anaknya.


Drrttt...Drrttt.....


Dante mengeluarkan ponsel dari sakunya, mendapati nama Carera tertera di layar ponselnya, dia langsung mengangkatnya.


Belum sempat Dante bertanya, Carera langsung berkata "cepatlah datang ke jurang hutan di tengah kota, Angie ingin membunuh marco!!" tanpa mematikan sambungan telponnya, Dante langsung bergegas pergi. "Ayah tunggu! Kau mau pergi kemana??" gracia dan Darent mengikutinya.


Setelah Carera membawa Angie dan Alice pulang, mereka mendapat pesan dari Marco yang memberitahukan keberadaannya. Angie yang saat itu sedang frustasi karena gagal mendapatkan rekaman pembunuhan Albert dan riana, pergi dengan membawa pistolnya untuk membunuh Marco.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Setelah sampai, Dante, Darent dan Gracia melihat Angie yang sudah menodongkan pistolnya mengarah marco yang berdiri di ujung tepi jurang. Terlihat tidak ada perlawanan dari Marco, justru wajahnya terlihat sendu sembari menunggu gadis di hadapannya itu menarik pelatuk pistolnya.


Sedangkan Carera dan Alice hanya memandangi mereka dari kejauhan, tidak ada cegahan dari keduanya.


"Marco..!!" Dante berteriak, berlarian ingin menghampirinya. Marco mengisyaratkan tangannya, tanda untuk berhenti.


"Kenapa diantara kalian tidak ada yang mencegah Angie??" tanya Dante setelah menghampiri Carera dan Alice.


"Karena ini semua permintaan dari Marco sendiri." balas Carera. Dante mengerutkan dahi, tidak percaya mendengarnya. "Tidak mungkin!" katanya setelahnya.


"Cepat tarik pelatuknya, Ira," pinta Marco dengan menyeringai. Padahal dia tahu, gadis yang dihadapannya itu adalah Angie.


"Aku bukanlah Ira, aku adalah Angie, anak dari pria yang pernah kau bunuh!" balasnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku sudah tahu itu," balas Marco santai.


Angie mengernyit kaget, "Jadi selama ini kau sudah tahu bahwa aku menyamar?" tanyanya. Marco menanggapinya hanya dengan senyuman santainya.


Angie mengerutkan dahinya kesal, "ada yang ingin kau katakan lagi? sebelum kau menemui ajal mu!" katanya kemudian dengan menyeringai.


"Hiduplah bahagia," balas Marco singkat. "Dan juga, tolong jaga Alice." katanya lagi, tersenyum sendu mengarah Alice.


"Maaf, aku tidak bisa melakukan apapun. Mungkin inilah cara terbaik agar semua permasalahan ini berakhir," batin Alice, tersenyum balik mengarah Marco.


"Tentu!" balas Angie tersenyum, lalu menarik pelatuk pistolnya.


DORR!!!


Burung burung beterbangan mendengar suara tembakan. Peluru tepat mengenai dada kiri Marco. Marco tidak berteriak kesakitan, ia justru meneteskan air matanya sambil memandangi Alice dengan tersenyum sendu. Tubuhnya sempoyongan, kakinya tidak kuat lagi untuk berdiri. Dengan mudahnya angin meniup tubuhnya, membuatnya terjatuh ke jurang luas di belakangnya. Dante menangkap tangannya sebelum ia benar benar terjun ke jurang yang dibawahnya hanya terpapar kegelapan itu. "Bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu!" teriak dante seraya berusaha menarik tangan Marco untuk naik.


Marco terkekeh melihat temannya itu berusaha menyelamatkannya. "Hiduplah bahagia," ucapnya singkat dengan tersenyum simpul. Lalu memukul pegangan tangan Dante yang sudah sedari tadi ingin terlepas.

__ADS_1


Dante sempurna melebarkan matanya ketika melihat temannya itu terjun dengan cepat ke bawah. Sebelum Marco benar benar menghilang dari pandangannya, ia tersenyum simpul. "kita berdua yang melakukannya, maka kita juga harus sama sama merasakan akibatnya," katanya, lalu melompat menyusul temannya itu.


__ADS_2