
"Aku Menceritakan Ini Semua Padamu Karena Kau Mempunyai Hak Sebagai Anak Untuk Mengetahui Masa Lalu Orang Tuamu." Ucap Carera Pada Alice. "Aku Harap Kau Tidak Ada Niatan Untuk Balas Dendam Seperti Angie" Lanjutnya.
"Mungkin Karena Aku Bukan Alice, Setelah Mendengar Ceritanya, Aku Tidak Merasa Sedih. Saat Ini Aku Bingung Harus Berekspresi Dan Mengatakan Apa?!" Ucap Alice Dalam Hatinya, Terbengong.
"Alice, Kenapa Diam? Tanya Carera Yang Menyadarkan Lamunan Alice. "Kau Tidak Sedang Memikirkan Untuk Balas Dendam Kan?" Terlihat Jelas Kepanikan Di Wajahnya.
"Ah, Tidak Tahu!" Jawab Alice Reflek.
Alice Tersenyum Kaku "Aku Masuk Kamar Dulu, Nanti Akan Ku Pikirkan Lagi.." Katanya Dan Berjalan Pergi
Carera Sangat Takut Jika Keponakannya Itu Akan Terjerat Dalam Api Balas Dendam, Yang Sama Seperti Marco Dulu.
"Semoga Saja Anak Itu Tidak Berpikiran Sama Seperti Angie. Yang Sangat Mendendam Untuk Membalaskan Kematian Ayah Serta Kakek, Neneknya."
ALICE POV ON
"Aku Tidak Boleh Asal Mengambil Keputusan! Karena Aku Tidak Ingin Di Kehidupanku Kali Ini Membunuh Seperti Sebelumnya."
"Ckkk...Sial!! Sebenarnya Apa Tujuan Tuhan Mengirimiku Ke Tubuh Alice?! Apa Dia Benar Ingin Agar Aku Balas Dendam Dengan Membunuh?!"
"Tuhan, Kenapa Kau Mempersulit Ku Dengan Teka Teki Begini?? Apa Kau Sedang Mengujiku?"
TOK...TOK..
Ketukan Pintu Menyadarkan Pikiran Ku Yang Sedang Frustasi "Masuk!" Balasku Langsung.
ALICE POV OFF
Dibalik Pintu Angie Menongolkan Kepalanya "Apa Aku Sedang Mengganggumu?" Tanyanya Sopan.
"Tidak!" Jawab Alice Singkat. Angie Melangkahkan Kakinya Masuk. Duduk Di Sebelah Alice Di Atas Kasurnya.
"Setelah Mendengar Cerita Dari Ibu, Apa Kau Berpikiran Ingin Balas Dendam?"
Alice Mengedikkan Bahunya "Tidak Tahu, Aku Belum Memikirkannya."
Angie Mengerutkan Keningnya Heran "Kenapa Sempat Kau Berpikir Tidak Tahu?! Apa Kau Tidak Sedih Setelah Mendengar Nasib Ibumu Dan Kakek Nenek Kita?!" Tanyanya Tajam.
"Sudah Kewajiban Kita Sebagai Anak Dan Cucu Untuk Membalaskan Dendam Mereka!!" Lanjutnya Yang Meninggikan Nada Suaranya.
"Sebagai Anak? Ibuku Saja Tidak Sudi Menganggap Aku Sebagai Anaknya!" Ketus Alice.
Angie Mengangkat Alis Dan Melotot Terkejut "KAU!!" Bentaknya. "Meskipun Begitu, Kau Tetap Saja Harus Membalaskan Dendam Kakek Dan Nenek Kita!!" Tuntutnya.
Alice Terdiam Sejenak, Kemudian Kembali Bersuara "Balas Dendam Apa Yang Kau Mau? Membunuh, Atau Hanya Ingin Memasukan Marco Dalam Penjara?"
"Tentu Saja Membunuhnya! Kematian harus Dibalas Dengan Kematian!" Ketus Angie.
Alice Kembali Terdiam, Dia Sibuk Berpikir Dalam Batinnya "Meskipun Marco Adalah Pria Keji, Tapi Dalam Ingatan Memori Pemilik Tubuh Ini, Dia Sama Sekali Tidak Pernah Memperlakukan Alice Dengan Tidak Baik. Apa Aku Harus Membantu Angie Untuk Membunuhnya?!"
__ADS_1
"Jika Ingin Membalas Dendam Dengan Memasukkannya Dalam Penjara, Aku Akan Membantu." Tawar Alice.
Angie Kembali Melotot Kesal "Sudah Kukatakan Aku Ingin Membunuhnya!!" Bentaknya.
"Kalau Begitu Aku Tidak Ikut," Balas Alice Membuang Muka.
"Kau!! Kau Lebih Memilih Pria Keji Itu Daripada Ibumu!!"
"Sekejinya Marco, Dia Tetap Mau Mengakui Aku Sebagai Anaknya Dan Merawat Ku Dengan Baik. Sedangkan Carella, Dia Bahkan Tidak Sudi Menganggap Aku Sebagai Anaknya, Dan Juga Tidak Mau Menyusuiku Waktu Bayi!" Ketus Alice.
Angie Kontan Terdiam. Dia Tidak Bisa Mengelak Karena Perkataan Alice Memanglah Benar.
"Meskipun Begitu, Marco Tetap Telah Melakukan Kejahatan, Biarlah Penjara Seumur Hidup Yang Menghukumnya." Saran Alice. "Ibumu Juga Pasti Sependapat Denganku." Sambungnya.
Angie Mengerutkan Keningnya Tidak Senang "Meskipun Yang Kau Katakan Ada Benarnya, Tapi Aku Tetap Tidak Akan Mengurungkan Niatku Untuk Membalas Kematian Ayahku!!"
Alice Hanya Menanggapinya Dengan Membuang Muka "Gadis Ini Sungguh Keras Kepala Sekali."
Tanpa Berkata Apa Apa Lagi, Angie Langsung Meninggalkan Alice Dengan Raut Wajah Masam Dan Kesal. Dan Tanpa Mereka Berdua Sadari, Carera Sudah Dari Tadi Menguping Pembicaraan Mereka Dari Balik Pintu. Saat Anaknya Berjalan Mengarah Pintu, Dia Dengan Cepat Langsung Balik Ke Kamarnya.
Dia Sudah Sangat Sering Membujuk Dan Melarang Putrinya Itu Untuk Tidak Membalas Dendam. Tapi Watak Keras Kepala Angie Sama Dengan Lois, Yaitu Takkan Berhenti Jika Keinginannya Belum Terwujud.
ANGIE, Gadis Populer Di Sekolahnya.Terkenal Akan Kecantikannya Dan Sikapnya Yang Dingin Juga Pemberani. Tidak Hanya Disitu, Dia Juga Pintar Dalam Pelajaran Seperti Ibunya, Dan Jago Beladiri Seperti Ayahnya.
~ ~ ~
Namun Carera Baru Mengetahui Kebohongan Putrinya Itu Setelah 3 Jam Keberangkatannya. Dia Menjadi Sangat Takut. Takut Jika Anaknya Akan Dilukai Oleh Marco. Lebih Takutnya Akan Dibunuh. Dia Dan Alice Bergegas Menyusul.
Dalam Perjalanan, Carera Hanya Bisa Terus Menangis. Khawatir Dengan Langkah Yang Diambil Oleh Putrinya Itu. "Bibi, Tenanglah Dulu. Aku Berjanji Takkan Membiarkan Angie Terluka Atau Pun Dalam Bahaya." Kata Alice Mencoba Menenangkan. Meskipun Pandai Bicara Bukanlah Keahliannya, Tapi Dia Bersungguh Sungguh Saat Mengatakannya.
Carera Menanggapi Hanya Dengan Senyuman Sendu. Seolah Berpikir Perkataan Alice Hanyalah Semata Mata Untuk Mengibur Hatinya.
"Sepertinya Dia Menganggap Ucapan Ku Hanya Sebagai Bualan. Ya..Wajar Sih. Alice Yang Dikenalnya Saja Dulu Tidak Bisa Melindungi Diri Sendiri, Apalagi Berkata Ingin Melindungi Orang Lain.." Batin Alice.
"Apa Bibi Tahu, Pada Siapa Dokter Steven Memberi Rekaman Pembunuhan Kakek, Nenek?" Tanyanya Tiba Tiba.
Dengan Mata Yang Masih Berair, Carera Menjawab Dengan Gelengan Kepala.
"Jika Kita Bisa Mendapatkan Rekamannya, Dan Menjadikan Bukti Untuk Memasukan Ayahku Dalam Penjara, Maka Mau Tidak Mau Angie Akan Mengurungkan Niatnya Untuk Membunuhnya." Jelas Alice
"Saat Ini, Hanya Ide Itulah Yang Terlintas Dalam Pikiranku." Batinnya.
Wajah Carera Kontan Berbinar "Benar! Kita Harus Mencari Siapa Orang Yang Menyimpan Rekamannya Itu! Agar Masalah Ini Cepat Terselesaikan!"
"Tapi..Bagaimana Caranya Kita Menemukan Orangnya??" Tanyanya Yang Kembali Panik.
Alice Tersenyum Tipis "Bibi Tenang Saja, Aku Berjanji Akan Mendapatkan Rekamannya!" Ucapnya Dengan Meyakinkan. "Sementara Belum Mendapat Rekamannya, Kita Harus Menahan Angie Agar Tidak Melakukan Apa Yang Tidak Di Inginkan." Lanjutnya.
__ADS_1
Carera Berpikir Keras. Memikirkan Cara Supaya Saat Nanti Angie Tiba Di Kota Surei, Putrinya Itu Tidak Langsung Melakukan Apa Yang Sudah Dia Tekadkannya.
Sementara Alice Sibuk Berpikir Untuk Menemukan Siapa Orang Yang Menyimpan Rekaman Tersebut. "Apakah Steven Memberikannya Pada Cassandra? Atau Orang Lain? Aku Harus Memastikannya Sendiri. Untuk Itu Aku Harus Kembali Lagi Ke Kediaman Marco."
Beberapa Saat Kemudian, Carera Kembali Membuka Suaranya. Ia Sudah Menemukan Ide Dari Hasil Berpikir Kerasnya. Dia Menceritakan Pada Alice, Yaitu Dengan Meminta Tolong Pada Dante Adalah Idenya. Hanya Itulah Satu Satunya Cara Yang Terpikir Olehnya.
~ ~ ~
Malamnya, Sesampainya Angie Di Kota Surei, Dia Tidak Langsung Melakukan Niatnya. Ia Memilih Beristirahat Sejenak Menginap Di Hotel Paling Terbaik Di Kota Tersebut.
Angie pov
Aku Duduk Di Depan Kaca Besar Yang Memperlihatkan Jelas Penampakan Kota Surei Dari Bawah. "Di Kota Ini, Dulunya Ibu Hidup Dengan Bahagia" Senyum Terlukis Di Bibirku Saat Aku Membayangkannya. "Tapi Pria Keji Itu Datang Menghancurkannya!" Senyumku Menghilang Saat Teringat Hal Itu.
"Dan Begitupun Dengan Aku. Karenanya, Aku Hidup Tanpa Didampingi Oleh Sosok Ayah!! Setiap Kali Aku Melihat Anak Lain Sedang Bersama Ayahnya, Aku Langsung Menangis Karena Iri."
"Sejak Lahir, Aku Sudah Tidak Memiliki Kenangan Indah Bersama Sosok Yang Dipanggil Ayah Itu. Aku Hanya Mempunyai Fotonya Yang Setiap Sebelum Tidur Selalu Ku Pandangi Dengan Menangis. Persis Seperti Yang Sekarang Ku Lakukan." Air Mataku Berjatuhan Di Atas Bingkai Foto Ayah.
Setelah Beberapa Saat Menangis, Aku Melirik Jam Di Ponselku. 23.10. Aku Memutuskan Untuk Tidur, Dan Tidak Lupa Dengan Memeluk Bingkai Foto Ayah.
Namun Di Tengah Sedang Memejamkan Mata, Berfokus Untuk Terlelap. Tiba Tiba, Aku Mendengar Suara Pintu Kamarku Yang Terbuka. Aku Kontan Membuka Mata Untuk Melihatnya.
Sosok Pria Muda Bertubuh Tinggi Yang Ternyata Adalah Pelakunya. Aku Terbengong Sejenak, Tidak Habis Pikir Di Hotel Paling Terbaik Ini, Kenapa Bisa Mudahnya Dia Memiliki Kunci Pintu Kamarku??
Tanpa Muka Bersalah, Pria Itu Masuk. Perlahan Mendekatiku Yang Masih Terbengong Di Atas Kasur.
ANGIE POV OFF
Angie Tersadar Saat Pria Itu Hampir Mendekati Kasurnya "Siapa Kau??! Kenapa Masuk Ke Dalam Kamar Orang Seenaknya Saja?!" Tanyanya Tajam.
Pria Itu Tidak Menjawab. Ia Menatap Dengan Tatapan Aneh, Yang Hanya Tuhan Dan Dirinya Saja Yang Tahu. Kakinya Terus Melangkah Mendekati Angie.
Angie Langsung Berdiri Menjauh. "Jangan Hanya Membungkam!! Gunakan Mulutmu Itu Untuk Menjawab!!"
Pria Itu Masih Membungkam. Angie Menjadi Kesal. Ia Mengambil Pistol Di Bawah Bantalnya Dan Mengarahkannya Pada Pria Itu.
"KATAKAN SIAPA KAU SEBENARNYA??! KENAPA MENEROBOS MASUK KAMARKU??!"
Lagi Lagi Pria Itu Tidak Menjawab Dan Hanya Membisu. Dengan Menatap Sendu.
Angie Melotot Kesal "JAWAB, ATAU AKU TIDAK SEGAN AKAN MENEMBAK MU!!!" Ancamnya.
Angie Hanya Pura Pura Mengancam. Dia Tidak Mungkin Akan Menembak Orang Yang Asal Usulnya Saja Belum Jelas.
"Adik Kecil..."
Kata Pria Itu Yang Akhirnya Membuka Suaranya Yang Terdengar Sedih.
Adik Kecil? Yap! Pria Itu Adalah Darent. Darent Diutus Dante Untuk Menemukan Angie. Dante Di Minta Carera Untuk Menemukan Putrinya Itu.
__ADS_1