
"Carera menikahlah denganku!" Dante berlutut melamar Carera. Ditangannya ada kotak cincin berlian.
Dengan mata yang masih melotot Carera tidak menjawab. Tempat dihatinya hanyalah untuk Lois seorang.
"Wah, wah, Dante Airlines melamar wanita. Tapi wanita itu jauh lebih jelek dariku." ucap sombong istri kepala keluarga Spancer.
"Dante, lamar aku saja!" Sorak istri ketiga kepala keluarga Gir. "Ibu sadarlah. Ibukan sudah menikah dengan ayah." celetuk anaknya, Arina Gir.
Dante tidak menghiraukan kehebohan yang dibuat oleh para wanita yang sedang memandanginya itu. Dia terus menatap dalam mata wanita yang berdiri di hadapannya itu, berharap menerima lamarannya.
Dengan masih menggandeng lengan Carera, Georgi bertanya "Carera, apa kau menerimanya?"
"Maaf aku tidak bisa." Jawabnya. Dia berusaha terlihat dingin karena anaknya masih terus memandanginya.
KRAK! Hati Dante serasa retak. Dengan masih berlutut ia terbengong.
"Bagus bu," batin Angie. Dia tersenyum puas.
"Rekanku, kau sudah dengar jawabannya, mulai sekarang kau tidak berhak untuk melarang ku menggandeng tangannya." ucap Georgi mengingatkan. Dia tersenyum simpul.
Dante tidak membalas. Tatapannya kosong. Bola matanya bergerak ke kanan kiri, seperti orang kebingungan.
"Kami pergi dulu ya.." pamit Georgi dengan tersenyum ramah. Carera sengaja membiarkan lengannya masih menyangkut di lengan Georgi. Tatapannya lurus ke depan. Entah kenapa hatinya terasa sakit.
"Dasar pria tidak tahu malu! Mana mau ibuku menyukai pria yang sudah menghancurkan hidupnya" batin angie yang juga pergi.
Dante terus menatapi belakang punggung Carera yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
"Dante, kau tidak perlu bersedih. Wanita itu tidak pantas denganmu!" kata istri kedua kepala keluarga Gareth setelah menghampiri Dante.
"Benar. Kau itu tampan dan kaya, banyak wanita diluar sana yang tergila gila padamu. Termasuk juga aku," sahut istri keempat kepala keluarga Gumai.
"Dasar ******! Menyingkir dariku!" balas dante tajam seraya berdiri. Sorot matanya menatap tajam pada wanita di sekelilingnya. Lalu pergi.
DISISI LAIN
"Dimana Angie? Aku harap dia tidak melakukan sesuatu pada Marco." batin Alice seraya berjalan. Celingak celinguk mencari sepupunya itu.
"Tunggu!" seseorang menahan tangannya. Alice menoleh mendapati pria bertubuh tinggi, yaitu Leonard.
Alice melepaskan genggamannya. "Ada apa?" tanyanya setelahnya.
"Alice, ini aku Leonard! Apa kau tidak mengenaliku?"
"Aku sudah tahu namamu Leonard. Kau adalah anak dari keluarga Yarzha." balas alice tersenyum ramah.
__ADS_1
"Kau tidak ingat dua bulan yang lalu? Tanya leonard. Alice mengernyitkan dahinya mencoba mengingat maksud dari pria di hadapannya itu.
Tanpa menunggu jawaban dari alice lagi Leonard langsung menceritakannya. "Dua bulan yang lalu, kau menolong nenekku di jalan lalu mengantarnya pulang ke rumah. Setelah itu kita makan bersama bertiga. Setelahnya aku mengantarmu pulang ke penginapan yang pernah aku ejek kecil dan sempit."
Alice tersentak. Dia mengingatnya. Pria yang dihadapannya ini adalah pria yang pernah ditemuinya saat sedang mengumpulkan uang untuk pergi ke kota Marag. "Bisa gawat jika pria ini sampai memberitahu marco bahwa dua bulan yang lalu aku berkeliaran di kota ini. Bisa bisa kebohongan ku dan penyamaran Angie akan terungkap!" batinnya.
"Maaf, aku tidak mengerti maksud dari ucapan mu barusan. Mungkin kau salah orang." balas Alice. Berusaha agar wajahnya terlihat kebingungan.
"Tidak mungkin aku salah mengenali orang." gumam Leonard. Wajahnya tidak percaya.
"Jika tidak ada hal lain yang ingin di katakan, saya permisi pergi dulu," pamit Alice ramah, lalu pergi.
"Bahkan suaranya terdengar sama persis. Tidak mungkin mereka orang yang berbeda." gumam Leonard yang masih tidak percaya.
"Nenek saat ini sedang sakit, entah kenapa dia ingin aku menikahi Alice. Bagaimanapun caranya aku harus bisa membawanya untuk menikahinya!"
* * *
Seluruh tamu sudah pulang, Kecuali keluarga Airlines.
Disisi lain, Angie sedang berjalan mencari keberadaan Marco. Ia ingin cepat cepat membunuhnya. Di balik bajunya terdapat sebuah Belati yang sudah disembunyikannya dengan rapi. Namun di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Darent. Angie pun kembali mendalami perannya sebagai Ira, membantu pelayan lain yang sedang bebersih.
Angie berpura pura membuang muka ketika tahu Darent berjalan menghampirinya. Kemudian Darent menggenggam tangannya. "Kau!!" bentaknya keceplosan karena sudah terlalu kesal.
"Nona besar tidak seharusnya melakukan ini." balas Darent. Dia mengingatkan bahwa Ira sudah menjadi anaknya Marco.
"Sial, aku melupakan itu!" batin angie.
"Ti-tidak ma-masalah kok. Aku se-senang jika bisa mem-bantu para ka-kak yang lainnya." Angie beralasan sembari melanjutkan membersihkan sisa makanan di meja.
Tanpa membalas lagi, Darent mengikuti apa yang Ira sedang kerjakan. Dia mengelap meja.
"Tu-tuan mu-muda apa yang a-anda laku-kan?!"
"Membantu." balas Darent singkat tanpa memberhentikan aktivitasnya.
"Bi-biar s-saya saja yang me-mengerjakannya, tu-tuan." Ira merebut lap yang dipegang Darent.
Darent mengernyit. "Berhenti memanggilku dengan tuan!" pintanya tajam.
"Ya ampun, pria ini mendadak jadi banyak bicara!" batin Angie. "Ba-baik." balas Ira.
"Jangan bersikap formal terhadapku!" pinta Darent lagi. Sorot matanya tajam.
"Ya ampun, pria ini banyak sekali maunya!" batin angie yang mulai kesal. "Ba-baik!" balas Ira.
__ADS_1
"Baik adalah kata formal. Jawab dengan kata Oke!" Pinta Darent lagi.
"Sabar Angie sabar. Demi balas dendam kau harus bisa menahan emosimu." batin Angie berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Oke Darent!" balasnya kemudian dengan tersenyum paksa. Namun bagi Darent senyuman itu manis sekali hingga membuatnya terpesona.
"Sial! Karena kesal, suaraku barusan tidak terdengar gagap!" batin angie yang mulai panik. Tapi Darent tidak menyadari itu.
"KAKAK!!" panggil Gracia dengan melambaikan tangannya dari kejauhan. Dia bersama Alice.
"Apa yang sedang dilakukan Angie bersama Darent? Aku harap dia bisa menahan kebenciannya, ini semua demi balas dendam." batin Alice.
"Eh, ada ira juga!" kata Gracia setelah menghampiri kakaknya. Ia tersenyum ramah.
"Kakak, apa kau melihat ayah?" tanyanya kemudian. Darent menggeleng sekali.
"Ayo kak ikut aku cari ayah!" dia menggandeng lengan kakaknya. Darent mengeraskan badannya pertanda menolak.
"Pria ini mendadak bisu lagi," batin Angie.
"Ayo kak, jangan membisu terus!" Gracia sudah mulai kesal dengan tingkah kakaknya itu.
"Paman mungkin sedang bersama ayah. Mari ikuti aku!" ajak alice yang sudah berjalan duluan. Diikuti oleh Gracia yang menyeret paksa kakaknya. Dan Angie yang berjalan di samping Alice.
* * *
Benar seperti dugaan Alice, kini Dante sedang bersama Marco di ruang kerjanya.
"HAHAHA, aku tidak menduga kau sangat berani melamarnya!" tawa keras dari marco setelah mendengar cerita dari Dante.
"Kau bodoh ya? Wajar saja jika dia menolak pria yang sudah menghancurkan hidupnya!" lanjutnya di sela tawanya.
"Diam kau!!" bentak Dante yang sedang mabuk. "Itu semua kan karena aku membantu rencana mu," nada bicaranya kembali sedih.
"Tapi jika bukan karena rencana ku, kau juga tidak akan bisa bertemu dengannya." ketus marco.
"Itu lebih baik! Lebih baik aku tidak usah bertemu dengannya sama sekali!" Dante kembali membentak Marco. "Dan membiarkan hidupnya bahagia." lanjutnya yang tersenyum sendiri.
"Bodoh! Itu sama saja kau membiarkannya hidup bahagia bersama Lois!" ketus marco lagi.
"Tidak maslah. Asal dia hidup bahagia aku tidak masalah kok." dante tersenyum sendiri ketika di benaknya membayangkan kebahagian Carera bersama Lois.
"Dia ini sebenarnya mencintai Carera sungguhan atau tidak?" gumam Marco yang masih bisa terdengar oleh Dante.
"Aku sungguh mencintainya, tapi dihatinya hanya ada Lois seorang." sahut dante. Nada bicaranya kembali bersedih.
"Tolong ajarkan aku jadi Lois dong, agar dia juga bisa mencintaiku!" Rengek nya.
__ADS_1