Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
episode sepuluh


__ADS_3

Baru saja beberapa menit yang lalu mama Metia meninggalkan ruangan kerja Atayad. Namun kini sebuah pesan yang dikirim mama Metia baru saja Atayad baca.


"Ingat nanti malam jangan terlambat untuk menghadiri peresmian usaha papa yang baru, mama tidak ingin kau datang sendiri. Ajak Ara dan ingat mama tidak menerima alasan apa pun." ~~ Mama


Atayad sungguh dibuat tidak mengerti dengan jalan pikiran sang mama, pasalnya mama Metia selalu saja punya ide untuk membuat dirinya dekat dengan calon istrinya.


Ini bukan untuk pertama kalinya Atayad menerima perintah untuk mendekatkan diri dengan Ara. Sejak pertemuan pertamanya dengan Ara waktu itu, mamanya sudah memerintah dirinya untuk melakukan hal tersebut.


Beruntung karena beberapa waktu lalu Atayad masih bisa menolak dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


Namun kali ini sepertinya sang mama sama sekali tidak pernah kehabisan akal. Begitu ada kesempatan maka dia akan memanfaatkan hal tersebut. Meskipun harapannya sungguh kecil, namun itu tidak pernah menyurutkan keinginannya.


***


Jam besar yang menempel pada tembok dinding ruangan di lantai dua, jarumnya sudah menunjuk pada angka empat lebih lima belas menit. Itu artinya sebentar lagi ia dan karyawan yang berjumlah enam orang akan segera menutup ruko dua lantai tempat toko onlinenya dan pulang kerumah untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah seharian penuh diajak kerja keras.


Setelah Ara membereskan meja kerjanya ia terlihat menuruni anak tangga sambil tangannya menjinjing tas kerjanya.


Mereka yang bekerja bersama Ara, sudah menunggunya dibawah. "Semuanya sudah beres?" tanya Ara saat dirinya sudah berkumpul bersama para pekerjanya.


"Sudah mbak" ucap Sari salah satu nama pekerja di toko onlineshopnya Ara.


"Sudah diperiksa jendela dan pintu belakang sudah dikunci? lampu?" tanya Ara lagi memastikan.


"Sudah dong mbak" kali ini Agil yang menjawab.


Ara terlihat menganggukan kepalanya saat mendengar jawaban dari para pekerjanya yang terlihat sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan.


Tidak ada batasan sosial antara Ara dengan karyawannya. Mereka selalu bersikap seperti satu keluarga, saling menjaga dan saling menyayangi.


Ara sendiri tidak pernah bersikap seolah dirinya seorang bos yang harus dihormati, senyum yang ramah selalu Ara tebar untuk mereka agar merka tidak merasa ada perbedaan sosial.


"Besok gajian ya" ucap Ara memecah keheningan yang tercipta diantara mereka, gurat gurat rasa lelah tergambar jelas di wajah mereka.


"Wah iya, kayaknya dapat bonus nih kita, kan omset bulan ini naik iya kan mbak" ucap Sari sambil menarik turunkan alisnya yang tebal seperti ulat bulu.

__ADS_1


"Iya deh dikasih bonus..." ucapan Ara disambut tawa bahagia. "Seribu bonusnya" ucap Ara lagi.


"Yaaaaaaaaaaahhhhhhhhh" serempak mereka menjawab dengan memasang wajah yang paling menyedihkan seantero jagat.


"Udahlah Gil, wajah mu sudah kurang cakep dari sana nya tidak usahlah dibuat tambah jelek lagi" ucap Ara dengan nada penuh candaan yang di sambut tawa oleh yang lainnya.


Setelah menutup pekerjaan mereka dengan doa, satu persatu dari mereka meninggalkan ruko tersebut.


Ara yang hari ini memilih tidak menggunakan mobil pribadinya terlihat sedang duduk di sebuah bangku yang berada di halaman ruko untuk menunggu taksi online pesanannya datang.


Sambil menunggu taksi online yang dipesannya datang, Ara memilih membaca buku yang baru saja dibelinya tadi siang siang bersama Shelly.


Ara terlalu hanyut dengan rangkaian kata kata yang ia baca hingga tak menyadari seseorang sedang berdiri dan memandangnya dengan rasa kesal.


"E,em" Sebuah suara membuat Ara terkejut, apa lagi begitu ia mengalihkan pandangannya dari buku ke sumber suara.


"Kau" ucap Ara saat melihat Atas sedang menatapanya kesal dengan bibir yang tak berhenti berdecak.


"Iya, aku, kenapa? kaget? tidak usah memasang wajah sok terkejut seperti itu. Aku sudah tau betul dengan ekspresi wajah seperti ini, pura pura terkejut padahal hatinya bersorak ria kan" ucap Atayad dengan tatapan mata yang munghujam tidak ada ramah ramahnya sama sekali.


"Tidak usah banyak bicara cepetlah ikut dengan ku" ucap Atayad dengan nada bicara yang terdengar angkuh sekali.


"Tidak, aku tidak mau ikut dengan mu" ucap Ara sambil kembali duduk dan membuka buku yang sempat ditutupnya tadi.


Dengan ekspresi wajah kesal Atayad langsung menyambar buku yang sedang dipegang oleh Ara.


"Sudah ku katakan kau harus ikut dengan ku" ucap Atayad dengan menekan rahangnya kuat kuat menunjukan jika ia sedang merasa kesal.


"Hei jangan memaksa ku, aku sedang menunggu taksi online pesananku, memangnya aku itu kau yang suka bersikap seenaknya sendiri. Dasar manusia aneh" ucap Ara setelah menarik kembali bukunya dari Atayad, tanpa memperhatikan ekspresi Atayad yang tak terima dengan apa yang diucapakan olehnya.


Baru saja Ara hendak mendaratkan kembali tubuhnya pada bangku yang ada, namun ia mengurungkannya saat melihat seseorang sedang berjalan menghampiri. Sepertinya itu sopir taksi online yang dipesannya tadi.


"Permisi, mbak Almira?"


"Iya, bapak pak Asep?"

__ADS_1


"Iya saya driver taksi online yang tadi dipesan mbak" ucap pria yang terlihat berusia 38 tahun yang baru saja diketahui jika namanya pak Asep.


Ara memasukan buku yang tadi dipegangnya kedalam tas, kemudian mengaitkan tas tersebut pada salah satu tangannya hendak melangkah mengikuti driver tersebut.


"Tunggu pak" ucap Atayad menghentikan langkah driver taksi online tersebut yang sudah membalikkan badan.


"Anda jalan saja sesuai pesanannya dan ini bayarannya." ucap Atayad sambil menyodorkan beberapa lebar uang seratus ribuan.


"Tapi pak" driver tersebut tak langsung menerima uang yang disodorkan oleh Atayad, ia melirik ke Ara sejenak dan kembali menatap Atayad.


"Mbak ini akan pulang dengan saya" ucap Atayad seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh pak Asep.


"Tidak mau, aku mau pulang sendiri" ucap Ara sambil berjalan kearah mobil pak Asep.


"Ini pak" ucap Atayad memberikan paksa uang tersebut dan segera menarik Ara masuk ke dalam mobilnya.


Mungkin mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar, begitulah yang pikirkan oleh driver taksi online tersebut.


***


Ara dan Atayad sedang berada didalam mobil yang sama. Cukup lama keheningan menyergap keduanya.


"Lihat saja jika kau berani berbuat macam macam, akan aku laporkan kau pada papa dan kak Fery" ucap Ara sambil mengalihkan pandangannya pada Atayad serta mengacungkan jari telunjuknya serta mata yang penuh dengan ancaman.


Atayad menarik salah satu sudut bibirnya hingga senyum sinis terlukis disana.


"Aku tidak pernah tertarik sama sekali dengan gadis yang manja seperti mu" ucap Atayad dengan nada datar, namun Ara benar benar tersinggung dengan kata manja.


"Manja? dia bilang aku manja?" ucap Ara dalam hatinya.


Ara langsung mengalihkan pandangnya dari Atayad dan segera menghidupkan layar ponselnya kemudian dia menulis, jangan lupa kasih dukungannya baik berupa rate, vote, like, atau kritik yang membangun.


Terimakasih 😊 😊


Follow ig "Nuryanthiag"

__ADS_1


__ADS_2