
"Mama tidak tau sebenarnya apa yang Ara rasakan saat ini. Jika memang tidak ada lagi cara untuk Ara menolak keinginan papa, baiklah mungkin ini yang terbaik untuk Ara. Meski Ara tidak tau apa yang akan terjadi didepannya nanti. Semoga saja tidak lebih buruk sari saat ini" ucap Ara dalam hatinya, meski sebenarnya ia tidak menginginkan hal tersebut sama sekali.
Sejak saat itu Ara menutup komunikasi baik dengan Rey atau pun Elia. Ara mengikuti semua apa yang diinginkan oleh papanya yaitu harus mempersiapkan diri untuk bertemu calon suaminya nanti.
***
Waktu bergulir begitu cepatnya, hari ini adalah hari dimana Ara akan bertemu dengan Atayad.
Ara tak pernah membayangkannya sama sekali bahwa pada akhirnya ia akan menuruti keinginan sang papa.
Begitu pun dengan Atayad, sejak hari dimana Rasdyan menemui ayahnya, mau tidak mau hari ini ia akan bertemu dengan pilihan papanya.
Meski Atayad tahu bahwa nanti malam ia kan bertemu dengan calon istrinya namun tetap saja ia memilih menyibukan dirinya dengan pekerjaan.
Sementara dirumah Ara, semua anggota keluarganya terlihat bahagia menyambut hari ini.
Dirumah itu semua orang benar benar sibuk mempersiapkan untuk acara nanti malam. "mau kemana kak, bukankah calon pengantin tidak boleh bepergian" tanya Zea saat mendapati kakak perempuannya sudah rapi. Jika melihat dari penampilannya Zea yakin kalau kakaknya hendak pergi.
"Baru calon kan, belum tentu juga kita akan menikah" ucap Ara dingin sambil mengaitkan tas selempangnya di bahu kanan.
"Kau yakin bisa keluar dengan aman? Aku rasa papa tidak akan mengizinkan kau keluar" ucap Zea.
"Kalau begitu kau harus membantu ku" ucap Ara sambil mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Jadi kau akan menyuapku? Uang segitu tak akan cukup untuk menutup mulut ini. Lagi pula itu tidak sebanding dengan resiko yang harus ku tanggung jika papa mengetahui aku membantu mu keluar" ucap Zea.
"Dasar matre" ucap Ara sambil menambahkan lagi beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya pada Zea.
"Thankyou" ucap Zea setelah menerima uang tersebut dan segera membuka pintu lebar lebar.
***
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya Atayad melepas kacamata yang yang selalu dipakainya saat berada depan layar laptop.
Tring, sebuah notifikasi masuk ke handphone yang terselip di saku jas kerjanya. Atayad melirik sejenak kesumber suara sebelum akhirnya ia menggabil benda tersebut.
"Ingat nanti malam kita diundang makan malam dirumah sahabat papa, jangan kau lupakan itu dan jangan membuat kami malu" ~~Papa
Atayad membuang kasar nafasnya. "Aku tidak lupa papa tidak usah khawatir" ~~Atayad
__ADS_1
Setelah mengirimkan pesan tersebut Atayad terlihat memainkan handphonenya. "Sepertinya aku harus mengikuti dulu rencana papa, ya kalau aku sudah melihat anak rekannya papa maka akan lebih mudah membuat alasan untuk menolaknya" Atayad bicara sendiri sambil memutar mutarkan handphonenya.
"Katakan aku sedang tidak bisa diganggu saat aku tidak berada diruanganku, dan itu berlaku bagi siapa pun" ucap Atayad saat sudah tiba didepan meja kerja sekertaris pribadinya.
"Baik pak" ucap Sekertarisnya yang tak berani berlama lama menetap wajah atasannya.
Atayad terlihat berjalan meninggalkan ruangan khusus CEO setelah ia memberikan pesan pada sekertarisnya.
Yang jadi tujuan Atayad saat ini tak lain ia ingin menemui Zayn sahabatnya sejak dulu sampai saat ini.
Atayad memang bukan tipe pria yang suka menceritakan keluh kesah kehidupannya terhadap orang lain. Tapi situasi seperti saat ini memaksa dirinya untuk mencari solusi dari orang yang ia rasa bisa memberikan solusi seperti apa yang ia butuhkan.
Setelah melewati perjalanan hiruk pikuk nya ibukota kini Atayad memarkirkan mobilnya tepat dihalaman rumah Zayn sahabatnya.
Mendengar deru mobil Atayad, si pemilik rumah pun segera membuka pintu rumahnya lebar lebar.
"Oh Atayad sahabat ku, lama sekali kita tida berjumpa" ucap Zayn berjalan sambil merentangkan kedua tangannya menghampiri Atayad yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Zayn" balas Atayad, sejenak merek saling berpelukan melepas rindu sebagai sahabat yang sudah lama sekali tidak bertemu.
Atayad dan Zayn dulu pernah tinggal bertetangga, mereka bertema sejak kecil dan berpisah ketika mereka menginjak bangku SMA.
"Sehat?" tanya Atayad setelah mereka melepas pelukan rindunya.
"Seperti yang kau lihat" balas Zayn "Masuk, kebetulan rumah lagi sepi" ucap Zayn sambil mempersilahakan Atayad masuk dan mengikutinya hingga ke ruang tamu.
"Memangnya istri dan anak mu sedang pergi kemana?" tanya Atayad sesaat setelah dirinya mendaratkan pantatnya mengikuti Zayn duduk di sofa.
"Biasanya kita akan menghabiskan akhir pekan sambil mengunjungi mamanya istri" ucap Zayn. "Ada kesenangan tersendiri bro saat bersama keluarga, emh omong omong bagaimana kabar keluarga mu, kenapa istri mu tidak ikut?" tanya Zayn sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Atayad tersenyum sambil mengambil secangkir kopi yang baru saja dihidangkan oleh pelayan dirumah Zayn.
"Istri?" Atayad bertanya balik.
"Ya istri, oh ya beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan perempuan yang kau bawa waktu kau datang ke pernikahan ku. Tapi sayangnya aku tidak melihat kau bersamanya. Rupanya dia sedang mengandung ya, anak keberapa?" Tanya Zayn antusias.
"Anak? istri? semuanya belum ada, justru aku kemarin adalah ingin meminta saran mu, nanti malam keluarga ku akan mempertemukan aku dengan gadis pilihan mereka. Sebenarnya aku malas sekali untuk menghadirinya" ucap Atayad
Zayn yang mendengar penuturan Atayad begitu terkesiap. "Oh my god, jadi selama ini kau belum menikah?" tanya Zayn sambil membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
Atayad membalas pertanyaan Zayn dengan menganggukan kepala sebagai jawaban iya. Zayn menggelengkan kepalanya pelan ia begitu tak percaya kalau seorang Atayad diusianya yang sudah 35 tahun masih saja betah menyendiri, sementara dirinya sudah punya dua anak ditambah istrinya sedang mengandung lagi anak ke tiga.
"Serius Tay? Aku nggak percaya kalau tidak ada wanita yang mau dengan kau, atau jangan jangan kau..." Zayn mengerutkan keningnya.
"Apa? kau mau mengatakan kalau aku tidak normal? begitu?" Atayad mengerti arah tujuan apa yang Zayn ucapkan.
"Hahaha maaf maaf, ya tapi kenpa Tay? Ingat kau tidak akan selamanya mengandalkan dirimu sendiri, ada kalanya kau butuh seorang istri untuk melengkapi hidup mu. Padahal saat aku melihat kau membawa dia dipesta pernikahan kami aku sungguh yakin kalau kau pun akan melepas masa lajang ditahun yang sama" ucap Zayn.
"Ceritanya panjang Zayn" ucap Atayad sambil membuang nafasnya secara perlahan. Dan mengalirlah cerita tentang Atayad dari mulai dia mengenal mantan kekasihnya hingga penghianatan yang dialami olehnya.
Kurang lebih sudah hampir empat puluh lima menit Atayad menceritakan keluh kesahnya pada Zayn. Zayn sendiri tidak keberatan untuk jadi pendengar yang baik bagi Atayad.
"Aku rasa kau masih belum merelakan dia dengan sahabatmu sepenuhnya, jadi kau merasa sulit untuk membuka hati untuk hati yang baru. Dan kau mengatakan kalau kau tak percaya lagi akan sebuah kata CINTA"
Atayad mendelikan matanya tanda ia tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Zayn. Dengan senyum yang terkesan dipaksakan Atayad kembali berkata. "Sejak aku mengetahui bahwa aku dikhianati" Atayad memberi jeda sejenak untuk menarik nafas yang dalam "Sejak saat itu pula aku melepaskan dia sepenuhnya"
Mulut Atayad berucap sangat yakin, namun Zayn sebagai seseorang yang mengenal Atayad jauh lebih lama, ia yakin kalau sahabatnya memang berat melepaskan masalalunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next jangan lupa dukungannya ya
__ADS_1