
Satu minggu telah berlalu, setelah pertemuannya dengan Atayad, tak ada yang berubah dari Ara.
Ara tetap menjalani aktifitas seperti biasanya. Padahal menuju hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia untuknya hanya tinggal tiga minggu lagi.
Baik Ara atau pun Atayad mereka lebih memilih sibuk mengurus perusahaannya masing masing. Tidak seperti calon pengantin pada umumnya yang sibuk mempersiapkan segala kebutuhan pesta pernikahannya.
Siang ini Ara sedang berada disalah satu tempat makan bersama Shelly sahabatnya. Ara menceritakan semua kisah pilu serta yang dialaminya serta rencana ia akan dinikahkan dalam waktu dekat.
Shelly mendengarkan setiap apa yang Ara ceritakan dengan baik. Shelly terlihat mengerutkan keningnya dalam.
"Tunggu Ra, kenapa cerita mu sama dengan cerita yang pernah aku dengar dari suamiku ya" ucap Shelly sambil meneguk jus alpukat yang tadi dipesannya.
"Masa iya?"
"Serius ceritanya persis seperti apa yang kamu ceritakan" ucap Shelly lagi.
"Syukurlah aku ada teman yang memiliki nasib yang sama"
"Gila, malah disyukuri lagi"
"Ya mau gimana lagi" ucap Ara, tanpa mereka sadari ada sepasang kuping yang mendengarkan percakapan mereka.
Keduanya sama sama tertawa, entah apa yang mereka tertawakan. Ditengah asiknya mereka tertawa tiba tiba sebuah notifikasi bunyi di hanphonenya Ara.
Ara segera merogoh tas yang dimana hanphonenya berada. Betapa terkejutnya Ara saat membaca isi pesan tersebut.
Melihat mata Ara yang terbelalak membuat Shelly ikut penasaran. "Ada apa Ra" tanya Shelly.
Ara memberikan hpnya agar Shelly bisa membacanya sendiri. Sementara Ara sibuk melihat sekeliling namun tidak ada tanda tanda orang yang mendengarkan percakapan mereka.
"Aku tahu kau tak pernah mencintai pria lain selain aku. Jadi kau tidak usah mengikuti apa rencana ayah mu, karena aku akan menikahimu. Sabarlah menunggu" ~~Rey
"Oh my god dia benar benar laki laki tidak tahu malu" ucap Shelly setelah ia membaca pesan yang dikirimkan oleh mantan kekasih sahabatnya.
"Kamu benar, aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Semua laki laki sama saja" ucap Ara.
***
Atayad hari ini ada janji temu dengan salah satu klien untuk sebuah projek baru di salah satu tempat makan yang cukup terkenal.
Mereka akan membahas projek barunya sambil makan siang. Itung itung menghemat waktu juga ngecharge tenaga.
Klien Atayad sudah berada disana kurang lebih sepuluh menit yang lalu. Begitu Atayad memasuki tempat makan tersebut menuju tempat yang sudah direservasi lebih dulu.
__ADS_1
Namun sebelum ia sampai disana tak sengaja matanya melihat Ara yang kebetulan juga sedang disana.
"Kerjaan gadis manja ya seperti itu, disaat yang lain sedang bekerja ia sibuk bergosip ria" ucap Atayad
Hello ini lagi jamnya makan siang Atayad. Atayad mengalihkan pandangannya dari Ara kemudian ia segera duduk didepan klien yang sudah menunggunya.
Pembahasan pun berlangsung karena Atayad memang paling tidak suka terlalu banyak basa basi. Ia lebih suka langsung bicara pada inti yang akan mereka bahas.
Ya begitu lah Atayad ia memang dikenal sangat kaku namun kenapa masih banyak yang ingin bekerja sama dengannya? Ya jawabannya karena Atayad orangnya disiplin, juga begitu bertanggung jawab.
Banyak sahabatnya yang menyayangkan sikap kakunya Atayad. Padahal jika Atayad sedikit saja merubah sikapnya mungkin yang akan dihasilkan olehnya lebih dari itu.
"Baik, saya rasa itu jauh bisa lebih menguntungkan. Benarkan?" ucap Atayad setelah lama mereka melakukan pembahasan.
"Ide anda sungguh luar biasa" balas salah satu dari tiga orang yang sedang berdiskusi bersama Atayad.
"Jadi anda setuju?" tanya Atayad
"Saya setuju" ucap salah satunya lagi.
Setelah keputusan diambil Atayad mengakhirinya dengan sebuah jabat tangan.
Sebelum ia memutuskan untuk kembali ke kantor lebih dulu ia memilih ke toilet. Ternyata disana sudah ada Ara yang sedang saling menatap dengan tegangnya.
Betapa terkejutnya Ara saat ia membalikkan badan dan ternyata Atayad ada disana. Ara menarik nafasnya dalam dalam sebelum akhirnya ia bicara.
"Tidak usah ikut campur urusan ku" ucap Ara
Namun ucapan Ara tak ditanggapi oleh Atayad ia berlalu begitu saja dan masuk ke toilet khusus pria.
"Dih, merasa dirinya paling sempurna kali ya" ucap Ara sambil mencebikkan bibirnya merasa kesal saat tak ada tanggapan apa pun dari Atayad.
Setelah mengeluarkan beberapa umpatan kekesalannya, Ara segera meninggalkan toilet dan kembali menemui Shelly sahabatnya.
***
Atayad kini sudah kembali berada dikantor, ia sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen yang baru saja diantarkan oleh sekertarisnya.
Baru saja sepuluh menit pintu ruangannya sudah terbuka kembali dan menampakkan seseorang masuk disana.
Atayad menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya saat tau yang hadir disana ternyata mama Metia.
Dengan senyum yang muncul dari bibir sang mama yang Atas sudah bisa mengartikan jika sang mama pasti sedang ada maunya.
__ADS_1
"Eeemmmmhhh ruangan kamu terlihat cantik" ucap sang mama basa basi busuk.
Mama Metia melihat setumpukan berkas yang masih terlihat rapi di meja kerja Atayad, kemudian ia tersenyum dan berkata. "Sepertinya anak mama ini bekerja sangat keras sekali ya"
"Mama tidak perlu basa basi seperti itu, aku sudah hafal kalau mama bersikap seperti ini pasti mama sedang ada maunya" ucap Atayad
"Capek?" tanya mama Metia
"Tentu saja ma, siapa yang tidak merasa capek setelah bekerja sehari penuh" ucap Atayad.
Mama Metia terlihat mengangguk anggukan kepalanya pelan. "Mama rasa tanggal pernikahan mu harus dimajukan kayaknya" ucap sang mama dengan penuh maksud.
"Ma" ucap Atayad dengan masang wajah sememelas mungkin dihadapan sang mama. Atayad malas sekali jika harus membahas soal ini lagi.
"Maksud mama baik, ya biar kamu pulang kerja tuh disambut oleh sang istri, disediakan keperluan mandi kamu, di masakin, terus dimanajakan sebelum tidur dan..." mama Metia menggantungkan kalimatnya.
"Dan apa ma? dan mama akan segera punya cucu, begitu?" Atayad berjalan mendekati sang mama yang sedang duduk di sofa sejak kedatangannya tadi.
"Aku sudah mengikuti keinginan mama untuk menikah, tapi jangan paksa aku untuk segera memberikan apa yang belum tentu aku bisa melakukannya ma" lanjut Atayad lagi.
"Haaahhh" Mama Metia membuang nafasnya secara kasar, "Lalu untuk apa kau menikah dan punya istri? Apa istrimu akan kau jadikan pajangan untuk memenuhi ruangan kamar mu?" tanya sang mama dengan sarkas.
"Mungkin seperti itu lebih baik" ucap Atayad tanpa merasa ada yang salah dari ucapannya.
"Dasar anak gila" ucap sang mama sambil beranjak keluar meninggalkan ruangan kerja Atayad.
.
.
.
.
.
.
.
.
. Jangan lupa dukung ya, like, rate, vote, dan kasih komentar yang bisa membangun.
__ADS_1
😘😘😘