
Atayad melirik tempat tidur dan sofa, bingung antara tidur di kasur bersama Ara atau ia harus tidur sendiri di sofa.
Tidur di kasur yang empuk dengan selimut tebal memang bisa membuat tidur nyenyak, tapi apa ia mau berbagi tempat tidur dengan orang lain? begitu pikir Atayad.
Tidur di sofa sih sendiri, tanpa khawatir harus berebut selimut dan lahan, tapi masalahnya apa sanggup seorang Atayad hidup di sofa? Selama hidupnya Atayad tak pernah tidur di sofa.
Setelah membuang nafas secara kasar akhirnya Atayad memilih mengurungkan niatnya untu naik ke ranjang. Ia memilih melangkah kembali ke sofa.
Akhirnya malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri dilewatkan begitu saja.
Beerrrrrr dingin.
Sekitar pukul 02:00 dini hari Ara bangun dari tidur nyenyak nya karena ingin ke kamar mandi. Tanpa melihat kiri kanan, ia melangkah secepat kilat.
Ara keluar dari kamar mandi dengan wajah leganya, ia hendak beranjak kembali ke atas ranjang untuk melanjutkan tidurnya. Namun sebelum ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya perhatiannya tersita tatkala ekor matanya melirik ke arah sofa dimana Atayad sedang tidur dengan menekuk kakinya.
Kasihan rasanya saat melihat Atayad tidur di sofa yang seperti seorang anak tiri yang dizolimi.
Setelah memperhatikan Atayad dari kejauhan akhirnya Ara memutuskan untuk membangunkannya.
"Hey bangun" ucap Ara saat langkah kakinya sudah tiba didekat sofa.
Tak butuh waktu lama untuk membangunkannya Atayad yang memang pada kenyataanya ia tidak bisa tidur nyenyak.
"Apa?" Ucap Atayad dengan mata melotot, bukan merasa kesal karena dibangunkan, tapi ia kesal karena tidak bisa tidur nyenyak.
"Kau terlihat seperti seorang anak tiri yang terdzolimi, pindahlah ke sana" ucap Ara sambil menunjuk ke arah tempat tidur.
Atayad menatap Ara dengan bingung, "Sudah cepat kalau kau mau tidur nyenyak, kecuali kau mau tidur di sofa sampai pagi" ucap Ara yang seakan mengerti dengan ekspresi yang ditunjukan oleh Atayad.
Tanpa membalas perkataan Ara, Atayad langsung beranjak dan naik keatas tempat tidur serta menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Ara diam mematung melihat tingkah suaminya. Ternyata begini ya dia memiliki sikap, benar benar ga asik, begitulah yang dipikirkan oleh Ara.
***
Tak terasa waktu terus berputar, hingga kini jam sudah menunjuk pukul 09:15 itu artinya matahari sudah bangun lebih dulu dibandingkan Atayad yang semalam tidak bisa tidur nyenyak.
__ADS_1
Sementara Ara sudah bangun sejak pukul 07:00, dan kini dia sedang duduk manis disofa, menikmati secangkir teh dan beberapa makanan penganjal lapar yang tadi ia pesan serta menikmati tayangan favoritnya.
Aksi artis yang memerankan adegan lucu membuat Ara tidak bisa mengendalikan tawanya, hingga tanpa ia sadari bahwa tawanya begitu mengganggu tidur nyenyak sang suami.
Ara terbawa adegan yang begitu menghibur, dan ia melupakan sejenak bahwa dikamar hotel tersebut bukan hanya ada dirinya.
Ara yang masih asyik dengan tawanya tiba tiba dikagetkan oleh suara yang keras. Sontak Ara langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, ia yakin itu pintu kamar mandi yang dibanting.
Cukup lama ia memandang pintu kamar mandi yang tertutup rapat, kemudian matanya beralih menyoroti tempat tidur.
Melihat tempat tidur yang kosong Ara sangat yakin kalau Atayad lah yang membanting pintu tersebut.
"Selain kaku ternyata dia juga kasar" ucap Ara pelan sambil menggigit pelan jarinya.
***
Atayad berdiri didepan cermin wastafel dengan mata yang masih rapat. Mungkin ia masih ngantuk.
Setelah cukup lama ia berdiri dan mungkin merasa pegal, pelan pelan ia membuka mata dan membasuhnya.
"Apa enaknya punya istri? Mereka sudah dibuat gila oleh yang namanya cinta yang mengatakan enak. Bagiku ini sungguh tidak enak, menyiksa dan mengganggu" omel Atayad sambil menanggalkan satu persatu pakaiannya.
Saat Atayad menikmati ritual mandinya dengan derasnya guyuran air shower tiba tiba dia terdiam mengingat sesuatu. "Astaga" ucap Atayad sambil menepuk jidatnya.
Ternyata dia lupa tidak membawa baju ganti. "Masa keluar hanya dengan lilitan handuk doang" ucapnya lagi.
Setelah membersihkan diri kini Atayad menatap pantulan dirinya dibalik cermin washtafel. Bingung? ya itu yang saat ini tengah ia rasakan. Padahal dia berhadapan dengan istri sah nya loh.
Atayad mendekati pintu dan membukanya sedikit untuk ia menyembulkan kepalanya melihat keadaan disana. Apa Ara masih disana atau dia sudah keluar dari sana. Ia menyoroti seluruh ruangan tersebut, dan ternyata Ara belum pindah posisi sejak tadi.
Ya jelas Ara disana lah.
"Matiiii" ucap Atayad pelan sambil setengah menunduk.
"Kenapa?" tanya Ara yang entah sejak kapan dia memandang ke arahnya.
"Lupa bawa baju ganti" Atayad menjawab dengan nada khasnya yang so cool. Ia menjawab setelah beberapa detik dia diam sejenak tak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ara istrinya.
__ADS_1
Ara terlihat beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya. Tangannya terlihat meraih paperbag yang berada di atas pojok dekat tempat tidurnya.
Ara menyodorkan paperbag tersebut tanpa banyak bicara. Yang tak lama diraih oleh Atayad.
"Terimakasih" ucap Ara saat tak mendengar ucapan Terimakasih dari suaminya.
Atayad mencebikkan bibirnya. "Emang harus ya?" ucap Atayad bertanya dalam hatinya.
Setelah Ara melangkah dari sana, Atayad segera masuk kembali ke kamar mandi dan mengenakan baju gantinya tersebut.
***
Setelah melewati malam yang biasa saja sebagai pasangan baru, kini Atayad dan Ara sudah berada dirumah Rasdyan.
Keluarga besar Rasdyan dan juga Ana ada disana. Begitu mobil yang dikemudikan oleh Atayad berhenti di area parkir rumah Rasdyan, mereka berdua kini menjadi bahan candaan keluarganya.
Seperti biasa namanya juga pengantin baru, pastinya di cie cie. "Cie pengantin baru nih" ucap Gian sebagai kaka tertua dari Ara.
"Tidur jam berapa nih, sampe sampe bangunnya kesiangan" lanjut Gian lagi.
Mereka tidak tau saja bagaimana malu nya Ara mendapat pertanyaan yang seperti itu. Semburat merah sudah mewarnai pipi Ara yang memang berkulit putih itu.
Sementara Atayad seperti biasa tidak banyak bicara, ia hanya menanggapinya dengan senyum tipis.
Setelah menyapa dan bersalaman dengan seluruh keluarga yang ada disana, Ara dan Atayad langsung diajak ke meja makan dimana masakan yang terlihat mewah dan enak sudah tersaji disana.
"Mama tau aja kalau aku lapar" ucap Ara sambil menarik salah satu kursi meja makan.
"Kehabisan tenaga ya Ra? abis tempur" ini suara Fery kakak keduanya Ara. Tidak tau kenapa hari ini mendadak kakaknya yang super cuek dan tak banyak bicara ini begitu usil sekali memberikan pertanyaan pertanyaan yang malu untuk dijawab olehnya.
"Tay, berapa puteran?" ucap Fery lagi.
Atayad yang sedang mengambil nasi serta lauknya geleng kepala sejenak saat mendengar apa yang dilontarkan fery sebelum ia menjawabnya.
"Putaran? memangnya komedi putar?" jawab Atayad, namun kali ini suaranya tidak terdengar dingin dan kaku.
Mungkin ia sedang pura pura.
__ADS_1