Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode dua puluh tiga


__ADS_3

Atayad sedang menyantap sarapan paginya, entah karena makanannya seenak itu atau karena ia sedang kelaparan, ia sama sekali tak menghiraukan orang yang masuk keruangannya.


"Eh mama kapan datang?" ucap Atayad sambil menyuapakan makanan terakhirnya. Ia baru menyadari kedatangan mamanya saat tadi ia tersedak makanannya.


"Sepuluh menit yang lalu mama datang dan berdiri disini" ucap Metia sambil ikut duduk disebelah anaknya.


"Sepuluh menit yang lalu? ah serius ma, masa aku baru tahu ada mama disini barusan" ucap Atayad sambil membuka tutup botol air mineral.


"Lah iya memangnya kamu pikir mama sedang berbohong" Balas Metia sedikit kesal dengan anak sulungnya ini.


"bukan begitu ma, Oh iya mama ada apa sepagi ini sudah disini?" bicara sambil membenarkan posisi duduknya.


Jika dilihat dari sorot mata mamanya Atayad bisa menyimpulkan bahwa mamanya itu sedang marah pada dirinya. Atayad segera berpikir mencari letak kesalahannya, beberapa menit ia terlihat berpikir hingga menimbulkan keheningan antara ibu dan anak itu.


Atayad menggelengkan kepalanya pelan saat merasa tak menemukan kesalahannya. Ya begitu lah manusia, sebesar apa pun kesalahannya ia enggan untuk mengakuinya. Tapi jika orang lain yang melakukan kesalahan sekecil apa pun kesalahan tersebut ia akan terus mengingatnya bahkan bisa saja mengungkitnya.


Metia duduk disebelah putranya itu, peletak sebuah sentilan mendarat di kuping Atayad. Atayad mengaduh sambil mengusap telinganya. Gak tau apa salahnya tiba tiba disentil gerutu Atayad dalam hatinya.

__ADS_1


"Mau tau kenapa tiba tiba dapat sentilan dari mama?" ucap Metia dengan sorot matanya yang tajam. Atayad hanya mendelikan matanya.


"Kau ajak anak orang keluar dari rumah keluarganya dan kau tidak memberitahu dimana kalian tinggal." ucap Metia masih dengan sorot mata tajamnya yang tak meredup sedikit pun


"Bukan orang lain ma, istri sendiri" ucap Atayda memberikan pembelaan pada dirinya.


"Benar istri sendiri, tapi mama tidak tau apa kau memastikan istri mu tinggal dirumah yang aman dan nyaman? serta segala kebutuhannya terpenuhi? mama kan tidak tau. Dan kau tidak bilang lebih dulu kepada mama dan papa" ucap Metia dengan nada khas ibu ibu yang sedang mengomeli anaknya.


Panjang lebar Atayad mendengarkan mamanya bicara, sampai akhirnya mamanya berhenti karena merasa cukup mengomeli putranya.


"Aku memang belum memenuhi segala kebutuhan dirumah baru kami ma, tapi untuk masalah keamanan sudah pasti aman karena kita tinggal di perumahan elit dan bukan di hutan sudah pasti aman dan nyaman ma" ucap Atayad.


"Beginilah mulut bu ibu, cerewetnya minta ampun"


"Tenang saja ma sore nanti aku akan mengajaknya belanja kebutuhan rumah" ucap Atayad dengan senyum manis yang dipaksakan.


"Bisa repot urusannya kalau mama tau yang sebenarnya tentang keadaan rumah tanggaku. Ah malas sekali aku harus kembali berpura pura baik pada gadis itu"

__ADS_1


Metia menatap putranya lekat, memastikan tidak ada kebohongan disana. Dan Atayad cukup pandai untuk meyakinkan itu semua.


"Kalau begitu mama ikut kalian belanja"


"Apa sih ma? kayak tidak pernah muda saja" ucapan Atayad tak ditanggapi lagi oleh sang mama. Mamanya memilih keluar dari ruangan itu.


Sementara Atayad kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya. Beberapa kali ia terlihat bolak balik memasuki ruang meeting. Selain itu sekertaris pribadinya keluar masuk ke ruangannya dan memberikan beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Atayad maupun yang harus diperiksa lebih dulu olehnya.


Rasanya hari ini tenaganya benar benar terkuras. Ia melirik jam yang melingkar ditangan kirinya. Tak terasa saking sibuknya ia akan pekerjaannya, hingga ia baru menyadari bahwa dirinya melupakan makan siang dan ini sudah waktunya untuk jam pulang kantor. Ia tak ingat lagi akan apa yang mamanya tadi katakan. Bahkan jika mengingat pun rasanya ia akan lebih baik pura pura tak mengingatnya.


Dari pada pulang ke rumah atau mengiyakan perintah mamanya, Atayad berpikir untuk sejenak meluangkan waktu menikmati kopi.


Belum ia melakukan apa yang dipikirkannya, sang mama sudah kembali masuk ke ruangannya. Atayad begitu kaget saat melihat pintu terbuka dan menampakan wajah sang mama.


"Aku pikir mama sudah pulang sejak tadi" ucap Atayad dengan senyum seperti orang yang tertangkap basah sedang selingkuh.


"Tidak usah pura pura baik depan mama. Mama tahu apa yang sedang kau pikirkan" ucap sang mama dengan nada sedikit judes.

__ADS_1


Alih alih menanggapi ucapan mamanya, ia segera meraih jas yang tadi ia lepas dan segera membalutkan pada tubuhnya. Setalah itu ia segera meraih tas kerja serta kunci mobilnya.


"Mama mau langsung pulang atau ikut dengan aku dan dia belanja kebutuhan?" ucap Atayad saat langkah kakinya sudah dekat dengan sang mama yang sedang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada.


__ADS_2