
Sikap dan perubahan keduanya terus berjalan seperti waktu yang tak berhenti berputar. Atayad tak lagi mendiamkan Ara seperti sebelumnya. Canda tawa kadang ia selipkan saat ada waktu bersama Ara. Dibalik sikapnya yang seperti itu ternyata masih saja ada hal yang menuntut sebuah jawaban dari Ara. Atayad masih menunggu waktu yang tepat untuk Ara benar benar terbuka padanya.
Seperti pagi ini Atayad baru turun dari kamarnya langsung memicingkan mata saat melihat Ara yang sedang berbicara dengan seseorang dibalik sambungan telepon begitu asyiknya. Mungkinkah orang yang sedang bicara dengan Ara adalah orang yang sama dengan sipengirim pesan cinta dimalam itu.
Atayad berdeham sambil menghampiri Ara. Ara menyambutnya dengan senyum, ya karena sejak malam itu Atayad dan Ara berkompromi untuk bersikap layaknya manusia normal.
"Teh atau kopi" Ara langsung menawarkan saat Atayad sudah berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Sebelumnya Ara lebih dulu mengakhiri sambungan teleponnya dengan seseorang.
"Rasanya pagi ini lebih butuh kopi" Atayad menjawab sambil menarik salah satu kursi dimeja makan. Banyaknya pekerjaan yang menuntut dirinya untuk bekerja lebih keras dan menguras waktu, rasanya hari ini Atayad enggan untuk pergi bekerja. Cuaca pagi yang terlihat mendung ditemani gemericik air hujan yang tidak terlalu lebat membuat Atayad ingin kembali ke tempat tidurnya.
"Apa kau sakit? kau terlihat tidak semangat sekali seperti mayat hidup?" ucap Ara yang dibumbui tawa diakhir kalimatnya sambil memberikan secangkir kopi hangat yang baru saja dibuatnya.
Atayad tak langsung menjawab ataupun menyeruput kopi yang ada dihadapannya. Mengehmbuskan nafas secara perlahan namun pasti Atayad malah memperhatikan Ara yang mulai sibuk dengan kegiatan setiap paginya.
Setelah menghabiskan waktu sepuluh menit untuk diam Atayad akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan hal yang ua rasa sangat penting baginya. "Apa kau bahagia dengan pernikahan ini?" ucap Atayad dengn tangan yang diketuk ketukan pada meja makan.
Ara mengalihkan fokusnya sejenak dari kegiatannya dan menatap Atayad. "Orangtuaku mengajarkan aku untuk selalu bersyukur. Jadi jika kau tanya aku bahagia atau tidak? aku akan menjawabnya aku bahagia. Orang lain tidak perlu tahu lebih dari itu karena ini privasiku" balas Ara.
"Dia selalu menjawab seperti itu. Sulit sekali untuk aku mengertikan dia sebenarnya. Aku rasa itu hanya jawaban kamuflase saja" ucap Atayad dalam hatinya.
Entah mengapa ia selalu saja ingin menanyakan hal itu pada Ara. Namun jawaban yang ia terima selalu jawaban yang sama. Padahal yang ia inginkan adalah jawaban yang lain. Mungkin kalian tahu maksud Atayad coba ceritakan dikolom komentar nanti.
"Kenapa kau selalu bertanya seperti itu?" ucap Ara tanpa mengalihkan fokusnya. Tangannya yang terlihat semakin lincah bermain dengan pisau atau pun peralatan dapur lainnya serta bumbu masakan terus saja bergerak. Sekarang memasak ia jadikan salah satu hobinya sejak hari dimana ia terpaksa memasak sendiri.
Ara menggelengkan kepala saat melihat Atayad yang malah asyik memandangi secangkir kopi yang ada dihadapannya dan bukan menjawab pertanyaannya. "Kau bertanya padaku karena menginginkan sebuah jawaban. Giliran aku yang bertanya kau malah tak menghiraukannya sama sekali" ucap Ara.
__ADS_1
Atayad menyeruput kopi yang sejak tadi dipandanginya kemudian meletakan kembali pada tempatnya. Ia berdiri dan menghampiri Ara lebih dekat. "Apa masakannya sudah siap? Aku harus sampai di kantor sebelum pukul tujuh. Bisa lebih cepat sedikit!" ucapnya sambil menyendok nasi goreng yang sedang dibuat oleh Ara kemudian berlalu setelahnya.
Ara memicingkan sebelah matanya serta menarik salh satu sudut bibirnya namun bukan membentuk senyum sinis. "Dasar manusia aneh, giliran dia bertanya aku harus menjawabnya. Giliran aku yang bertanya dia berlalu begitu saja" gerutu Ara.
***
Atayad mengantarakan Ara ke toko olnlineshopnya sebelum ia menuju tempat kerjanya.
Atayad memperhatikan Ara yang mulai berjalan menjauhi mobilnya. Untuk beberapa saat ia diam disana untuk menemukan sebuah jawabannya yang ia cari selama beberapa hari ini.
Bak dayung tak bersambut, yang Atayad tunggu tidak kunjung datang bahkan ia sampai membuang waktu kerjanya. Padahal Atayad adalah salah satu dari sekian orang yang sangat disiplin dengan yang dinamakan waktu. Baginya waktu itu sangat penting, termasuk bagi author sih 😁.
Atayad melajukan mobilnya menuju tempat kerjanya. Semua orang yang melihat Atayad datang terlambat merasa heran. Pasalnya Atayad sebelumnya paling tidak suka dengan siapa pun yang tidak disiplin.
Tanpa mempedulikan tatapan orang orang yang menatapnya heran Atayad terus berjalan menuju lift khusus untuk ke ruangannya.
Ditengah kesibukannya dalam hal pekerjaan, sebuah pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban terus menganggu fokusnya.
Atayad meraih ponselnya yang terselip di saku celananya. Benda yang ia cari kini sudah ada dalam genggamannya. Atayad mencari sebuah kontak yang sejak tadi mengganggunya. Antara ragu dan malu Atayad tak kunjung mendial nomor tersebut.
"Oh my God Atayad kau membuang waktumu saja" ucapnya saat ia malah membolak balikan ponsel yang dipegangnya.
"Jawaban apa sih sebenarnya yang aku inginkan" ucapnya dengan telapak tangan menutupi wajahnya. "Please God"
Pintu ruangan yang tiba tiba terbuka tanpa mendengar ketukan lebih dulu membuat Atayad meras kaget. "Papa" ucap Atayad dengan nada lemas saat ternyata papanya muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Ahmad tersenyum tipis saat melihat putranya. "Iya ini papa, memangnya siapa yang sedang kau tunggu" ucap Ahmad sambil tergelak dan menghampiri Atayad yang masih seperti semula. "Bagaimana keadaan rumah tangga kalian?" tanya Ahmad yang berhasil menadaratkan pantatnya dengan sempurna di sofa.
"Papa kesini untuk menanyakan keadaan perusahaan atau rumah tanggaku?" ucap Atayad sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya.
"Hah, apa papa tidak boleh bertanya untuk hal itu? Atayad Atayad" ucap Ahmad sambil membenarkan posisi duduknya supaya terlihat lebih santai.
Atayad berdecak mendengar ucapan papanya. Ia lantas menghampiri sang papa dan duduk disebelahnya namun tidak terlalu jauh. Atayad menceritakan apa yang mengganggu pikirannya pada Ahmad. Adanya sang papa disitu tidak membantu Atayad sama sekali. Bukannya membantu memecahkan persoalan yang sedang dihadapi putranya Ahmad malah menggoda Atayad dan mengatakan jika Atayad sebenarnya sudah jatuh hati kepada istrinya namun Atayad masih mengelaknya.
"Aku rasa jika papa tidak bisa memberikan solusi lebih baik papa kembali pada pekerjaan papa saja" ucap Atayad dengan nada bercanda.
"Hei ini yang jawaban sebenarnya yang kau cari. Papa yakin apa yang papa katakan ini benar kau .... sudah jatuh hati pada Ara. Akui saja itu!"
.
.
.
.
.
.
. Menurut kalian bagaimana? Jika yang Ahmad katakan itu benar lalu kenapa Atayad masih mengelaknya? Mungkinkah ia ingin menemukan jawaban itu langsung dari Ara alias sebuah pengakuan?
__ADS_1
Lalu bagaimana menurut kalian dengan sikap Ara? Berikan tanggapan kalian dalam kolom komentar.