Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode dua puluh delapan


__ADS_3

Begitu Ara memasuki tokonya ia disuguhkan pemandangan yang membuat mood buruknya menghilang dengan sendirinya. Kesibukan para pekerja karena banyaknya orderan yang masuk membuat mood Ara kembali membaik. Bahkan ia juga lupa kejadian tadi pagi dan melupakan sarapannya.


Ara dan Atayad memiliki kesamaan, yaitu sama sama gila kerja. Keduanya sama sama belum menyadari akan hal itu.


Setelah menyimpan tas diruangan kerjanya, Ara segera bergabung untuk membantu para pekerjanya. Ara memang dikenal oleh pekerjanya sebagai atasan yang sangat humble. Ia tak pernah membedakan status orang yang bekerja di toko olshopnya. Bagi Ara mereka sama, sama sama makhluk yang saling membutuhkan. Tanpa da campur tangan mereka mungki Ara akan kesulitan untuk menjalankan olshop yang ia rintis sejak ia memasuki bangku kuliah. Meski tidaklah mudah dalam membangunnya Ara selalu optimis.


"Selama Tuhan memberi kesempatan, tak ada yang mustahil jika kita terus berusaha. Perubahan akan terjadi jika kita sendiri yang memulai perubahan itu" kalimat yang selalu mendorong Ara untuk terus belajar dalam membangun bisnisnya. Kalimat itu pun bukan hanya ia gunakan untuk pekerjaan saja, tapi juga dalam kehidupannya.


Ah Ara tersadar dari lamunannya saat ia mengingat kembali kalimat itu. "Kenapa sulit sekali aku menerpakan kalimat itu dalam kehidupan baruku?" keluh Ara dalam hatinya.


"Kenapa? ya karena pria yang menyebalkan itu tak pernah memberikan dukungan pada ku untuk melakukan perubahan. Coba saja"


Entah menyadarinya atau tidak, Ara mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan ia pun sepertinya lupa dengan apa yang baru saja dikatakan dalam hatinya. Ara terlihat kembali mengambil barang yang harus dibungkus sesuai pesanan customer sebelum kurir menjemputnya.


"Mbak Ara sakit?" tanya salah satu pegawainya yang saat ini duduk persis disebalhnya.


Ara menoleh kemudian menjawab "Tidak, aku baik baik saja" balas Ara dengan senyum dan kembali tangan serta matanya fokus pada objek yang ada didepannya.


"Tapi mbak Ara terlihat lemas sekali" ucap pegawai tersebut mengkhawtirkan kondisi atasannya.


"Yah, mbak weni kayak nggak tahu aja gairah pengantin baru. Mungkin kecapean ya mbak habis tempur" ucap salah satu pegawainya yang lain dan membuat rona merah pada pipi Ara menyembul dengan sendirinya.

__ADS_1


"Waaahhh sepertinya kita akan segera punya boscil kalau semangat mbak Ara tempur tak pernah surut. Betulkan mbak Ara" sekali lagi kalimat tersebut semakin menambah rona merah itu.


Ara tersipu malu, bibirnya mengatup dan ia terlihat bingung harus membalas apa pertanyaan mereka. Ini semua gara gara Atayad yang membuat selera makan Ara hilang pagi itu. Dan kini ia mendengar kata kata vulgar dalam setiap kalimat yang dilontarkan oleh para pegawainya. Maklum saja karena mereka yang bekerja di toko olshop Ara kebanyakan yang sudah menikah, yang belum menikah hanya satu dua.


"Mbak malam pertama bagaimana? wah pastinya ehem ehem seru" yang lain menimpali.


"Kayaknya punya suami mbak Ara sangat nikmat. Maka lihatlah mbak Ara setelah beberapa hari menikah, setiap hari kelihatannya lemas terus" yang lainnya pun ikut menimpali.


Ara menggeleng gelengkan kepala pelan saat melihat tawa mereka yang sedang menggoda dirinya dengan kata kata yang dianggap wajar oleh mereka yang sudah menikah. Padahal yang sebenranya Ara sendiri belum merasakan apa yang mereka katakan.


"Mbak Ara kok diam saja, biasa mbak nggak usah malu malu kan sekarang kita statusnya sama." ucap yang di sebelahnya lagi.


Ara meraih benda yang berdering sejak Ara kembali ke ruangannya. Dilihanya benda tersebut yang menampilkan nama Shelly sahabatnya pada layar tersebut. Setelah menggeser ikon warna hijau dan menempelkan beda pipih itu pada daun telinganya. Percakapan diantara keduanya berlangsung cukup lama.


Ara dan Shelly saling melepas rindu setelah saling menanyakan kabar masing masing. Cerita tentang liburan Shelly bersama suami serta kedua anaknya mewarnai percakapan itu. Mereka berbincang kurang lebih satu jam setengah. Kalian pernah bercakap cakap ria dengan sahabat kalian di telpon lebih dari satu jam? Author mah pernah.


Setelah cukup lama mereka berbincang di telpon hingga membuat kuping masing masing terasa panas, akhirnya mereka mengakhiri perbincangan mereka dengan Shelly meminta alamat rumah baru yang ditinggali Ara dan suami. Rencananya sore nanti Shelly serta suaminya akan berkunjung.


"Jangan lupa kasih alamat rumah mu! biar nanti sore aku mengantarkan kado pernikahan untuk kalian sekaligus biar suamiku mengenal suami mu" ucap Shelly


"Jam berapa kau akan kerumah?" tanya Ara.

__ADS_1


"Emmmmhhh mungkin sepulang suami ku bekerja. Tapi tenang saja kami tidak akan sampai larut malam dirumah kalian, aku tidak ingin mengganggu masa masa indah pengantin baru" ucap Shelly sambil menggoda Ara.


"Apa sih" balas Ara, ia pun ikut tersenyum mendengar godaan dari Shelly serta ia mengingat ucapan karyawannya hari ini. Mereka benar benar kacau ucap Ara dalam hatinya.


Setelah sambungan telpon terputus Ara menarik nafas dan membungnya dengan tenang. Rasanya ia merindukan kehidupan lamanya. Masa dimana ia dengan bebasnya berbincang tanpa dibatasi waktu, saling berbagi kebahagiaan maupun kesedihan diantara mereka bertiga.


Tak terasa waktu telah memudarkan kebersamaan itu. Shelly yang menikah lebih dulu, Elisa yang hamil duluan oleh kekasihnya kala itu dan kini ia sendiri pun terjebak dalam pernikahan yang tak pernah diinginkannya. Padahal pada masa putih abu abu mereka bertiga selalu bersama kemana pun mereka pergi hingga mereka sama sama memasuki fakultas yang sama. Dan kini mereka sibuk dengan kehidupannya masing masing.


Benar kata orangtua jaman dulu, jangan foto bertiga, main bertiga, karena sesuatu yang ganjil akan menghilangkan salah sati diantara mereka. Dan benar saja, Ara dan Shelly masih selalu saja menjalin hubungan namun tidak dengan Elisa. Ara sendiri tak pernah ingin menghubunginya sejak kejadian dirumah sakit waktu itu. Bagitu pun dengan Elisa, mungkin ia merasa malu.


Setelah diam cukup lama dengan segala bayangan masalalu serta pemikirannya, Ara memilih mengakhiri lamuannya itu.


"Masak apa ya untuk Shelly dan keluarganya?" ucap Ara sambil memainkan pulpen yang ia pegang sejak tadi. Ia terlihat berpikir.


Ara melirik jam tangan yang melingkar pada tangan kirinya, jam 12:35. "Aku harus segera pulang dan menyiapkan makanan terbaik untuk sahabatku nanti" ucap Ara sambil bergegas membereskan meja kerjanya.


Ara berhenti saat mengingat sesuatu. "Bagaimana aku mengatakan ini pada manusia angkuh itu? Apa dia bisa diajak kerja sama untuk nanti bersikap baik baik saja? Ah bodo amatlah itu urusan nanti" ucap Ara sambil melangkah.


Sebelum pulang Ara menyempatkan mengambil mobil dirumah orangtuanya yang rencananya akan diambil kemarin. Kemarin tidak jadi karena ada acara dadakan dati Atayad.


Senyum dibibir Ara tersungging saat mengingat kejadian kemarin.

__ADS_1


__ADS_2