
"Aku tidak mengerti lagi dengan makhluk yang bernama wanita. Kaum mereka sungguh pandai sekali, pertama mereka bisa dengan sekejap membuat kami tertarik padanya, kedua mereka pun pandai menyakiti dalam sekejap, memporak porandakan hati yang selalu memujanya. Cerewet dan matre itu pun salah satu kelebihan mereka. Kenapa Tuhan memberikan mereka banyak sekali kelebihan?" ucap Atayad dalam hatinya sambil memperhatikan interaksi mama serta istrinya.
Setelah Atayad membayarkan sejumlah uang untuk apa yang mereka beli, kini mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah ke duanya. Lebih tepatnya rumah untuk Atayad menunjukan sikap otoriternya. Sementara Ara tak memperdulikan lagi dengan hal itu.
Pukul 18:02 mereka tiba dirumah yang telah dibeli Atayad. Metia mengedarkan pandangannya meneliti setiap sudut dalam rumah tersebut setelah kakinya menapak sempurna disana.
Metia berkeliling sendirian dirumah itu, sementara Ara lebih memilih membereskan barang serta kebutuhan makannya.
Atayad pun ada disana, pria itu memang tidak banyak bicara saat hanya ada mereka berdua saja. Atayad lebih banyak menunjukan sorot mata tajam setajam pisau yang siap menghunus mangsanya.
Memang pada dasarnya Ara gadis yang pandai, jadi ia akan cepat paham akan apa yang harus dilakukannya pada saat saat seperti ini. Ikut berpura pura kayaknya akan jauh lebih baik begitu yang Ara pikirkan.
Metia kembali menemui putra serta menantunya yang setaunya mereka ada di dapur. Benar begitu ia sampai disana Metia disuguhkan sebuah pemandangan yang langka. Ia melihat Atayad tengah membantu Ara. Entah sejak kapan Atayad mau membantu Ara, entah itu sebuah kepura puraan atau memang yang ada dihadapannya ada sebuah kenyataan baru. Tapi yang jelas Metia sangat bersyukur akan hal itu.
Yang awalnya hanya sebuah kepura puraan lambat laun akan menjadi kebiasaan, jika kebiasaan diulang ulang, yakin jika benih cinta diantara keduanya benar benar akan tumbuh. Semoga saja.
Setelah menunaikan kewajibannya dan memastikan jika putranya memperlakukan Ara istrinya dengan baik Metia pamit pulang. Ara sempat meminta mama mertuanya untuk menginap disana, ya hitung hitung buat menemani malam Ara. Begitupun dengan Atayad yang menawarkan diri untuk mengantarkan sang mama pulang namun Metia menolak keduanya dengan alasan yang cukup logis.
Ara membuang nafas perlahan saat mobil yang ditumpangi mama mertuanya semakin memudar dari pandangannya. Ah rasanya ia enggak sekali untuk kembali masuk kedalam rumah tersebut. Setelah berusaha menguatkan diri, akhirnya Ara kembali membawa kakinya untuk masuk kedalam rumah tersebut.
Ara tak melihat lagi Atayad disana, mungkin dia sedang menonton tv atau sedang istirahat di kamarnya. Ara pun tak ingin membuat dirinya pusing akibat memikirkan suaminya itu.
__ADS_1
Merasa lapar karena memang terakhir ia memasukan makanan kedalam mulutnya adalah tadi waktu makan siang. Ara melihat bahan makanan yang dibelinya tadi bersama mama mertua serta suaminya.
Berbekal hp Ara akhirnya menonton tayangan tentang bagaimana cara membuat masakan yang simpel tapi pas di lidah. Ara mulai memilih jenis, membersihkan dan memotong bahan makanan yang akan dimasaknya.
Rencananya Ara akan memasak tumis cumi lada hitam dan juga ayam bumbu merah. Ya karena memang itu yang dirasa Ara sangat simpel.
Setelah semua bahan makanannya siap Ara mulai memasaknya. Kurang lebih 45 menit sudah Ara bertempur dengan peralatan dapur. Dan kini masakan yang Ara masak sudah tersaji rapi diatas meja. Tidak terlalu buruk, soal rasa pun Ara ternyata bisa menyesuaikan. Masakan itu memang cocok dengan lidah Ara namun tidak tau jika Atayad yang memakannya. Ah lagi pula rasanya ia enggan sekali untuk menawarkan hasil masakannya pada sang suami.
Ara sudah bisa menebak jika Atayad akan memujinya dengan kata yang sungguh menyayat hati. Dari pada itu terjadi lebih baik tidak ditawarkan sama sekali. Dia sudah makan atau belum? Kelaparan atau tidak? Ara mana peduli. Lagi pula ia tak ingin ambil pusing untuk menghadapi suami super angkuhnya itu.
Ara mulai menikmati hasil masakannya. "Ooohhh waw ternyata aku punya bakat untuk menjadi seorang Chef" puji Ara pada dirinya sambil menyuapkan satu sendok nasi beserta lauknya ke dalam mulut.
Merasa perutnya sudah kenyang dan yak akan mampu lagi menampung sisa makanannya, Ara lebih memilih mengakhirinya dan menyimpan sisa makanannya kedalam lemari es.
***
Sementara Atayad sedang tertidur pulas di kamarnya yang memang yerpisan dengan kamar Ara.
Mungkin tenaga Atayad habis terkuras oleh aktifitas hari ini. Hingga ia tidur tanpa mengganti pakaiannya lebih dulu, bahkan hanya sekedar melepas sepatu saja Atayad tidak melakukannya.
Arayad bangun dari tidurnya saat hawa dingin mulai menyentuh kulitnya. Seketika Atayad mengerjakan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Setelah melirik jam yang yang ada diatas nakas dan menunjukan pukul 23:15 menit, itu artinya ia tertidur dengan lelapnya kurang lebih selama 4 jam.
"Kruyuk" Bunyi perut Atayad yang cacingnya sudah meronta ronta meminta jatahnya.
"Jam segini masih ada yang bukan gak ya?" ucap Atayad saat dirinya membuka aplikasi pemesanan makanan. Tulisan tutup tertera disana pada setiap nama rumah makan yang akan Atayad tuju. Jika seperti ia harus bagaimana, jika memesan makanan dari luar itu rasanya tidak mungkin. Jika ia yang pergi keluar untuk mencari makan pun rasanya tidak mungkin karena tubuhnya sudah sangat merasa lelah. Minta tolong pada Ara untuk dibuatkan makanan? ah itupun rasanya jauh sangat tidak mungkin. Gengsi kaleee.
Setelah mengganti pakaian dengan pakaian rumahan, Atayad berjalan menuju ke dapur. Setibanya di dapur, Atayad langsung membuka lemari es dan ternyata disana ada sisa masakan Ara.
Atayad mengeluarkan makanan tersebut dari lemari es dan menghangatkannya menggunakan microwave. Tak peduli lagi siapa pemilik makanan tersebut begitu sudah hangat dan sudah dikeluarkan dari microwave, Atayad langsung menyantapanya. Apa daya ia sudah sangat kelaparan.
"Emmmmhhh Enak tapi siapa yang memasaknya? Tanya Atayad dalam hati saat ia berhasil mengunyah makanan tersebut. "Gadis itu yang masak? mana bisa?" pikir Atayad. Meski demikian makanan itu pun pada akhirnya hanya menyisakan wadah bekas penyimpanannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Lanjut tidak? kalau lanjut kenapa kalau tidak kenapa? beri alasan yang membangun 😍