
Ara dam Shelly bangun lebih dulu dari para suami. Sepertinya kebanyakan seperti itu ya. Ditengah kesibukannya mempersiapkan sarapan pikiran Ara tak berhenti memikirkan perubahan dari sikap Atayad yang secara tiba tiba.
"Ra, Atayad belum bangun?" tanya Zayn yang baru saja menghampiri mereka di dapur.
"Belum" balas Ara.
"Anak anak belum bangun sayang?" tanya Shelly sambil membalas pelukan suaminya.
Ara menundukan pandangannya dari adegan live yang ada dihadapannya. Hal seperti itu memang belum pernah ia dan suaminya lakukan. Tapi afek dari kejadian semalam yang secara tiba tiba dilakukan lelah Atayad membuat rona merah di pipi Ara muncul.
"Duuuuhhh Ara please jangan berpikir yang tidak tidak seperti ini" ucapnya dalam hati sambil mengangkat bahu serta diikuti gelengan pelan pada kepalanya.
"Biasa aja Ra, kita tahu kok kalian juga pasti sering melakukan hal seperti ini setiap pagi" ucap Shelly.
Ara hanya tersenyum mendengar ucapan Shelly. Tangannya masih sibuk dengan pisau dan bahan sayuran. Sementara sepasang suami istri yang ada di seberangnya masih menampilkan kemesraan yang membaut Ara malu sendiri melihatnya padahal bukan ia yang melakukannya.
Ara meletakan pisau setelah bahan sayuran nya selsai ia kupas dan potong. Setelah mencuci sayuran tersebut Ara meninggalkan keduanya dengan alasan untuk membangunkan Atayad. Padahal yang sebenarnya ia merasa malu menyaksikan adegan yang dilakukan oleh sahabatnya.
"Mereka tidak merasa malu sama sekali" ucap Ara pelan sambil kembali melirik keduanya yang masih dengan adegan yang sama.
Dengan cepat Ara melangkahkan kakinya, dan sekarang ia sudah tiba di depan pintu kamarnya dan segera memutar handle pintu.
Atayad yang sejak tadi tak berhenti mondar mandir langsung membalikkan badan saat mendengar handle pintu di putar. "Kenapa lama sekali?" Tegur Atayad.
Sementara Ara tak kuat menahan tawa melihat penampilan Atayad yang jauh berbeda dari biasanya.
"Berani sekali kau menertawakan ku"
"Hahahahhaha kau lucu sekali seperti ini kenapa tidak kau lakukan setiap pagi" Ledek Ara yang tak bisa menahan tawanya. Baru kali ini ia melihat sesuatu yang berbeda dari Atayad suaminya. Dan ini benar benar sangat lucu baginya.
__ADS_1
Atayad pun ikut tersenyum meski tipis saat melihat Ara yang belum berhenti dari senyumnya. "Tadi malam dia menangisi kekasihnya sambil tidur dan sekarang ia tertawa bebas seperti tak ada beban sedikitpun" ucap Atayad dalam hati.
Ara menyadari bahwa dirinya terlalu lama menertawakan suaminya. Namun begitu matanya menemui sang suami sungguh mengejutkan. Atayad tidak menunjukan sikap khasnya.
"Ma..maaf" ucap Ara setelah tatapan matanya lama terkunci dengan tatapan Atayad.
"Bisa kau menolongku memgambilkan pakaian. Aku sungguh tidak betah berlama lama dalam kondisi seperti ini" ucap Atayad sambil mencium ketiaknya. Ara mengedikkan pundaknya merasa geli melihat sikap Atayad.
"Kenapa kau mau menciumnya juga?" ucap Atayad saat melihat tingkah Ara.
Dan Atayad pun mencolekkan tangannya ke katiak kemudian mencolekkan tangannya itu ke hidung Ara. Seketika Ara pun menjerit karena merasa jijik. "Aaaahhhh dasar jorok" ucap Ara sambil melangkah menuju kamar mandi. Atayad menertawakannya.
Setelah membasuh wajah, Ara meraih handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya. Kemudian ia kembali menghampiri Atayad yang masih tak menyurutkan senyum karena berhasil mengerjai Ara. "Bau ketiak orang tampan dan kaya sungguh berbeda bukan?" tanya Atayad dengan santainya.
"Tidak, justru kau sangat jorok sekali" ucap Ara yang masih mengelapkan handuk kecil diwajahnya.
"Adil bukan? kau tadi juga menertawakan ku" balas Atayad ringan. "Cepat tolong ambilkan pakaian ku. Atau kau memang menyukai keadaanku yang seperti ini?" lanjut Atayad, Selain senyum sinis yang dulu selalu melekat pada dirinya kini senyum jahil pun selalu nampak dari bibirnya.
Sebelum memasuki kamar tersebut Ara selalu dibuat penasaran oleh kamar yang ada di sebelahnya dan pintunya selalu tertutup. Ia ingin sekali masuk kedalam sana namun kesempatan belum ada yang berpihak kepada dirinya.
Ara mengubur keingintahuannya dan lebih memilih masuk kedalam kamar yang selalu ditempati Atayad selama mereka tinggal disana. Ara mengambil kaos berwarna putih dengan lengan pendek serta celana kain selutut berwarna krem. Ara diam sejenak saat harus mengambil pakaian dalam Atayad. Bingung dan malu bercampur jadi satu.
Ia melirik ke kiri dan ke kanan berharap akan ada orang yang membantunya. Tapi mana mungkin ada orang lain bisa dimintai bantuannya. Dan rasanya tidak mungkin ia meminta batu pada Zayn sahabat suaminya. Apa kata mereka nanti jika itu sampai terjadi.
Mau tidak mau Ara memberanikan diri untuk mengambilnya meski harus dengan memejamkan matanya. "Semoga tidak salah ambil" ucapnya pelan.
Saat Ara keluar dari kamar itu ia bertemu dengan Zayn yang kebetulan baru naik dari dapur. "Ra?" ucap Zayn dengan Alis berkerut.
Dan Ara cepat cepat menyembunyikan pakaian Atayad yang baru saja diambilnya dibalik badan.
__ADS_1
"Zayn"
"Atayad sudah bangun?" tanya Zayn lagi.
"I..iya dia sedang mandi, maaf aku tinggal dulu" ucap Ara sambil ambil langkah seribu meninggalkan Zayn yang masih menatapnya dengan tatapan heran.
"Dasar pengantin baru, ada ada saja kelakuannya" ucap Zayn sambil masuk kedalam kamar yang sejak tadi malam ditempatinya untuk membangunkan anak anaknya.
Sementara saat Ara masuk kedalam kamarnya ternyata Atayad sedang berada di dalam kamar mandi. Belum lama ia dikamarnya untuk meletakan pakaian yang Atayad minta. Disaat yang sama tiba tiba Atayad keluar dari dalam kamar mandi yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan setengah badannya.
"Astaga kau ini sungguh tidak tahu malu sama sekali" ucap Ara yang sempat melihatnya dan segera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Atayad hanya melirik Ara sejenak tanpa membalas ucapannya. Ia segera meraih pakaiannya dan segera mengenakannya disitu juga. Ia sama sekali tak mempedulikan apa yang dilakukan Ara karena malu akan sikap yang ditunjukan olehnya.
"Aku sungguh sulit sekali mengerti sikapnya yang secara tiba tiba ini. Aaaahhh kenapa juga dia harus mengenakan bajunya disitu juga" gerutu Ara ditengah matanya yanh asih ia tutup.
Setelah mengenakan pakaian miliknya Atayad baru bicara. "Kenapa harus kau tutup mata mu itu. Padahal barusan ada kesempatan besar untuk mu bisa melihat tubuhku tanpa terhalang pakaian" ucap Atayad tanpa merasa malu atau bersalah sekalipun. Ia malah bertingkah ruangan itu seolah olah miliknya.
Ara masih diam ditempatnya tadi, menyaksikan Atayad yang sedang bertingkah.
Tanpa ia sadari bahwa ia sedang memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Masih lanjut ya, terimakasih jika kapan menyukainnya. Jika tidak pun tak apa.