
"Apa aku boleh tahu kenapa kau selalu bertanya padaku apakah aku bahagia atau tidak menikah dengan mu. Apa kau sungguh ingin tahu bagaimana persaanku? Jika iya apa boleh aku mengatakannya padamu?"
Ini yang paling Atayad tunggu, hatinya berdebar tak karuan menanti jawaban itu. Mungkinkah itu akan menjadi kebahagiaan baginya atau hanya akan menjadi luka seperti yang ia alami sebelumnya.
Atayad menarik nafasnya dalam dalam dan mempersiapkan diri akan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi. Bisa saja apa yang nanti Ara ucapkan tidak sesuai dengan apa yang iya harapkan.
Atayad membenarkan posisi duduknya. Menyiapkan hati setegar mungkin, jiwa setenang mungkin dan menjaga pikirannya agar tetap normal. Pokoknya apa pun yang dikatakan Ara nanti jangan sampai menurunkan wibawanya.
Ara pun tak kalah dari Atayad, ia meyakinkan diri dan harus siap menerima apa pun tanggapan yang diberikan Atayad nantinya. "Jika kau bertanya lagi apa aku bahagia atau tidak dengan pernikahan ini, maka akan ku jawab dihadapanmu dengan penuh keyakinan jika aku bahagia. Aku tidak menyesali pernikahan ini." lanjut Ara.
Ah mendengar jawaban Ara, Atayad ingin sekali bersorak riang dan berteriak pada dunia bahwa saat ini ia merasa jadi orang yang paling bahagia. Hal itu tidak mungkin ia lakukan mengingat saat ini dia berada di tempat yang tidak mendukung. Apalagi tidak sedikit orang yang mengenalnya, apa kata mereka jika sampai ia bertingkah seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Meski pada kenyataannya ia memang sedang jatuh cinta.
Ara memperhatikan ekspresi Atayad yang tidak menunjukan reaksi apa pun. Apa sia soa saja ia mengatakan hal itu pada suaminya? Semoga saja tidak.
"Kau ingin tahu alasan mengapa aku selalu menanyakan itu pada mu?" Atayad bertanya dengan ekspresi datar. Ara mengangguk.
"Kau akan tahu jawabannya nanti malam" lanjut Atayad.
Ah rasanya jika bisa ia lakukan, Ara ingin sekali memutar waktu secepat mungkin. Ia sungguh tidak sabar apa yang Atayad lakukan nanti malam.
Apa itu akan membuatnya merasa bersyukur karena Tuhan mempertemukan dirinya dengan suami seperti Atayad atau bagaiamana.
Tunggu, Ara mengingatkan dirinya agar jangan terlalu berharap. Berharap kepada selain pemilik-Nya maka kecewa sudah pasti akan ia rasakan.
Sejujur manusia mesti diingatkan seperti itu pun sedikit banyaknya pasti ia tetap berharap jika orang yang ada dihadapannya saat ini akan membalasnya juga.
"Kau menunggu apa, cepat makan!" ucap Atayad
__ADS_1
Mereka mengakhiri percakapannya, dan mulai menyantap makan siang mereka. Jika saja Ara dapat membaca isi hati Atayad saat ini. Hati suaminya itu sedang bahagia tiada terkira meski itu hanya jawaban dari pertanyaan yang sederhana. Hati Atayad sedang dipenuhi bunga bunga mekar serta dikelilingi lebah. Ah bayangkan saja bagaiaman ia betapa bahagianya. Atayad pun tak kalah sabar ingin segera malam. Rencana itu tersusun secara tiba tiba saat mendengar jawaban dari sang istri.
***
Mereka kembali berpisah setelah makan siang usai. Ara kembali ke toko olshopnya dan Atayad mulai menjalankan rencananya.
Diruangan kerja milik Ara, ia sedang dilanda gelisah. Kerja tidak bisa fokus dan duduk pun merasa tidak enak. Matanya terus saja memandangi jarum jam yang menempel pada dinding. Kenapa jarum jam yang ia pandang terasa lambat sekali pergerakannya. Apa jangan jangan batrenya mulai lemah lagi, begitu pikir Ara. Ara mondar mandir tidak jelas. Kalau kata bahasa sunda mah teu puguh rampa.
"Mbak Ara kenapa terlihat gelisah sekali?" tanya salah satu karyawan Ara yang kebetulan saat itu baru masuk ke ruangannya.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku gelisah seperti ini" Ara berkilah. Ia tidak ingin ditertawakan oleh pegawainnya jika tau penyebab dirinya gelisah.
"Ah aku tahu, sepertinya mbak Ara sedang memikirkan suaminya yang tampan itu ya?" ucap pegawainnya itu sambil menahan senyum. "Wajar mbak jika pria tampan banyak yang mengidoalkannya. Apalagi suaminya mbak Ara tampannya diatas rata rata"
"Biasa saja" balas Ara sambil mempersilahkan pegawainnya itu untuk menyampaikan tujuan.
Mengejutkan ditengah perjalanannya Ara dikejutkan oleh sebuah mobil yang berwarna hitam dan melaju kencang mengikutinya.
"Oh My God ada apa ini?" ucap Ara sambil berusaha melarikan diri dari kejaran mobil hitam itu.
Dan ckiiiiiittttt, decitan suara ban terdengar begitu keras. Untung saja tidak sampai terjadi kecelakaan karena mobil itu menghadang mobil Ara tidak terlalu dekat.
Ara semakin kaget saat melihat dua orang pria berbadan kekar menghampiri mobilnya. Pria itu bahkan mengetuk ngetuk kaca mobil Ara dan memintanya untuk keluar. "Tuhan please, beri aku kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang lebih penting untuk suamiku" ucap Ara dalam hati sambil sejenak memejamkan matanya.
"Cepat keluar jika tidak ku bakar mobil ini" Ancam salah satu pria itu.
Dengan terpakasa Ara membuka pintu mobil meski hatinya mulai merasa ketakutan. Pasalnya selama ia membawa kendaraan sendiri ia tak pernah mengalami hal ini sekalipun. "Apa mau kalian? Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Ara tegas meski sebenarnya ia sedikit gemetaran
__ADS_1
Bukannya menjawab kedua pria itu malah memasang seringai yang membuat nyali Ara mulai bergetar.
"Kami tidak menginginkan yang lain selain kau nona, dan ini pun atas perintah tuan kami" ucap pria yang berjambang tipis itu.
Tangan Ara langsung ditarik dan matanya ditutup. Belum sempat Ara memberontak dan melakukan perlawanan, Ara langsung dibawa masuk kedalam mobil tadi yang menghadangnya.
"Aman?" tanya salah satu pria yang ada didalam mobil tersebut.
"Tentu saja" jawab pria yang satunya lagi.
Segala pikiran buruk mulai berseliweran dibenak Ara. "Baru saja aku merasakan kebahagiaan bersama dia, tapi kenapa sekarang aku harus mengalami hal ini. Apalagi rencana Tuhan untukku? Atayad maafkan aku, tolong aku Atayad" ucap Ara dalam hatinya.
Waktu perjalanan yang dilalui oleh mobil yang membawa Ara membuat Ara sedikit terkejut. "Loh loh loh, apa ini hanya pikiranku saja atau bukan, aku rasa tidak asing dengan jalan ini dan suara ini" ucap Ara dalam hati terlebih lagi saat mobil itu melalui gerbang perumahan yang dilaluinya.
"Apa Atayad yang menculikku? Tapi untuk apa jika benar? Bukankah malam ini ia kan memberi tahuku tentang alasan mengapa ia selalu mengulang pertanyaan itu padaku. Rencana gila apa yang direncanakan pria kurang ajar itu. Jika tebakanku benar maka mobil ini akan berhenti dalam jarak sepuluh meter lagi."
Dugaan Ara ternyata salah, karena mobil yang membawa Ara itu tak kunjung berhenti.
Lalu siapakah yang menuculiknya? Apa tujuan Ara diculik? Siapakah itu? mungkinkah Atayad? atau mungkin Rey si mantan kekasih yang tidak tahu diri itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Penasaran yaaaaaaaa????? Terimakasih yang udah ngasih vote hari ini, apalagi sampe poin votenya lebih dari 1000 ahhhh love love author sama para readers 😘 😘 😘 😘 kecup jauh yaaaaaa. Tenang author akan up lagi jika kalian masih mau menunggu hehe