Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode dua puluh empat


__ADS_3

Ara sedang merapih kan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. Rencananya hari ini sebelum ia pulang ke rumah baru bersama suami angkuhnya ia akan kerumah orang tuanya lebih dulu untuk mengambil mobil miliknya.


Saat Ara melangkah sambil bersenandung, salah satu karyawannya memberitahukan bahwa ada seseorang sedang menunggunya di depan.


Ara memutar bola matanya jengah, sudah ia bisa di tebah jika yang sedang menunggu itu adalah Rey, si mantan yang tidak tau diri itu.


Setelah mengiyakannya Ara melangkah menghampiri orang tersebut yang sedang duduk di kap mobilnya sambil memainkan handphonenya. Ternyata dugaannya salah itu bukan Rey tapi Atayad si suami angkuhnya.


Ara memandang tidak suka terhadap laki laki itu. Atayad yang melihat ada pergerakan dari ekor matanya, ia segera mengalihkan tatapannya dari hp.


Pura pura tersenyum adalah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Atayad. Karena saat saat tertentu ia bisa tersenyum tanpa ragu, seolah kata murah senyum adalah milik Atayad. Tanpa kita ketahui apa yang ada dalam pikirannya.


Ara menatap Atayad dengan tatapan tidak sukaannya. Setelah langkah kakinya berhenti sempurna di samping Atayad ia berkata "Aku bisa pulanh sendiri, lagi pula aku akan kerumah papa lebih dulu untuk mengambil mobilku" ucap Ara memberikan penjelasan tanpa di minta.


Menjelaskan pun sebenarnya percuma karena suami angkuhnya itu sebenarnya tidak peduli sama sekali.


Atayad memajukan wajahnya mendekati telinga Ara. Sekilas jika orang lain melihatnya mungkin akan berpikir bahwa pria itu sangat manis sekali padahal sebenarnya tidak. Ia mendekatkan wajahnya hanya sekedar untuk berbisik. "Di dalam mobil ada mama sedang mengawasi kita, bisa kan jika kita pura pura untuk menyenangkannya" ucap Atayad.


Ia berbisik sangat dekat sekali dengan telinga Ara nyaris tak ada celah diantara keduanya, bahkan hembusan nafas Atayad begitu menggelikan di kulit Ara.


"Sudah ku duga pria ini tak akan sebaik itu tiba tiba menjemputku. Tak ada angin tak ada hujan"

__ADS_1


Ara melongokkan sedikit wajahnya untuk memastikan jika apa yang Atayad katakan bukanlah sebuah kebohongan. Kenapa Ara berpikir demikian? Alasannya sangat simple, ia tidak ingin salah mengartikan sikap Atayad yang pada akhirnya membuat ia terlalu berharap dan berakhir dengan rasa sakit seperti kisah sebelumnya.


Ara mengangguk sebagai jawaban, ia melangkah lebih dulu dan masuk ke dalam mobil Atayad untuk menyapa mama mertuanya.


"Mama sudah menungguku lama ya?" ucap Ara saat ia berhasil mendaratkan pantatnya di kursi penumpang, lebih tepatnya di bangku depan samping Atayad yang mengemudikan mobilnya sendiri.


"Tidak juga sayang, mama baru saja. iya kan Tay?"


Atayad yang baru saja masuk kedalam mobil langsung memutar bola matanya karena jengah. "Mama bisa berubah sikap secepat itu saat bertemu gadis ini. Padahal tadi sikap mama seperti singa lapar yang siap menjadikan ku sebagai mangsanya. Aku benar benar tak menyukai hal itu" ucap Atayad dalam hatinya.


"Iya" jawab Atayad singkat, ia segera menyalakan mesin mobil kemudian mulai mengemudikannya.


Sebelum pulang ke rumah, Atayad lebih dulu membawa Ara belanja di salah satu swalayan yang menyediakan berbagai jenis kebutuhan.


"Iya dong sayang, memangnya tadi suamimu tidak bilang kalau kita akan belanja lebih dulu sebelum sampai dirumah" ucap Metia sambil menghampiri menantunya.


Ara menatap Atayad meminta penjelasan lewat sorot matanya. Atayad yang paham maksud dari Ara langsung mengedipkan sebelah matanya beberapa kali.


"Oh iya, ma aku lupa. Tadi pagi kan kami sudah berencana" ucap Ara dengan senyum yang dipaksakan.


"Haaaaahhh sebenarnya buat apa aku menginkuti kegilaan pria itu. Kalau begini apa bedanya aku dengan dia?" ucap Ara dalam hatinya yang berjalan dibelakang mertuanya. Dan tak lupa diikuti oleh ekspresi khas Ara saat ia tidak menyukai sesuatu.

__ADS_1


Metia sibuk memilihkan berbagai kebutuhan untuk anak serta mantunya. Ara hanya mengangguk angguk saja saat mama mertuanya meminta saran darinya. Ia tidak banyak memilih bahkan salah satu makanan kesukaannya yang tak pernah lupa ia pesan pada pelayan rumahnya dulu saat berbelanja kini hanya ia pandangi saja saat melewatinya.


Ara tidak berani menggunakan uang Atayad tanpa izin dari si pemiliknya.


"Ra, ayo kamu pilih mana yang kamu suka dan mau kamu beli" ucap Metia lembut seperti biasanya.


"Iya ma" ucap Ara sambil melirik Atayad. Metia yang melihat itu menyimpulkan bahwa mungkin saja menantunya ini masih merasa canggung dengan putranya.


Setelah berpikir beberapa detik Metia kembali berkata "Tay Ara boleh membeli apa pun yang ia mau kan? dan mama yakin kau pasti akan mengiakannya karena kau bukan pengusaha kere kan?"


Mendengar kata terakhir yang diucapakan sang mama malu membuat dara Atayad mendidih. Tidak terima dengan kata 'Kere' akhirnya Atayad menyuruh Ara untuk mengambil apa pun yang Ara mau, bahkan ia beberapa kali mengambilkan apa yang Ara lihat jika Ara meliriknya lebih dari beberapa kali. Tentu saja hal itu ia lakukan agar mendapatkan penilaian baik dari sang mama.


Ah sungguh pandai sekali Atayad untuk mengambil hati sang mama. "Ambilah apa yang kau mau. Tidak usah sungkan uang ku terlalu banyak, jadi kau tidak perlu khawatir, uang mu tetap amam, karena semua ini aku yang bayar" ucap Atayad seperti biasa angkuhnya keluar tanpa diminta.


Ara menggelangkan kepala pelan saat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Atayad. Jika dikumpulkan sudah berapa banyak kalimat angkuh yang dilontarkan Atayad.


"Kau terlalu angkuh dengan semua yang kau miliki tuan Atayad. Baiklah jika memang demikian akan ku habiskan uang yang selalu sombongkan itu. Simpan air mata mu jika nanti tiba tiba kau jatuh bangkrut akibat dari kesombongan mu itu."


Ara tiba tiba kalap semua yang ia lihat hampir semuanya ia ambil, bahkan yang dirasa tidak dibutuhkan pun ia ambil. Troli belanjaan penuh seketika.


Metia yang melihat Ara bersikap tersebut tersenyum. Sementara Atayad menggunakan kesempatan tersebut untuk memprovokasi sang mama dengan tingkah Ara.

__ADS_1


"Mama sudah lihatkan, kenapa aku tidak mau menikah dengan gadis manja seperti dia. Dia itu manja dan matre. Lihatlah barang yang tidak terlalu dibutuhkan pun ia beli" bisik Atayad pada mama Metia.


Metia tertawa puas hingga suaranya membuat perhatian sebagian orang yang ada disana teralih kepadanya. "Bukankah kau yang suruh" balas Metia singkat. Metia tertawa tanpa menghiraukan tatapan aneh di orang orang yang sedang mantapnya.


__ADS_2