
"Cepat tidur!!" seru Atayad.
Ara memberanikan diri untuk menjawab meski sebenarnya hatinya sedang bergetar tapi entah bergetar karena apa, ia pun tak mau menyimpulkan lebih dulu. "Iya aku akan tidur, cepatlah kau juga tidur jangan menatapku terus" ucap Ara sambil naik ke atas tempat tidur dan segera meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sebuah ide jahil mendadak muncul diotak Atayad. Ia mencondongkan wajahnya mendekati telinga Ara. "Jangan takut, aku pastikan kau akan ketagihan" bisiknya hingga membuat Ara mendorongnya karena tatahan dengan rasa geli yang ditimbulkan dari nafas Atayad yang menyapu kulitnya.
"Jangan macam macam!" Ara mengacungkan telunjuknya sambil menatap Atayad berharap ancamanya membuat Atayad berhenti menjahilinya.
Dengan santainya Atayad meraih telunjuk Ara kemudian menariknya hingga Ara terjerambah pada pelukannya. "Tidak akan macam macam, paling satu macam tapi berkali kali" ucap Atayad santai.
Ara kembali menarik tubuhnya dari pelukan Atayad yang sempat membuat tubuhnya mengganggu secara tiba tiba. Tak ingin Atayad bertindak lebih lanjut, Ara segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Matanya memang terpejam karena dipaksakan namun pikiranmu terus saja berkelana memikirkan kemungkinan kemungkinan yang bisa saja terjadi begitu saja.
"Tidak Ara, please tidur dan jangan berpikir yang tidak tidak. Pria itu mungkin sedang gila karena salah memakan makanan.Cepat tidurlah dan berhenti berpikir" ucap Ara dalam hatinya.
Atayad sendiri tak berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan Ara. Ia sendiri merasa aneh dengan sikapnya yang secara tiba tiba. Ia mengingat ingat makanan apa yang ia makan tadi siang. "Tadi siang kan aku melewatkan makan siangku. Apa mungkin ini efek dari telat makan ku tadi siang?" tanya Atayad pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia melirik Ara yang menutupi seluruh tubuhnya. "Kenapa dia menyelimuti tubuhnya sampai seperti itu? Apa dia mau bunuh diri gara gara aku menggodanya?" ucap Atayad tanpa mengeluarkan suara. Ia memperhatikan tubuh Ara sampai beberapa menit menunggu sipemilik tubuh tidur lebih dulu agar ia tak berpikir yang bukan bukan.
Setelah cukup lama terdiam, dan berpikir mungkin Ara sudah terlelap, Atayad menggeser sedikit tubuhnya kemudian menarik pelan selimut yang menutupi tubuh Ara. Dan hal itu membuat Ara kaget hingga tiba tiba berontak dengan tangan terkepalnya mengenai wajah Atayad lebih tepatnya pada hidung.
"Aaawww" Atayad berteriak namun masih bisa mengontrol suaranya. "Dasar perempuan liar" umpat Atayad sambil megang hidungnya yang terlihat mengeluarkan darah, mungkin saking kerasnya.
Ara diam memperhatikan Atayad yang turun dari ranjang dan mengambil kotak p3k. Rasa bersalah menghampiri Ara, namun egonya lebih tinggi hingga ia merasa benar melakukan hal itu. Ego yang tinggi membuat seseorang enggan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Padahal betapa mulianya orang yang meminta maaf dan yang memaafkan. Hal itu banyak orang gagal dalam menerapkannya.
Beberapa umpatan keluar dari mulut atayad. Ia menyesali perbuatannya yang sempat mengkhawatirkan sang istri. "*Bukannya membantu dia malah diam saja*" gerutu Atayad sambil mendelikkan matanya.
Tanpa memperdulikan Atayad yang masih sibuk mengobati hidungnya, Ara memilih kembali menarik selimut dan lanjut tidur begitu saja. Atayad yang sedang mengobati lukanya membeliakkan mata saat melihat Ara malah tidur dan tak membantu dirinya.
Brugh tiba tiba Atayad menjatuhkan badannya tepat disamping Ara yang sudah terlelap hingga kini wanita itu membuka matanya lebar lebar.
"Hey, apa kau tidak punya keahlian lain selain menjatuhkan diri disamping orang tidur" ucap Ara dengan mata merah. Karena bangun secara tiba tiba membuat kepala pusing.
__ADS_1
"Sudah ku katakan tadi, apa aku perlu mengatakannya lagi agar kau lebih jelas" balas Atayad sambil tangannya meraih pinggang Ara secara tiba tiba.
"Hey, apa yang kau lakukan" ucap Ara sambil berusaha melepaskan tangan Atayad dari pinggangnya. Pikiran ingin memberontak namun tubuh serta hatinya menolak.
"Pelankan suara mu, apa kau mau sahabat mu mengintip kita" ucap Atayad sambil mendekatkan tubuhnya.
Hembusan nafas Atayad yang menyapu kulit milik Ara membuat Ara ingin melebur saat itu juga. Malu rasanya jika sampai hal iti terjadi. Atayad sendiri tak langsung menarik tubuhnya. Ia memperhatikan wajah sang istri dengan jarak yang begitu dekat.
Matanya yang disertai bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung hingga membuat hidung Ara dan hidungnya hampir beradu, bibir tipisnya yanh berwarna merah jambu serta kulit yang tersentuh oleh tangannya terasa lembut dan wangi membawa Atayad pada khayalan tinggi.
Beberapa kali Ara mengerjapkan matanya untuk menarik kesadarannya kembali dari keadaan gila seperti ini. Ingin rasanya ia memaki dirinya sendiri yang telah sembarangan memikirkan hal yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Betapa ia akan sangat merasa malu jika sampai suaminya mampu membaca pikirannya.
.
.
__ADS_1
.
.Segini dulu aja ya kita lanjutkan besok, jangan lupa ya kasih dukungan kalian apa pun itu bentuknya. Terimakasih