
Ara tiba dirumah barunya setelah melewati perjalanan panasnya ibukota dengan mengendarai mobil sendiri.
Ia segera masuk ke rumah yang langsung di sambut oleh orang bayaran Atayad untuk membersihkan rumah ini selama dua hari sekali.
"Non Ara sudah pulang?" sapa pelayan itu.
"Sudah bi,? balas Ara yang kemudian diikuti senyum tulusnya. Ara melangkah meninggalkan pelayan tersebut untuk ia membersihkan diri lebih dulu. Saat tiba dilantai dua, Ara melirik pintu kamar yang tak pernah terbuka sama sekali selama ia tinggal disana.
Rasa penasaran melingkupi Ara, ia melangkah mendekati pintu kamar tersebut. "Aku ingin tahu apa yang ada didalam sana? kenapa aku tidak boleh mengetahuinya? Kenapa aku memikirkan hal ini lagi pula apa pedulinya aku pada pria angkuh seperti dia. Yang penting apa pun yang terjadi aku tak terlibat didalamnya" ucap Ara dalam hati sambil menepis segala kekhawatirannya pada sang suami.
Belum sempat Ara melangkah dari sana pelayan suruhan Atayad menhampirinya dengan wajah panik. Pasalnya ia lupa mengunci kembali kamar itu setelah tadi ia membersihkannya. "Non Ara, non Ara tidak membukanya kan?" tanya si pelayan dengan rasa panik memenuhi wajah yang kulitnya sedikit mengendur.
Ara tahu bahwa pelayan itu sangat panik, dengan senyum sambil mengusapkan tangan kanannya pada pundak pelayan Ara berkata. "Bibi tidak usah khawatir aku tahu batasanku" ucap Ara meski ia kecewa karena keingin tahuannya masih memuncak.
"Terimakasih non, non Ara tidak menempatkan bibi dalam masalah" ucap pelayan itu.
Ara mengangguk namun hati dan pikirannya semakin dibuat penasaran oleh kalimat bibi pelayan tadi. "Apa sepenting itu apa yang ada didalam kamar ini" ucap Ara dalam hati sambil matanya menatap pintu yang masih tertutup itu dari atas ke bawah.
"Kalau begitu Ara ke kamar dulu ya bi" pamit Ara, sekali lagi ia melirik pintu itu.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak ingin tahu agar tak menambah masalah yang ada" ucapnya lagi dalam hati.
Ara segera membersihkan diri agar ia segera menyiapkan makanan untuk tamunya nanti sore. Bibirnya tak henti bersenandung karena rasa bahagia akan dikunjungi oleh sahabat lamanya yang kala pernikahannya dengan Atayad berlangsung tak bisa menghadirinya karena alasan harus ikut kemana suaminya bekerja.
Kebahagiaan itu sejenak sirna kala ia mengingat sahabat satunya lagi. "Oh My God Ra, please" ucapnya sambil memejamkan matanya sejenak.
Selesai dengan kegiatannya, Ara turun dan menghampiri bibi pelayan yang belum pulang. "Bi..." sapa Ara saat langkah kakinya berhenti di dapur.
"Iya non"
"Emmmhhh sebelum bibi pulang bisakah bibi membantuku menyiapkan makanan untuk tamu ku?"
__ADS_1
Bibi pelayan itu diam sejenak, sebelum ia bicara Ara lebih dulu melanjutkan kalimatnya. "Please bi, nanti biar aku kasih uang tambahan" ucap Ara sambil sedikit memohon karena ia menyadari bahwa ia tidak terlalu pandai dalam memasak, meskipun masakan yang ia masak pun rasanya tidak terlalu buruk.
"Tapi non"
"Sampai sebelum tuan Atayad pulang, ya bi" ucap Ara
Melihat Ara yang memohon bibi pelayan itu pun akhirnya menyetujui permintaan Ara. Sebenarnya Ara bukan minta di buatkan masakan, ia hanya minta saran serta meminta penjelasan takaran bumbu untuk masakan yang akan dibuatnya. Ara dibantu bibi pelayan mulai memilah dan memotong bahan makanan.
"Non ini mau dimasak sekarang?" tanya bibi pelayan saat sudah selesai mencuci semua bahan masakan yang akan dimasak oleh Ara.
"Tidak bi, ini untuk makan malam nanti" balas Ara.
Bibi pelayan melirik jam yang menempel pada dinding dapur, "Non biasanya tuan Atayad akan pulang jam berapa?" tanyanya karena khawatir akan marahi tuannya jika ia ketahuan membantu Ara.
"Oh iya mungkin setengah jam lagi ia pulang, bibi boleh pulang sekarang kok. Tenang saja ini aman kok" ucap Ara sambil memberikan tiga lembar uang seratus ribuan pada bibi pelayan yang sudah membantunya.
"Terimakasih non, bibi pulang dulu ya" pamitnya.
Ara mengangguk sambil tersenyum, sambil mengantarkan bibi pelayan itu keluar rumah. Sebenarnya ia juga memastikan bahwa Atayad tidak kesetanan dan pulang cepat.
Satu jam sudah ia duduk disana, dan tamu yang ditunggunya belum juga kunjung datang. "Belum datang juga, jadi apa tidak ya Shelly berkunjung?" ucap Ara sambil melihat layar ponsel yang tak memberikan kabar apa pun dari sahabatnya.
Setengah jam berlalu dari saat itu dan bunyi bel pun terdengar memaksa Ara beranjak dari tempat ternyamannya saat itu. Ia begitu kegirangan saat pintu terbuka ternyata sahabatnya benar benar berkunjung.
"Shelly.." teriak Ara sambil berhambur memeluk sahabat lamanya itu. Begitu pun dengan Shelly.
Setelah mereka mengurai pelukannya, Ara menyapa suami serta anak sahabatnya. "Kita pulang saja ma, gak disuruh masuk sama tantenya" ucap anak sulung Shelly yang diketahui namanya Ahmad Ferdan.
Ara tertawa saat mendengar kalimat itu karena terlalu bahagia ia hingga lupa menyuruh tamunya untuk masuk. "Maafkan tante sayang, ayo masuk" ajak Ara yang berjalan lebih dulu dan diikuti oleh tamunya.
"Waaaw suasana rumah kalian enak sekali, cocok untuk pasangan pengantin baru" ucap suami Shelly yang bernama Zayn.
__ADS_1
"Benar yang, pindah ke kawasan sini ya" rajuk Shelly sambil matanya memperhatikan setiap detil bangunan rumah milik sahabatnya itu.
Ara tersenyum melihat keduanya, kemudian ia mempersilahkan tamunya untuk duduk diruang tamu. "Duduklah dulu aku akan membuatkan minuman untuk kalian" ucap Ara sambil melangkah ke dapur.
"Memangnya disini kalian tidak menyediakan pembantu" tanya Shelly saat ia dan Ara tiba di dapur, tentang Shelly mengikutinya.
Ara kaget? tentu saja. "Tidak kami hanya mempekerjakan pelayan untuk membersihkan rumah ini selama dua hari sekali, sebihnya aku yang mengerjakan" balas Ara sambil menyiapkan gelas.
"Uuuuunnnnccchhh banget kalian. Pasti ingin menikmati masa masa pengantin baru tanpa gangguan ya" ucap Shelly sambil mencolek lengan Ara.
Mereka terus berbincang sambil menyiapkan minuman.
***
Atayad mengamati dua mobil yang terparkir depan rumahnya, rasanya ia mengenal mobil itu. Atayad menatap rumah yang lampunya sudah menyala.
Setelah turun dari mobil ia segera melangkah masuk. Tawa dua orang perempuan mengalihkan perhatian Atayad yang sedang mengedarkan penglihatannya untuk mengetahui siapa yang sedang berkunjung ke rumahnya.
Atayad hendak melangkahkan kakinya ke dapur namun tawa anak kecil dan suara laki laki dewasa menghentikan langkahnya.
"Laki laki?" ucap Atayad.
Ia segera melangkah menuju ruang tamu dan begitu terkejutnya Atayad saat mengetahui ternyata Zayn sahabatnya ada disana.
"Zayn?" Sapa Atayad saat yang disapa sedang bercanda bersama kedua anaknya.
"Atayad?" Sapa balik Zayn yang segera menoleh saat mendengar namanya di sebut.
.
.
__ADS_1
.
.Lanjut? pegel ngatiknya ðŸ˜