
Atayad menarik salah satu sudut bibirnya hingga senyum sinis terlukis disana.
"Aku tidak pernah tertarik sama sekali dengan gadis yang manja seperti mu" ucap Atayad dengan nada datar, namun Ara benar benar tersinggung dengan kata manja.
"Manja? dia bilang aku manja?" ucap Ara dalam hatinya.
"Anda pikir saya mau, saya tertarik dengan anda? Tidak sama sekali" ucap Ara dengan nada sedikit naik karena tidak terima dikatakan gadis manja.
"A da B itu tak sama, begitu pun hati dan mulut. Siapa yang tau kalau kau sebenarnya sangat menginginkan hal ini dibalik hatinya namun kau bersikap seolah kau tidak menginginkannya." ucap Atayad dengan ekspresi yang mengundang kemarahan dari sipendengarnya.
"Aku sungguh tahu dan mengenal setiap hati yang ku temui, mereka terlalu banyak kepura puraan, termasuk kau" Atayad berucap sambil mengalihkan tatapannya kepada Ara.
"Dengar baik baik, jika kau tertarik dengan harta yang ku miliki aku akan memberikannya, itu kan yang kau mau? Tapi jangan pernah berpikir untuk membutakan ku dengan rayuan dan kepura puraan mu itu aku tak pernah tertarik untuk ikut andil didalamnya" ucap Atayad sambil memandang lurus kedepan.
Kata demi kata yang dilontarkan Atayad terdengar seperti sebuah penghinaan ditelinga Ara. Tangan Ara terkepal kuat, darahnya berdesir naik hingga ke ubun ubun.
"Dengar ya tuan Atayad perlu anda ketahui bahwa saya pun terpaksa mengikuti apa yang diinginkan papa. Kalau saja saya diberikan pilihan maka saya tidak akan memilih untuk menerima dan hidup dengan anda. Dan dengar anda pikir saya sedang mengincar harta? ck saya masih sanggup untuk bekerja keras." Tak terdengar keraguan dari kalimat yang diucapkan Ara.
"Gadis manja seperti mu mana bisa bekerja keras" ucap Atayad penuh dengan ledekan.
Ara menarik nafasnya dalam dalam untuk menetralisir rasa yang tak menetu ini. Ia menatap Atayad sejenak sebelum ia kembali bicara.
"Cukup, kau memakasa ku untuk ikut dengan mu hanya karena ini. Aku tidak mau menikah dengan mu, kau juga tidak menginginkannya kan? Jadi sekarang kau pulang dan katakan pan keluarga mu kalau aku bukan pilihan yang tepat untuk jadi menantu mereka. Dan aku pun akan mengatakan hal yang sama pada orangtua ku. Berhentilah!"
Atayad segera menginjak rem mobilnya saat mendengar kata berhenti dari mulut Ara. Atayad berpikir kalau ini akan menjadi kesempatan untuk ia mengetahui bagaimana kepribadian Ara yang sebenarnya.
Ara sudah mengaitkan tas jinjingnya dan hendak membuka pintu mobil namun Atayad menghentikannya.
__ADS_1
"Tunggu"
Dengan malas Ara kembali memutar tubuhnya hingga kini menghadap sempurna kepada Atayad.
"Bahaya jika nanti malam aku tak membawa Ara sesuai perintah mama. Aaaaaaahhhh" ucap Atayad dalam hatinya.
Atayad terlihat sedang menyusun rangkaian kata agar menjadi kalimat yang benar untuk diucapkannya.
"Nanti malam papa akan meresmikan usaha barunya, dan tentu saja aku yakin jika paman Ras pun pasti akan ada disana. Dan kau tau mama menyuruh ku untuk mengajak mu hadir bersama disana" ucap Atayad dengan ekspresi yang tidak diperdulikan Ara sama sekali.
"Jadi... intinya kau mengajakku untuk pergi bersama?" tanya Ara.
"Anggap saja ini sebagai bakti mu kepada paman Ras dan bibi Ana agar mereka tidak malu memiliki anak seperti mu"
Lagi lagi Ara menangkap sebuah penghinaan dari apa yang didengarnya. Ia mengangguk pelan, entah susunan kata apa yang pantas ia keluarkan untuk mengahadapi kesombongan seorang Atayad.
Rasanya baru kali ini Ara menemukan manusia seperti ini dilingkungan hidupnya. Belum sempat Ara bicara Atayad sudah melajukan kembali mobilnya.
"Ra kamu yakin bisa bertahan hidup satu atap dengan makhluk seperti itu? Semoga kuat ya" ucap Ara lagi dalam hatinya.
***
Atayad tidak mengantarkan Ara pulang ke rumah Ara. Namun ia lebih memilih membawa Ara ke salah sagu butik milik sahabatnya. Tentu saja sebelum ke butik terjadi lagi perdebatan kecil diantara mereka.
"Aku rasa ini cocok ditubuh mu, cepatlah ganti pakaian mu" ucap Atayad sambil menyodorkan sebuah gaun cantik berwarna peach yang dipilih langsung olehnya.
"Cepatlah" ucap Atayad dengan nada sedikit naik. "Kau membuang waktu ku saja"
__ADS_1
"Dasar gila, kau yang membawaku kesini kau juga yang ngomel" ucap Ara sambil mengambil gaun yang disodorkan oleh Atayad secara kasar.
Sabahat Atayad sekaligus pemilik butik tersebut berusaha menahan senyum saat menyaksikan tingkah Ara dan Atayad.
Setelah Ara masuk ke ruang ganti barulah sahabatnya itu bicara. "Tay" menepuk pundak Atayad pelan namun mampu nengalihakan tatapan Atayad pada Ara yang menghilang dibalik tirai yang tertutup.
"Cantik" bisik sahabat Atayad.
"Lumayan" jawab Atayad datar
"Lumayan? gila, ini bukan lumayan Tay tapi cantiknya pake banget. Hanya orang gila yang mengatakan jika dia lumayan" ucap sahabat Atayad.
"Kau sedang mangatai ku" ucap Atayad dengan kening yang berkerut serta mengarahkan jari telunjuknya pada diri sendiri.
"Ah, tidak aku hanya mengatai orang gila diluar sana" ucap sahabat Atayad yang sudah hafal betul dengan semua sikap Atayad.
Atayad bisa berubah sikap 180° lebih galak dari pada macan saat merasa ucapan yang dilontarkan oleh lawannya adalah kata yang tidak pantas bagi dirinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Segini dulu ya, jangan lupa vote, like dan komennya