Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode tiga puluh sembilan


__ADS_3

Cuaca sejak lagi tak kunjung berubah. Ara yang sedang istirahat di ruangannya duduk sambil memandangi hujan yang berlomba menyentuk bumi.


Setelah melewati hari yang ia anggap cukup baik bersama Atayad, entah kenapa ia merasa menjadi seperti orang gila. Merasa heran dengan dirinya yang lebih suka memandangi kaca dan senyum sendiri saat beberapa adegan yang dilakukan bersama Atayad berkelana didalam pikirannya.


Seperti siang ini, meski awan terlihat masih enggan memberi kesempatan kepada langit untuk cerah dan matahari masih betah bersembunyi dibaliknya, berbeda 180° dengan apa yang Ara rasakan saat ini.


Rasa yang dianggap sebelumnya adalah rasa yang semu, kini semakin terlihat jelas. Setiap detik perasaanya selalu ditumbuhi aroma bunga yang bertabur disetiap sudut relung hatinya.


Atayad, Atayad, dan Atayad itu nama yang selalu ia ingat sejak beberapa hari lalu. Terlalu asyik memandangi rintik hujan ditemani dengan segala khayalannya Ara tak menyadari kehadiran seseorang disana yang sedang memandanginya juga.


Ara memejamkan matanya sejenak untuk meresapi setiap bayangan tentang sosok dia ditemani belaian udara dingin yang menyentuh kulitnya. Saat membuka mata Ara dibuat terkejut oleh orang yang ada dalam bayangannya tadi dan kini bayangan itu sedang berdiri bersandarkan pintu dengan tangan yang bersedekap.


Ara mengucek matanya beberapa kali dan membukanya lebar lebar untuk memastikan apa yang ia lihat. Bisa jadi itu hanya karena ia terbawa khayalan saja, begitu pikirnya.


"Sampai kapan kau akan melihatku seperti itu? Kau pikir aku ini hantu" ucap Atayad.


Mendengar suara itu Ara benar benar semakin terkejut, bibirnya terbuka tanpa suara. "Kenapa bisa begitu, aku hanya memikirkannya saja tanpa meminta kepada Tuhan agar ia datang. Ah tuhan sungguh baik sekali padaku" ucapnya.


Ara bangun dari duduknya dan mmenghampiri Atayad yang masih betah bersandar pada pintu. Mungkin pintu lebih menarik baginya untuk jadi tempat bersandar.


Setelah langkahnya berhenti tepat dihadapan Atayad, Ara langsung mencubit tangan Atayad untuk memastikan lagi jika ia masih waras dan apa yang ada dihadapannya benar benar nyata.


"Awwwww" pekik Atayad saat lengannya yang kokoh bak semen tiga roda itu mendapatkan cubitan kecil namun terasa.


Setelah mencubit lengan Atayad dan mendengar Atayad menjerit kaget Ara pun langsung tertawa lepas. "Ternyata benar, syukurlah aku masih waras. Aku pikir aku sudah beneran gila" ucap Ara yang diikuti tawa.


Atayad melenggang meski tanpa perintah, ia bersikap seperti ia pemiliknya. Ara mengikuti Atayad dan ia pun bersikap seperti seorang bawahan yang mengikuti atasan.

__ADS_1


Ara mengerutkan kening saat melihat Atayad mulai duduk santai sementara ia masih berdiri. "Perasaan aku pemiliknya, tapi mengapa kau yang duduk lebih dulu?" ucap Ara sedikit merasa kesal saat menyadari kebodohannya.


"Mulut wanita selalu saja cerewet. Duduk tidak?" ucapnya sambil menaikan satu kaki diatas kaki lainnya. Tumapang kaki. Atayad mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan tersebut.


"Hal apa yang membawa mu datang kesini?" Tanya Ara yang duduk di sofa yang sama dengan Atayad. Menunjukan perasaan didepan orangnya langsung masih saja merasa tidak mungkin bagi keduanya. Mereka masih sama sama kuat menahan gengsi.


Atayad mengangkat alis sebelah kirinya degan satu ujung bibir yang ikut terangat pula. "Tadi aku ada pertemuan dengan salah satu klien disekitaran sini. Ya terpaksa sebenarnya aku mampir kesini karena aku kasihan dengan mu"


"Kasihan?"


"Ya"


"Kau pikir aku ini apa sehingga aku dianggap panatas untuk dikasihani?"


Atayad menggeser posisi duduknya dan tangannya ia rangkulkan pada pundak Ara. "Kau sudah menikah dan aku tidak pernah mengunjungimu saat kau sedang bekerja. Ya jadi hari ini aku menyempatkan untuk datang kemari agar kau tak dipandang sebagai istri yang tak dianggap"


Jawaban Ara berhasil membuat Atayad diam dan menatapnya. "Aku lupa jika ia punya kekasih" ucap Atayad dalam hatinya, ada rasa sedikit kecewa saat ia mengucapkan kata itu meski hanya didalam hatinya.


"Kau sudah makan siang? Jika belum ayo kita makan siang bersama, itupun jika kau tidak sedang ditunggu seseorang" ucap Atayad untuk sejenak menghilangkan rasa kecewanya.


Setelah Ara menjawab, mereka lalu pergi makan siang bersama disebuah rumah makan yang tidak jauh dari toko milik Ara. Suasana kembali hangat saat Ara memberikan beberapa ejekan pada Atayad. Ini yang dinamakan menemukan cinta disaat bersama.


Tak ada rasa canggung sama sekali yang ada mereka malah terlihat sangat romantis. Atayad menyelesaikan makannya lebih dulu, sesaat kemudian ia dibuat asyik memandangi wajah Ara yang sedang melahap makan siangnya.


"Tahan Atayad, bukankah kau tidak ingin sakit untuk kedua kalinya. Tunggu dan biarkan waktu menunjukan yang sebenarnya. Jangan terlalu berharap lebih belum tentu dia memiliki perasaan yang sama saat bersamamu" Pikiran Atayad mengingatkan hatinya yang teramat rapuh jika sudah terkontaminasi oleh yang namanya cinta.


Pernah merasakan pahitnya luka saat cinta yang ia berikan dibalas sebuah penghianatan, Atayad berusaha menjaga hatinya agar tidak mudah digoyahkan oleh cinta manapun. Namun kali ini Ara benar benar membuat benteng pertahanan hatinya hampir jebol. Untung saja akal sehatnya masih ada dalam kewarasan.

__ADS_1


"Kau sejak tadi menatapku seperti itu, apa kau mau mencobanya" Tawar Ara yang sedang menikmati hidangan penutup.


Atayad menggelengkan kepala sebagai penolakan. Baginya memandangi Ara jauh lebih menarik dari pada harus mencicipi makanan yang ditwarakan kepadanya.


"Kenapa dia selalu menatapku seperti itu?" Tanya Ara dalam hatinya.


Makan siang bersama dengan bumbu bumbu yang menggetarkan jiwa pun kini sudah selesai. Atayad dan Ara kembali ke toko milik Ara. "Hey kenapa kau masih disini, apa kau tidak khawatir perusahaan mu akan bangkrut jika kau bermalas malasan"


"Aku bosnya" ucap Atayad ringan sambil kembali mendaratkan tubuhnya pada sofa.


Ara mendelik saat kalimat yang mengandung unsur kesombongan kembali terucap dari mulut Atayad. Setelah menarik nafas panjang Ara kembali bicara. "Aku tidak kaya seperti kau, dan aku harus kembali bekerja, jadi aku tidak bisa menemani jika kau masih mau disini ya silahkan. Memangnya tempat ini selalu membuat siapapun jadi merasa nyaman" ucap Ara sambil keluar dari ruangannya untuk membantu karyawannya melayani chat dari pelanggannya.


Pintu ruangan Ara kembali tertutup dan Atayad masih tertegun sejak ia mendengar kata Siapapun yang disebutkan oleh istrinya.


Atayad berdiri dan mondar mandir di ruangan itu. Hatinya mendorong agar Atayad mengungkapkan isi hatinya, disisi lain pikirannya kembali mengingatkan bagaimana perihnya luka yang ditimbulkan oleh cinta.


"Apa aku harus mengatakan ini padanya? Jangan jangan ini terlalu cepat" ucap Atayad sambil menggingit salah satu jarinya.


.


.


.


.


.Dichapter berikutnya akankah Atayad mengakui perasaannya?

__ADS_1


__ADS_2