
Ara melanjutkan kembali pekerjaannya di dapur bersama Shelly. Setelah masakannya matang Shelly segera memanggil suami serta anaknya termasuk Atayad untuk sarapan.
Hasil masakan Ara tidak terlalu buruk dan bersyukurnya ia karena ternyata mereka menyukainya. Ditengah sarapan banyak pujian yang Ara terima dari hasil karyanya. Baik itu dari Shelly, Zayn serta anak mereka.
Atayad belum memberikan komentarnya untuk masakan yang Ara buat. Ia hanya sesekali tersenyum saat pujian dilontarkan oleh sahabatnya untuk sang istri.
"Jika tidak ada mereka pasti dia akan memaki lagi masakan ku. Aaahhh kenapa aku jadi memikirkan hal itu." ucap Ara dalam hati sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sesekali ia melirik sang suami yang sama sedang memakan masakannya.
Atayad masih bersikap biasa biasa saja sampai makanan yang ada dipiringnya habis. Dan pujian yang sempat diharapkan oleh Ara pun kini terucap, tapi sayangnya Atayad hanya mengucapkan pujian itu dalam hatinya saja.
"Ku pikir makanan yang dia masak kemarin enak itu hanya kebetulan, ternyata rasa itu hari ini ku nikmati lagi. Dan ini benar benar enak, sangat pas dilidahku. Mungkinkah esok atau lusa aku masih bisa menikmatinya lagi? Semoga saja dia mau berbaik hati mau memasak kembali" ucap Atayad dalam hati.
Setelah meneguk air bening dan mengelap bibirnya dengan tissue. Atayad meninggalkan meja makan lebih dulu yang diikuti oleh Zayn serta kedua anaknya. Sementara Ara dan Shelly harus membereskan meja makan serta mencuci piring kotor bekas mereka sarapan. Biasa itu tugas istri kata mereka kaum mereka kebanyakan? Benarkah?
Ara mencuci piring, sementara Shelly membersihkan meja makan. "Ra, apa suami mu memang selalu seperti itu?. Pantas saja dulu kau mengatakan pada ku jika kau tidak mau menikah dengannya." Ucap Shelly yang menghampiri Ara sambil membawa lap bekas membersihkan meja makan. "Kaku dan mahal pujian" lanjutnya lagi.
"Huss, hati hati kalau berucap" ucap Ara sambil tangannya masih sibuk menggosokkan sabun pada alat bekas sarapan mereka.
Shelly tersenyum saat mendengar jawaban Ara. Padahal sebelum Ara menikah dengan Atayad, ia pernah mengatakan jika ia tidak ingin menikah sama sekali dengannya. Bahkan Ara pernah mengucapakan beberapa kata jelek yang menggambarkan sikap Atayad. Hari ini Shelly melihat sesuatu yang beda dari sahabatnya itu. Dari dulu sejak ia mengenal Ara, Ara memang memiliki kepribadian yang mandiri dan dewasa. Namun ia juga tahu bagaimana Ara bersikap saat bercerita kepadanya tentang dia yang akan dijodohkan dengan Atayad oleh orangtuanya.
"Cie cie sekarang sudah jadi istri solehah ya" goda Shelly sambil menyenggol bahu Ara dengan tangan bergaya khasnya. "Kayaknya benih benih cinta sudah mulai tumbuh disana" lanjut Shelly
__ADS_1
"Kau dari dulu memang tak pernah berubah kalau bicara memang suka ngawur" ucap Ara sambil membersihkan piring terakhirnya.
Shelly hanya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ara sambil tersenyum. Ara mengeringkan tangannya menggunakan lap tangan yang selalu tersedia menggantung disana. "Kayaknya benih benih cinta mulai tumbuh disana" Kata itu terulang kembali dipikiran Ara.
"Emmhhhh Shelly rencananya hari ini kita mau pergi kemana?" ucap Ara untuk mengalihkan pikiran Shelly agar tak melanjutkan percakapan yang tadi.
Shelly terlihat berpikir, diam sambil keningnya berkerut. "Kayaknya jalan jalan ke pantai akan terasa lebih seru ya, ya itung itung double date. Kita kan belum pernah melakukannya" ucap Shelly antusias.
"Hahaha double date bagaimana? kalian kan sudah punya anak, ya mana bisa" balas Ara
Shelly menatap Ara. "Kalau double date tidak bisa ya itung itung aku quality time dengan keluarga ku dan kau sedang kencan dengan kekasih mu. Anggap saja seperti itu" Shelly memberi ide yang membuat Ara bingung harus menolak atau mengiyakannya. Mengiyakan tak sanggup dan menolaknya pun tak kuasa.
"Gimana?" ucap Shelly sambil menepuk pundak Ara.
"Ayolah, aku yakin Atayad pun tak akan menolaknya" desak Shelly. Ia menginginkan Ara dan sahabat suami itu benar benar menjadi keluarga yang saling melengkapi satu sama lainnya serta cinta hadir diantara keduanya. Kenapa Shelly mengaharapkan demikian? karena ia sudah banyak mendengar cerita tentang bagaimana sikap Atayad yang sebenarnya dari suaminya. Dan ternyata orang yang suaminya ceritakan itu adalah orang yang jadi suami sahabatnya.
Shelly berjalan lebih dulu dari Ara untuk menghampiri suamiya yang sedang berbincang bersama Atayad serta anaknya. Ara pun mengikutinya. Shelly mengutarakan idenya pada Zayn suaminya. Dan Zayn pun ternyata menyetujuinya. "Gimana Tay?" Zayn bertanya pada Atayad.
Atayad mengalihkan tatapannya sejenak pada Ara yang tak memberikan komentar apa pun. Setelah berpikir sejenak Atayad pun menyetujuinya. "Baiklah itung itung honeymoon sehari karena jika honeymoon ke tampat yang jauh aku belum bisa meninggalkan pekerjaan ku" ucap Atayad sambil melirik Ara dengan senyum dibibirnya.
Ara mengerti arti tatapan yang ditunjukan Atayad pada dirinya. Suaminya itu pasti akan mengerjainya lagi seperti tadi malam.
__ADS_1
"Jadi gimana? kita berangkat?" tanya Zayn yang dibalas anggukan oleh Atayad.
"Baiklah siapkan hati dan pikiranmu jangan sampai dia berhasil mengerjai mu seperti tadi malam Ra" ucap Ara dalam hati.
Mereka berangkat menggunakan dua mobil yang berbeda. Sudah pasti Ara akan satu mobil dengan Atayad. Tidak mungkinkan jika ia meminta untuk satu mobil bersama sahabatnya.
"Kau senang kan aku ajak jalan" ucap Atayad saat mobil sudah mulai menyusuri jalanan menuju pantai yang menjadi tujuan mereka.
"Tidak" jawab Ara tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan yang dilaluinya. Alunan musik yang diputar oleh Atayad dari audio mobilnya mengiringi perjalanan mereka.
Atayad tiba tiba teringat pesan semalam yang ia baca di ponsel Ara dan ia menjadikan itu sebagai bahan untuk memulai percakapan mereka. "Tadi malam ada pesan masuk ke ponsel mu dan tak sengaja aku membacanya" ucap Atayad sambil tangan dan matanya tetap fokus.
Satu sudut bibir Ara tarik ke atas sedikit. "Tak sengaja? Bagaimana mungkin tak sengaja, toh aku menyimpan ponsel ku diatas nakas disebelah ku" balas Ara, Atayad diam saat menyadari ada kesalahan pada ucapannya.
"Bodoh, kenapa harus mengatakan tak sengaja"
Ara kembali diam tidak ingin memulai percakapan apa pun karena memang merasa tak ada bahan percakapan apa pun. Jika membahas soal pesan yang dimaksud Atayad ia tidak ingin membahasnya sama sekali.
Atayad melirik Ara menggunakan ekor matanya. "Kenapa sepertinya dia tidak marah sama sekali aku membaca pesan dari kekasihnya itu"
Lagi lagi Atayad melirik Ara masih menggunakan ekor matanya. Namun sial karena saat ia melirik, ternyata Ara sedang menatapnya dengan tatapan datar.
__ADS_1
Deg......