
Sesuai dengan rencananya, Ia beserta istrinya sedang dalam perjalanan menuju rumah yang sudah empat tahun dibeli olehnya.
Rumah bergaya split level, dilengkapi dengan carpot, kolam renang yang tidak terlalu besar, dilengkapi rooftop, tiga kamar tidur, dua kamar mandi, balkon, dapur yang menyatu dengan ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu serta mushola tidak lupa laundry room pun tersedia. Rumah yang didominasi warna putih dan abu itu nampak terlihat cantik sehingga membuat decak kagum dari mereka yang melihatnya.
Dulu rencananya rumah itu akan ia jadikan sebagai kado pernikahan untuk orang yang dicintainya. Tapi takdir tak bisa dipungkir, Harapan hanya meninggalkan luka pada akhirnya. Itulah jika kita berharap pada yang bukan seharusnya kita berharap.
Rumah itu memang tak pernah ditampati oleh Atayad sejak kekasihnya saat itu menghianati dirinya. Meski demikian ia tetap menyuruh orang untuk membersihkan serta merawatnya.
Semakin mobil melaju mendekati rumah tersebut, maka sakit dari luka yang tak berdarah dan tak terlihat itu semakin terluka juga dirinya hingga mempengaruhi moodnya.
Keheningan menyergap keduanya sejak mereka memutuskan menjalani hidup tanpa ada campur tangan orangtuanya. Tak ada pembicaraan dari mereka atau pun audio yang diputar. Yang jelas hening, sehening heningnya.
"Apa kau yakin ini akan lebih baik buat kita" tanya Ara.
Atayad melirik Ara dengan tatapan yang tajam dan tak menjawabnya. Setelahnya ia memfokuskan kembali tatapannya pada jalanan yang akan dilewatinya.
"Apa semahal itu sebuah kalimat baginya" ucap Ara dalam hati. Kemudian ia memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua setengah jam, Atayad menghentikan mobilnya didepan sebuah gerbang tralis berwarna putih. Rumah itu memiliki jarak lumayan jauh dari rumah orang tua Ara mau pun orangtuanya.
"Apa sudah sampai?" Tanya Ara sambil melongokan matanya melihat bangunan yang berdiri megah didepannya.
Sorot tajam tatapan mata Atayad membuat Ara takut sehingga tak melontarkan kembali pertanyaan.
"Tidak usah banyak tanya, turun dan bawa barang mu masuk. Paham" Bentak Atayad setelah melepas seatbel yang menempel pada tubuhnya.
Mengingat masalalu nya mempengaruhi mood dan sikapnya hari ini. Ia membanting pintu mobil saat kakinya sudah berdiri sempurna diatas tanah.
Ara begitu terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Atayad. "Selain kaku dan sombong ternyata pria ini juga terlihat tempramen" begitulah yang Ara ucapkan dalam hatinya.
Rasanya ia enggan turun dari mobil tersebut setelah melihat sikap sang suami. Apalagi harus tinggal satu atap hanya berdua dengan dirinya. Berapa lama ia akan bertahan hidup didalam sana? Apa jika suatu saat nanti ia keluar dari rumah itu masih dengan organ tubuh yang utuh? Berat badan yang nambah atau sebaliknya.
Jangan tanya soal hati, perasaan cinta atau sejenisnya, itu adalah hal yang mustahil ia dapatkan begitulah yang ada di benak Ara saat ini.
"Kau akan tetap disana atau akan ikut masuk" ucap Atayad yang secara tiba tiba mengagetkan Ara dengan membuka pintu samping kemudi untuk mengambil handphonenya yang tertinggal disana.
__ADS_1
Ara mengangguk sebagai jawaban. Entah kenapa ia merasa tidak yakin aman akan berada disana meski sebenarnya rumah itu tidaklah menyeramkan.
Namun yang menyeramkan adalah orang yang akan hidup bersamanya.
Dengan berat hati Ara mengaitkan tas yang sejak tadi dipangkunya ke lengan tangannya. Dengan langkah yang berat Ara membuka pintu mobil dan mejejakan kakinya dengan sempurna disana.
Satu kata saat Ara memperhatikan rumah yang akan ditinggalinya "Cantik" kata itu terucap dari mulut Ara tidak terlalu keras namun masih didengar oleh orang yang sedang berdiri tak jauh dari jangkauannya.
Sepasang pelayan yang dibayar oleh Atayad untuk membersihkan rumah tersebut dua hari sekali, tersenyum sambil menyambut ke dua majikanya.
"Selamat datang tuan dan nona" ucap sepasang tersebut sambil membungkukan sedikit badannya.
"Tunjukan kamar untuk dia bi," ucap Atayad saat mereka sudah memasuki rumah tersebut.
"Baik tuan" pelayan tersebut mempersilahkan Ara mengikuti dirinya. Baru menginjak satu anak tangga suara Atayad menghentikan Ara dan pelayan perempuan itu.
"Jangan biarkan dia menyentuh atau mencari tau yang bukan kapasitasnya" ucap Atayad dengan suara yang terdengar datar namun penuh penekanan.
Ara paham bahwa yang dimaksud oleh Atayad adalah dirinya. Sejenak Ara menarik nafasnya perlahan untuk menenangkan dirinya.
Kaki Ara sudah menapak sempurna dilantai mezzanine dimana pelayan itu berhenti. Ara bingung kenapa ia tidak ditunjukan kamar di lantai dua, padahal ia tadi sempat melirik ada tiga pintu disana.
Kamar yang akan ditempati oleh Ara berukuran 3x3 m dilengkapi dengan tempat tidur dan lemari pakaian yang serta tv layar datar yang menempel di dinding kamar tersebut.
"Tidak terlalu buruk kok Ra" ucap Ara menenangkan diri bahwa ia harus berbesar hati untuk tidur dikamar yang ukurannya lebih kecil dari kamar ia sebelumnya.
"Non, bibi tinggal dulu ya" ucap pelayan tersebut.
"Tunggu bi.." ucap Ara "boleh saya bertanya?" ucap Ara lebih hati hati tidak ingin membuat masalah bagi pelayan tersebut juga dirinya.
"Maaf non, jika non Ara hendak menanyakan tentang tuan Atayad atau alasan kenapa nona disediakan kamar ini saya tidak bisa menjawabnya non. Mungkin akan lebih baik jika non Ara menanyakannya langsung pada yang bersangkutan. Saya permisi nona" ucap pelayan tersebut segera berbalik badan dan meninggalkan istri majikannya itu.
Setelah beberapa Ara terdiam sejak pelayan itu pergi, pintu kamar dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Atayad.
"Aku tidak menyediakan pelayan dirumah ini, jadi kau tidak bisa bermanja manja, kau ingin makan kau bisa masak sendiri, cuci pakaian juga sendiri dan semuanya serba sendiri" ucap Atayad yang tak memindahkan posisinya dari ambang pintu sambil mensedekapkan tangannya di dada.
__ADS_1
"Pelayan tadi?" tanya Ara
"Mereka ku gaji hanya untuk membersihkan rumah ini selama dua hari sekali" jawab singkat Atayad.
Ara mengangguk anggukan kepalanya tanda ia mengerti. "Aku bisa mandiri kok" jawab Ara.
Ya memang Ara sudah terbiasa mandiri, usaha sendiri. Namun untuk soal urusan masak ia tidak terlalu pandai, pasalnya ia jarang jarang untuk belajar yang satu itu.
Atayad membalikkan badan hendak meninggalkan Ara, kemudian ia mengurungkan niatnya tersebut saat mengingat satu hal lagi ada yang belum ia sampaikan.
"Oh ya, aku tidak akan tidur satu kamar lagi dengan kau. Dan ingat jangan mencari tahu apa yang bukan kapasitas mu" ucap Atayad.
Ara mengangguk pelan, padahal ia ingin sekali memaki pria yang ada dihadapannya saat ini. Bisa bisanya pria itu bersikap manis didepan kedua orangtuanya, tapi ternyata itu hanya sebuah kamuplase.
Senyum getir tersemat dibibir Ara, setelah ia menyadari pria yang disebut suaminya sudah tak ada lagi disana.
"Ah bodoh sekali aku bisa percaya lagi dengan pria. Jelas jelas aku sudah dibuat kecewa oleh mereka" sesal Ara dalam hatinya. Cairan bening terlihat bergulir dari pelupuk matanya lagi lagi ia merasa dikecewakan oleh pria. Ara berjalan menghampiri sebuah pintu yang menghubungkan kamarnya dengan sebuah balkon sesaat setelah dirinya mengusap air mata lebih dulu.
Hembusan angin sore menerpa wajahnya yang masih ada sisa sisa air matanya. Menghirup udara sore serta meresapinya ternyata mampu membuat dirinya tenang, dan damai. Menyatukan pikiran kita dengan alam, maka alam pun akan memberikan timbal baliknya untuk kita.
.
.
.
.
.
.
.
Next
__ADS_1