
"Zayn?" Sapa Atayad saat yang disapa sedang bercanda bersama kedua anaknya.
"Atayad?" Sapa balik Zayn yang segera menoleh saat mendengar namanya di panggil.
Meski kaget satu sama lainnya namun kedua pria ini tak bersikap seperti dua wanita tadi. Mereka hanya berjabat tangan kemudian kembali duduk setelah saling menyapa. Keduanya berbincang seputar pekerjaan sesekali Zayn melontarkan candaan pada Atayad seputar pernikahannya.
"Kau mengenal istriku?" tanya Atayad setelah perbincangan seputar pekerjaan berakhir.
Zayn mingkem saat mendengar kata "istriku." Belum sempat Zayn menjawab pertanyaan Atayad, tak lama Ara dan Shelly pun datang dengan membawa nampan berisi minuman serta beberapa kue.
"Kau sudah pulang?" ucap Ara pada Atayad yang saat itu sedang duduk bersama dengan Zayn.
"Kalau aku belum pulang berarti aku tidak disini sekarang" balas Atayad.
"Kau Atayad kan?" tanya Shelly sambil ikut duduk disebelah suaminya. "Sayang dia Atayad teman mu kan?" bisik Shelly pada Zayn.
"Iya" jawab Zayn.
Mereka terus berbincang, saling melepaskan kerinduan satu sama lainnya, diiringi candaan serta kelucuan kedua anak Shelly dan Zayn. Shelly dan Ara berkutat di dapur menyiapkan makan malam dan mereka pun sama seperti para pria yaitu sama sama bercerita kehidupan mereka masing masing.
Mereka segera merapat ke meja makan saat Ara dan Shelly sudah selesai memasak. Rumah yang biasanya sepi kinih penuh dengan canda dan tawa. Apalagi melihat tingkah kedua anak kecil itu. Berkat kelucuan mereka berdua, yang dewasa pun tak kuat menahan tawanya. Makan malam ini dirumah Ara dan Atayad benar benar berkesan.
Setelah makan malam Zayn hendak berpamitan untuk pulang, namun belum sempat ia mengutarakan niatnya pada tuan rumah, Shelly istrinya lebih dulu berbisik pada Zayn. "Sayang kan besok hari minggu, bagamana kalau kita malam ini nginap disini aja. Hitung hitung liburan" bisik Shelly sambil cengengesan. Biasa perempuan kalau ada maunya ya pasti begitu.
"Jangan aneh aneh sayang, mereka kan pengantin baru. Siapa tau mereka mau berfantasi dan mengeksplor setiap sudut ruangan" balas Zayn.
__ADS_1
"Tay...." Zayn memanggil Atayad dan hendak berpamitan tak ingin mengikuti keinginan istrinya.
"Ya" Balas Atayad.
"Kita hendak pamit pulang dan terimakasih untuk jamuannya malam ini" ucap Zayn yang kala itu mendapat cubitan pada pinggang dari istrinya.
"Pulang? Bukankah besok hari minggu? kenapa tidak menginap saja" tawar Atayad meski tak benar benar menwarkannya. Kalau istilah sunda teh "Tawar gatra" yang tau artinya boleh komen.
"Menginap? memangnya mereka mau tidur dimana?" ucap Ara dalam hati.
"Tuhkan sayang Atayad saja mengizinkan kita menginap disini" timpal Shelly yang memang sejak tadi ia ingin menginap disana dengan alasan besok libur. "Boleh kan kita menginap Atayad?" tanya Shelly.
"Boleh" jawab Atayad tanpa ragu. Ia melirik Ara sejenak "Bolehkan sayang?" Atayad bertanya pada Ara, dan untuk pertama kalinya Atayad memanggil Ara dengan sebutan "Sayang" yang memuat Ara tersentak kaget.
"Kenapa Ra?" tanya Shelly yang sejak kedatangannya tadi merasa ada yang tidak beres dengan rumah tangga sahabatnya. Dan hal itu yang sebenarnya mendorong keinginan Shelly untuk menginap disana.
Jika Shelly serta suami dan anaknya mereka menginap, memangnya mereka akan tidur dimana? dikamar Atayad? lalu Atayad akan tidur dimana? masa iya bersama dirinya satu kamar lagi. Begitu pikir Ara.
Malam semakin larut dan anak Shelly sudah mengeluh kalau dirinya ngantuk. Atayad menunjukan kamar yang biasa dipakai dirinya untuk menjadi tempat istirahat sahabatnya. "Kalian bisa istirahat dikamar ini, dan Zayn disini ada beberapa baju ku untuk menjadi baju ganti mu malam ini" ucap Atayad.
Zayn mengiyakan dan mereka pamit istirahat lebih dulu kepada tuan rumah. Atayad kaget saat ia membalikkan badan ternyata Ara sejak tadi berdiri dibelakangnya dan kini sedang menatapnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" kaget Atayad.
Ara menarik tangan Atayad untuk berjalan mengikutinya. Setelah tiba dikamar, Ara segera melepaskan pegangan tangannya oada tangan Atayad. Dan ia langsung memberondong suaminya dengan beberapa pertanyaan. "Apa kau sudah gila? kenapa kau mengizinkan mereka menginap? Memangnya kau mau tidur mana? Disini dengan ku? Jangan harap" ucap Ara dengan nada ketus.
Atayad tak langsung menjawab satu pun pertanyaan yang dilontarkan Ara. Ia melangkah dengan santainya menuju ranjang tempat tidur lalu merebahkan diri disana dengan tangan dijadikan bantalan kepalanya.
__ADS_1
"Kau?" ucap Ara sambil menahan suaranya.
"Kenapa?" Atayad balik bertanya. Bukannya bangun dan berpindah tempat, Atayad malah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Ini rumah ku dan kamar ini berada dalam rumah ku juga, ada yang salah? Lagi pula aku sudah menjadikan kau sebagai istri ku, tidak salah kan jika aku tidur dikamar mu?" Atayad menghentikan sejenak kalimatnya. Senyum yang tak dapat diartikan terlihat di sudut bibir Atayad. "Bahkan aku berkah meminta lebih dari sekedar tidur satu ranjang bukan?" Entah dorongan dari mana, rasanya malam ini Atayad ingin sekali menggoda istrinya.
Nafas Ara terlihat naik turun saat mendengar ucapan Atayad. Lidahnya mendadak kelu, otaknya tiba tiba beku dan tak bisa berpikir apa pun untuk membalas ucapan Atayad.
Setelah cukup lama Ara mematung ditempatnya tadi sambil menatap suaminya. Ara tersadar dari diamnya dan ia ingin sekali teriak tidak ingin adanya malam ini. Malam dimana ia harus tidur satu ranjang lagi dengan Atayad. Belum lagi dengan ucapan Atayad yang mengatakan bahwa dia berhak meminta lebih dari sekedar tidur satu ranjang.
Apa itu artinya malam ini ia harus merelakan dirinya untuk Atayad sang suami? Tidak, ia masih belum rela jika harus melaksanakan kewajiban sebagai istri tapi tak ada cinta diantara mereka. Ara takut jika ia akan menyesal pada akhirnya karena terlalu cepat memberikan kehormatannya meskipun itu adalah hal wajar karena mereka sudah terikat satu sama lainya.
"Kenapa kau masih saja berdiri disana? Apa kau akan seperti itu sampai pagi? Cepatlah tidur" Atayad menegur Ara yang masih tak berpindah sedikit pun dari tempatnya.
"Ah i...iya aku a...akan tidur" Ara menjawabnya dengan terbata bata saat melihat sorot mata Atayad yang mengintimidasi dirinya.
Meski ragu dan takut, Ara melangkahkan kakinya dengan cepat menuju tempat tidur. Sebelum naik keatas tempat tidur ia sempatkan melirik Atayad yang masih menatapnya.
"Cepat tidur!!" seru Atayad.
Ara memberanikan diri untuk menjawab meski sebenarnya hatinya sedang bergetar tapi entah bergetar karena apa, ia pun tak mau menyimpulkan lebih dulu. "Iya aku akan tidur, cepatlah kau juga tidur jangan menatapku terus" ucap Ara sambil naik ke atas tempat tidur dan segera meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sebuah ide jahil mendadak muncul diotak Atayad. Ia mencondongkan wajahnya mendekati telinga Ara. "Jangan takut, aku pastikan kau akan ketagihan" bisiknya hingga membuat Ara mendorongnya karena tatahan dengan rasa geli yang ditimbulkan dari nafas Atayad yang menyapu kulitnya.
.
.
__ADS_1
.
.Lanjut? kasih support dong sperti biasa