
"Atur ulang pertemuan dengan pihak SM" ucap Atayad sambil ia tak melepaskan pandangannya dari dokumen yang sedang ia baca.
"Baik pak, Oh iya pak jam sebelas nanti kita ada pertemuan dengan pihak SC commpanny"
Atayad meletakan dokumen yang tadi dibacanya diatas meja. Ia melepas kacamatanya sejenis kemudia ia menatap sekertaris pribadinya.
"Sudah kau siapkan dokumen yang di perlukan"
"Sudah pak, sesuai dengan yang bapak inginkan" jawab sekertarisnya Atayad.
Atayad terlihat mengangguk anggukan kepalanya pelan, seulas senyum ia pasang dibibirnya. "Terimakasih" ucap Atayad.
"Terimakasih? apa aku salah dengar ya"
Setelah dirasa tugasnya selesai, sekertarisnya segera undur diri dari ruangan Atayad.Sementara Atayad kembali sibuk dengan beberapa dokumen yang diperlukannya.
Jam menunjuk angka 10:15 artinya ia hanya memiliki sisa waktu 45 menit lagi sebelum bertemu dengan klirnnya.
Ia segera bangun dari tempat duduknya kemudian ia mengenakan jas navi yang senada dengan warna celana yang digunakannya.
Setelah dirasa semua yang ia perlukan untuk pertemuannya nanti sudah masuk ke dalam tas kerjanya, ia meraih kunci mobil yang tergeletak diatas meja kerjanya.
Dengan langkah pasti dan penuh keyakinan Atayad keluar dari gedung perusahaan ditemani oleh Syahdan sebagai sekertarisnya, mereka berjalan menuju mobil yang akan mengantarkan mereka.
Atayad memilih mengemudikan mobilnya sendiri, padahal Syahdan sudah menawarkan diri. Ditengah perjalanan Atayad memulai membuka pembicaraan ringan untuk menghangatkan susanana agar Syahdan tidak merasa canggung.
Pertanyaan pertanyaan kecil yang dibubuhi sedikit candaan membuat Syahdan mengerti bahwa sebenarnya Atayad tidak seperti yang dilihat dari kejauhan.
Banyak perbedaan sudut pandang saat seseorang hanya melihat dari kejauhan. Bahkan yang dekat pun bisa terkecoh oleh apa yang dilihatnya jika ia tidak bisa menanggapinya dengan bijak.
"Kau sudah menikah?" pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Atayad membuat Syahdan terkesiap. Pasalnya, baru kali ini selama ia bekerja dengan Atayad yang kurang lebih hampir 4 tahun, atasannya tersebut menanyakan hal yang menyangkut pribadi.
Dengan wajah sungkan Syahdan menjawab "Sudah pak"
Atayad menarik nafas dan membuangnya secara cepat. "Bagaimana rasanya setelah mrnikah? Apa kau bahagia dengan pernikahan yang sedang kau jalani" Atayad bertanya tanpa memalingkan pandangan dari jalanan yang diselusurinya.
"Tentu saja pak, memiliki istri dan keluarga kecil sangatlah menyenangkan. Rasa lelah kita setelah bekerja sehari penuh akan terasa sirna saat kita pulang disambut dengan senyum kebahagian oleh anak dan istri tercinta. Jatuh cinta kemudian kita menikah muda bukanlah sebuah musibah, jika kita memilih orang yang tepat. Tapi sekarang banyak yang salah memilih karena sebuah kata cinta. Maaf..."
Seakan tersadarkan oleh sesuatu Syahdan tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Sebuaj senyuman yang sangat langka kini muncul dibibir Atayad.
"Kenapa tidak dilanjutkan?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban apa pun dari Syahdan yang membuat Atayad mengalihkan pandangannya.
"Mungkin apa yang kau ucapkan ada benarnya, jatuh cinta bukanlah musibah. Tapi jika seseorang pernah kecewa akan sebuah kata yaitu cinta. Apa mungkin cinta akan kembali tumbuh?" ucap Atayad, dan seketika suasana kembali hening.
"Maaf, apa sebelumnya bapak pernah mengalami?" Syahdan bertanya dengan ragu ragu.
Atayad menganggukan kepala sebagai jawaban, namun ia tak menjelaskannya secara detil.
Mengerti dengan apa yang dilakukan Atayad, kini Syahdan kembali bicara. "Saya pun pernah mengalaminya. Maaf, dan saya pun pernah bersikap seperti anda. Tidak salah, itu wajar pak, tapi yang salah adalah kita terlalu larut dalam kekecewaan tersebut dan orang lain ikut kena imbas dari apa yang kita rasakan." ucap Syahdan
"Tapi rasanya sangat sulit bagi saya untuk keluar dari rasa kecewa tersebut" ucap Atayad.
"Benar pak rasanya sulit sekali, tapi ketika belajar mengikhlaskan apa yang bukan menjadi hak kita, maka kita akan mendapatkan lebih dari apa yang kita inginkan. Hitungan dan rencana Tuhan tidak kita ketahui." Rasdyan memang lima tahun lebih muda dari Atayad, tapi apa yang katakannya bisa diterima dan dicerna dengan baik oleh Atayad.
Karena perbinacangan yang mereka lakukan cukup menarik, membuat mereka tak menghiraukan jalanan ibukota yang dipenuhi oleh kendaran.
Padahal jika saja jalanan tidak ramai seperti ini bisa saja Atayad sudah tiba ditempat tujuan sepuluh menit lebih cepat. Karena jarak antara kantor Atayad dengan tempat yang digunakan untuk menemui kliennya tidaklah jauh.
Setelah melewati hiruk pikuknya jalanan ibukota, Atayad memarkirkan mobilnya diparkiran sebuah restaurant.
Setelah turun dari mobil, Atayad merapiakan penampilannya dan segera melangkah masuk diikuti oleh Syahdan dibelakangnya.
Ketika Atayad mengalihkan pandangannya kesebalah kanan, ia melihat Revan bersama dengan mantan kekaksihnya.
Syahdan menepuk pelan pundak atasannya kemudian berkata. "Belajarlah mengikhlaskan apa yang bukan menjadi hak kita, walaupun kita menginginkannya" ucap Syahdan sambil mengnggukan kepalanya pelan.
Senyum terpaksa muncul disana, Atayad melanjutkan kembali jalannya yang sempat terhenti.
***
Ara sedang sibuk mengatur posisi yang pas mengatur seorang model yang sedang mengambil pemotretan untuk pakaian terbaru di toko onlineshopnya.
Setelah mendapatkan beberapa foto yang pas di frame, mereka yang terlibat disana menghentikan aktifitasnya sesuai arahan Ara.
"Bagus, aku sangat puas dengan ini" ucap Ara.
"Haha kamu bisa saja, Ra. Wajarlah kalau bagus emang itu tugasku kan" ucap Ryana yang selama ini bekerja sama dengan Ara.
Ryana memperhatikan Ara dengan seksama, membuat yang diperhatikan merasa tidak enak. "Kenapa yan?"
"Aku heran aja sama kamu Ra, kamu cantik, pekerja keras pula, bahkan orangtua mu orang kaya. Tapi kok..."
__ADS_1
"Tapi apa? kau mau bilang kalau kenpa dia menghianati ku, begitu?"
"Hahaha, tidak tidak bermaksud seperti itu. Tapi kata Shelly kau akan menikah?"
"Iya"
"Aku penasaran sama calon suami mu."
"Tidak perlu pemasaran dengan dia, dia tidak menarik sama sekali. kamu tau kan kanebo kering?"
"Tahu dong"
"Nah kaya gitu, dia tuh kaku, kasar, sombong, pokoknya paket lengkap menyebalkannya" ucap Ara sambil meraih botol mineral yang ada diatas meja.
"Tapi ganteng gak" tanya Ryana semakin penasaran.
Mendengar ucapan Ryana Ara yang sedang minum membuatnya tersedak. "Uhuk uhuk uhuk. Ganteng? dari mananya?" ucap Ara sambil menutup kembali botol mineral tersebut.
"Kan nanya, Ra"
"Kamu tahu Atayad?"
"Tunggu, maksud kamu Atayad? Argey Wahidan Atayad si pengusaha kaya raya itu?" Ryana semakin antusias sementara Ara menatapnya dengan penuh rasa heran.
"Iya" jawab Ara malas.
"Oh my God Ara, kamu beruntung. Beruntung, beruntung, beruntung" ucap Ryana sambil memeluk Ara kuat kuat.
"Beruntung apa nya. Yang ada ini tuh ujian" ucap Ara sambil beranjak meninggalkan Ryana yang masih duduk disana.
.
.
.
.
.
. Semoga sukak!!!
__ADS_1
Yang baru mampir disini dan belum baca karya kuk sebelumnya boleh mampir juga disana klik aja profilnya. jangan lupa dukungannya 😘