Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode delapan


__ADS_3

Setelah dipersilahkan masuk oleh si pemilik rumah mewah tersebut. Atayad dan keluarganya masuk mengikuti tuan rumahnya berjalan menunjukan ruang tamu.


Atayad dan keluarganya mendaratkan pantatnya masing masih setelah sebelumnya si pemilik rumah mempersilahkannya.


Papa Rasdyan dan papa Ahmad terlihat membuka percakapan mewakili kedua belah pihak keluarganya.


***


Sementara Ara yang baru kembali satu jam yang lalu yang tidak diketahui siapa pun dia pergi kemana, hanya adiknya Ara yang tahu bahwa dirinya pergi itu pun bukan tujuannya yang ia ketahui.


Ara duduk di depan meja rias setelah dirinya menyelesaikan karya tangannya mempoles wajah. Tidak begitu buruk meskipun ia jarang sekali menggunakan riasan yang begitu mencolok tapi ternyata hari ini ia tampil berbeda dari yang biasanya.


Ara mengalihkan pandangannya ke arah pintu saat mendengar seseorang membukanya. Ternyata Kak fery yang masuk dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Kakak" ucap Ara, ingin rasanya ia mengeluh pada sang kakak, namun niatnya ia urungkan kembali tak ingin membuat sang kakak tersinggung.


"Tamu sudah datang Ra" ucap Kak Fery sambil mendaratkan pantatnya pada ujung tempat tidur.


Ara kembali membalikkan badannya mengarah ke cermin, terdengar helaan nafas berat Ara.


"Kamu tidak usah merasa takut, semua akan baik baik saja. Belum tentu nasib mu dan nasib kakak sama" ucap Fery yang seolah mampu membaca apa yang Ara pikirkan.


Ya memang Ara sempat memikirkan bagaimana menjalani hidup dengan orang yang tak ia kenal sama sekali bahkan tidak ada cinta diantara keduannya. Jangankan untuk hidup dengan orang yang tak dicintainya, bahkan sebelumnya ia pernah hidup dengan cinta dari seseorang tapi ternyata pada akhirnya ia tak mendapatkan kebahagiaan. Apalagi sekarang ia akan menjalani sisa umurnya dengan orang yang belum tentu akan memberikan cinta untuknya.


Ara menghirup nafasnya dalam dalam kemudian mengalihkan tatapannya pada sang kakak. "Apa aku akan bahagia kak?" tanya Ara dengan suara yang terdengar berat.


"Percayalah kamu orang baik, pasti akan mendapatkan yang terbaik pula" ucap kakaknya dengan senyum dan memberikan usapan pada puncak kepala sang adik.


Ara terlihat mengaggukan kepalanya ragu. Fery menggandeng tangan Ara setelah sebelumnya Ara bersedia turun untuk menemui calon suaminya.

__ADS_1


Setelah Ara dan Fery menapaki anak tangga paling akhir, Ara kini menjadi pusat sorotan mata setiap orang yang ada diruang tamu tersebut tak terkecuali Atayad namun masih dengan gaya khasnya yang kaku seperti kanebo kering.


Atayad dan Ara saling memberikan tatapan dingin seolah telah terjadi persengketaan yang sangat berat diantara mereka.


"Aku sungguh berharap bukan dia orangnya" ucap Ara dalam hatinya namun tak mengalihkan tatapannya.


Begitu pun dengan Atayad, "Oh my God, apa papa tidak salah memilihkan ku calon?" ucap Atayad dalam hatinya


Atayad memasang senyum yang begitu kecut "Yang benar saja papa, masa ia aku menikah dengan gadis manja, bisa repot hidup ku jika ia aku harus menghabiskan sisa umurku dengan gadis manja. Sepertinya aku akan lebih cepat meninggalkan bumi jika seperti ini" Lanjut Atayad dalam hatinya.


"Oh, papa betapa beruntungnya anak kita. Cantik sekali calon mantunya pa" ucap mama Metia menyadarkan yang lain dari keterpanaannya akan paras Ara.


"Bisa aja" ucap mama Ana dengan senyum khasnya.


Ara kemudian duduk diantara kedua orangtuanya setelah mendapatkan perintah dari papa Rasdyan. "Ini calon keluarga baru kita sayang, kamu masing mengingatkan paman Ahmad?" ucap Rasdyan.


Ara megangguk "Iya pa"


"Kenapa kau tidak berpihak kepadaku nasib?" ucap Ara dalam hatinya saat ternyata benar bahwa laki laki yang terlihat kaki dan dingin itu yang akan menjadi suaminya nanti.


Sementara Atayad tak memberikan banyak komentar ia hanya sibuk dengan pikirannya.


"Beruntung sekali kamu nak mengikuti saran papa" papa Ahmad menepuk pundak Atayad menyadarkan putranya.


Atayad terlihat gelagapan saat tangan sang papa mendarat dipundaknya. "Hem" ucap Atayad dengan senyum yang terkesan dipaksakan.


"Beruntung? Musibah kali pa bukan beruntung" ucap Atayad dalam hatinya.


Mereka melanjutkan obrolan untuk Atayad dan Ara beberapa bulan kedepan. Baik Ara maupun Atayad mereka memilih tidak banyak berkomentar, toh ini bukan keinginan mereka.

__ADS_1


Setelah mencapai kesepakatan kedua belah keluarga, akhirnya Atayad dan Ara diputuskan akan menikah dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan lagi.


Ara memejamkan matanya sejenak, tak kuasa rasanya menahan air matanya yang meronta ronta minta dikeluarkan. Mulutnya seakan terkunci rapat tak memberikannya celah untuk memberikan penolakan. Memberikan komentar pun rasanya percuma.


Sementara Atayad memilih menatap Ara dengan tatapan yang sulit dimengerti. Yang terpancar dari mata seorang Atayad entah kebencian atau yang lainnya.


Pertemuan mereka diakhiri dengan jamuan makan malam yang telah disediakan oleh keluarga Rasdyan.


Disini yang terlihat paling bahagia adalah mama Metia dan papa Rasdyan.


"Bersikaplah dewasa Tay" bisik papa Ahmad saat menangkap ekspresi ketidak sukaan Atayad.


Sementara Ara melirik ke arah kak Fery dan Fery menganggukan kepalanya seakan mengerti akan ekspresi yang ditunjukan oleh satu satunya adik perempuannya.


Mau tidak mau, keadaan memaksa Ara harus menunjukan kedewasaannya. Ia mencoba akrab dengan calon mertuanya serta calon adik iparnya.


Namun tidak dengan Atayad ia masih tetap dengan sikap kanebo keringnya. Ia hanya menjawab beberapa pertanyaan yang serasa perlu untuk dijawab saja. Itu pun dengan jawaban yang sangat singkat.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.Jangan lupa selesai membaca berikan komentar, vote, dan like nya ya 😊


__ADS_2