
Kini Atayad dan Ara sedang berada di Aula sebuah perusahaan baru yang dirilis oleh ayahnya yaitu Ahmad.
Ara harus memasang senyum manis penuh kepura puraan saat ada rekan bisnis dari Atayad ataupun rekan bisnis dari Ahmad berkenalan dengan dirinya.
"Kapan ini selesainya?" Ara bertanya karena dirinya sudah merasa capek berada disana. Belum lagi ia harus pura pura sok akrab dengan tamu lainnya.
"Apa kau tidak pernah menghadiri suatu acara atau pesta? Huuh ternyata sungguh menyedihkan sekali hidup mu. Bersyukurlah kau akan ku nikahi." jawab Atayad dengan wajah memandang lurus kedepan.
Itu bukan jawaban yang ingin didengar Ara, Jika saja ini bukan ditempat yang ramai mungkin Ara sudah mengajaknya untuk berdebat. Namun karena tenaganya habis digunakan untuk pura pura tersenyum akhirnya ia mengurungkan niatnya tersebut dan lebih memilih diam.
Ingat pura pura tersenyum dan bahagia itu memang tidaklah gampang.
Ditengah kekesalannya Ara seseorang menepuk pundaknya dan mengagetkannya. "Oh my God" ucap Ara sambil menoleh, ternyata seseorang dari masalalunya sedang tersenyum manis kepadanya.
Ara bertegur sapa dan berbincang bincang disana. Atayad menyaksikan hal tersebut namun ia memilih untuk tidak ikut berbaur disana.
Atayad memperhatikan interaksi Ara dan kawan lamanya dengan ekspresi yang hanya bisa diartikan oleh orang orang tertentu saja.
***
Jam digital yang terdapat diatas meja nakas kamar Ara menunjukan pukul 23:10, artinya ini sudah lewat dari jam seharusnya Ara tidur.
Ara yang sudah membersihkan diri sejak setengah jam yang lalu, sejak dirinya tadi diantarkan pulang oleh Atayad, kini sedang duduk bersandar pada sandaran tempat tidur sambil memangku sebuah boneka yang berukuruan cukup besar yang selalu jadi teman tidurnya tiap hari.
__ADS_1
Lampu kamar yang sengaja dimatikan dan ia lebih memilih menggunakan lampu tidur untuk penerangannya menambah suasana malam terasa semakin kesunyiannya.
Setelah sekian lama duduk termenung dengan segala apa yang dipikirkannya, Ara memilih merebahkan diri dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Ara berusaha memejamkan matanya namun tidak berhasil. Aktifitas yang dilaluinya beberapa jam yang lalu dengan Atayad kini menari-nari indah dipikirannya hingga Ara mulai hanyut dalam lautan mimpi.
***
Setelah Atayad mengantarkan Ara, ia segera membersihkan diri dan setelah itu ia memilih duduk di balkon sambil menikmati semilir angin yang berhembus menyentuh setiap inci tubuhnya yang tak terhalang oleh pakaian.
Dengan ditemani secangkir kopi hitam serta sebuah buku, begitulah yang sering dilakukan oleh Atayad saat matanya tak mau bekerjasama untuk diajak istirahat.
Beberapa kali Atayad terlihat membuka tutup buku tersebut. Entah kenapa rasanya malam ini buku yang biasanya ia baca terasa tidak menarik sama sekali.
Padahal Atayad biasanya bisa sampai berkali kali membaca ulang buku yang sama meski ia memiliki koleksi buku yang lainnya.
Mata Atayad terfokus pada benda pipih yang tergeletak dekat cangkirnya. Sebelum mengambil benda pipih tersebut sejenak Atayad menarik nafasnya dalam dalam.
Benda pipih tersebut kini sudah berada ditangannya. Ia segera menghidupkan benda tersebut kemudian ia menulis sebuah pesan.
Atayad tidak langsung mengirim pesan tersebut, ia terlihat berkali kali menghapus kemudian mengetik lagi begitu dan begitu lagi yang dilakukan oleh Atayad.
"Send? jangan? send? jangan?"
"Kalau aku kirim pesan ini, nanti dia besar kepala lagi." ucap Atayad sambil tetap memainkan ponselnya.
__ADS_1
Atayad tidak jadi mengirimkan pesan tersebut. Ia menyimpan ponsel tersebut ke tempatnya semula.
"Ingat Atay kau tidak bisa hidup sendiri, kau butuh pelindung diri dari nafsu syahwat mu. Kau tidak mungkinkan menghabiskan hidupmu seorang diri hanya karena pernah patah hati?. Aku rasa kau tidak perlu menunjukan pada dunia betapa terlukanya dirimu oleh cinta dimasalalu mu"
Tiba tiba kalimat yang pernah diucapkan Zayn beberapa hari kebelakang kembali terngiang dibenaknya.
"Aku tidak pernah berniat ingin menunjukan pada dunia betapa menyedihkannya hidupku, aku hanya ingin menunjukan kalau aku tidak akan dibodohi oleh yang namanya cinta dan wanita." ucap Atayad dengan tangan bertumpu pada kakinya untuk menyangga wajahnya.
Setelah hawa dingin dikala malam tak mampu lagi Atayad nikmati, serta kopi yang menemaninya sudah tak tersedia lagi pada cangkir yanh ada di atas meja, Atayad beranjak masuk ke dalam kamar dan mulai merebahkan dirinya disana.
***
Sang fajar nampak tersenyum hangat menyapa seluruh penduduk bumi. Kehobahan dirumah mewah milik Rasdyan tak bisa terkendali saat kedua cucu Rasdyan dari putra sulungnya datang berkunjung sepagi ini.
Ara yang mendengar kehebohan tersebut pun mau tidak mau tak melanjutkan tidurnya. Ia melirik ke jendela kaca yang hanya tertutup tirai tipis berwarna putih yang menampakan sinar matahari pagi.
Ara beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Kamar Ara yang terletak dilantai dua, ia tidak turun namun hanya memperhatikan kedua keponakannya sedang bermain kejar kejaran untuk berebut mainan.
Ara tersenyum manis saat ia membayangkan betapa lucunya nanti anak anaknya kelak. Saling berteriak satu sama lainnya, saling mengadukan satu dengan lainnya, berebut perhatian, bergelayut manja pada dirinya dan lain sebagainya hal hal yang sering dilakukan oleh anak kecil.
Namun senyum Ara menyusut saat ia mengingat bahwa Atayad lah yang menjadi suaminya.
"Apa anak anakku akan sama lucunya seperti kedua keponakan ku jika yang menjadi ayahnya adalah pria itu? Semoga saja semua hal tidak mengikuti ayahnya" ucap Ara dalam hatinya.
__ADS_1