Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode tiga puluh tujuh


__ADS_3

"Atayad jangan" ucap Ara lirih sambil tangannya menahan dada Atayad yang entah sejak kapan mereka ada dalam posisi seperti ini. Ara semakin dibuat kelimpungan oleh rasa yang tidak dapat dimengerti oleh dirinya sendiri.


"Bukan Atayad, tapi sayang" ucap Atayad dengan nafas yang tak beraturan. Posisi seperti ini membuat mereka terlihat semakin intim. Dawai asmara mulai menggetarkan perasaan keduanya.


Tok tok tok ketukan dipintu berhasil menarik kembali kesadaran keduanya. Atayad segera membawa tubuhnya melangkah untuk membuka pintu. Sementara Ara setengah berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Ada perasaan malu yang hinggap di hatinya. Hal ini karena terjadi kedua kalinya bersama Atayad. Ara berdiri di depan cermin washtafel dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.


Selesai membersihkan badan, Ara merasa enggan untuk keluar dari kamar mandi dan bertemu Atayad lagi. Tapi mau sampai kapan dia diam disana. Mau sampai besok kan tidak mungkin.


Meski rasa malu masih menghinggapi dirinya Ara memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. "eee,em siapa?" ucap Ara sambil memalingkan wajahnya tanpa menatap Atayad.


Atayad menghampiri Ara kemudian mengapit wajah Ara dengan kedua telapak tangannya. "Cobalah kalau bicara untuk menatap orangnya" ucap Atayad sambil menatap Ara dengan tatapan syahdu.


Ara terlihat gugup sekali. Ia mencoba memberanikan untuk menatap Atayad. "Kenapa harus seperti ini?" tanya Ara


Hening menjeda keduanya cukup lama, sampai Atayad menemukan jawabannya. "Karena kita sudah menikah" jawabnya simple tapi memberi arti yang teramat dalam.


***


Mereka sedang menyantap jamuan makan malam yang dihidangkan oleh petugas penginapan. Selama makan malam berlangsung keduanya masih tak ada yang memberikan komentar akan sikap mereka tadi.

__ADS_1


Atayad terlihat sibuk dengan makanannya, tapi dibalik itu pikirannya pun tak kalah sibuk.


Begitupun dengan Ara.


Ara menyelesaikan makannya lebih dulu. Setelah meletakan sendok dan garfu di atas piring serta meneguk segelas air putih, Ara memperhatikan Atayad yang terlihat sangat menikmati makan malamnya.


Sadar jika dirinya tengah diperhatikan Atayad lalu melirik Ara dengan ekor matanya. "Kenapa memandangi ku seperti itu?" ucapnya sambil kembali sibuk pada makanannya.


"Aku, aku hanya bingung dengan sikap mu akhir akhir ini. Apa sesuatu telah terjadi pada mu?"


Atayad memicingkan matanya saat mendengar pertanyaan Ara. Seketika ia menghentikan aktifitas makannya kemudian meletakan sendok yang sedang di pegangnya. "Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka?"


"Bukan begitu maksud ku, hanya saja aku tidak mengerti jika kau tiba tiba berubah seperti itu"


Atayad melirik Ara sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. "Apa kau menginginkan pernikahan ini?" lanjut Atayad saat ia mengingat kembali pesan yang dibacanya malam kemarin.


Ara terlihat bingung untuk memberikan jawaban. Pada awalnya ia memang tidak menginginkannya, tapi sekarang setidaknya hatinya mulai digoyahkan oleh sikap dan perlakuan Atayad padanya.


"Kau tidak akan menjawabnya?" tanya Atayad saat Ara masih memilih diam dan tak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaannya. "Aku tidak tau kau menginginkannya atau tidak. Tapi setelah ku pikir berkali kali apa tidak sebaiknya kita bersikap biasa saja?" lanjut Atayad sambil menatap Ara.


Ara masih tak memberikan tanggapan apa pun. Sementara Atayad masih kembali melanjutkan kalimatnya. " Aku tidak ingin menyiksa mu dengan pernikahan ini. Aku memang punya cerita dimasa lalu, tapi setelah ku pikir tidak seharusnya aku melampiaskannya kepada mu"

__ADS_1


Ara yang sejak tadi diam dan menundukan pandangannya kini mencoba menatap Atayad yang juga saat ini sedang menatapnya.


"Ara..." panggil Atayad dan Ara masih menatapnya. "Kita coba saling berdamai. Jika nanti saatnya kau ingin pergi maka pergilah kau tidak pantas bersama orang seperti ku" ucapan Atayad entah mengandung zat apa, tapi ucapannya tersebut berhasil menyentuh hati Ara.


Ara masih berusaha mencerna setiap kata yang Atayad ucapkan. Namun sampai kata terakhir yang diucapakam Atayad ia masih saja tidak dapat mencernanya.


"Aku tidak dapat mengerti setiap ucapan mu. Tapi satu poin yang aku ambil mungkin kau benar alangkah lebih baik jika kita memang terlihat damai. Karena aku rasa aku tidak pernah membuat masalah dengan mu. Dan tentang masalalu, aku tidak ingin berkomantar apa pun karena aku tidak tau bagaiaman kau sebelumnya."


One step closer kalau kata mereka. Akhirnya mereka bicara layaknya manusia normal. Baik Atayad maupun Ara malam itu mereka mulai bersikap sewajarnya mereka. Tidak ada lagi kata kata sombong yang keluar dari mulut Atayad.


Atayad menceritakan kisah hidupnya dimasalalu meskipun tidak semuanya. Begitupun dengan Ara, Ara menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya namun ia tidak menceritakan kisah hidupnya dengan Rey. Entahlah rasanya Ara enggan untuk kembali menyebut nama itu.


Atayad mengerutkan kening saat ia tak mendengar satu nama pria pun yang Ara sebut. Dan itu membuat Atayad berpikir jika Ara memang tidak ingin terlalu dekat dengannya.


"Sudah malam, tidurlah di kasur! Aku akan tidur di sofa" ucap Atayad saat mengakhiri percakapan diantara mereka.


"Kau yakin akan tidur di sofa?" ucap Ara sambil menatap Atayad tidak yakin.


"Aku bisa tidur dimana saja saat aku sudah benar benar merasa ngantuk" balas Atayad dengan senyum tipis.


Ara mengangguk kemudian ia melangkah menuju tempat tidur. Sebelum ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, matanya sempat menatap ke arah Atayad yang sedang membenahkan diri disana.

__ADS_1


Hembusan nafas yang terlihat tenang membuat Atayad yakin jika Ara sudah benar benar terlelap. Ia kemudian membenarkan posisi tubuhnya agar duduk tegap. Matanya menatap tempat tidur yang ada Ara disana.


"Kenapa dia tidak menyebut pria yang mangiriminya pesan kemarin malam. Apa pria itu sangat penting dihidupnya?"


__ADS_2