
Taksi online yang dipesannya kini sudah berada ditempat tujuan Ara. Ia segera memberikan sejumlah uang sesuai yang tertera di aplikasi tersebut.
Setelah memberikan uang, ia segera melenggangkan kakinya menuju ke toko olshopnya. Rindu rasanya beberapa hari ia tak mengunjungi tempat tersebut. Tempat dimana ia bisa bercanda ria bersama karyawannya tanpa ada perbedaan status sebagai karyawan dan atasan.
Senyum cantik mengembang di bibirnya, tak sabar ingin segera menikmati hari yang hilang beberapa hari kebelakang yang disebabkan oleh pernikahnnya.
Suara yang amat dikenal dan sering ingin ia dengar dulu kini mengentikan langkahnya. Suara yang dulu selalu ia rindukan, suara yang dulu selalu memberinya pujian, sanjungan, dan menjadi salah satu suntikan untuk ia menjalani aktifitas yang berbeda dari teman seusianya. Namun sekarang suara itu adalah suara yang tak ingin Ara dengar lagi sejak saat itu. Ya ia sadar bahwa semua kata manis dan nada yang mengalun indah yang diucapakan oleh si pemilik suara hanyalah sebuah madu yang sudah dicampur dengan racun. Dan ujung ujungnya hanya memberikan sekian juta luka yang entah kapan bisa ia sembuhkan.
Ara menghentikan langkahnya bukan ingin kembali mendengar pujian yang melambungkan jiwanya setinggi mungkin namun menjatuhkannya pun hanya sekejap saja. Ia menghentikan langkahnya hanya sebagai tanda bahwa ia pernah diajarkan bagaimana mana cara bersikap yang sopan.
"Ada keperluan apa?" ucap Ara saat pria yang dulu sangat ia puja sudah berdiri tepat di depannya.
Ara mundur dua langkah saat menyadari bahwa pria itu berdiri dihadapannya dengan keadaan yang terlalu dekat.
"Kenapa Ra? kau seperti sedang menghindar dari ku?" ucap Rey dengan ekspresi wajah tanpa dosanya.
Heran sebenarnya dia tercipta dari apa? hingga ia masih punya muka untuk menampakan diri dihadapan orang yang telah disakitinya.
"Kenapa?" ucap Ara dengan senyum mengejek "Kau masih tanya kenapa, apa kau tidak melihat berita tentang pernikahan ku, dan melihat ini" ucap Ara sambil memperlihatkan jari tangan kanannya sudah dilingkari cincin pernikahan. Ya meskipun pernikahan yang tidak pernah dibayangkannya sama sekali.
"Aku sudah menikah, statusku bukan lagi wanita lajang. Aku sudah bersuami dan tidak pantas rasanya jika seorang yang sudah memiliki pasangan serta diikat oleh sebuah janji suci didepan Tuhan harus berdekatan dengan lawan jenis yang bukan pasangannya" Setiap kata yang diucapakan Ara memang terdengar sederhana namun diucapakan dengan penuh penekanan.
"Lagi pula aku dan kau sama sama sudah memiliki pasangan bukan?" lanjut Ara sambil menautkan kedua alisnya yang seperti ulat bulu namun tetap terlihat cantik.
__ADS_1
"Ra dengar aku dan dia itu bukan pasangan" jelas Rey. "Itu terjadi karena kecelakaan"
"Ya kecelakaan yang disengaja bukan?" ucap Ara dengan ekspresi bibir, mata dan bahu kompak mengejek.
"Ra, ..." belum sempat Rey bicara kalimatnya sudah disela oleh Ara lebih dulu.
"Cukup Rey, berhenti mengejarku, berhenti menggangguku, mendekati ku dengan alasan apa pun. Aku bukan lagi wanita lajang, aku wanita yang sudah bersuami ingat itu" ucap Ara. Ia segera meninggalkan Rey sang mantan kekasih yang masih diam mematung ditempatnya tadi.
Setalah Ara cukup jauh Rey tersadar dengan cepat ia mengejar Ara dan meraih tangan Ara saat sudah mendekatinya.
"Ya, aku tau kau sudah menikah, tapi pernikahan apa yang kau jalani. Pernikahan tanpa cinta apa bisa bahagia?" ucap Rey yang memegang kuat pergelangan Ara hingga menimbulkan rasa sakit bagi yang di pegangnya, agar tak lepas lagi.
"Bahagia atau tidaknya aku sudah bukan urusan mu lagi, itu urusanku. Kau ... urus tanggung jawabmu. Paham" ucap Ara sambil menghentakan kuat tangannya agar telepas dari Rey.
"Sampai kapan? Ra aku tidak bisa melihat kau hidup tanpa senyum kebahagiaan" ucap Rey yang terpaksa mengendurkan pegangannya pada tangan Ara saat melihat Ara mendesis.
"Tapi Ra" Rey masih saja keukeuh dengan pendiriannya.
"Aku tidak ingin mengulang kembali kata kata ku. Cukup dan pergilah, aku harus bekerja" ucap Ara sambil berjalan meninggalkan Rey saat tangannya sudah di lepaskan oleh sang mantan kekasih.
"Aku memang tidak bahagia dengan pernikahan ini, tapi setidaknya aku tidak akan terluka lagi oleh cinta, karena memang aku menikah dengan dia tak ada cinta diantara kami. Kalau pun aku boleh jujur sebenarnya aku sangat mencintaimu Rey, tapi aku tidak ingin jadi wanita bodoh yang harus terluka berkali kali karena cinta. Biarkan cinta ini pergi dengan sendirinya, biarkan aku damai dengan jiwa dan keadaan yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan sama sekali. Jika mencintai orang lain harus merasakan sakit maka lebih baik aku belajar mencintai diriku sendiri bukan mencintai orang lain" ucap Ara dalam hatinya.
Sesak yang ada didalam dadanya, yang ia tahan sejak tadi kini tumpah didalam kamar mandi. Kenapa Rey harus kembali menggoyahkan benteng yang baru saja ia bangun.
__ADS_1
Ara memandangi dirinya dari pantulan cermin, jelas terlihat sisa sisa air mata kesehatan disana. Entah ia menangis murni karena luka dari masa lalunya tertoreh kembali atau memang disebabkan karena kejadian yang terjadi sejak kemarin yang mempengaruhi moodnya.
***
Atayad baru saja tiba di gedung perusahaannya. Ia terlihat membuang nafasnya dengan kasar saat kakinya sudah menjejak sempurna di lantai ruangan khusus miliknya.
Ia melepas jas yang membalut tubuhnya dan menyampaikannya pada sandaran kursi kerjanya.
Pintu ruangannya terbuka saat seseorang telah diizinkan masuk yang sebelumnya lebih dulu mengetuk pintu.
"Ini berkas yang anda minta pak" ucap syahdan sekertaris pribadinya sudah berada didepan meja kerjanya. Sambil menyodorkan beberapa berkas yang diminta oleh Atayad.
Atayad menerimanya, "Kamu bisa selesaikan berkas ini" ucap Atayad sambil memperlihatkan layar laptopnya yang menyala dan menampilkan beberapa data disana.
"Tentu pak"
Atayad segera mencopyfaste data tersebut dan mrmberikannya pada Syahdan. "Ah ingat, kau harus mengerjakannya sebaik mungkin, itu untuk memperpanjang kontrak kerja sama kita dengan SG coorporation."
"Akan saya kerjakan sesuai perintah pak, saja izin undur diri pak" ucap Syahdan sambil berdiri dari kuri yang didudukinya.
"Eh satu lagi Dan, minta pesankan saya sarapan dan diantarkan kesini" ucap Atayad yang langsung diangguki olah sekertarisnya yang tanggap itu.
Setalah pintu tertutup kembali ia segera melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia tak memikirkan Ara, meski tadi ia sempat berpikir bagaimana perempuan itu sudah tidak ada rumah sepagi mungkin.
__ADS_1
Intinya dia masih saja bersikap bodo amat.
Next ............