
"Terimakasih pak Atayad, kami tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan anda" ucap klien yang ditemui Atayad siang itu.
"Sama sama, semoga anda puas dengan hasil kerja kami" ucap Atayad
Lagi lagi Atayad berhasil membangun kerjasama dengan perusahan perusahaan ternama di ibukota. Senyum bangga akan hasil kerja kerasnya terlukis dibibir Atayad.
Setelah mereka mengakhiri pertemuan mereka dengan saling menjabat tangan dan kliennya pamit undur diri, di meja tersebut kini hanya tinggal Atayad dan Syahdan yang masih duduk disana.
Dua orang yang sangat berarti di masalalunya terlihat begitu menikmati kebersamaan mereka. Cukup lama Atayad memandangi keduanya, sesekali senyum sinis muncul dibibirnya.
"Syah, mereka dulu adalah termasuk orang yang sangat berarti dalam hidupku. Dulu" ucap Atayad pada Syahdan dengan jari telunjuk mengarah pada mantan kekasih serta Revan sahabatnya.
"Saya rasa anda beruntung pak" ucap Syahdan sambil meneguk minuman yang tersedia di meja.
"Beruntung?" ucap Atayad yang gagal mencerna apa yang diucapkan oleh sekertarisnya.
"Iya beruntung anda mengetahuinya lebih cepat, coba bayangkan pak, bagaimana kalau anda mengetahuinya terlambat. Mungkin sakit hatinya akan lebih dari ini. Bukan hanya sakit hati pak yang anda dapatkan tapi harga diri anda juga diinjak injak oleh keduanya"
Atayad diam memebenarkan apa yang diucapkan oleh Syahdan. Atayad terlihat bersih hendak kembali ke kantor, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Ara dan Ryana masuk kedalam restaurant yang sama dengan dirinya.
"Tidak jadi kembali pak" tanya Syahdan saat melihat Atayad kembali duduk dan malah memanggil pelayan untuk melihat buku menu.
"Tunggu sebentar" ucap Atayad pada Syahdan sesaat sebelum palayan yang dipanggilnya menghampiri.
Dengan wajah bingungnya Syahdan kembali duduk mengikuti sang atasan.
"Terimakasih, saya hanya pinjam buku menunya saja. Nanti kalau ada yang saya butuhkan saya panggil kembali" ucap Atayad pada pelayan sesaat setelah menerima buku tamu.
"Baik pak" ucap pelayan tersebut dengan sopan.
Atayad membuka buku menu tersebut namun tidak memilih salah satu dari menu tersebut. Buku tersebut Atayad gunakan agar ia terlihat sedang memilih menu padahal itu hanya kepura puraan semata.
__ADS_1
***
Ara dan Ryana memilih meja yang tak jauh dari meja Atayad sebelumnya. Besar kemungkinan bagi Atayad bisa mendengarkan obrolan keduanya.
Setelah memanggil pelayan dan merasa beberapa menu Ara dan Ryana melanjutkan kembali obrolan mereka tentang calon suami Ara.
Kening Atayad berkerut saat mendengar nama dirinya disebut.
"Dasar gadis penggosip" umpat Atayad dalam hatinya.
Atayad tetap disana mendengarkan percakapan keduanya.
Sementara Ara dan Ryana tak menyadari hal itu. "Serius Ra, kamu nggak tertarik sama sekali, padahal ganteng lho" ucap Ryana.
"Tidak sama sekali" ucap Ara sambil menerima minuman yang baru saja disajikan oleh pelayan.
"Jangan gitu Ra, nanti kamu kelepek kelepek lagi sama dia. Udah ganteng, tajir lagi. Yakin nih masih tidak tertarik" ucap Ryana menggoda Ara.
"Dengar ya Ryana sahabatku yang cantik nya gak cantik cantik amat, yang bodohnya kelewatan. Kalau saja papa memberiku 10 pilihan pria dan salah satunya ada pria itu, dia orang terakhir yang aku lirik. Atau mungkin tidak dilirik sama sekali" ucap Ata sambil megaduk aduk minuman yang ada didepan.
"Tapi dia kan kaya Ra" Ryana masih mencoba mengetahui isi hati Ara.
Ara menghentikan aktifitasnya mengaduk aduk minuman itu. Ia memasang wajah tidak sukanya saat Ryana terus membicarakan orang yang sama sekali tidak ingin Ara dengar.
"Kita kesini mau makan atau mau bahas pria yang tidak penting sama sekali?" Tanya Ara dengan mata melotot dan tangan yang bersedekap diatas meja.
"Makanlah" jawab Ryana sambil menyeruput minumannya "Tapi nggak apa kan buat refresh otak membahas pria ganteng itu" lanjut Ryana.
Ara begitu jengah mendengar Ryana yang tak mengganti topik pembicaraannya. "Kalau gitu kamu aja yang nikah sama dia. Kayaknya kalian sama sama cocok. Dia super kaku dan kau super heboh cocok anak dan rumahnya jadi ancur hahaha" ucap Ara sambil tertawa puas diakhir kalimatnya.
Atayad mengepalkan tangannya saat melihat Ara tertawa puas setelah mengatai dirinya. "Kita lihat saja apa gadis manja itu masih bisa tertawa puas setelah menikah? Aku tidak akan membiarkannya" ucap Atayad dalam hatinya.
__ADS_1
Atayad menutup buku tersebut dan menyimpannya diatas meja dengan kasar sehingga menimbulkan suara dan menarik perhatian para pengunjung hingga melihat ke arahnya termasuk Ara.
Pandangan Ara dan Atayad sejenak beradu, sebelum akhirnya Atayad meninggalkan meja tersebut dan berjalan cepat keluar.
Sementara Ara dan Ryana saling memainkan mata satu sama lainnya. "Sepertinya dia mendengar obrolan kita" ucap Ryana pelan.
"Bodo amatlah, siapa tau setelah ini dia merubah sikapnya" ucap Ara setelah melihat Atayad berlalu dari sana.
"Cie ada yang mengharapkan dia berubah, witwiw" balas Ryana dengan ekspresi menggoda.
"Lama lama kau menyebalkan sekali" ucap Ara sambil memalingkan wajahnya.
Tak lama setelah itu pelayan datang dan menyajikan makanan yang telah mereka pesan. Ara dan Ryana menyantap makan siangnya sambil begurau dan beralih topik, bukan lagi Atayad yang mereka bahas tapi hal lain yang mampu menghibur mereka.
Tawa bahagia menyelimuti Ara saat Ryana mulai usil memparodikan sepasang kekasih yang terlihat tidak akur.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau like dan komentnya banyak maka ritme up pun akan bertambah.
__ADS_1
Bantu Follow ya ig nya
Nuryanthiag