Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
episode enam belas


__ADS_3

"Setelah ini apa ya yang haris aku lakukan? ah aku lupa menanyakannya tadi pada kak Elia. Aaahhh dasar bodoh" Ara mengumpat diri sendiri dalam hatinya.


Cukup lama Ara duduk terdiam disana hingga tak menyadari Atayad sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar.


Atayad melirik Ara yang diam memarung seperti manekin yang masih mengenakan gaun pesta resepsi mereka.


Atayad berdehem membuat Ara yang sedang sibuk dengan segala pemikirannya terlonjak keget.


Ara berdecak kesal karena hampir saja jantungnya melompat dari tempat seharusnya.


Sementara Atayad tak menggubris decakan kesal Ara. Seperti biasa manusia itu tetap menampilkan penampilan terbaiknya yaitu super cool.


Ara melirik Atayad yang sedang sibuk memainkan handphonenya sambil duduk pada sofa yang tak jauh dari tempat tidur mereka malam ini.


Ara mengambil paperbag yang berisi pakaian gantinya. Ara berdiri dibalik pintu kamar mandi setelah ia berhasil masuk dan menutup pintu tersebut.


Ara memegang dadanya yang bergemuruh tak karuan, sebelum kemudian ia menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangan.


"Oh My God apa yang aku pikirkan, ah dasar memalukan saja bisanya" umpat Ara saat menyadari kebodohannya telah memikirkan sesuatu.


***


Beberapa kali Atayad melirik ke arah pintu kamar mandi, entah apa yang sedang dipikirkannya karena tiba tiba sebuah senyum yang tak pernah nampak dibibirnya kini terlukis indah disana.


Atayad memilih pura pura sibuk memainkan ponselnya saat pintu kamar mandi terbuka yang menampakan Ara istri yang baru dinikahinya beberapa jam yang lalu.


Sesekali Ara melirik Atayad yang masih terlihat sibuk dengan ponselnya. Namun tanpa Ara sadari Atayad pun melakukan hal yang sama tanpa sepengetahuan Ara.


Ara berdeham beberapa kali untuk menghilangkan rasa canggungnya sambil ia duduk di depan meja rias sambil menggeringkan rambutnya pakai handuk yang ada.


*Jangan nanya kok pakai handuk? emang nggak ada hair dryer? tanya aja sama mereka ya*


Namun justru dehaman Ara digunakan kesempatan oleh Atayad untuk menakuti Ara.


Saat Ara berdeham tiba tiba sebuah ide gila muncul di otak Atayad.


Setelah menarik nafas panjang Atayad meletakan ponsel yang sejak tadi dimainkannya. Ia lalu berdiri dari duduknya meninggalkan sofa tersebut dan berjalan mendekati Ara dengan senyum yang menakutkan bagi yang melihatnya.

__ADS_1


Ara yang melihat Atayad berjalan kearahnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia tebak mendadak waspada dan menolah.


"Mau apa kau jangan macam macam" ucap Ara sambil berdiri dan mengambil posisi waspada.


"Ternyata hanya wajahmu yang terlihat pintar tapi pada kenyataannya bodoh" ucap Atayad sambil mencondongkan badannya dan berbicara tetap ditelinga Ara.


Hembusan nafas Atayad dapat dirasakan Ara hingga menimbulkan rasa geli baginya.


Ara menahan tubuh Atayad yang nyaris menempel pada tubuhnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Tentu saja kita akan melakukan apa yang harusnya dilakukan oleh dua anak manusia yang berbeda jenis kelamin pada malam pertama setelah mereka menikah" bisik Atayad lagi.


Mata Ara terbelalak hebat mendengar apa yang diucapkan oleh Atayad, meski Atayad mengucapkannya dengan kata lain tapi Ara mengerti apa yang dimaksud oleh sang suami.


Melihat ekspresi Ara yang tiba tiba saja menegang saat Ia menyentuk kedua pundak Ara semakin membuat Atayad menginginkan lebih dari sekedar menggoda.


Ya namanya juga laki laki normal, kadang tanpa cinta pun nafsunya bisa bangkit saat berduaan dengan perempuan dalam satu ruangan. Bohong jika mereka tidak bernafsu tapi tergantung pribadinya sendiri bisa mengembalikannnya atau tidak. Gak percaya? buktikan!


Ara berusaha mengatur oksigen yang masuk ke paru parunya, dan jangan tanya bagaimana jantungnya Ara bekerja. Bayangkan saja!!!


Atayad mendorong tubuh Ara menjauh dari kursi meja rias sebelum ia berkata kembali. "Kita sama sama belum shalat isya kan? Tidak ada salahnya kalau kita berjamaah" ucap Atayad lagi dengan melepaskan tangannya dari pundak Ara. Senyum puas akan keberhasilan menggoda Ara terlukis disana saat ia membalikkan badan membelakangi Ara.


***


Semburat merah muncul dipilih Ara saat ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Atayad. Ia merasa malu sendiri saat dirinya salah mengartikan kata "ibadah bersama sebagai suami istri" yang diucapkan Atayad.


Ah ingin rasanya Ara menggali sumur segala mungkin dan menenggelamkan dirinya disana. Apa lagi saat ia mendapati Atayad yang tersenyum saat membelaknginya. Pasti manusia kanebo kering ini sedang menertawakan ku begitu pikir Ara.


Beberapa kutukan Ara ucapkan dalam hatinya mengutuk pria yang kini menjadi suaminya.


"Oh Tuhan kenapa kau tidak ambil saja nyawa manusia satu itu? Kalau kau mau ambil, maka ambilah hamba tidak akan melarangnya" ucap Ara setelah sebelumnya ia mengucapakn beberapa kutukan sambil menunggu Atayad keluar dari kamar mandi dan gilarannya mengambil wudhu


***


Ara dan Atayad bergantian mengambil air wudhu, mereka sama sama bisa dikatakan jauh dari kata soleh dan solehah, namun sebisa mungkin mereka melakukan kewajiban mereka saat waktunya sudah tiba.


Untuk pertama kalinya bagi Atayad menjadi imam seorang perempuan dalam solat selain menjadi imam mama dan adik perempuannya.

__ADS_1


Ia segera mengenakan sarung yang tersedia disana dan menggunakan peci wana hitam yang tadi diguanakannya untuk membaca ijab kabul.


Atayad segera menggelar sajadah diikuti oleh Ara dibelakangnya.


Lepas salam seperti biasa pada umumnya istri akan mencium punggung tangan sang suami. Tapi yang terjadi Ara malah diam, bingung meyelimuti perasaannya. Sementara Atayad tetap acuh tak acuh.


Setelah sekian menit mereka berdiam diri diatas sajadah akhirnya Ara memberikan diri mencium punggung tangan sang suami kemudian ia segera melipat mukenah yang ia gunakan dan menyimpannya.


Tak ingin berlama lama merasakan canggung yang melingkupi dirinya, Ara segera merebahkan diri diranjang dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Ngurumun maneh ceuk sunda mah


Melihat apa yang dilakukan Ara, Atayad mencebikkan bibirnya tanpa memberikan komentar apa pun.


"Gadis manja ya begitu, tidak tahu kewajiban" Ucap Atayad dalam hatinya.


Kewajiban? kewajiban apa yang dimaksud oleh Atayad.


Dikamar tersebut hanya ada satu ranjang tempat tidur yang disiapkan, namanya juga untuk pengantin baru.


Namun tidur dengan lawan jenis dalam satu ranjang yang sama adalah hal yang baru bagi keduanya. Sementara Ara tidak bicara dan kompromi lebih dulu, ia malah memilih tidur lebih awal.


Lepas melipat sarung dan sajadah yang ia gunakan tadi serta menyimpannya, Atayad menatap Ara yang yang menutupi seluruh badannya tanpa terkecuali. Atayad terlihat menggaruk bagian belakang kepalanya kemudian mengalihkan pandangannya kebawah.


"Yakin" ucap Atayad pada dirinya sambil mengalihkan kembali pandangannya pada ranjang yang sudah ada Ara disana.


.


.


.


.


.


.


.Maaf ya lama kemarin udah nulis tapi karena ada beberapa hal yang terjadi dengan sangat disayangkan author hanya bisa menulis segini dulu. Tapi jangan lupa kasih dukungannya ya!!! love

__ADS_1


__ADS_2