
Mata hari sudah kembali ke peraduannya, kumandang adzan sudah terdengar dari setiap masjid dan langit sudah berganti warna dengan hitam, serta ditemani bintang dan bulan yang keluar secara sembunyi sembunyi.
Keluarga besar Rasdyan mulai menjalankan kewajiban mereka sebagai makhluk yang diciptakan olah Tuhan untuk beribadah kepada Nya.
Lepas menjalankan kewajiban, dan menyantap hidangan makan malam, kini mereka tengah berkumpul diruang keluarga.
"Jadi rencana nak Atay setelah ini gimana?" Rasdyan membuka percakapan.
Atayad melirik Ara yang asik menikmati kripik pisang dengan acuh tak mengindahkan lirikannya.
Atayad berdeham dan membenarkan posisi duduknya. Entah itu keinginan yang timbul dari hatinya atau ia hanya pura-pura. Dengan ringan Atayad melingkarkan tangan kanannya pada pundak Ara yang memang duduk disebelahnya.
"Aku rasa kita lebih baik mandiri pah, iyakan Ra?" ucap Atayad jangan lupa senyum dibibirnya sebagai pemanis yang menambah pesonanya.
Sementara Ara membelalakan matanya kaget dengan tindakan yang dilakukan spontan oleh suaminya tersebut.
"Mandiri?" kali ini mama Ana yang bicara, ragu ia melepaskan putri satu satunya meski sebenarnya keberadaan Ara disana pun tidak merepotkan dirinya setelah ia dewasa.
"Iya, mama tau kan, mama sama papa dirumah sedang mengharapkan cucu pertama mereka. Jadi aku rasa akan lebih baik jika kami fokus memproduksinya" balas Atayad tanpa mengalihkan tangannya yang masih setia dipundak Ara.
"Iya kali punya anak secepat itu" ucap Atayad dalam hatinya.
"Hahaha papa setuju sekali, papa juga menginginkan cucu dari Ara. Bagus papa setuju iya kan ma?" ucap Rasdyan
Disisi lain seseorang yang duduk di sofa single sambil memegang laptop melirik ekspresi yang ditunjukan oleh sang papa. Dialah Fery.
"Apa Ara siap?" tanya Ana lagi, ia merasa ragu saat tak sengaja ia menangkap ekspresi yang ditunjukan Ara.
"Ini juga Ara yang minta kok ma" ucap Atayad,
" hah minta? kapan mintanya? ah pria ini sangat pintar bersandiwara untuk menarik perhatian mereka**" gerutu Ara dalam hatinya.
"Tidak usah khawatir ma, aku juga pernah dengar kok kalau Ara ingin segera memiliki anak. Benarkan Ra?" Kali ini Gian yang bicara sedikit menggoda adiknya.
Malam semakin larut hingga saru persatu anggota keluarga tersebut masuk ke kamarnya masing masing.
Malam ini Atayad memutuskan untuk menginap dirumah mertuanya. Dan tidur satu kamar bersama Ara terjadi lagi. Ara mendelikkan matanya saat Atayad berjalan mengikuti dirinya.
__ADS_1
Tidak ingin berdebat dan menimbulkan kecurigaan anggota keluarga yang lain, Atayad memilih segera merebahkan diri dan memejamkan mata diikuti Ara yang akhirnya terpaksa harus tidur satu ranjang dengan Atayad.
Kegelisahan menyergap Ara yang tengah berbaring dibalik selimut. Khawatir? Ya khawatir jika tiba tiba Atayad berbuat sesuatu.
Beberapa kali ia terlihat melirik Atayad yang sedang memejamkan mata. "Sebenarnya kau itu tampan, mempesona, kaya, tapi sayang kau begitu menyebalkan. Aku yakin perempuan diluar sana banyak yang bermimpi untuk menghabiskan sisa umurnya bersama mu. Tapi pada akhirnya mereka memilih mengubur mimpinya dalam dalam jika sikap mu menyebalkan. Kau sama sekali tidam suamiable" ucap Ara dalam hatinya. Ia berkata sesuai apa yang ia lihat dari Atayad tanpa mengetahui apa yanh terjadi pada sang suami sebelum sebelumnya.
Ara berusaha berkompromi dengan mata yang enggan untuk terpejam, padahal jam sudah menunjuk angka 02:10 menit.
Itu artinya Atayad sudah tidur lelap bersama mimpinya kurang lebih 3 jam, sementara ia sendiri belum merasakan kantuk sama sekali.
Ditengah kegelisahannya ia dikejukan oleh Atayad yang memiringkan badan hingga menghadap ke arahnya.
"nggak bangun, nggak tidur selalu saja menyebalkan" Gerutu Ara dalam hatinya.
***
Sang surya yang terbit dari ufuk timur mulai menunjukan cerianya. Langit yang cerah disambut kicauan burung peliharaan Rasdyan membuat suasana pagi dirumah itu terasa hangat dan damai.
Ara turun lebih dulu dari kamarnya dengan keadaan yang sudah segar dan wangi. Wajahnya nampak ceria meski semalam ia hanya memejamkan mata kurang lebih selama satu jam setengah sebelum adzan subuh berkumandang. Wajah cerianya tersebut menjadi bahan godaan sang mama dan kakak ipar yang sedang berkutat didapur ditemani beberapa pelayan.
"Wih udah cantik dan segar ni pengantin baru" Goda sang mama yang sibuk mengaduk sop yang masih dimasak.
"Mama sama kak Elia ngaco" ucap Ara sambil menuangkan air bening kedalam gelas.
"Kamu kok turun lebih dulu, kenapa tidak barengan?" Ana bertanya kembali sambil mengelap sebuah mangkuk berukuran sedang untuk sop sang sudah matang.
"Kayaknya Atayad kecapean ma" Kali ini Gian yang bicara, yang baru memasuki dapur dan berjalan menuju kulkas. "Habis tempur" lanjutnya.
"Emmmh ma, kak Fery kok gak kelihatan" ucap Ara mengalihkan pembicaraan yang membuat dirinya malu tak beraturan.
"Loh, emang kamu tidak tau, kan kakak mu itu sedang menangani proyek yang ada di Johor bersama kerabat kerjanya. Makanya tadi lepas subuhan ia langsung berangkat ke bandara diantar pak Kasim" jawab Ana menjelaskan.
"Oh gitu" ucap Ara sambil mengetuk ngetukan kukunya diatas meja makan dimana sejak awal ia duduk disana.
"Yang kalau mau mandi pakaiannya sudah aku siapkan ya di tempat tidur" ucap Elia yang baru kembali dari kamarnya, memang tadi ia sempat pamit sebentar pada mertuanya untuk menyiapkan kebutuhan sang suami.
"Pengertian sekali" ucap Gian sambil menghampiri sang istri serta memeluknya dari belakang, tak ketinggalan ia juga mendaratkan kecupan pada puncak kepala istrinya. "Ini suami istri yang romantis" ucap Gian lagi sambil menoleh ke arah dimana Ara duduk.
__ADS_1
"Pamer" ucap Ara sambil mendelikan matanya dan bangkit dari duduknya.
"Lah, siapa yang pamer? Kakak hanya mengikuti kebiasaan mama dan papa. Iya kan ma?" ucap Gian mencari pembelaan dari mamanya.
"Pagi" ucap Atayad yang entah sejak kapan ia bangun dan berada disana.
Semua menoleh ke sumber suara termasuk mama mertuanya sang sibuk dengan sopnya.
"Sudah bangun?" ucap Ana.
Atayad senyum malu mendengar pertanyaan dari Ana. "Iya ma, maaf kesiangan" ucap Atayad sambil memegang gelas yang sudah diisi air bening didalamnya.
"Maklumlah ma, biasa gairah pengantin baru kan tak ada matinya" ucap Gian lagi.
"Huss kamu itu" ucap sang mama.
***
Menu sarapan pagi ini sudah tersaji di meja makan dengan penataan yang sungguh cantik dan menarik.
Semua anggota keluarga sudah hadir untuk sarapan bersama kecuali Fery yang memilih menyibukan diri dengan pekerjaannya.
Sarapan pagi yang biasanya sunyi, yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan garfu yang sedang bertempur diatas piring, kini terasa berbeda.
Kehangatan dirumah itu semakin bertambah saat Atayad mampu berbaur dan menimpali celetukan yang dilontarkan Gian maupun Rasdyan.
Atayad pun tidak terlihat kaku sama sekali, justru kali ini Ara lah yang terlihat gugup dan canggung.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Mumpung hp nya lagi aman 😁, jangan lupa kasih dukungan serta kritik yang membangun ya 😘 😚 😙