Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode empat puluh satu


__ADS_3

Pagi yang cerah disambut hangat metnari pagi serta kicauan burung yang menjadi alarm Atayad untuk kembali dari indahnya bunga tidur.


Atayad keluar dari selimut dengan wajah berseri seri. Entah apa yang membuatnya seperti itu, mungkin tadi malam ia bermimpi menemukan kebahagiaannya atau bermimpi menyambut kebahagiaan bersama Ara.


Setelah merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot otot yang kaku, Atayad berjalan ke arah jendela dan membuka tirainya.


Matanya menyipit saat ia melihat diluar pagar rumahnya ada seorang pria yang tak dikenalnya, sepertinya si pria itu sedang menunggu seseorang. Tapi siapa yang sedang ditunggunya, perasaan Atayad tidak membuat janji apalagi sepagi ini.


Tak lama setelah itu ia melihat Ara istrinya menghampiri pria itu. Seketika wajah Atayad memerah entah merasa cemburu tau yang lainnya yang jelas hanya Atayad yang merasakannya saat itu.


Sementara diluar rumah Ara sedang menahan kemarahannya pada Rey sang mantan kekasih yang nekad ingin menemuinya. Berkali kali Rey meminta kesempatan pada Ara dan berkali kali pula Ara menolak.


Ara masih berusaha menjelaskan pada Rey bagaimana dia dan perasaannya saat ini. Tanpa Ara ketahui bahwa Atayad sedang memperhatikan dari sana dengan segala perasaan yang hanya diketahui oleh dia dan Tuhannya.


Rey pergi dari sana tanpa membawa apapun yang sedang ia perjuangkan. Dan Ara pun sudah masuk kembali kedalam rumah. Masih belum disadari olehnya tentang Atayad yang masih mengamatinya.


Melihat Ara yang sudah kembali masuk ke dalam rumah, Atayad bergegas untuk menghampirinya. Langkah yang lebar membawanya segera sampai ke dapur dimana Ara yang sedang berada disana untuk menyiapkan sarapan.


Merasa tidak sabar untuk sebuah penjelasan Atayad menarik tangan Ara dengan kasar namun tidak sampai melukainnya hanya saja membuat Ara kaget setengah mati.


Ara mengaduh saat tangannya ditarik secara tiba tiba. "Apa kau tidak tahu bagaimana cara bersikap lembut terhadap perempuan?" ucap Ara sambil mengusap tangannya.

__ADS_1


"Bersikap lembut? Kau pikir apa aku harus melakukan itu pada wanita yang sudah menikah namun dia berani menemui pria lain sepagi ini? Harus?" nada bicara Atayad sungguh diluar kebiasaannya. Memang ia terkadang berkata hal yang tidak enak untuk didengar namun nadanya dingin. Pagi ini sungguh berbeda, selain kasar Atayad juga berbicara dengan nada yang tinggi bahkan terdengar membentak.


"Kau tahu Azahra Rasdya Almira bagimana hukumnya wanita yang sudah menikah namun masih memiliki hubungan dengan pria lain? Jangankan untuk berpegangan tangan seperti tadi, memikirkan pria lain saja itu sudah menjadi sebuah kesalahan besar. Kau dibesarkan dilingkungan yang menjunjung tinggi norma agama. Apa kau pikir pantas seperti tadi? Atau jangan jangan kau juga melakukan itu dibelakangku?" Atayad terus bicara tanpa memberi kesempatan bagi Ara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Atayad meluapkan segalanya di pagi ini seperti sebuah bom yang dijatuhkan untuk menghancurkan sebuah kota. Atayad bicara dengan emosi yang berapi api, bahkan otaknya tak mampu memilih kosakata apa yang pantas untuk diucapkan.


Dalam hatinya Ara membenarkan apa yang Atayad ucapkan meski tidak semuanya benar. Apa yang dipikirkan Atayad tentang dirinya tidaklah benar. Ingin menyela dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pun ia rasa percuma saat melihat kemarahan yang bergejolak dari sorot mata Atayad suaminya. Yang bisa Ara lakukan saat ini hanya menunduk sambil memilin tangannya yang berkeringat.


Atayad menarik nafas panjang setelah kobaran kemarahannya mulai menyurut. Wajahnya tampak berkeringat dan tanganya terlihat gemetaran. Atayad menarik kursi yang tak jauh dari jangkauannya kemudian ia duduk membelakangi istrinya.


"Aku tahu kita menikah karena paksaan dari orangtua kita. Dan mungkin tidak ada cinta sama sekali diantara kita. Tapi aku rasa kau tidak pantas melakukan hal seperti tadi, bagaimana pandangan mereka terhadapmu nantinya." ucap Atayad.


Mendengar apa yang Atayad ucapkan sungguh hati Ara merasa diiris oleh sebuah piasu yang teramat tajam. Namun dibalik itu pun ada perasaan yang sulit digambarkan yang melingkupi jiwanya. Apalagi saat ia mendengar kalimat terakhir yang Atayad ucapkan.


Atayad menoleh pada Ara yang masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Linangan air mata masih terlihat di wajah sang istri, ada keinginan dalam hatinya untuk menghampiri dan menyekanya. Namun hal itu tidak terjadi sama sekali karena Atayad memilih pergi dari sana tanpa ingin mendengarkan penjelasan Ara lebih dulu.


Sementara di dalam kamar Atayad sedang duduk di tepi tempat tidur sambil meremas rambutnya. Ia terlihat menyesali tindakannya yang terkesan egois tanpa memikirkan perasaan Ara. Tapi tadi ia sungguh merasa kesulitan untuk mengendalikan emosi dan perasaan cemburunya yang bercampur jadi satu secara tiba tiba. Cinta kadang membuat yang waras jadi tidak waras.


***


Setengah jam berlalu sejak Ara menyelesaikan pekerjaan dan menata sarapan di meja makan, namun ada tanda tanda Atayad akan turun dan menghampirinya.


Beberapa kali Ara melihat ke arah tangga, mungkin ia sedang berharap Atayad akan segera turun dan sarapan bersama. Lagi, Ara melirik jam yang setia menempel pada dinding dan jarum jam pendek sudah menunjuk angka tujuh sementara jarum panjangnya menunjuk pada angka tiga dan Atayad masih belum turun juga. Apa Atayad semarah itu pada dirinya, begitu pikir Ara.

__ADS_1


Ara berjalan mendekati tangga, niatnya ia hendak menghampiri Atayad. Satu anak tangga baru saja dipijaknya, sebelum naik ke tangga berikutnya Ara mengurungkan niatnya.


"Dia sudah dewasa, tentu dia tahu bagaimana ia seharusnya" ucal Ara yang kembali menurunkan kakinya dilantai dasar.


Sarapan yang sudah dibuat oleh Ara dibiarkan saja di atas meja makan. Ara sendiri memilih untuk tidak menyentuhnya sama sekali. Ara memilih ke taman belakang dan mulai menyirami tanaman bunga dan yang lainnya.


Atayad sudah membersihkan diri dan merapihkan tubuhnya. Hari ini ia memilih untuk tidak pergi bekerja dan memilih menghabiskan waktunya didalam rumah, lebih tepatnya didalam kamarnya seperti seorang perawan yang sedang dipingit. Orang kaya terlalu bebas dan banyak maunya.


Atayad terlihat sedang menyisir rambutnya di dekat jendela yang menghadap ke taman belakang dimana Ara pun sedang disana. Atayad berdecak saat melihat Ara malah asyik dengan tanamannya dan tidak mempedulikan dirinya yang belum sarapan.


"Begitu tidak pentingnya aku bagi dia" ucap Atayad sambil berdecak dan berkacak pinggang dengan salah satu tangannya masih memegang sisir rambut. Atayad masih saja memperhatikan Ara yang sedang asyik menyirami bunga sambil bersenandung ria. Atayad sendiri merasa heran dengan ekspresi wajah Ara yang bisa begitu cepat sekali berubahnya. Beberapa jam yang lalu wajahnya masih terlihat mendung dengan air mata yang berlinang, sekarang wajahnya berseri seri seperti tidak pernah terjadi apa apa.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.happy reading 😊😊😊 semoga suka.


__ADS_2