
"Atayad ..." perempuan yang diketahui sebagai masalalu Atayad menyapanya dengan suara yang sangat lirih namun masih bisa dipahami oleh Atayad dari pergerakan bibirnya.
"Ya" ucap Atayad, matanya elangnya menatap wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Mungkin kau akan mengatakan bahwa aku sunggu tidak punya malu hingga berani datang menemui mu. Tapi saat ini aku butuh bantuan mu" ucap wanita itu mata sendunya menatap Atayad dengan penuh permohonan.
Atayad meneguk salivanya, sementara tangan kanannya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak terasa gatal sama sekali. "Apa yang bisa ku bantu?" tanya Atayad namun masih terdengar dingin.
Wanita itu diam, tak langsung menjawab pertanyaan Atayad. "Pinjamkan modal kepada kami Atayad, saat ini kami sedang membutuhkan modal untuk usaha kami. Kami janji akan secepatnya mengembalikan modal itu"
Atayad menarik salah satu sudut bibirnya hingga terlihat senyum sinis disana. "Apa janji mu bisa ku percaya?"
"Aku pastikan kami akan menepati janji kami, percayalah Atayad" ucap wanita itu lagi.
Setelah membuang nafasnya secara perlahan, dan Atayad meletakan kedua tangannya diatas meja sambil menatap wanita yang sedang duduk di seberangnya.
"Tapi aku tidak bisa mempercayai orang yang sudah mengkhianati ku. Sekali berbohong maka akan ada kebohongan kebohongan lain disana. Dan kau sangat tahu akan hal itu, aku tidak menyukainya" ucap Atayad penuh penekanan.
Dada Atayad terasa bergemuruh saat ia mengingat kembali hari pahit itu. Hari dimana ia harus mendengar kebenaran yang sangat menyakitkan.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya padaku. Apakah harus aku kembali pada mu lagi" balas wanita itu.
Kembali? Hati Atayad tak sebaik itu, ia hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dendam dan amarah. Meski mereka telah meminta maaf kepadanya, namun tetap saja bekas luka yang mereka torehkan tak lantas sembuh begitu saja.
"Aku bukan bank yang bisa memberikan pinjaman modal kepada mu, jadi sia sia saja kau datang kemari karena aku tak akan memberikannya. Banyak pekerjaan yang sudah menungguku, jadi silahkan keluarlah" ucap Atayad tanpa menatap wanita yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Keadaan mendadak tegang sejenak namun Atayad cepat mengakhirinya.
__ADS_1
"Atayad please" ucap perempuan itu sambil mengatupkan kedua tangannya, tanpa diminta air matanya berurai begitu saja dengan sendirinya.
Permohonan itu tak lantas membuat Atayad membalasnya. Ia diam sejenak mengamati perempuan yang kini sedang memohon itu. Setelah membuang nafasnya dengan sangat kasar sekali kini Atayad sedikit menggerakan hatinya untuk berbaik hati. Atayad menarik laci dan mengeluarkan sebuah amplop berisi uang. Entah berapa uang yang ada pada amplop tersebut, jika dilihat dari ketebalannya rasanya tidak mungkin lebih dari sepuluh juta dan juga tidak kurang dari satu juta. "Ambil amplop itu dan kalian tidak usah mengembalikannya. Anggap saja aku sedang bersedekah" ucap Atayad tanpa memandang perempuan yang kini tengah berbinar melihat amplop yang disodorkan oleh Atayad.
"Terimakasih Atayad, betapa bodohnya aku yang sempat dikasih kesempatan oleh Tuhan untuk dekat dengan mu tapi aku malah mengkhianati mu" ucap perempuan itu.
"Cukup!!! aku tidak punya banyak waktu untuk bicara lebih lama lagi dengan mu. Apalagi jika harus membahas hal yang tidak penting sama sekali" balas Atayad. Ia terlihat memejamkan matanya saat ia berkata demikian. "Cepat pergilah" Seru Atayad dengan nada tak lagi tenang seperti tadi, sepertinya sesuatu telah mengoyak hatinya.
Perempuan itu pergi dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari kebaikan Atayad yang mau membantu dirinya meskipun ia sempat menorehkan luka yang teramat dalam, dalam kehidupan Atayad.
Penyesalan pun tak ada gunanya. Tidak mungkin jika ia mengemis memohon untuk kembali pada Atayad yang ia sendiri tahu bahwa Atayad sudah memiliki kehidupan baru bahkan ia sendiri ikut menghadiri proses pernikahan sang mantan . Rasanya sungguh tidak etis sama sekali jika ia harus menghancurkan kebahagiaan Atayad untuk yang kedua kalinya meski ia tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Atayad yang sebenarnya saat ini.
Selepas kepergian perempuan dimasa kalung Atayad kembali memfokuskan diri pada pekerjaan. Terlebih lagi ia harus segera mengerjakan proyek besar yang baru dimenangkan oleh perusahaannya.
Meski ia sudah mencapai puncak kejayaan dari bisnisnya, tapi hal itu tak lantas membuat Atayad melupakan tanggung jawabnya. Selain bertanggung jawab untuk kehidupannya, ia juga harus mempertanggung jawabkan kelangsungan hidup pekeranya yang manggantungkan nasibnya pada perusahaannya.
Tok tok tok terdengar ketukan pada pintu dari luar. Atayad mempersilahkan siapa yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.
"Syah" ucap Atayad saat melihat ternyata Syahdan yang mengetuk pintu ruangannya.
Syahdan mengangguk sopan dengan senyum dan menghampiri sang atasan yang terlihat sangat sibuk sekali. Bahkan ia sempat melirik sebuah meja yang terdapat makan siang Atayad yang ia pesan sendiri atas perintah Atayad ternyata masih utuh.
Syahdan menarik kursi kemudian duduk diseberang Atayad. Syahdan menjelaskan beberapa laporan tentang proyek yang sedang di tangani oleh perusahaan mereka.
Sesekali Atayad mengangguk, sesekali ia juga terlihat mengerutkan kening serta memicingkan mata pada bagian bagian tertentu.
__ADS_1
"Mereka sangat puas dengan hasil kerja perusahaan kita pak" ucap Syahdan.
Atayad mengangguk dan tersenyum. Lagi lagi ia patut berbangga diri akan keberhasilannya. "Kau sudah memeriksa semuanya?" tanya Atayad.
"Tentu pak, ini proyek besar yang perusahaan kita tangani. Dan saya pun harus memeriksanya berkali kali agar tidak terjadi kesalahan yang akan merugikan perusahaan" jelas Syahdan.
Atayad bertepuk tangan karena merasa mempekerjakan Syahdan sebagi pengganti sekertaris lama sekaligus sahabat yang menghianatinya adalah sebuah keputusan yang sangat besar.
Lihatlah sejak hari itu, perusahaan yang dipimpin sendiri oleh Atayad ternyata membawa banyak perubahan yang tentunya juga keuntungan.
Jika ditelaah dibalik kisah pahit yang diterima Atayad pada masa itu ternyata ada kebaikan setelahnya. Sudah seharusnya Atayad mensyukuri hal itu.
Perusahan yang berkembang pesat serta istri cantik yang kini menghiasai hari harinya meski belum terjadi kontak fisik diantara keduanya atau pun kehadiran sebuah kata yang indah yaitu kata Cinta.
Atayad kembali menjelaskan hal hal apa yang harus terus Syahdan lakukan untuk menjaga keberlangusngan proyek tersebut. Syahdan mendengarkan arahan Atayad dengan baik. Sesekali ia terlihat mengajukan beberapa pertanyaan yang tak dapat dimengerti olehnya. Wah sungguh kerja sama yang luar biasa.
"Kau mengerti?" tanya Atayad saat ia sudah selesai menjelaskan.
"Tentu pak" balas Syahdan.
"Jangan lupa kau jelaskan pada mereka. Dan ingat jangan sampai terjadi kesalahan yang akan merugikan" ucap Atayad diakhiri dengan senyum khas miliknya.
Tak lupa Atayad pun mengucapkan terimakasih kepada para pembaca yang selalu setia dan mendukung karya authornya. ☺
Lanjut?
__ADS_1