
Tatapan mata Atayad masih fokus pada tatapan Ara. Andai saja ia tidak merasa malu ingin rasanya ia membenamkan bibir miliknya ke bibir sang istri.
Setelah beberapa menit mereka dalam keadaan posisi tersebut, Ara berdehem lebih dulu untuk menyadarkan mereka berdua. Seketika Atayad pun menarik tangannya dari tubuh sang istri. Atayad menggatuk kepala bagian belakangnya yang mungkin tidak terasa gatal sama sekali.
"Eee,eeemmm" dehem Atayad sambil membenarkan posisinya. "Tidurlah, pastinya kau merasa lelah setelah seharian bekerja" ucap Atayad sambil ia pun membaringkan badannya kemudian memunggungi Ara. Mungkinkah dia merasa malu dengan tindakannya atau mungkin ia sedang menyesalinya.
Ara sendiri setelah kejadian beberapa menit lalu kini terlihat bingung. Ya ia sedang dibuat bingung dengan sikap sang suami yang mendadak seperti tadi dan sekarang kembali pada sikap sebelumnya. Hati Ara mendadak kembali bergetar, matanya terlihat berkilat kilat seketika.
Ara
Hari ini aku sungguh dibuat bingung dengan beberapa kejadian yang tak terduga di hari ini. Entah aku harus bahagia atau harus bersedih. Bingung rasanya untuk menggambarkan keadaan hari ini. Pagi tadi aku dibuat terkejut oleh sikap dia yang jadi suamiku. Meski sikapnya masih saja datar seperti triplek namun tatapan matanya terlihat begitu berbeda.
Belum selesai dengan hal itu aku dikejutkan kembali oleh sikapnya yang mendadak baik hendak mengentarakanku ke tempat kerja. Dan saat aku turun dari mobilnya tanpa mengucapakan terimakasih sedikit pun ia mengingatkan dengan mengucapkan kata kembali kasih. Sungguh malu pada diriku sendiri yang justru malah bersikap jauh dari sikap asliku yang sebenarnya.
Malam hari aku kembali dibuat terkejut oleh sikapnya yang sungguh diluar dugaan. Apa ini memang terjadi karena dorongan dari hatinya atau mungkin itu terjadi karena ada sahabat ku dan sahabatnya yang sedang berkunjung dirumah kami.
Tapi aku sungguh tak mengerti jika itu terjadi karena ada sahabat kami. Kenapa? ya karena mereka kan tidak melihat tindakan kami. Atau mungkin itu terjadi karena..... Ah aku tidak mau menyimpulkannya terlalu dini. Aku takut jika sikapnya membuatku berharap lebih. Karena sejatinya kami menikah bukan karena kami saling mencintai. Dan pastinya tidak mungkin jika ia tidak mempunyai seseorang yang dicintainya.
Setelah melirik suaminya yang terlihat sudah lelap Ara mulai memejamkan mata. Dalam hatinya terselip sebuah harapan yang baik untuk hari esok.
***
Setelah memastikan bahwa istrinya itu benar benar sudah terlelap, Atayad memiringkan badannya menghadap Ara.
__ADS_1
Cukup lama Atayad memaku tatapannya pada wajah tenang sang istri. Tarikan nafasnya pun tak kalah tenang dari yang sedang terlelap. Tangannya terulur untuk membenarkan selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Kenapa aku harus membencinya hanya karena orangtua ku memilihnya untuk jadi istriku? Padahal sebelumnya aku tak mengenalnya dan besar kemungkinan dia tidak memiliki maslah dengan ku. Apakah ini adil baginya jika aku memperlakukan dia seperti ini hanya karena aku pernah mengalami kecewa oleh kaum mereka? Aku tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya saat ia diharuskan menikah dengan pria sepertiku? Mungkinkah dia bahagia? Atau sebaliknya" Atayad sejenak menarik nafasnya dalam dalam.
"Aku terlalu gelap mata hanya karena pernah kecewa. Aku terlalu egois jika aku mengatakan disini hanya aku yang menderita. Padahal diluar sana mungkin banyak orang yang mengalami hal seperti ku." Atayad bicara dalam hatinya.
Mata Atayad masih enggan untuk terpejam. Padahal ini sudah hampir dini hari. Ia memperhatikan jarum jam yang ia rasa pergerakannya sangat lambat. Ia merasakan ada pergerakan dari Ara yang memiringkan badan ke arahnya. Namun ia begitu terkesiap saat melihat ada air mata yang keluar dari mata Ara, sementara sang empunya masih memejamkan matanya.
"Dia menangis?" ucap Atayad dalam hati.
Bingung seketika melenda pikiran Atayad, ia tidak tau apa yang harus dilakukannya. Mengingat air mata itu masih terlihat dipelupuk mata yang masih terpejam itu.
"Apa dia menangis seperti ini setiap malam? Apa ini terjadi karena ia merasa tersiksa dengan pernikahan ini? Ah tidak tidak, jangan jangan dia sedang menangisi orang yang dicintainya?"
Lagi lagi Atayad diam sejenak untuk mengatur saliva yang membasahi tenggorokannya. Pikiran Atayad buyar saat mendengar notifikasi masuk namun bukan dari ponselnya.
Atayad menyentuh layar tersebut yang ternyata menggunakan sandi. Namun popup dari notifikasi tersebut masih dapat dilihatnya.
"Selamat tidur kekasih ku, aku masih ditempat yang sama menunggumu. Lambat laun aku yakin waktu akan membawa mu kembali. Aku masih percaya kamu adalah takdirku"~~Rey
Seperti biasa Rey selalu pandai dalam memainkan setiap untaian kata katanya.
Atayad meletakan kembali ponsel tersebut pada tempatnya semula. Ia melirik Ara yang masih pada posisi yang sama.
__ADS_1
"Pantas saja ia menangis, mungkin saja ia sedang memimpikan kekasihnya itu. Ternyata ia benar benar tersiksa dengan pernihakannya dengan ku"
Atayad membuang nafasnya secara kasar, setelah mengitari tempat tidur, ia mangambil bantal kemudian berjalan ke arah sofa. Sebelum merebahkan diri ia sempatkan kembali untuk menatap ke arah tempat tidur.
Untuk pertama kalinya Atayad tidur di sofa. Entah demi apa ia melakukan itu? Author pun tak mampu membaca isi hatinya. 😁
***
Atayad bangun ketika kicauan burung sudah mulai terdengar. Ia terkejut saat mendapati sebuah selimut sudah menyelimuti tubuhnya. Pantas saja semalaman ia tidur dengan begitu lelapnya tanpa merasa kedinginan sama sekali.
Setelah mengucek ucek matanya untuk membersihkan sisa rasa ngantuknya, Ia melirik ke atas tempat tidur yang ternyata sudah rapih. Dan Ara pun sudah tidak terlihat lagi disana. Ia melirik ke arah jam dinding dan ternyata ini sudah jam 07:00 pagi.
Atayad tersenyum tipis, ternyata ia bisa juga tidur nyenyak diatas sofa. Padahal sebelumnya ia tak pernah bisa seperti malam tadi saat mencoba tidur di sofa.
Ia hendak mandi saat suara sahabatnya serta anak sahabatnya sudah terdengar dari ruang tv. Atayad mengurungkan niatnya saat mengingat tak ada pakaian miliknya di kamar Ara. Semua pakaian miliknya berada di kamar yang tadi malam dipakai oleh sahabatnya.
"Astaga, aku lupa" ucap Atayad sambil satu tangannya berada di pinggang dan satunya lagi menepuk jidatnya.
Ia terlihat mondar mandir memikirkan bagaimana cara untuk mengambil pakaiannya. Rasanya tak mungkin jika ia dengan konyolnya mengatakan bahwa semua pakaiannya ada disana.
"Aaaahhhhh kenapa gadis itu tak kunjung kembali kesini" ucap Atayad sambil menggaruk garukan kepalanya. "Sampai kapan aku bertahan disini dengan keadaan seperti ini?" ucapnya sambil menahan suaranya.
Pada hakikatnya memang setiap manusia membutuhkan satu sama lainnya. Namun Atayad menyatakan tidak saat ia digelapakan oleh sebuah rasa yang begitu menyayat hati dan akal sehatnya.
__ADS_1
Atayad semakin gelisah, saat Ara tak kunjung datang. Bau keringat mulai tercium hasil dari pergerakan mondar mandirnya. Atayad menghentak hentakkan kakinya dengan gigi yang saling merekat satu sama lainnya. "Aaaaaahhhhhh ini sungguh menyiksa" ucap Atayad.
Ia benar benar terjebak oleh perbuatan sendiri.