Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
part ekstra 1


__ADS_3

Atayad mengirimkan pesan bahwa dia akan terlambat pulang. Membaca pesan dari sang suami tak membuat Ara bimbang bagaimana cara untuk pulang. Dia sudah terbiasa mandiri bahkan sebelum menikah.


Sampai rumah Ara mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang istri. Memang istri bukan seorang pembantu tapi anggap saja apa yang dilakukan Ara adalah cara dia memetik pundi-pundi pahala. Bukankah kita tidak tau amal mana yang akan memberatkan timbangan bukan?


"Masak apa ya hari ini?" Ara melihat-lihat isi kulkas "Masak ini saja sepertinya. Semoga Mas Atayad tidak muntah," kekeh Ara sambil menutup kembali pintu kulkas.


Lima belas menit kemudian apa yang dimasak oleh Ara sudah bisa disajikan. Dia melirik jam dinding dan dia baru ingat kalau suaminya akan pulang terlambat. "Astaga kan dia pulang terlambat. Hm efek cinta membuatku jadi sering lupa,"


Selesai masak dia pun segede beranjak naik menuju kamar. Pikir Ara dia harus segera mandi, kan tidak elok kalau menyambut sang pujaan hati dengan keadaan tubuh bau bawang.


Langkah Ara kembali mundur beberapa langkah. Dia masih penasaran dengan pintu kamar yang selalu tertutup rapat itu. Ada apa di dalam sana dan apa yang disembunyikan oleh Atayad.


Pintu kamar yang selalu tertutup itu lebih menarik membuat Ara lupa pada tujuan awal. Mandi.


Berbekal beberapa kunci cadangan dia pun nekat ingin mengetahui apa yang disembunyikan oleh Mas Atayad-nya. Kunci pertama gagal, dia mencoba lagi sampai beberapa kunci lainnya.


"Sepertinya aku memang tidak boleh mengetahui apa isi di dalam sana. Lihat semesta saja sepertinya tidak mendukung," keluh Ara.


Sisa dua kunci yang belum dia coba. Dia melirik jam dinding dan berharap suaminya benar-benar akan terlambat. Dia tidak ingin Ataya marah hanya karena memergoki dia membuka pintu kamar ini.


Dibuka berati dia tidak percaya pada sang suami, tidak dibuka dia dirongrong rasa penasaran. "Baiklah kita buka saja," lanjut Ara setelah menimang lama antara lanjut buka dan tidak.


Kunci pintu cocok dan ternyata bisa dibuka. Degup jantung Ara mulai berdetak kencang lebih dari saat dia berlari. Ini akan menentukan penilaian Atayad atas dirinya nanti. Bisa saja dia di cap sebagai istri yang durhaka.


"Huuh. Bissmillah." Handle pintu mulai digulir. Bodohnya Ara katanya dia penasaran tapi dia membuka pintu tersebut dengan mata terpejam.


"Ara!" Suara itu membuat Ara terperanjat.


Belum sempat dia melihat isi di dalam sana, Atayad sudah berdiri tepat di belakang. Detak jantung Ara semakin bekerja lebih cepat. "Apa yang harus aku katakan? Dasar lelet begitu saja butuh waktu hampir satu jam." Ara memaki dalam hati.


"Eh, sayangku." Lidah Ara kelu pun dengan pikiranmu yang mendadak tak berpungsi. Biasanya dia pintar tapi sekali lagi menunjukan kebodohannya.


Tatapan Ara bertemu dengan sorot tajam Atayad. Entah dia marah atau tidak tapi emang sorot matanya selalu seperti itu.


"Aku sudah pernah katakan bukan. Jangan mencari tau sesuatu yang akan membuat hatimu sakit Ara." Atayad menarik kembali pintu yang sudah terlihat sedikit dan menguncinya.


"Mas, aku hanya ingin tau apa yang kamu sembunyikan di dalam sana."

__ADS_1


"Aku sudah katakan tidak maka tidak Ara." Atayad membalik badan dan meninggalkan Ara.


"Apa di dalam sana berisi kenangan tentang masalalu-mu? Apa kenangan itu masih bertahta di hatimu?" Pertanyaan bertubi dari Ara menghentikan langkah Atayad.


"Tidaklah kamu percaya padaku setelah aku menyerahkan diri padamu?" lanjut Ara dengan air mata yang mulai membasahi pipi.


Ada sesal yang menggelitik hati Atayad saat melihat perempuan yang telah ia renggut kesuciannya itu meneteskan air mata. Akan tetapi rasa marah karena Ara hampir membuka kamar tersebut membuat dia enggan mendekati Ara. Menurut Atayad Ara belum sepenuhnya menerima dirinya.


"Aku tau kamu menikah denganku karena terpaksa tapi tidakah kamu ingin berbagi denganku."


"Ara sudahlah!" Atayad segera menghampiri Ara yang banjir air mata. Dia tak tega melihat hal itu.


"Kamu percaya padaku 'kan?" tanya Atayad setelah Ara sedikit tenang. "Aku akan memberitahu mu jika waktunya sudah tepat. Aku minta kamu untuk bersabar." lanjut Atayad sambil menghapus sisa air mata di pipi sang istri.


"Mas menuduhku tidak sabaran?" Wanita memang seperti itu tetap marah meski dia salah.


"Bukan, tapi ..."


Ara menatap wajah sang suami meski harus sedikit mendongak. "Tapi apa?" masih tidak sabar.


"Rasa ingin taunya begitu besar," kekeh Atayad. Lelaki itu mengendus tubuh Ara untuk mengalihkan fokus Ara. "Kamu habis mandi bumbu?"


"Mau mandi bareng?"


"Enggak," tolak Ara. Dia segera meninggalkan dang suami karena malu. Ara mengutuk dirinya yang terlalu penasaran sampai dia lupa menyambut suami dengan tubuh yang harum.


"Perempuan memang awet marahnya." Atayad menggelangkan kepala kemudian dia menyusul sang istri. Ara yang salah tapi dia juga yang marah.


"Sayang." Atayad mengetuk pintu kamar mandi berharap sang istri mau membuka pintu. Tidak dipungkiri semenjak dia tau rasanya melebur bersama dia selalu ingin mengulang lagi dan lagi.


Pintu kamar mandi terbuka setelah tak lagi terdengar gemericik air. Ara keluar dengan tubuh berbalut handuk. "Katanya aku yang tidak sabaran nyatanya kamu juga," sembur Ara. "Kamar mandi kan bukan hanya di sini."


Satu kata dari Atayad maka seribu kata dari Ara.


"Kan mau lanjutin yang tadi pagi tertunda." Atayad menggatuk belakang telinga.


"Enggak ah aku cape."

__ADS_1


"Memangnya gak kasian sama dia?" Atayad melirik bagian bawah sana. "Dari pagi loh dia tegak menghormat." Atayad memasang wajah memelas tapi malah terlihat menggemaskan. Pasalnya ekspresi dingin lebih sering lelaki itu tunjukkan.


Ara malah mengambil pakaian dan secepat kilat dan memakianya sebab pakaian yang menutupi bagian tertentu sudah Ara kenakan sejak dari kamar mandi. Membuat Atayad menarik nafas dalam. "Apaan sih pakai tampang ke gitu segala. Gak cocok sama umur."


Gemas dengan tingkah Ara dengan kemarahannya yang awet, Ayatad memeluk Ara dari belakang saat tubuh itu sudah duduk di depan meja rias. "Mas," pekik Ara.


"Awet banget marahnya. Dia nagih janji yang tadi loh."


"Yang mana?" Bukan lurus-pura lupa tapi memang beneran lupa.


"Yang di dalam mobil," ucapan Atayad membuat rona di wajah Ara kembali tampak.


Tangan Atayad sudah bergerak otomatis mencari titik yang ingin disentuh. Sebelum terlanjur jauh Ara mencegah tangan tersebut.


Dari pantulan cermin Ara dapat melihat Atayad menaikan satu alisnya tanda bertanya. "Mandi dulu sana!" Kalimat Ara terdengar lembut tak seperti tadi lagi.


"Mandiin!" rengek Atayad.


Ara terkekeh pelan, "emangnya bayi?"


"Iya bayi besar yang ingin minum susu dari sumbernya," goda Atayad lagi.


Tak tahan terus digoda Ara kembalikan badan dan mendorong suaminya masuk ke dalam kamar mandi. "Mandi!"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.Hai aku lupa kalau novel ini emang belum selesai 😂 jadi aku berniat kembali menajutkannya setelah koma sekian lamanya. Selamat membaca semoga suka, sekian dan terima gaji.


__ADS_2