Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode empat puluh


__ADS_3

Atayad ditinggalkan sendirian disana, dan Ara kembali bekerja bersama yang lainnya. Terlalu lama menunggu sendirian membuat rasa ngantuk menyerangnya. Atayad membaringkan badan pada sebuah sofa, ya sejak pertama kali ia mencoba tidur di sofa kini ia mulai bersahabat dengan benda itu. Keluhan akibat tidur di sofa kini tidak pernah terdengar lagi.


Benar kata mereka cinta bisa merubah semuanya. Benarkah kenapa authornya masih belum berubah ya???? hehe.


Jam terus berputar tanpa henti, detik yang terus terinjak jarum kini berubah menjadi menit dan jam. Ara yang terlalu asyik dengan pekerjaannya sampai ia melupakan jika Atayad masih disana dan dibiarkan menungguny sendirian. Empat jam berlalu dan selama itu pula Ara membiarkan Atayad sendirian diruangannya hingga kini Atayad benar benar terlelap disana.


Semua pekerjaan sudah ditutup, Ara dan yang lainnya bersiap hendak pulang. Saat Ara berjalan menuju ruangannya ia baru ingat jika Atayad masih disana. Senyum manis terukir dibibirnya saat mengingat orang tersebut. Langkah demi langkah yang dilaluinya membawa Ara berhenti didepan pintu ruangannya yang menggunakan kaca.


Hembusan nafas yang teratur dan terlihat tenang membuat Ara betah memandangi suaminya meski dari kejauhan. Tentu saja itu dilakukan Ara dari kejauhan, ia masih belum cukup berani jika melakukan hal itu dari jarak yang cukup dekat dengan tuannya.


"Dia sampai tertidur seperti itu karena terlalu lama menungguku" ucap Ara pelan agar tidak ada yang mendengarnya disertai senyum yang terukir dibibir tipisnya. Cukup lama Ara memandangi wajah tenang suaminya dan itu ia lakukan karena ia sendiri merasa tenang saat melakukannya.


Tak tega melihat Atayad yang terlihat pegal karena terlalu lama tidur di sofa membuat Ara merasa kasihan dan hendak membangunkannya. Ara berjalan menghampiri Atayad dan berdiri dari jarak yang cukup dekat.


"Ya tuhan dia benar benar terlihat tampan sekali" ucap Ara dalam hatinya.


Ara memberanikan diri mengulurkan tangannya untuk membangunkan sang suamu. Sekali lagi niatnya terhenti saat hatinya mengatakan tunggu sebentar lagi. Mungkin Ara masih ingin memandangi wajah pria yang kini menjadi suaminya.


"Atayad" ucap Ara pelan namun tangannya kembali ia tarik dan tidak jadi menyentuh tubuh yang sedang terlelap itu.


Atayad yang masih setia dengan mimpinya tiba tiba membalas ucapan Ara "Mas" ucap Atayad meski dengan mata yang masih tertutup rapat. Mungkin dia sedang bermimpi.


"Mas?" ucap Ara dengan kening setengah berkerut dan bibir yang menahan senyum. "Apa dia sedang bermimpi?" lanjut Ara lagi.


Atayad memiringkan posisi tubuhnya hingga ia menghadap pada Ara namun matanya masih setia terpejam.


"Mas Atayad?" ucap Ara tanpa suara. Rasanya aneh bagi Ara namun itu sungguh sangat menggelitik hatinya.

__ADS_1


"Atayad bangun!!" ucap Ara dengan tangan yang ia beranikan mengguyahkan tubuh suaminya itu.


Atayad seketika langsung membuka matanya kemudian ia langsung mengambil posisi duduk di sofa. Mata yang terlihat merah menandakan jika Atayad masih merasa ngantuk. Ia memicingkan matanya kepada Ara.


Ara yang ditatap seperti itu merasa takut dan langsung mundur satu langkah. "Maaf jika aku mengganggu tidur mu, tapi ini sudah waktunya untuk pulang" ucap Ara sambil memilih tangannya untuk menenangkan hatinya terus berpengaruh seperti sebuah ombak.


Atayad tak langsung membalas ucapan Ara, mungkin ia masih mengumpulkan serpihan nyawanya yang tertinggal di alam mimpinya. Melihat hal itu Ara lebih memilih membereskan meja kerjanya daripada harus menunggu suaminya yang masih duduk dengan wajah yang disangga oleh tangan yang bertumpu pada lututnya.


***


Ara dan Atayad berjalan beriringan meninggalkan tempat kerja milik Ara. Ara menawarkan untuk pulang bersama dan Atayad tidak memberikan penolakan sama sekali. Hal itu karena merupakan sebuah kesempatan yang besar menurut Atayad untuk menemukan jawaban itu.


Atayad membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.


"Kenapa kau duduk di kursi penumpang? Lalu siapa yang bawa mobil?"


Pada dasarnya meski wanita terlihat kuat, tegar dan mandiri tapi ia tetaplah seorang perempuan yang pada dasarnya ingin selalu diperlakukan lembut oleh seorang pria termasuk dimanjakan.


Ara menghentakan kakinya sebelum masuk ke dalam mobil. "Dulu saja kau menyuruhku untuk belajar mengemudi kembali dan sekarang kau meminta aku mengemudikan mobil ini seperti seorang sopir" Gerutu Ara.


Ditengah kepura puraanya yang sedang memjamkan mata, namun Atayad tak kuat menahan tawa saat ternyata Ara masih mengingat awal pertemuannya waktu itu.


"Ternyata perempuan memiliki ingatan yang tajam"


Mereka pulang menggunakan mobil milik Ara sementara mobil milik Atayad ditinggalkan disana. Sepanjang perjalanan mereka, Atayad tidak merasa jenuh sama sekali saat Ara tidak berhenti menggerutu. Atayad malah menganggap hal itu sebagai sbuah hiburan gratis. Kapan lagi ia bisa menyaksikan hal tersebut.


Atayad yang biasanya memasang wajah so datar, so angkuh dan selalu menjaga wibawanya sore ini ia sungguh berbeda. Bibirnya yang selalu membuat kaum hawa tergoda itu tidak berhenti memamerkan deretan giginya dengan berbagai ekspresi.

__ADS_1


Ara mendelikan matanya saat ia berhasil menangkap basah sang suami yang duduk disebahnya tengah menertawakannya meski tanpa suara. Merasa sebal dengan tingkah Atayad, Ara menepi dan menghentikan mobilnya.


"Jika kau masih meledekku seperti itu lebih baik kau pulang sendiri" ucap Ara dengan ekspresi wajah yang tidak ramah.


Mendengar kalimat itu seketika Atayad langsung mingkem dan mengatupkan mulutnya rapat rapat.


Ara kembali melajukan mobilnya saat Atayad tak kunjung mengikuti perintahnya. Pipinya terlihat kembang kempis dan memerah karena menahan kekesalannya.


Bagi Ara perjalanan ini adalah perjalan paling buruk sepanjang hidupnya. Namun bagi Atayad justru ini hal baru dan sungguh menyenangkan sepanjang kisahnya.


Setelah melewati kemacetan yang cukup menguras tenaga akhirnya mereka sampai dirumah. Seperti biasa wajah tanpa dosa Atayad pasang kembali. Atayad masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Ara yang masih saja menggerutu.


Ara berdecak dan berkacak pinggang, lalu ia menutup pintu mobil sekeras mungkin dengan tujuan supaya Atayad mendengarnya.


Alih alih mempedulikannya Atayad malah naik ke kamarnya dan kembali merebahkan diri di kasur.


Ara merekatkan kedua rahannya merasa gemas dengan tingkah Atayad yang berubah ubah secepat itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.Up nya masih ada ya rencana up lagi nanti malam. Boleh dong kalian kasih apresiasi apapun bentuknya. 😆😆😆😆


__ADS_2