Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode empat puluh tiga


__ADS_3

Cuaca saat ini memang sulit untuk diprediksi, seperti hari ini tadi pagi udara sangat cerah namu ketika mulai memasuki pukul 14:00 awan mulai terlihat mendung. Sepertinya huja akan turun mengguyur kota hari ini.


Tak selang berapa lama, dan ternyata hujan benar benar turun membasahi setiap sudut kota ini. Atayad yang berencana mengajak Ara untuk jalan jalan pun sebagai permintaan maafnya karena sudah marah marah dipagi buta pun kini membatalkannya.


Ara tidak menunjukan kekecewaannya meski hatinya sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktu mereka seperti waktu mereka pergi ke pantai. Akhirnya hari ini mereka harus menghabiskan waktu mereka di rumah saja.


Semua pekerjaan rumah telah Ara selesaikan dengan baik. Sekarang apa yang harus dilakukan olehnya. Berbasa basi dengan Atayad? Ara masih belum sanggup untuk memulai lebih dulu. Akhirnya ia selonjoran di sofa panjang depan televisi.


***


Selesai dengan pekerjaan yang dikirimkan melalui email oleh sekertaris pribadinya Atayad pun menghampiri Ara.


Atayad duduk tidak jauh dari posisi Ara saat ini. Mereka tertawa bersama saat menyaksikan adegan lucu yang diperankan dengan baik oleh pemeran dalam tayangan tersebut.


Sampai malam tiba mereka tidak pernah jauh dari depan televisi, bahkan makan malam pun mereka lakukan disana.


Hujan yang tak kunjung reda hingga malam hari mengantarkan rasa dingin pada setiap sudut ruangan dirumah mereka melalui celah.


Semakin malam mereka semakin terlihat akur, bahkan karena rasa dingin terus membelai kulit mereka, mereka akhirnya tak segan berbagi selimut untuk menghangatkan tubuh keduanya.


"Tidak masalahkan jika kita berbagi selimut seperti ini?" tanya Atayad yang masih merasakan keraguan di dalam hatinya.

__ADS_1


Ara menggelang sebagai jawaban. Berdekatan hingga kulit mereka bersentuhan membuat ada sensasi baru yang mereka rasakan. Bahkan kini Ara memberanikan diri untuk bersandar pada pundak Atayad. Ara mendongakkan kepalanya saat bersandar untuk melihat ekspresi Atayad. "Maaf hati, sepertinya akku sudah tidak tahan lagi jika harus menahan semua ini. Maafkan aku jika aku terlalu mengharapkan lebih darinya" ucap Ara dalam hatinya


Sementara Atayad memilih untuk memfokuskan pandangannya pada televisi yang menyala didepan keduanya. Jangan tanya bagaimana keadaan hati Atayad saat ini, yang jelas dalam hatinya sedang terjadi kekacauan yang sulit digambarkan.


"Haruskah aku kembali mempertanyakan itu padanya? Apa dengan pertanyaan yang sama ia pun akan memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Ah itu hanya akan menjadi sia sia saja. Jelas jelas kau melihatnya tadi pagi." ucap Atayad dalam hatinya.


Meski hatinya mengatakan demikian namun tidak dengan pikirannya. Pikiran Atayad masih saja menolak apa yang hatinya katakan dan ia pun mulai tidak mempercayai apa yang ditunjukan oleh matanya.


Tidak biasa Ara tidur secepat itu padahal jarum pendek jam baru saja menunjuk pada angka delapan. Senyaman itukah pundak Atayad bagi Ara. Memang tidak dipungkiri oleh Ara, selama dirinya berada disamping Atayad hatinya selalu merasa tenang dan damai. Apakah ini yang dinamakan cinta?


Atayad memperhatikan wajah tenang sang istri. Bulu mata panjang nan lentik, bibir tipis berwana merah muda, serta hidung mancung milik sang istri kini menjadi pusat perhatiannya. Apalagi bibir tipis yang berwarna merah muda tersebut.


Atayad menggendong Ara menuju kamar milik sang istri. Sementara digendong oleh Atayad Ara tidak merasa terusik sama sekali.


Pelan pelan Atayad membaringkan sang istri pada tempat tidurnya. Dibalik wajah dingin dan tegasnya ternyata Atayad pun bisa bersikap lembut ya.


"Emmmhh" Ara melenguh saat Atayad menarik tangannya pelan pelan. Sebelum ia menghadapi hari esok tiba, malam ini ia masih memiliki kesempatan untuk memandangi wajah cantik sang istri yang sedang tidur terlelap.


Tangan Atayad terulur untuk membelai wajah sang istri. Saat menyentuh wajah sang istri, tak disangka tangannya mengantarkan sebuah gairah yang mulai bergejolak dalam hatinya.


Mata yang tertutup itu tiba tiba terbuka dan membuat Atayad kaget. "Maaf aku membangunkan mu" ucap Atayad masih menagap lekat wajah istrinya itu.

__ADS_1


Ara mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari Atayad yang masih setia memandanginya.


Rasa itu terus bergejolak dalam hati Atayad hingga mendorong Atayad untuk melakukannya. Atayad laki laki normal, sebagai laki laki normal tentu saja gairahnya bisa timbul saat ia bersama sang istri. Wajar bukan?


Atayad mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan. Keringat dingin mulai menyergap jiwanya. Dengan pelan dan lembut Atayad bertanya, "Boleh aku meminta hakku sebagai seorang suami?" ucap Atayad penuh kelembutan. Meski ragu namun ia tetap mengatakannya, tak peduli apa pun nanti jawabannya.


Tak disangka jawaban Ara sungguh mengejutkan bagi Atayad. Ia pikir Ara akan menolaknya, ternyata dugaannya salah Ara malah mengangguk pelan untuk mengiyakannya.


Atayad mencium kening Ara kemudian ia membacakan sebuah doa dikening sang istri. Perlahan namun pasti malam ini mereka melakukannya malam ini.


"Emmmhhh" lenguh Ara sambil meringis.


Setengah jam telah mereka lalui bersama hingga kini peluh membasahi tubuh keduanya. Diselimuti udara dingin keduanya terus melaju menuju puncak tujuan yang sama.


Gemericik air hujan diluar bersahut sahutan dengan suara keduanya. Malam yang dingin serta ditemani gemericik hujan tak menyurutkan gairah keduanya.


Malam ini mereka sama sama menunjukan gairah cinta keduanya. Dalam hatinya masing masing mereka menyebutkan doa dan harapan. Semoga ini menjadi langkah awal bagi keduanya.


Setelah melewati perjalanan panjang dan sama sama mencapai puncak, mereka kini tidur lelap dengan posisi saling memeluk satu sama lainnya.


Sebelum terlelap Ara sempat memikirkan bagaimana ia harus bersikap besok pagi. Namu sebelum jawaban itu muncul Ara terbang ke alam mimpinya lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2