
Kicauan burung yang sedang bergurau bersama hangatnya mentari pagi membangunkan Ara dari tidur nyenyak. Ara melihat ranjang sebelahnya sudah kosong. Dimana Atayad begitu katanya.
Ara segera bangun dan menyambar handuk untuk segera membersihkan diri. Ia sangat merutuki kelalaiannya sebagai istri yang tak bisa melayani kebutuhan suami. Mungkin istri istri diluar sana sudah menyibukan diri untuk melayani suami dan anaknya, tapi Ara malah baru membuka mata.
Ara mandi sangat singkat sekali. Ia hanya memakai handuk untuk menutupi tubuhnya. Tujuan utama saat ini adalah kamar yang biasa ditempati oleh Atayad suaminya. Harapannya hanya satu, semoga Atayad masih didalam sana.
Terlalu bersemangat membuka pintu hingga Ara memilih tidak mengetuk lebih dulu dan ia malah langsung memutar handle pintu. Sementara didalam Atayad sedang memasang ekspresi terkejut.
"Kenapa tidak mengetuk pintu lebih dulu" ucap Atayad sedikit ketus karena dibuat terkejut.
Bukannya minta maaf Ara malah cengengesan, Ia berjalan menghampiri Atayad yang terlihat jutek terhadapnya.
"Karena aku terlambat" balas Ara.
Atayad mengerutkan kening mendengar balasan dari istrinya. "Terlambat?" ucapnya sambil menatap Ara bingung.
"Iya terlambat bangun, maaf ya aku belum jadi istri yang baik" balas Ara sambil melanjutkan memasang dasi yang tadi belum selesai Atayad lakukan.
Dalam keadaan tersebut Atayad semakin leluasa memandangi wajah wanita yang selalu mengusik pikirannya. Kata pujian ingin sekali ia lontarkan untuk memuji wanita yang kini ada dihadapnnya. Sayang sekali Atayad hanya mengutarakan pujian tersebut hanya dalam hatinya. Tentu saja mana bisa Ara mendengarnya.
"Aku cantik ya?"
"Ya begitulah"
Ara mengerutkan kening dengan jawaban Atayad. "Ya sudah masak sendiri, tidur sendiri, dan lakukan yang lainnya sendiri" balas Ara sambil mendongak untuk menatap wajah pria yang sedang tersenyum jahil padanya.
Atayad sedikit menarik handuk yang menutupi tubuh Ara. "Kau sedang menggodaku? Apa masih kurang?" bisik Atayad ditelinga Ara.
Ara tertawa dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Atayad. "Kau harus bekerja bukan?" balas Ara yang sudah selesai memasang dasi dan merapihkannya.
Ara segera meninggalkan Atayad sebelum semuanya semakin menjadi jadi. Atayad mengikuti langkah Ara.
Mendengar pintu dikunci oleh seseorang Ara segera berbalik badan. "Mas!"
"kau yang menggodaku lebih dulu" ucap Atayad sambil menghampiri Ara.
"Mas kamu harus harus bekerja" ucap Ara dengan nada tertahan karena Atayad menghimpit dirinya.
"Membuat orangtua kita bahagia akan lebih mudah jika apa yang mereka inginkan tercapai. Mama dan papa saat ini sedang membutuhkan cucu dari kita"
"Mas ini masih pagi" balas Ara sambil sedikit mendorong tubuh sang suami. Bukannya mundur Atayad malah semakin tidak memberi jarak diantara mereka.
__ADS_1
"Mau pagi ataupun malam sama saja" lembutnya hembusan nafas Atayad membuat Ara tak mampu mengendalikan nafsu yang bergejolak.
Sebelum hal lain terjadi dikamar itu, ponsel disaku jas Atayad berdering lebih dulu. "Shit" umpat Atayad. Ia memang paling tidak suka diganggu saat ia sedang menyenangi sesuatu.
Atayad segera meraih benda pipih tersebut yang tak henti berdering dan menampilkan nama sang mama disana. Tatapan mata Atayad bergilir antara ponsel atau istri yang ada dihadapannya.
"Mama? angkat saja siapa tahu penting" kata Ara.
Senyum sinis tersungging dibibir Atayad. "Iya kau pasti menyuruhku untuk mengangkatnya karena kau ingin lepas dariku. Tapi satu hal kamu harus ingat, aku tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang berarti dalam hidupku. Apapun itu termasuk kau" Atayad berlalu setalah mencolek hidung sang istri lebih dulu sebelum akhirnya mengeser ikon hijau pada ponsel yang deringnya masih terdengar.
"Dasar pria, pakai yang begini saja sudah bilang aku menggodanya" gerutu Ara sambil membuka lemari untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan.
***
Ara turun ke bawah dimana Atayad masih dengan dengan mamanya dibalik telepon.
Setelah sambungan telpon terputus Atayad berniat untuk memanggil Ara yang dirasa masih di kamar.
Saat Atayad berbalik ternyata Ara sudah ada dibelakangnya dan sedang memasang senyum manis untuknya.
"Sudah disini" Atayad kaget saat istrinya yang ia kira masih dikamar ternyata sudah duduk menghadap ke arahnya. Biasanya perempuan akan memakan waktu lama jika sedang mempercantik diri begitu pikir Atayad.
"Iya dong, yo berangkat" Ara mengaitkan tas selepannya dipundak.
"Gak sempat jika harus memasak lebih dulu yang ada kau akan terlambat"
"Bukan kau tapi mas" Atayad mengingatkan sang istri yang masih saja mengatakan kau.
"Hehe"
***
Ara dan Atayad sudah berada dalam perjalanan. Mereka akhirnya memilih berangkat dan akan membeli sarapan untuk nanti dimakan ditempat kerja masing masing.
Atayad berdecak saat mobil yang dikendarainya tiba di depan tempat biasa Ara bekerja. Hal yang membuatnya lebih kesal lagi yaitu saat Ara tak memberikan kecupan lebih dulu.
"Ara tunggu"
Ara berbalik badan seketika "Ada apa?"
"Kau melupakan sesuatu"
__ADS_1
Sesuatu apa ya? ucap Ara dalam hatinya. Ara kembali menghampiri mobil sang suami sambil memikirkan apa yang ia lupakan.
Ara melongokan kepalanya ke dalam mobil Atayad untuk melihat apa yang ia tinggalkan, dan ternyata tidak ada apa pun disana selain Atayad dan beberapa keperluannya.
"Aku tidak melupakan apa pun" Menatap Atayad yang sedang tersenyum kepadanya.
Cup Atayad mendaratkan kecupan pada kening sang istri. "Kau lupa memberikan kecupan padaku"
"Astaga hanya karena itu mas sampai harus memanggilku kembali" Ara menepuk jidatnya sambil sedikit tersenyum.
Beberapa bulan yang lalu Ara menikah dengan sang suami, dan baru sekarang sekarang ia mengetahui sisi lain dari suaminya yang selalu memasang wajah so tampan itu.
"Cepat beri aku kecupan, sayang mau mas terlambat dan bangkrut? Kan tidak indah ceritanya" Atayad berkata sambil melirik jam dipergelangan tangannya.
Ara kembali masuk ke dalam mobil hanya untuk memberikan kecupan pada sang suami. Ara mendaratkan kecupan pada kening, hidung dan pipi sang suami. Saat dirasa cukup Ara segera bersiap turun namun tangan Atas berhasil mencegahnya.
"Apa lagi mas?"
"Kenapa yang ini dilewatkan?" Atayad menunjuk bibir yang memang tak sentuh oleh bibir Ara.
"Nanti malam saja" Ara segera turun karena jika tidak maka adegan selanjutnya ia rasa tidak mungkin jika harus dilakukan didalam mobil.
"Aku tunggu nanti malam" teriak Atayad saat melihat Ara yang berlari menjauh dari mobil miliknya.
Seperti itulah kehidupan mereka sekarang, saling memberi kebahagiaan satu sama lainnya. Kehangatan yang sempat dibekuakan karena keterpaksaan dalam pernikahannya kini tak ada lagi. Senyum hangat selalu mereka lukiskan saat mereka bertemu setelah berpisah, baik itu terpisah dari pagi sampai sore atau pun yang lainnya.
Kerikil kerikil kecil kadang menjadi bumbu dalam kehidupan mereka saat terjadi kecemburuan. Hal itu tidak berlangsung lama karena mereka percaya setelah mendapatkan penjelasan.
Atayad yang memang umurnya lebih tua dari Ara selalu berusaha mengertikan sikap Ara yang memang namanya perempuan ada saatnya butuh dimanjakan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Sekian dan Terimakasih cerita ini cukup sampai disini. Kurangnya mohon dimaafkan🙏
Lebihnya? tidak ada kayaknya.